Dijebak Nikah Paksa

Dijebak Nikah Paksa
Pertemuan yang Membahagiakan


__ADS_3

"A Wisnu....!" Sofia terkejut dengan mulut yang masih menganga. Jelas Sofia terkejut, sejak terakhir Wisnu mengirim pesan WA dan mengatakan ingin melamar Sofia beberapa bulan yang lalu, Sofia tidak lagi membalas WA Wisnu. Sofia lebih menganggap obrolan WA Wisnu bercanda belaka dan omong kosong.


"Masuk A....!" sambut Sofia sampai lupa membalas salam dari Wisnu. Wisnu mengikuti Sofia yang berjalan menuju ruang tengah. Sofia seketika langsung terpedaya dengan wangi parfum yang dipakai Wisnu, wanginya menyeruak sampai ke hidung. Dia juga selama kurang lebih dua tahun menjadi Bidan, rasanya belum pernah mencium parfum sewangi yang Wisnu pakai. Saat berdekatan dengan Dokter Hermanpun, Sofia belum pernah seterpesona seperti ini. Parfum Wisnu seakan menghipnotis Sofia.


Saat tiba di ruang tengah, Bu Endah menoleh namun belum sadar akan kehadiran Wisnu anak tersayangnya.


"Siapa Nak Sofi?"


"Emmm... ini Bu, A Wisnu."


"Apa... A Wisnu!" seru Bu Endah seraya mendongak dan berdiri. Matanya ia perjelas untuk melihat di belakang Sofia. Dan ketika yang dia lihat benar-benar anak tampan kesayangannya, Bu Endah tiba-tiba menghambur dan merangkul Wisnu anaknya.


"Aa....!" pekiknya senang sambil memeluk Wisnu. Wisnu tergugu, dia balik memeluk Bu Sukma dengan kerinduan yang terpancar. Walaupun masih satu kota dan serumah, namun dua bulan terakhir ini Wisnu sangat sibuk dan jarang pulang ke rumah. Sehingga belum sempat pulang ke rumah yang berada di kota kecil Lembang.


"A, Si Eneng tos ngalahirkeun, orokna meni geulis pisan, mirip si Eneng nuju alit," [A, Si Eneng sudah melahirkan, bayinya cantik banget, mirip si Eneng saat kecil,"] ucap Bu Endah gembira sambil menarik tangan Wisnu.


"Daranya mana, Bu?" tanya Wisnu, yang jadi fokus utama masih Dara di kepala Wisnu.


"Eneng nuju ibak heula....!" [Eneng lagi mandi dulu].


Wisnu menghampiri kamar bernuansa hijau sage, kamar baby Zla. Dia langsung teringat Dara, yang begitu suka dengan baju dan barang kecil lainnya dengan warna hijau sage atau hijau toska, namun tetap saja kamar tidurnya warna pink tidak pernah dia ganti.


"Assalamu'alaikum, ponakan Om....!" Wisnu menghampiri seraya menatap wajah baby Zla yang terlelap.


"Bu, bayinya namanya siapa?" tanya Wisnu penasaran.


"Azlani Andara, nama panggilannya baby Zla. Cantik ya, mirip Neng Dara," ucap Bu Endah sambil tersenyum.

__ADS_1


"Ihhh... cantiknya baby Zla. Om datang nih, kok belum disambut?" ujar Wisnu seraya menoel hidung bangir baby Zla. Sofia yang mendengar Wisnu seakan sedang mengajak bicara baby Zla, hatinya terenyuh dan senang. Rupanya naluri ke-bapak-an Wisnu timbul secara natural.


Sofia datang sembari membawa segelas teh manis hangat buat Wisnu.


"A, minumnya!" Sofia meletakkan teh manis itu bersama nampannya di meja ruang tengah. Wisnu menoleh sejenak lalu tersenyum.


Bu Endah melihat dengan ujung mata interaksi antara Wisnu dan Sofia, dalam hatinya berharap anaknya dan Sofia berjodoh. Sejak pertama kali melihat Sofia, Bu Endah begitu senang dan menyambut baik, angan-angannya sejak dulu ingin Sofia menjadi jodoh anaknya, Wisnu.


Di relung hatinya ada seberkas harapan, sebab Bu Endah melihat Sofia ada perasaan suka pada anaknya, namun perasaan itu mampu Sofia pendam sebab Wisnu tidak merespon lebih jauh.


"A... kapan dong Aa kasih beginian, biar Ibu bisa tambah rame di rumah?" tanya Bu Endah sembari menunjukkan telunjuknya ke arah baby Zla.


"Ibu pasti bahas itu lagi, kalau punya ginian ya harus menikah dulu dong Bu, tidak bisa langsung ada." Wisnu protes.


"Nah itu dia yang Ibu maksud. Aa itu harus cepat menikah, supaya bisa memberikan beginian seperti Neng Dara," tunjuk Bu Endah lagi pada baby Zla.


Saat Bu Endah sedang berdebat dengan Wisnu, tiba-tiba Dara muncul melewati ruang tengah lalu menuju kamarnya. Namun dia balik lagi, merasa ada sesuatu yang asing namun seakan familiar.


Mata Bu Endah, Wisnu, maupun Sofia terbelalak takuk. Takut handuk Dara merosot dan jatuh.


"Neng... sudah rangkulannya, Eneng masih pakai handuk. Bagaimana kalau handuknya lepas?" tegur Bu Endah was-was. Dara tersentak seakan baru menyadari bahwa dirinya hanya memakai handuk.


Dara buru-buru melepas rangkulannya pada Wisnu, dan berlalu dari kamar baby Zla, sembari tersenyum menyembunyikan rasa malu yang terlampau besar.


Wisnu mendesah pelan, walaupun Wisnu nampak kaget namun dasar hatinya senang sebab bisa dipeluk sama orang yang masih saja mengusik relung hatinya. Namun kini rasa itu perlahan-lahan mulai Wisnu kikis, seiring kebahagiaan yang Dara raih semakin nyata. "Boleh dong sekali-kali dipeluk hangat oleh adik sepupu kesayangan," batin Wisnu.


Sofia yang tadi ikut terbelalak juga, kini pergi ke teras depan. Melihat Sofia pergi, Bu Endah menatap Wisnu dan berkata.

__ADS_1


"A... apakah Neng Sofi tidak cukup menarik untuk Aa dekati? ikuti dia dan ajak ngobrol!" titah Bu Endah sembari memberi kode supaya menyusul Sofia ke depan.


"Aa... kangen....!" pekik Dara. Dan pelukan itu terulang lagi. Dara mendongak lalu menatap Wisnu manja. "Aa... masih saja tampan. Tapi sayang... tidak laku," ejek Dara sembari makin memeluk erat tubuh Wisnu. Bu Endah yang melihat adegan itu jantungnya langsung berdesir, ada rasa takut dalam hatinya.



"Neng... sudah jangan dipeluk-peluk, nanti Aa kamu itu tidak nikah-nikah. Kalau dilihat gadis lain dikiranya Eneng pacar atau istrinya," tegur Bu Endah khawatir.


"Ya nggak atuh Bu, Dara meluknya kan cuma di rumah. Lagian siapa sih disini yang lihat, hanya kita. Sofia entah kemana, dia tidak mungkin berpikiran yang lain-lain sebab Sofia tahu Dara adalah adik sepupu kesayangan A Wisnu," jawab Dara panjang.


"Ya sudah, jangan diperkuat lagi. Nanti Aa kamu kegerahan deh." Bu Endah masih berusaha mencegah Dara supaya melepaskan pelukannya pada Wisnu. Bagaimana Bu Endah tidak khawatir, selama ini kan Wisnu mencintai Dara sebagai wanita lain, bukan mencintai sebagai saudara perempuan. Dara perlahan melepaskan pelukannya sembari berkata.



"Aa itu, harusnya datang kesini sambil bawa gandengan. Kalau belum dapat, tuh yang di depan teras juga masih sangat pantas dijadikan gandengan. Bawa dia ke pelaminan," tandas Dara lancar tanpa hambatan. Bu Endah tersenyum memahami apa yang Dara maksud. Rupanya anaknya ini setuju juga ingin menjodoh-jodohkan Wisnu dengan Sofia.



"Aa... sana dong susul Sofia. Ajak ngobrol kek, kasihan dianggurin. Jangan nungguin baby Zla yang belum bangun!" titah Dara yang langsung dimanyunin Wisnu.


"Sana pergi... jangan berdiri di depan pintu, nanti jodohnya terhalang." Dara mengusir Wisnu yang kini berdiri ditengah pintu.


"Pergi kau Vernandes... susul Sofia....!" Kembali Dara mengusir Wisnu yang masih betah di sana dengan gaya bicara ala Telenovela kesukaan Mamaknya Azlan.


Wisnu akhirnya beranjak dan melewati Dara yang masih siap mengejeknya dengan dialog ala-ala telenovela. Wisnu keluar rumah dan kini berada di teras depan.


__ADS_1


"Neng, Eneng setuju juga jika Aamu berjodoh sama Neng Sofia?" tanya Bu Endah mencari kejujuran Dara.


"Setuju dong Bu, mereka sama-sama singel dan belum menikah. Bahkan sejak Sofia datang ke Lembang tempo hari, Dara sudah srek jika A Wisnu dijodohkan saja bersama Sofia." Dara menyetujui pertanyaan maupun pikiran Bu Endah. Bu Endah nampak tersenyum bahagia seraya menyelipkan untaian doa buat Wisnu dan Sofia.


__ADS_2