
Keduanya masih menikmati sentuhan ciuman bergelora itu. Setelah merasa terpuaskan, Wisnu melepaskan tautan bibirnya dengan bibir Sofia. Lalu menatap mata Sofia yang sayu begitu dalam. "*Tidak buruk, bahkan bibirnya rasanya ingin* *kusentuh lagi*," Wisnu berkata-kata nakal dalam hati.
"A... !" Sofia menjauhkan wajahnya dari wajah Wisnu dengan perasaan yang sedikit terkejut. Dadanya bergemuruh, seperti ada perasaan bersalah dan sesal. "Mengapa, aku begitu mudahnya terlena? Padahal belum tentu ada cinta yang dirasakan W Wisnu. Bodohnya diriku." Sofia merutuki kebodohan dirinya karena begitu terbuai dengan bisikan setan yang membuainya ke dalam hasrat yang sesaat.
Sofia sedikit menggeser tubuhnya. Kini antara dia dan Wisnu ada jarak yang memisahkan.
"Maafkan aku, tadi aku benar-benar khilaf!" Wisnu meminta maaf ketika melihat Sofia berubah suram. "Hujan masih belum reda, jadi kamu sabar ya! Kalau dibawa jalan sekarang saya takut terjadi apa-apa. Pohon disekitar kawasan ini masih banyak yang besar-besar, saya khawatir banyak pohon yang tumbang," ujarnya membujuk Sofia yang masih suram.
Sofia bingung berkata-kata. Dirinya merasa sangat tidak ada harga dirinya, dengan gampangnya terbuai oleh pesona Wisnu yang tidak bisa dia hindarkan.
"Kamu, tenang saja. Ciuman tadi hanya akan kita lanjutkan saat kita menikah nanti. Yang barusan ini, anggap saja saya khilaf, dan anggap saja itu adalah khayalan kamu yang menjadi nyata."
"Degggg....!"
Jantung Sofia seketika berdegup kencang, atas ucapan Wisnu barusan. Dia seakan tersindir dengan khayalannya yang tadi sempat membayangkan Wisnu akan menciunnya beberapa centi lagi. Khayalannya jadi terbayar sudah barusan.
"A, boleh tidak Sofia ke kamar mandi? Tapi... Sofia takut. Ini kan rumah orang." Sofia ragu-ragu, namun rasa ingin buang air kecil memaksa dia ingin ke kamar mandi.
"Jangan khawatir, ini rumah dinas yang jarang ditinggali penghuninya. Hanya sesekali disinggahi saja. Ayo... saya antar sampai kamar mandi. Takutnya kamu nyasar."
__ADS_1
"Tapi, A....!" Sofia nampak ragu.
"Apaan sih kamu Sofi, tadi mau ke kamar mandi karena pengen buang air kecil, sekarang ragu. Kalau mau, mau. Kalau nggak, ya nggak. Jangan bikin bingung orang." Wisnu nampak kesal. Wisnu kembali ke mode kaku dan dingin.
Akhirnya Sofia ke kamar mandi dengan diantar Wisnu. "Nah... cepatlah... aku tunggu di sini," ujar Wisnu. Sofia segera ke dalam kamar mandi dan menuntaskan hasrat ingin buang airnya. Tuntas sudah....
Sebelum membuka pintu keluar kamar mandi, Sofia berpikir sejenak akan perubahan Wisnu yang begitu cepat. Tadi begitu romantis, namun kini kembali kaku dan kesannya dingin. Jadi bingung, kalau nanti Wisnu benar-benar melamar apakah Sofia akan menerimanya.
Sementara Wisnu yang kini sedang menunggu Sofia di dalam kamar mandi, senyum-senyum sendiri melihat tingkah Sofia yang merasa aneh akan perubahan sikapnya.
"Sofia, Sofia... dulu saja saat pertama kali ketemu saya, kamu begitu antusias dan agresif. Tapi sekarang, sok jual mahal," cebiknya.
"Ngapain saja, kamu lama banget sih?"
"Tadi Sofia BAK dulu A, maaf menunggu lama," alasan Sofia bohong.
"Wekkk... ihh... jorok... bersih tidak kamu mencuci tangannya?"
__ADS_1
"Bersih A, memangnya kenapa?"
"Siapa tahu saya nanti memegang tangan kamu, kalau tidak bersih nanti tangan saya ketularan bau," sahut Wisnu terang-terangan.
"Ayo....!"
"Wahh... hujannya lumayan reda nih....!" seru Sofia.
"Kenapa, kamu ingin segera pulang?"
"Iya A, mungpung sudah reda hujannya."
"Tapi teman saya belum datang. Nanti saat Pras datang, kita langsung cabut."
Setengah jam kemudian, Pras temannya Wisnu datang. Dia memarkirkan motornya tepat di samping Jeep Wisnu.
"Kebetulan Elu datang, Gua mau balik nih mungpung hujan sudah reda."
__ADS_1
"Nantilah dulu Wis, calon bini Lu suguhi dulu mie, biar dia tidak kedinginan," saran Pras pengertian.
Hujanpun reda, Wisnu mengajak Sofia kembali pulang ke Cikarang.