Dijebak Nikah Paksa

Dijebak Nikah Paksa
Pijatan Maut Azlan


__ADS_3

Jam 3 sore, tiba saatnya Dara pulang. "Abang... Dara pulang ya," pamit Dara pada Jabar. Jabar menoleh, tatapannya sendu seakan tidak ingin Dara pergi.



"Coba kalau kamu bisa lebih lama disini, Abang akan senang," ungkapnya berharap. Dara mendilak tidak setuju.



"Masih ada Operator lain, Dara harus pergi."


"Abang maunya kamu, atau kalau bisa seumur hidup bersama kamu," ucap Jabar lagi membuat Dara sedikit termenung.


"Abang selalu gombal, tukang rayu. Lama-lama nyebelin kayak Bang Reno," tuding Dara manyun.


"Bibirnya jangan manyun dong sayang... Abang jadinya pengen cium," seloroh Jabar sambil meraih jemari Dara.


"Udah ah, Dara pulang ya. Sampai jumpa besok," pamit Dara seraya melepas tautan jemari Jabar. Terpaksa Jabar merelakan Dara pergi.


"Dara... mungkin hanya dalam hati dan hanya dengan cara beginilah Abang bisa mengungkapkan rasa cinta Abang ke kamu." Jabar menatap kepergian Dara bersama ungkapan dalam, dari hatinya.


"Dara, Gua duluan ya. Sudah dijemput Abang tuh," tunjuk Nela pada Ilham suaminya. Dara mengangguk dan membiarkan Nela berlalu lebih dulu. Setelah itu, barulah Dara berjalan pulang menyusuri jalanan sepanjang pabrik elektronik kawasan itu. Jarak pabrik ke rumahnya kini sedikit jauh 600 meter kurang lebih. Tapi Dara memang biasa berjalan kaki, baginya ini sudah biasa.


Namun hari ini Dara merasa aneh dengan tubuhnya. Dara merasa lelah dan sedikit lemas.


Beberapa meter lagi Dara sampai di perumahan tempat tinggalnya. Namun Dara membelokkan kakinya ke arah kiri. Tujuannya adalah Apotek, tidak jauh hanya beberapa meter jaraknya dari sana. Di Apotek Dara membeli pil KB, yang biasa dia beli dan konsumsi. "Terimakasih...." ucap Dara setelah menerima beliannya.



Tiba di rumah, Dara disambut Mamak dan kedua orang tuanya, sementara Sofia entah kemana. Kata Mamak, Sofia pergi dengan temannya. Entah teman yang mana, Darapun tidak mengetahui teman Sofia disini yang mana lagi selain Shela.



"Neng sudah pulang, kayaknya lelah banget. Cepat bersih-bersih dan makan siang dulu. Tadi Mamak dan Ibu memasak sayur Asam kesukaan kamu," sambut Mamak penuh perhatian. Dara tersenyum bahagia dengan sambutan Mamak. Lalu dia langsung ke kamar menyimpan tas kerja dan mengganti baju.



Setelah bersih-bersih dan ganti baju, Dara segera ke meja makan. Mengisi perutnya yang memang terasa lapar. Sayur Asam yang dia santap kali ini benar-benar nikmat, bisa jadi karena Dara memang lapar banget.



"Neng, besok Ibu pulang. Kamu baik-baik ya disini," sela Bu Endah saat Dara mengakhiri makannya.


"Kok cepat banget sih Bu, Dara kan masih kangen sama Ibu dan Bapak," protes Dara manja.


"Ibu banyak pesanan kue Neng, di kampung, bahkan sudah ada pelanggan Ibu yang nungguin," ucap Ibu sedih.

__ADS_1


"Jam berapa Ibu dari sini?"


"Pagi. Ibu sama Bapak takut kemalaman kalau dari sini siang," jawab Ibu. "Nanti kalau A Wisnu ke Cijantung lagi, biar Ibu suruh nengokin kamu dan suami kamu," ujar Ibu lagi.


"Iya, Bu. Dara juga sudah kangen sama A Wisnu," balas Dara.


...****************...


Suara motor berhenti tepat di depan rumah baru Dara dan Azlan. Rupanya Azlan pulang, disambut Mamak dan kedua mertuanya yang masih bercengkrama di ruang tengah dengan pintu depan terbuka lebar.


"Assalamu'alaikum...." salam Azlan. "Wa'alaikumussalam....!" seru semua seraya menoleh ke arah Azlan.


"Mak, Dara dan Sofia mana?" Azlan langsung menanyakan Dara dan Sofia setelah dilihatnya mereka berdua tidak berada di tengah-tengah mereka.


"Neng Dara tadi habis sholat Isya, langsung masuk kamar. Adikmu juga sama, sudah ngamar," sahut Mamak yang dibalas anggukan oleh Azlan.


"Ya sudah, Azlan masuk kamar dulu ya." Azlan pamit lalu masuk kamar. Saat masuk, Azlan melihat Dara tengah berbaring. Dilihatnya di meja rias ada pil KB dan obat masuk angin cair yang habis diminum Dara, terlihat dari sobekan kemauan.


"Dara minum Pil KB?" bisik hati Azlan merasa heran, padahal dia ingin segera Dara hamil. Sejak pulang dari Korea, Azlan berharap hasil bercocok tanamnya berhasil.



"Abang sudah pulang?" Tiba-tiba Dara bergerak dan membalikkan badannya menghadap Azlan. Dara nampak lesu dan wajahnya sedikit pucat. Azlan menduga karena Dara habis ketiduran.



"Ini... obat masuk angin punya Adek?" Azlan memperlihatkan cangkang bekas obat masuk angin cair pada Dara yang langsung diangguki Dara. "Kenapa Adek minum obat masuk angin?"


"Dara, masuk angin," jawab Dara.


"Terus pil KB ini?"


"Itu juga punya Dara," sahutnya.


"Kenapa harus minum pil KB lagi, padahal Abang sudah pengen punya anak."


"Dara belum siap dan belum mau punya anak," tandas Dara.


"Begitu ya?" balas Azlan datar seakan tidak suka dengan jawaban Dara. Azlan segera mempercepat pergerakannya, mengganti baju Teknisinya lalu keluar dari kamar. Dara menduga Azlan keluar kamar mencari makan dan bersih-bersih karena habis pulang bekerja.



Rasa mual yang Dara rasakan kini kian terasa, ingin muntah tapi tidak bisa. Dara mengoles-oles minyak Kayu Kencana andalannya jika sudah merasakan masuk angin dan pusing kepala. Sejenak Dara bangkit dan duduk bersender di kepala ranjang, lalu mengoleskan kembali Minyak Kayu Kencana di sekitar pelipisnya. Dara menghirup aroma Minyak Kayu Kencana dengan senangnya. Sebab setelah mencium harum baunya, sakit kepala dan rasa mual itu berangsur hilang.


__ADS_1


Jam Sepuluh malam, Azlan baru masuk kamar lagi setelah berpamitan pada Pak Malik yang sejak tadi bercengkrama dengannya. Pak Malik masih betah di ruang tengah, sebab beliau tidurnya di ruang tengah beralaskan kasur busa lipat.



Azlan mematikan lampu dan mengunci pintu sebelum dia menuju ranjang. Saat mata Azlan melihat ke arah Dara, rupanya Dara masih bergerak-gerak seakan merasakan sesuatu. Azlan jadi curiga. Azlan berbenah dan berbaring disamping Dara yang gelisah.



"Kamu kenapa Dek, kok belum tidur?" tanya Azlan heran. Dara belum menyahut, perlahan dia bangkit dan terduduk di atas kasur. Azlan semakin heran lalu bangkit dan turun dari ranjang untuk menyalakan lampu.



"Sayang... kenapa, kayaknya gelisah?" Azlan menghampiri Dara lalu meraih bahu Dara.



"Dara nggak enak badan, kayaknya masuk angin Abang, perut Dara rasanya mual dan kepala Dara terasa pusing," jawab Dara. Azlan mengernyit heran.



"Sini biar Abang urut ya punggungnya, pakai minyak Kukulutus," tawar Azlan sambil meraih minyak Kukulutus dan menghampiri Dara yang kini mulai membuka baju tidurnya. Darapun membelakangi Azlan menghadapkan punggungnya ke muka Azlan.



Azlan mengurut pelan punggung Dara dari atas ke bawah seraya mengoleskan minyak Kukulutus yang khasiatnya bisa buat masuk angin juga, aromanya juga segar walaupun didominasi aroma jejamuan. Sampai Dara keluar sendawa yang tidak dia sengaja. Dara terlihat lebih enakan daripada tadi.



"Bagaimana, sekarang rasanya masih mual dan pusing kepala?" tanya Azlan penasaran. "Kalau begitu sekalian depannya, biar enak sekalian. Tapi Adek harus baring ya," titah Azlan yang langsung Dara patuhi. Dara baring menghadap langit-langit dengan baju tidur yang masih melekat di lehernya.



Azlan membubuhkan minyak Kukulutus di atas perut Dara dan sekitarnya. Perlahan Azlan mengusap pelan dan meratakan minyak itu ke sekujur permukaan perut Dara, kecuali permukaan si kembar yang masih melekat penutupnya yang memang tidak dibuka.



"Sudah enakan belum, Dek?" Dara mengangguk, dan memang setelah diurut Azlan dan perutnya diusap lembut, mual dan pusing kepala Dara reda. Azlan menatap wajah Dara lelap lalu Azlan meraih bibir Dara lembut. Hasrat Azlan tiba-tiba membara. Dia tidak tahan melihat Dara tersenyum menantang padanya.



Lalu, keduanya bersatu dalam pertautan yang panas yang tadinya tidak direncanakan. Azlan mengecup kembali bibir Dara setelah mengakhiri pertautannya, lalu berselimut berdua membawa Dara ke alam mimpi.



"Apa.... hamil....?" Dara terkejut mendengar berita bahwa dirinya dinyatakan hamil.

__ADS_1


"Tidakk... Dara belum mau hamil....!" pekik Dara menangis. ******Cuplikan Episode Berikutnya****


__ADS_2