
Subuh menjelang. Azlan terbangun dari mimpi indahnya, malam ini benar-benar malam yang terbahagia buatnya, Azlan yang sudah terbiasa bangun sebelum kumandang Adzan, melirik sejenak ke arah Dara. Rupanya gadisnya ini masih terlelap dalam mimpi indah, mungkin efek kelelahan akibat perjalanan semalam. Azlan tak berniat membangunkannya, biarlah nanti jam 5 dibangunkan.
Azlan melakukan aktivitasnya seperti biasa, sebelum Adzan Subuh dia memasak nasi terlebih dahulu. Lalu mencari pakaian kotor dan direndamnya.
Kumandang Adzan terdengar, Azlan segera ambil Wudhu dan melaksanakan Sholat Subuh dengan khusu. Lalu bergulat lagi dengan cucian yang tadi dia rendam. Begitu semangatnya Azlan Subuh ini.
Pagi menjelang, Dara sudah nampak segar dibalut rok pendek dan kaos warna kuning polos. Nampak semakin cantik dengan kaos warna kuningnya. Azlan berdecak kagum namun sayangnya ada yang sedikit mengganjal di hatinya.
"Adek cantik banget pakai kaos warna kuning, tapi roknya pendek. Nanti kalau ke luar rumah rok pendeknya ganti ya!" peringat Azlan.
"Ihhh... kenapa sih, ini cuma di dalam doang kan, bukan mau jalan ke luar?" sergah Dara kesal.
"Mana tahu, Adek kelupaan ke warung Mpo Sari tidak ganti rok!"
"Biar saja, biar ada yang ngelirik Dara!" balas Dara dengan nada menantang.
"Janganlah... Adek kan milik Abang," tegas Azlan sambil merengut.
"Ihhh.... PD banget...!" cebiknya kesal.
"Iyalah PD, masa iya milik Abang dibiarkan dilihat orang lain," debatnya lagi.
"Dara pakai rok ini cuma di dalam saja kok, bukan mau keluar. Lagian kenapa sih, baru kali ini juga Dara pakai rok yang agak tinggi dari lutut, lagian yang lihat cuma Abang," bela Dara mendelik-delikkan matanya tidak senang.
Azlan tersenyum nakal, ucapan Dara barusan seolah menantangnya.
"Ohh... jadi cuma Abang yang boleh lihat Adek pakai rok pendek. Kalau begitu nanti Abang boleh dong lihat yang lain." Azlan tersenyum licik.
"Lihat apaan..., mau mesum ya? ihhh...gak bakal dapat!" selorohnya mengejek.
"Lihat saja nanti, akan Abang dapat tanpa perlawanan," ucapnya remeh.
"Silahkan saja, Dara tidak mudah goyah,"
"Aduuh...!" jerit Dara seketika.
Azlan tersenyum kemenangan saat tubuh Dara sudah ada di pelukannya lalu dia berhasil mengecup bibir gadis itu. Pertahanan Dara ternyata tergoyahkan.
__ADS_1
"Abang gak tahu tempat dan situasi, pintunya terbuka!" tunjuk Dara. Secepat kilat Azlan menutup pintu lalu menguncinya dua kali. Sebelum melancarkan rencananya, Azlan mengenakan seragam Teknisinya dulu.
Seketika pesona Azlan bertambah dua kali lipat saat memakai pakaian Teknisinya di mata Dara.
"Terpesona ya?" tebaknya setengah meledek.
Dara menatap Azlan sambil tersenyum malu-malu.
"Sini...!" diraihnya pinggang Dara yang ramping itu, dihadapkannya tubuh Dara yang semampai namun berisi itu, suasana mendadak romantis penuh gairah cinta anak muda yang baru pacaran.
Deru nafas keduanya tak beraturan saling memburu.
"Tatap dong sayang mata Abang, pagi ini kita awali dengan kehangatan cinta kita," Azlan mulai melontarkan rayuan gombalnya. Dara cuma senyum malu-malu. Sedekat ini dengan cowok hitam manis ini, pagi ini rasanya malu. Padahal sebelumnya tidak begini, atau karena saat itu suasananya remang-remang.
Azlan nampak lebih tampan dari biasanya, tubuhnya udah wangi dengan parfum maskulin merek kampak yang terkenal dan terjangkau bagi kalangannya. Dara mendengus merasakan wangi maskulin kesukaannya itu, jangankan cowok, Dara saja suka memakai parfum yang aroma maskulin, Dara tidak suka parfum yang lembut merek cewek.
Apalagi Azlan memang cowok yang tipikal bersih dan resik. Bahkan kini rajin sekali gosok gigi. Ya mungkin ada modus lain. Hehehe...
Dara apalagi, sukanya terang-terangan. Sikat gigi itu nomer satu, apalagi saat mau....
"Cuppp...!" lama dan dalam layaknya iklan Coko-coko. Mereka saling merasakan kecupan itu penuh hasrat yang menggebu. Dara sudah tidak jual mahal lagi, yang ada kini hanya rasa malu tapi mau.
"Aduh...," jerit Dara pelan seraya merasakan hal aneh menyentuhnya. Azlan meraup tautan bibir yang tadi terlepas. Tubuhnya makin erat dengan gadis pujaannya tiada jarak.
"Adek..., Abang kepengen...!" bisik Azlan sendu.
"Apaan...?" tanya Dara lembut namun bingung.
"Aduhhh Abang lihat tuh, jam 6 lebih seperempat." tunjuk Dara pada jam yang menempel di dinding.
Azlan spontan melepaskan pelukannya dan baru tersadar, waktu makin berjalan. Pagi ini dia kerja. Dengan kesal dan terpaksa adegan romantisnya pagi ini harus di cut dulu gara-gara Dara melihat jam dinding. Padahal Dara pagi ini seakan pasrah dan menantang.
Dengan muka ditekuk, dia berjalan menuju lemari plastiknya. Merapikan kembali seragam yang berantakan akibat ulah berdua.
__ADS_1
"Abang mau goreng Pempek dulu buat sarapan kita. Gak apa-apa kan pagi ini kita sarapannya Pempek?"
"Boleh... justru Dara dari semalam pengen sarapan Pempek buatan Dara, Sofi dan Mamak. Pasti enak tuh!" seloroh Dara memuji Pempek olahannya bersama Sofia dan Mamak.
"Pastinya dong enak... yang bikinnya di depan Abang juga lebih enak!" balas Azlan tersenyum mesum.
"Ihhh... pasti otaknya lagi mikirin yang mesum...!" cebis Dara, lalu ngeloyor ke arah dapur.
"Adek tahu aja...." guman Azlan dalam hati.
"Udah... sebaiknya Dara yang goreng Pempeknya,"
Pempek telah siap digoreng. Keduanya menikmati Pempek hangat dengan kuah cuko yang pedasnya sedang. Nikmatttt banget, terlebih ini pertama kali Dara menikmati Pempek olahannya sendiri. Dan buat Azlan, ini Pempek buatan Dara yang dimakannya pertama kali. Sungguh nikmat Tuhan yang tak bisa didustakan lagi. Pikir Azlan.
"Adek, Abang pergi dulu ya. Jangan lupa kunci pintu. Nanti kalau mau angkat jemuran, roknya ganti!" peringatnya sedikit keras.
"Iya, Iya...sok keras banget!" ledeknya sambil mencebikkan bibir bawahnya. Tambah gemas saja dilihat Azlan. Seandainya saja waktu masih panjang untuk berdua, mungkin sudah habis Dara digarapnya. Pikir Azlan.
"Abang tidak bawa sekalian Pempek buat Kak Vai dan Kak Rian?" ucap Dara mengingatkan.
"Nanti saja balik kerja," jawab Azlan malas.
"Ayo Abang, sana pergi!" usir Dara yang melihat Azlan tidak juga beranjak, padahal waktu menunjukan pukul tujuh kurang lima belas menit.
"Tapi, Abang masih kangen...!" ucapnya sendu.
"Udah sana...!" usirnya lagi geram seraya membuka kunci pintu dan membuka pintu lebar-lebar.
"Tapi besok-besok boleh ya?" tanyanya memohon.
"Dara tidak paham..., pergi Kau Sergio!" usirnya seraya menirukan gaya Telenovela kesukaan ibunya jaman dulu.
Azlan menatap Dara kecewa, lantas dia segera menyalakan motor matiknya dan berlalu.
Dara menatap kepergian Azlan dengan rasa campur baur, pagi ini dia benar-benar jatuh cinta lagi pada Azlan. Mungkin inilah sumpah yang sering Nela ucapkan, Dara bakal jatuh cinta pada Azlan secepat itu. Dan ini benar adanya.
Kejadian romantis tadi seketika terbayang kembali. Jantungnya berdegup kencang.
__ADS_1
Apa jadinya, seandainya tadi waktu tidak menunjukkan pukul 6 lebih 15 menit? Hasrat yang terpendam keduanya bisa saja terjadi. Suatu saat semua itu pasti terjadi. Dan Dara siap gak siap harus melewatinya. Dara tersenyum simpul antara senang dan bingung. Dara kayaknya mulai mengenal getaran-getaran rasa. Rasa apakah itu?