
Azlan masuk ke dalam rumah kontrakannya dengan perasaan yang masih kalut. Tubuhnya masih terasa lemas. Omongan-omongan Rivai yang sedikit banyak tentang nasihat dan peringatan, membuat tubuhnya tiba-tiba drop, lemas tidak bertenaga. Keringat dingin mulai keluar dari dahi dan punggungnya kurang lebih sebesar butir jagung. Azlan merasakan semakin lemas.
Azlan berusaha menuju dapur, meraih centong nasi lalu menyeduk nasi dari Mejikom. Rasa lemas ini diyakininya karena harus diisi nasi. Azlan menyuap sesuap demi sesuap nasi tanpa lauk.
Sambil bersandar ke tembok dan kaki berselonjor, Azlan masih menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. Perlahan-lahan tenaganya mulai pulih, namun masih belum sepenuhnya.
Dara tiba-tiba keluar dari kamar, merasa heran dengan pergerakan cowok hitam manis itu yang seakan senyap entah kemana. Padahal tadi, walau pintu dibuka dengan perlahan, namun suaranya masih terdengar.
Dara terkejut melihat keadaan Azlan yang duduk berselonjor dengan sebuah piring di atas pahanya berisi nasi putih yang tinggal sesuap lagi. Rupanya sejak tadi diyakininya Azlan sedang makan, tapi kenapa posisinya begitu amat pakai selonjoran segala.
"Lho, Abang kenapa, ngapain makan selonjoran di situ, menghalangi jalan saja. Gak salah tuh?" Sebenarnya Dara malas menegur Azlan, setelah apa yang didengarnya tadi saat nguping dari balik jendela mengenai semua obrolan Azlan dan Rivai.
Dara menghampiri Azlan yang terlihat aneh. Dirabanya dahi Azlan yang dingin, nampak keringat dingin yang menggumpal dan banyak.
"Duhh ... kenapa cowok ini tiba-tiba kayak begini, badannya kayaknya lemas sampai keluar keringat dingin begini. Mungkin dia shock atas obrolannya tadi sama Kak Vai. Ternyata cowok pemaksa ini punya sisi takut sehingga membuat dia lemas begini!" Dara membatin.
Azlan menatap Dara dengan tatapan sayu. Makin Dara mendekat, makin terngiang ucapan Rivai tadi, supaya jangan ada kontak fisik dengan Dara. Tapi kenapa Dara makin mendekat dan seakan ingin memeluknya.
"Pakai lemas segala, kalau tidak kuat, pingsan saja sekalian," rutuknya menyumpahi.
"Ya ampun pakai nyumpahi segala Daraku ini, tahu suaminya sedang lemas malah dijutekin. Kayanya dia kembali jutek lagi," Azlan membatin sedih.
Dara mencoba mengangkat tubuh Azlan yang berat.
"Aduh... berat banget sih. Pake jaim-jaim segala lagi. Mau meluk, meluk saja sekalian," keluhnya kesal.
Karena merasa tidak kuat mengangkat tubuh Azlan yang berat, Dara mengurungkan niatnya.
__ADS_1
"Abang ... karena tubuh Abang berat, jadi Dara tidak jadi ngangkat Abang. Sekarang kumpulkan dulu tenaga Abang, kalau sudah kuat coba bangkit dan baringkan di situ. Dara mau ambil ambal dulu buat digelar disini," tunjuk Dara pada lantai di bawah lemari.
"Nah baringlah di sini. Mulai sekarang tidur kita pisah. Dara di dalam, Abang di sini. Jadi kita usahakan jangan kontak fisik langsung, kecuali terpaksa kayak barusan Dara ngangkat Abang," tegas Dara mengutarakan aturan barunya.
Azlan tidak percaya dengan apa yang dibicarakan Dara barusan. Padahal dia belum membicarakan atau menanyakan tentang keluarganya pada Dara. Tapi Dara seolah sudah tahu tentang semua obrolannya dengan Rivai tadi. Apakah Dara sudah menguping pembicaraan tadi bersama Rivai?
Dara kembali ke kamar dan meninggalkan Azlan begitu saja.
*
Beberapa menit yang lalu saat Azlan dan Rivai ngobrol, Dara sengaja mengintip dari balik jendela. Dara mendengar semua obrolan mereka termasuk tentang pernikahan paksanya bersama Azlan, yang belum tentu sah di mata agama. Sebab Dara masih punya orang tua dan saudara laki-laki. Seketika Dara sangat sedih dan langsung teringat kedua orang tuanya, rasa rindu menyeruak di dalam dada.
Tangisnya langsung luruh tak terbendung. Dara segera berlari menuju kamar dan menumpahkan segala rasa sedihnya di sana.
"Bapak, Ibu ... Dara kangen," jeritnya tertahan. Bantal menjadi tumpuan tangisnya supaya isak itu tidak terdengar.
Lama Dara di sana menumpahkan semua rasa sedihnya. Bagaimana tidak, saat ada orang lain yang secara tidak sengaja menyinggung kedua orang tuanya, entah kenapa Dara begitu sangat sedih dan rindu.
"Abang pasti mau tanya tentang keluarga Dara kan? Buat apa? Percuma tanya-tanya sekarang, sudah telat. Lagian benar kata Kak Vai, harusnya Abang bertanya tentang keluarga Dara dari awal-awal sejak Abang nikahin paksa Dara," tandas Dara menggebu-gebu.
"Abang minta maaf Dek. Abang salah karena tidak berani bertanya tentang keluarga Adek sejak saat itu," alasan Azlan sambil menarik nafasnya perlahan.
"Tidak penting lagi, Abang tidak perlu tanya lagi tentang keluarga Dara," tegas Dara. Azlan semakin bingung dibuatnya.
__ADS_1
"Abang mau lamar Adek lebaran nanti. Abang pengen pernikahan kita ini sah di mata agama dan negara," tegas Azlan.
Dara sudah tidak kaget lagi mendengarnya, sebab tadi dia sudah mendengar semuanya. Dara hanya bisa mencibir niat Azlan tersebut.
"Melamar? Setelah apa yang Abang lakukan sebulan lebih yang lalu, menjebak dan menikahi Dara, di depan orang-orang suruhan Abang. Abang baru kepikiran melamar sekarang?" cibirnya.
Azlan terdiam tak mampu membalas kata-kata Dara.
Memang betul apa yang dikatakan Dara, harusnya dia dari awal melamar Dara seperti orang lain. Karena kebodohannya, akhirnya seperti sekarang ini. Azlan baru menyadari, pernikahan terpaksanya belum tentu sah di mata agama karena tidak ada wali nikah dari pihak Dara.
*
*
Sebulan kemudian, lebaran pun tiba. Sikap Dara yang kembali jutek setelah mendengar obrolan Rivai dan Azlan tempo hari, berlanjut sampai kini. Keduanya benar-benar tidak ada kontak fisik secara langsung. Dan Azlan pun menepati janjinya tidak melakukan kontak fisik secara langsung dengan Dara. Dara kembali tak tersentuh. Namun demikian Azlan tetap perhatian dan menumpahkan kasih sayangnya pada Dara melebihi sebelumnya.
Saat Azlan meminta lebaran ini ikut dengan tujuan mau melamar dan menikahi Dara secara legal di mata negara, Azlan sampai memohon-mohon mengiba. Dan entah bagaimana, Dara membiarkan Azlan ikut sesuka hatinya.
"Tujuan Abang sebenarnya apa, ikut mudik lebaran ini ke kampung Dara?" tanya Dara akhirnya, saking kesalnya melihat Azlan yang tanpa menyerah memohon ikut untuk mudik bersamanya.
"Baiklah, terserah Abang. Asal resiko ditanggung sendiri," ucap Dara saat dirinya merasa menyerah untuk tidak menolak keinginan Azlan.
Hati Azlan bersorak gembira. Dia akan berjuang keras untuk mendapatkan restu dari kedua orang tua Dara, walaupun nyawa taruhannya sekalipun.
"Tidak mudah Abang mendapatkan restu itu, apalagi Abang mendapatkan Dara dengan cara yang licik!" tegas Dara lagi saat itu.
Keduanyapun sepakat akan mudik ke kampung halaman Dara dua hari sebelum lebaran. Tiket Buspun sudah dipesan. Tinggal persiapan. Azlan bertekad akan membawa Dara kembali ke Cikarang dengan status baru, yaitu istri sah secara agama dan negara.
*
__ADS_1
*
Kelanjutannya masih seru lho...kepulangan Dara mudik ke kampung halamannya. Dukung terus karya saya. Terimakasih!