
Jam 15.15 menit, Dara tiba di kontrakannya. Lelah terasa sekujur tubuhnya, terlebih otaknya. Seharian selain kerja, otaknya terus berpikir. Kejadian tadi di tempat kerja berputar-putar kembali di otaknya. Dari mulai perdebatan atas sangkalan dirinya yang keukeuh tidak mengakui bahwa PCB terbakar itu adalah kesalahannya. Sampai terbongkarnya kedekatan Meta dengan Sang Manajer, Pak Erik. Yang akhirnya malah diketahui semua.
Sebetulnya Dara tidak ingin vidio itu mengemuka untuk yang lain. Namun karena kesalahan dan keegoisan Meta sendiri, akhirnya rahasianya dia bongkar sendiri. Dara bukan tipe orang yang suka menyebar aib atau kesalahan orang, selama orang itu tidak lebih membahayakan. Dara merasa bersalah kenapa vidio rekaman kedekatan Meta dan Pak Erik sampai diketahui yang lain. Kalau Meta melakukan hal-hal gila lain setelah vidio ini menyebar, apa yang harus Dara lakukan?
Dara menutup pintu dan menguncinya, lalu ia segera ke kamar kemudian merebahkan tubuhnya yang lelah dan mata yang ngantuk. Akhirnya Dara terlelap.
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu dengan keras sampai membuat Dara terbangun. Dara mengucek-ngucek matanya dan perlahan bangkit.
"siapa ya?" batinnya.
Sebelum Dara membuka pintu dia dengan cepat meraih HP dan membuka WA, lalu mengirim pesan WA pada Azlan, memberitahukan bahwa di depan ada yang mengetuk pintu. Pesan WA belum terbalas, namun Dara belum mau membuka pintu.
"Malas banget sih buka pintu, orang ngantuk mau tidur juga diganggu. Tahu saja sudah ada orangnya, jangan-jangan dari pagi ngawasin!" batin Dara curiga.
"Intip dulu deh!" serunya pelan. Dara cukup terhenyak, karena yang di luar sana ternyata Meta.
"Ada apa sih, tidak puas-puasnya tadi di pabrik, sekarang nyusul ke kontrakan?" gerutunya.
Niat mau merekam kedatangan Meta, namun HPnya low batt. "Tidak mendukung banget!" gerutunya lagi.
Dara masih membiarkan pintu itu diketuk, sukur-sukur kalau bosan dan pergi deh si pembuat onar. Harapnya kesal. Akhirnya dengan berat hati, karena pintu tidak henti diketuk malah sekarang berubah jadi gedoran, Dara membuka pintu dengan malasnya.
"Wa'alaikumussalam....!" ucap Dara walau si tamu tidak diundang tidak mengucap salam.
"Wahhh... ada tamu rupanya, ada apa lagi Kak, bukankah tadi kita sudah bertemu di pabrik?" sapa Dara. Meta belum menjawab, dia menatap Dara dari atas sampai bawah.
"Ada yang aneh dengan Dara?"
"Jangan merasa menang dulu deh Dara, Gue pastikan hubungan pernikahan abal-abal Elu tidak lama lagi kelar!" ancamnya.
"Kelar gimana? Jangan dibiasakan ngancam orang ya Kak, itu tidak baik. Kakak masih mengharapkan Bang Azlan? Tidak usah kemaruk deh Kak, ini mau itu mau. Tahu tidak itu namanya apa, namanya serakah!" terang Dara tanpa rasa takut.
"Jangan sok ngajarin Gue deh Dara, Gue tahu Bang Azlan dapatkan Elu cuma karena obsesi bukan cinta, apalagi cinta yang tulus. Mana ada dia bisa mencintai cewek tengil macam Elu!" ejek Meta.
"Masih saja ngejar laki orang sampai bela-belain fitnah orang, tidak salah itu? Yang ada cewek itu dikejar bukan mengejar." Dara balik mengejek.
__ADS_1
"Yakin laki Lu mencintai Elu dengan tulus?" tanya Meta sambil menyeringai.
"Memangnya penting gitu buat Kak Meta tahu jawabannya, entar malah hatinya panas."
"Ihhh...jangan sok santai deh, jika Elu sudah lihat vidio ini, yakin Elu bisa bilang cinta laki Lu benar-benar tulus buat Elu?" Meta nampak gemas.
Dara merengut, vidio apa maksud Meta? Hati Dara bertanya-tanya.
"Sini, Gua kasih lihat!" seru Meta, namun Dara tidak berniat melihat vidio yang akan diperlihatkan Meta. Tiba-tiba Meta memperlihatkan HPnya tepat di wajah Dara.
Sebuah vidio biasa yang memperlihatkan adegan Azlan dan QC Mira tengah berjalan bersama. Dara tahu itu Mira, QC di pabrik tempat Azlan bekerja. Dara tahu sedikit dari Nela, Mira juga salah satu cewek yang menyukai Azlan.
"Lantas kenapa dengan vidio ini Kak? Tidak ada yang aneh?"
"Elu tidak merasa aneh, Elu tidak tahu bahwa cewek yang berada di samping Azlan juga menyukai laki Lu. Maka dipastikan hubungan pernikahan Elu juga bakal tamat dalam waktu yang sebentar. Karena bukan saja Gue yang akan merebut Azlan dari tangan Elu, tapi si Mira juga bakal merebutnya dari Elu!" tandas Meta berapi-api.
"Silahkan saja mau rebut Bang Azlan dari Dara kalau memang Bang Azlannya mau, dan buat Kak Meta tolong yah jangan ganggu-ganggu lagi Dara atau ancam-ancam Dara, kalau masih belum berhenti. Maka vidio kedekatan Kak Meta dengan Pak Erik akan Dara sebarkan langsung ke anak istrinya Pak Erik." Ancam Dara serius.
"Coba saja kalau bisa!" tantangnya remeh.
Saat HPnya sudah di tangan, Dara mencari kontak yang bernama "Bu Rani".
" Dara tidak main-main ya, ini lihatlah kalau tidak percaya!" ujar Dara sambil memperlihatkan sebuah nama kontak istrinya Pak Erik, disana sangat jelas nama yang tertera "Bu Rani Manager".
Meta sedikit ciut dan mukanya memerah.
" Alah paling sudah Elu setting dulu namanya!"
"Kak Meta masih belum percaya, baik sekarang Dara telpon langsung orangnya!" Gertak Dara semakin membuat Meta ciut.
Dara menekan nomer "Bu Rani Manager" sementara Meta menatap Dara dengan penuh ejekan, menganggap apa yang Dara lakukan lelucon.
Telpon tersambung dan terdengarlah suara merdu seorang perempuan dewasa sekitar usia 35 an ke atas.
"Halo, Assalamu'alaikum! Dengan siapa saya berbicara?" ucapnya sopan.
__ADS_1
Meta yang sejak tadi cuma tersenyum sinis dan megejek, mukanya berubah merah.
"Suaranya benar-benar mirip dengan suara istri Pak Erik saat Pak Erik nelpon!" batin Meta. Meta memiringkan kepalanya ke arah HP Dara yang sengaja di loudspeaker.
"Waalaikumsalam! Apakah ini benar dengan Bu Rani istrinya Pak Erik Manager di perusahaan VS Industry?"
"Betul sekali, ada perlu apa Mbak mencari saya?" tanya Bu Rani lagi.
"Saya mau menanyakan tentang proyek suami Ibu yang di Bogor apakah sudah berjalan atau belum, saya....!"
"Stop Dara...!" teriak Meta memotong pembicaraan Dara, sambil merebut HP yang dipegang Dara. Dara terbelalak kaget dengan apa yang diperbuat Meta. Meta nampak ketakutan dan gugup.
"Kak Meta apa yang Kak Meta lakukan? Kembalikan HP Dara!" pinta Dara.
"Tidak, sebelum Elu janji sama Gue agar tidak memberitahu istrinya Pak Erik tentang kedekatan Gue dengan Pak Erik, plisss....!" mohonnya.
"Ok Dara janji, asal Kak Meta berjanji juga!"
"Apa....?" Meta sedikit melemah.
"Kembalikan dulu HPnya!" paksa Dara.
Dengan terpaksa Meta mengembalikan HP Dara.
"Yang pertama, tinggalkan Pak Erik. Dan yang kedua jangan pernah sekali-kali ganggu atau ancam-ancam Dara," tegas Dara lantang.
"Kalau tidak menepati janji, maka Dara tidak segan akan membongkar kedekatan Kak Meta pada Bu Rani!" tandas Dara penuh ancaman.
Meta nampak ciut dan meringis dengan ancaman Dara barusan. Dia pikir kedekatannya dengan Pak Erik tidak akan terbongkar.
"Ok, Gue janji!" akhirnya dengan wajah tertekan Meta menyetujui.
Dara dengan hati sedikit lega mendongak dan menatap Dara.
"Ok... Dara pegang janjinya, tapi ingat..., jangan coba-coba mengingkarinya! Jika tidak, maka karir Kak Meta kelar!" tegas Dara sungguh-sungguh.
__ADS_1