Dijebak Nikah Paksa

Dijebak Nikah Paksa
Sofia Akan Dilamar?


__ADS_3

"Kak... aku mau dilamar!" ungkap Sofia memberitahu Azlan yang saat itu sedang libur. Sementara Bu Endah sedang ke Pasar Cikarang, dan Dara memberikan ASI di kamar baby Zla.



"Dilamar...? Oleh siapa? Akhirnya... adeknya Kakak mau menikah juga." Azlan nampak bahagia.


"Kakak ingin tahu siapa yang akan melamar Sofia? Dan kira-kira, Kakak bakal setuju nggak, ya?" tanya Sofia ragu.


"Memangnya siapa yang akan melamar kamu, Dek? Apakah orang itu, Kakak kenal?" Sofia mengangguk yang sontak membuat Azlan mengangkat tangannya sebagai kode bertanya.


"Orangnya yang sudah Kakak kenal dan dia orang yang paling dekat dengan Yuk Dara." Sofia memberikan satu clue sebagai penanda jawabannya. Azlan mengerutkan keningnya berpikir.


"Orang yang paling dekat dengan Dara?" batin Azlan bertanya.


"Kalau Kakak bisa nebak, artinya Kakak hebat deh."


"Siapa ya....?" Azlan masih enggan menjawab walau hatinya menemukan sebuah jawaban."Tidak mungkin," tepisnya.


"Siapa Kak?" Sofia memaksa Azlan untuk menebak.


"A Wis... nu?" tebak Azlan seakan berat mengucapkannya. Sofia dengan cepat menganggukkan kepalanya. Sontak Azlan terkejut. Dadanya mulai naik turun.


"Kakak kenapa.... kok tiba-tiba seperti orang kesurupan?" goda Sofia. Jiwa usil Sofia tiba-tiba muncul lagi.


"Kenapa harus A Wisnu?" Pertanyaan Azlan seakan sebuah penolakan.


"Memang kenapa? Apakah Kakak menyimpan suatu rahasia tentang A Wisnu?" Sofia mencoba menyelidik.


"Tidak, Kakak tidak tahu rahasia apa-apa tentang A Wisnu," sangkal Azlan.


"Lantas, kenapa Kakak seakan tidak senang saat tahu bahwa yang akan melamar Sofia adalah A Wisnu?" selidik Sofia lagi.


"Tidak, bukan begitu. Kakak hanya tidak yakin kalau dia tiba-tiba punya perasaan suka sama kamu, Dek!"


Sofia tidak menyahut, dia kepikiran ucapan Azlan barusan. Azlan benar, Wisnu tidak mungkin ujug-ujug punya perasaan suka padanya kecuali ada maksud terselubung.



"Jadi, kalau A Wisnu benar-benar melamar Sofia, Kakak setuju tidak?" Mendapat pertanyaan seperti itu, Azlan malah dilanda bingung. Bukan apa-apa, Azlan tahu betul bahwa Wisnu masih menyimpan hati untuk Dara, dan menyimpan marah pada Azlan atas kejadian menikah paksa yang dilakukan Azlan pada Dara.



"Kamu sudah memberikan jawaban apa sama Wisnu?"


"Sofia hanya meyakinkan apakah ucapannya serius atau tidak?"

__ADS_1


"Dan jawaban Wisnu, apa?"


"A Wisnu hanya bilang bahwa sebulan lagi dia akan datang dan melamar."


"Jangan langsung kamu Terima, Dek?" cegah Azlan ada gurat khawatir.


"Kenapa, Kak? Berikan alasan yang masuk akal buat Sofia," todong Sofia.


"Wisnu belum tentu mencintaimu, Kakak rasa dia tiba-tiba mengungkapkan ingin melamarmu hanya karena menutupi sesuatu," ucap Azlan membuat Sofia teka-teki.


"Kakak sepertinya tahu sesuatu tentang A Wisnu. Coba kakak cerita, alasan apa yang membuat Kakak seakan tidak suka kalau A Wisnu mau ngelamar Sofia?"


"Kakak tidak tahu sesuatu tentang Wisnu yang melatarbelakangi Kakak tidak setuju. Kakak hanya tidak yakin saja kalau Wisnu serius sama kamu. Kakak takut kamu nanti kecewa,"


"Takut Sofia kecewa, itu alasan yang tidak mendasar Kak. Bilang saja Kakak memang tidak suka kalau Sofia ada yang melamar. Kakak senang kan kalau Sofia menjomblo? Usia Sofia sudah 25 tahun. Dan Kakak tahu di kampung kita, usia 25 tahun yang belum menikah hanya Sofia."



"Kakak harap kamu jangan gampang terima dia, Dek. Nurut sama Kakak. Jika kamu masih terima dia, maka Kakak tidak akan merestuinya."


"Apa Kakak bilang, tidak akan merestui? Sofia rasa restu Sofia hanya Sofia butuhkan dari bapak, bukan dari Kakak," tandas Sofia seraya membuang muka dari wajah Azlan.


"Kita lihat saja, apakah dia memang serius. Kalau dia serius, maka dia akan datang melamarmu dan datang sesuai dengan yang dia janjikan," tandasnya sambil berlalu.




"*Jangan menghalangi niat baik seseorang*. *Yang jelas aku akan datang dengan baik-baik dan* *meminta Sofia secara baik-baik, bukan dijebak lalu* *dinikahkan di depan massa yang akan* *mengamuknya*." Jawaban WA Wisnu seakan sebuah sindiran yang menohok bagi Azlan, ketika dia berhasil melontarkan sebuah pertanyaan pada Wisnu kenapa Wisnu tiba-tiba ingin melamar Sofia.



Akhirnya Azlan hanya bisa pasrah dan berdoa kebaikan untuk Sofia dan Wisnu. Jika memang Wisnu sungguh-sungguh semoga


Wisnu bisa mencintai Sofia perlahan-lahan.


Seminggu kemudian, Sofia harus kembali pulang sebab tugas dari RS sudah menunggunya. Berat hati sebenarnya, namun mau apa lagi. Terpaksa Sofia harus pamit.


Seminggu kemudian, Bu Endah juga pulang. Walau berat hati, terpaksa Bu Endah harus meninggalkan anak cucu dan mantu.


Kini hanya tinggal mereka bertiga di rumah sedang dan sederhana itu.


Dua bulan berlalu, baby Zla pertumbuhannya semakin hari semakin baik. Minum ASInya kuat dan tidurnya anteng.


Malam hari saat baby Zla sudah tertidur pulas dan kenyang minum ASI. Azlan mencolek pinggang Dara memberi kode supaya mengikutinya. Dara menatap Azlan penuh keheranan. Namun Dara tetap mengikuti.

__ADS_1



"Ada apa, baby Zla baru tidur. Abang jangan berisik," bisik Dara dengan telunjuk menyentuh bibirnya.


"Sudah dua bulan, Abang sudah merindukanmu Dek. Betapa tersiksanya Abang menahan semua ini." Azlan tiba-tiba mengeluarkan jurus romantisnya.


"Tunggu, jangan buru-buru dong Abang. Dara mau ke kamar mandi dulu. Dara mau gosok gigi biar mulut Dara wangi," tahan Dara membuat Azlan semakin gemas dibuatnya.



Dara keluar dari kamar mandi dikejutkan dengan sebuah jersey horor warna hijau toska yang teronggok di atas kasur. Ada sebuah catatan disana. "Sayang pakai Jerseynya, setelah itu matikan lampunya, ganti dengan lampu temaram yang di meja." Hadeuhhh ada-ada saja kemauan Azlan. Namun Dara patuh dan mengikuti arahan kekasih hatinya.



Sambil tersenyum geli, Dara kembali ke kamar mandi untuk memakai Jersey horor pesanan Azlan. Sepuluh menit kemudian, Dara keluar dengan Jerseynya. Lekukan tubuhnya begitu indah, perutnya sudah rata kembali dan ramping. Azlan makin cinta dan lengket dibuatnya.



"Trek....!" saklar lampu dimatikan diganti dengan lampu meja yang temaram. Seketika suasana kamar yang berukuran sedang itu berubah romantis dan syahdu.



"Kepp....!" Tiba-tiba tangan kekar Azlan sudah melingkar di pinggang Dara dengan sempurna, siap merajalela menjelajahi semua aset milik Dara. Dengan mudahnya tubuh Dara diangkatnya dan dibaringkannya di kasur berukuran sedang itu, tempat syahdu percintaan mereka.



"Setelah dua bulan Abang menunggu, kini tiba saatnya Abang membuka kembali jatah harian Abang, cupppp....!" lalu ciuman panjang pertama di bibir Dara mendarat sempurna. Disinilah adegan yang paling Dara suka. Selain wangi mulut Azlan yang segar, karena sebelum bercinta Azlan dan Dara selalu menggosok giginya terlebih dahulu dengan pasta gigi rasa mint. Supaya saat menjelajah ke pulau rongga, tidak mendapati makanan yang nyangkut disana sehingga merusak suasana romantisme.



"Sayang... Abang sudah tidak kuat....!"


"Dara juga....!" Kini keduanya telah bergelut dalam suasana syahdunya cinta yang membara, yang saling memberikan rasa yang melayang-layang di udara.


"Cupppp....!" ciuman itu kembali mendarat, seiring tuntasnya penjelajahan samudera yang memberikan rasa hangat dan cinta yang kian membara.


"Terimakasih, sayang... untuk kehebatannya malam ini." Mereka saling berpelukan.


"Abang... Sofia minggu besok dilamar A Wisnu. Apakah baby Zla sebulan kemudian sudah boleh naik pesawat dalam rangka menghadiri pernikahan Om dan Tantenya? Atau kalau bisa Dara inginnya naik jalur darat saja, kan sekarang jarak Cikarang-Palembang makin dekat. Jadi naik bis tidak akan lama," berita Dara diiringi rengekan manja.


Seperti ada yang menghantam di ulu hati Azlan mendengar berita bahwa Wisnu sebulan lagi akan menikahi adik kesayangannya, yaitu Sofia. Namun mau apa lagi, Azlan hanya bisa pasrah dan berdoa semoga Wisnu bisa mencintai Sofia seperti dirinya mencintai Dara.



"Kita naik pesawat saja, kalau bisa kasihan baby Zla kelamaan di jalan," ucapnya memberi keputusan.

__ADS_1


__ADS_2