Dijebak Nikah Paksa

Dijebak Nikah Paksa
Masih Sedih


__ADS_3

Masak selesai, sambal terasi pakai tomat dan sayur asam buatan Azlan tercium keseluruh ruangan yang cuma 4x4 meter itu. Pintu dan jendela dibuka lebar-lebar supaya harum terasi tidak tertahan didalam ruangan.


Tiba-tiba awan mendung datang, hari terang perlahan berubah gelap. Angin sore menerpa kencang. Azlan bergegas menutup pintu dan jendela serta memasukkan kembali motor maticnya. Padahal waktu masih sore namun gelapnya seakan malam.


Hujanpun turun dengan lebatnya seakan tumpah ruah tidak tertahan, disertai petir saling menyambar. Udara mendadak berubah dingin.


"Ya Allah, hujannya lebat sekali, ditambah petir lagi," guman Azlan was-was.


"Semoga airnya tidak naik!" harapnya cemas.


Beruntung lingkungan kontrakan tempat Azlan tinggal, tidak pernah terjadi banjir. Namun demikian Azlan tetap was-was. Banjir memang tidak, namun cipratannya kadang masuk lewat sela-sela ventilasi kalau hujan sangat lebat.


Azlan mengunci pintu lalu bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Dara bergeliat-geliat merasakan suhu tubuhnya dingin oleh terpaan kipas angin. Selimut yang biasanya hanya digunakan dari lutut sampai kaki, kini ditariknya menutupi sekujur tubuhnya kecuali muka. Dara masih mengantuk dan malas-malasan untuk bangun.


Suara deburan air hujan masih setia mengguyur atap seng, dan tiba-tiba petir kembali menggelegar sangat keras sehingga Dara terkejut dan terlonjak dari tidurnya. Dara mengedarkan pandangannya, tapi Azlan tidak terlihat.


"Abang..., Abang....!" panggilnya dengan suara takut. Tentu saja Azlan tidak mendengar, suara hujan yang deras dan bunyi air di kamar mandi saling bersahutan memekakkan telinga, otomatis membuat siapa saja tidak bisa mendengar jelas.


10 menit kemudian Azlan menuntaskan ritual mandinya yang kini terasa dingin, karena hujan cuaca jadi dingin.


"Dek... sudah bangun?" Azlan menemukan Dara di balik lemari dengan kepala mendongak. Dara terperangah serta merta terkejut.


"Abang, Dara cari-cari rupanya lagi mandi!" ucapnya setelah hilang dari keterkejutannya.

__ADS_1


"Iya Dek. Ayo bangun, mandilah dulu sudah itu sholat!" perintahnya mengingatkan Dara.


"Duhhh... tapi rasanya malas, habisnya dingin sih," keluhnya.


"Biar Abang rebuskan air ya, Adek belum mandi dari sejak pulang tadi!"


"Ya sudah terserah Abang!"


*


"Ayo sayang kita makan dulu, tadi Abang masak sayur asam sama sambal terasi" ajak Azlan meraih tangan Dara.


"Emmm...memangnya Abang masak?" tanya Dara ragu.


"Tadi Abang belanja ke AlfaMei beli telur dan Mie, pas pulang ada warung yang buka dan masih menjual bahan sayur." Kata Azlan.


*


Waktu semakin malam. Setelah sholat Isya, Azlan segera membuatkan Mie untuk makan malam berdua. Tadinya Dara tidak mau makan, alasannya masih kenyang. Atas paksaan Azlan, akhirnya Dara mau makan.


Setelah makan malam, Dara langsung ke kamar mandi untuk gosok gigi, lalu kembali ke kamar merebahkan tubuhnya.


Dara bukan tidur, melainkan membuka HPnya dan melihat aplikasi WA. Raut mukanya nampak kecewa. Mencoba menghubungi satu nomer yang tertera nama "A Wisnu", panggilan sama sekali tidak terhubung. Dicoba lagi, dan lagi-lagi tidak bisa terhubung. Dara menduga nomernya telah diblokir.


"Adek, belum tidur?" Azlan tiba-tiba sudah berada di samping Dara sambil memperhatikan Dara.

__ADS_1


Tadi Azlan sudah melihat apa yang Dara lakukan, mencoba menelepon Kakaknya namun gagal terus. Azlan merasa kasihan, bagaimanapun juga Wisnu berubah tak lepas dari ulahnya.


"Nih coba pakai HP Abang, siapa tahu langsung nyangkut. Mungkin nomer Adek sudah diblok sama A Wisnu," tebak Azlan sambil menyodorkan HPnya ke hadapan Dara. Dara ragu meraih HP Azlan, namun Azlan dengan pengertian menaruh HPnya ditangan Dara. ?


Demi meraih hati pujaannya, Azlan rela memberikan HPnya supaya Dara menelepn dari HPnya.


Dara meraih HP Azlan ragu, lalu menatapnya sejenak seakan bertanya "bolehkah"?


" Ambillah dan teleponlah A Wisnu!"


Dara memijit satu persatu nomer HP Wisnu, lalu. Nomernya berdering, beberapa saat tidak diangkat, namun saat detik ke 60 diangkat dan terdengar suara tegas di sana menyapa.


"Halo, Assalamu'alaikum!" sapanya. Dara diam sejenak, mengumpulkan keberanian. Akhirnya suara Kakak yang dirindukannya terdengar juga. Dara nampak bahagia dan tersenyum.


"Wa'alaikumussalam, A... ini Dara?" balas Dara.


"Dara nelpon dari HPnya Bang Azlan!" ucap Dara lagi. Tak berapa lama panggilan diputus sepihak oleh Wisnu. Dara kecewa.


"Ayo coba lagi!" Azlan memberi semangat.


Dara mencoba lagi dan berdering. Namun sampai panggilan berakhir Wisnu tidak mau mengangkatnya.


"Kirim pesan saja Dek!" Azlan memberi ide. Tanpa pikir panjang Dara mengikuti ide Azlan.


Dara mengetik pesan WA dan terkirim. Tanpa balasan.

__ADS_1


"Sudahlah Dek biarkan saja tidak perlu ditunggu, mungkin A Wisnu masih marah jadi dia belum mau membalas pesan Adek!" bujuk Azlan lembut. Azlan tidak mau ucapannya menyakiti hati Dara, sementara Dara sangat begitu rindu akan Aanya itu.


Karena Azlan masih melihat Dara yang seakan sedih, Azlanpun meninggalkan Dara sendirian di kamar. Azlan beranjak ke ruang tengah seraya menyalakan TV, menunggu malam yang semakin larut.


__ADS_2