Dijebak Nikah Paksa

Dijebak Nikah Paksa
Mengulang Kembali Romantisme Semalam


__ADS_3

Subuh menjelang, bahkan jam di dinding masih menunjukkan angka 4. Azdan Subuhpun belum berkumandang. Dara menggeliatkan tubuhnya, namun seperti ada rasa tidak nyaman menghantam tubuhnya. Dara mulai mengerjap-ngerjapkan matanya menyesuaikan pandangannya dengan cahaya Remang-remang yang ada.


Dara mulai bangkit, tapi tubuhnya terasa berat. Matanya mengedar kesekitar. Saat tersadar, Dara begitu terhenyak. Rupanya yang membuat tubuhnya terasa berat adalah tangan Azlan yang melingkar di pinggangnya. Perlahan Dara lepaskan satu persatu tangan kokoh itu, sehingga membuat si empunya tangan terbangun.


Azlan menggeliat persis seperti yang Dara lakukan tadi.


"Eh... sayang sudah bangun?" kejutnya sembari perlahan bangkit. Saat Azlan terbangun, rupanya ada yang ikut bangun. Hasrat Azlan kembali bergelora, kejadian indah semalam kini membayang di pelupuk mata.


Dara menutup tubuh polosnya dengan selimut tipisnya. Kejadian semalam yang menyakitinya, kini terbayang jelas dimatanya. Kelembutan Azlan yang berhasil merobohkan pertahanannya, sehingga membuat Dara harus kehilangan mahkota yang selama ini dia jaga. Ada rasa sedih dan malu seketika, bergelayut dalam dadanya.


Dara berusaha bangkit, namun Azlan. menahannya.


"Kemana....?" tahannya seraya menarik kembali tubuh Dara. Tiba-tiba Azlan mencium bibirnya, tubuh Dara sudah berada dalam penguasaannya. Dara ingin protes dan berontak, namun ia malah terbuai dengan ciuman lembut dibibirnya, yang semakin lama semakin beringas. Rupanya Azlan sudah tidak kuasa menahan hasrat yang bergelora dalam dadanya.


Azlan melepas sesaat tautan bibirnya, dia menatap dalam mata Dara.

__ADS_1


"Sayang... Abang ingin mengulang kejadian tadi malam, sekali saja!" rayunya sendu.


Dara ingin menolak mengingat kejadian semalam yang terasa menyakitinya, rasa yang tidak nyaman.


"Tapi... takut.!" ucap Dara was-was.


"Sakit....?" Dara mengangguk. Azlan berusaha meyakinkan Dara, bahwa untuk kali ini tidak akan terasa semenyakitkan tadi malam.


"Relaks saja sayang, jangan tegang," bujuk Azlan.


Azlan kembali melancarkan aksinya, memberi ciuman lembut pada bibir Dara. Kemudian ciuman-ciuman itu beralih ke tempat lain yang sensitif, berharap gadis yang kini berada dibawah kendalinya mendapatkan rangsangan bukan ketegangan. Agaknya sentuhan lembut Azlan berhasil, Dara mulai merespon permainan Azlan.


"Bersiap sayang...!" ujarnya. Dara hanya bisa menatap sayu dan pasrah akan serangan Azlan.


Dan momen yang dinanti Azlan tiba, pelan-pelan dia masuki kembali lembah yang baru saja dijamahnya tadi malam. Dara terlihat meringis, namun dengan cepat Azlan menghujaninya dengan ciuman.

__ADS_1


"Relaks sayang....!" ucapnya lembut. Dan akhirnya rasa sakit yang masih terasa itu perlahan Dara nikmati yang semakin lama semakin terasa beda, ada rasa nikmat yang sulit ia lukiskan. Sehingga dengan sendirinya Dara merespon dan membalas setiap sentuhan Azlan. Azlan semakin bersemangat. Dalam hatinya sebelum Adzan Subuh dia harus melakukannya dua kali.


Sampai Adzan Subuh berkumandang, Azlan dan Dara rupanya masih terbuai dalam gelora yang membara. Keduanya semakin menyalurkan hasrat yang sama, dua ronde sudah. Dalam satu ronde saja bisa menghabiskan waktu 20 menit. Waktu yang lama, ditambah stamina keduanya yang bagus, masih sama-sama muda dengan hasrat bercinta yang sama-sama bergelora.


Setelah merasa lelah, dan saling merasakan sensasi nikmat yang sama. Azlan dan Dara saling berpelukan, berciuman kembali dengan penuh rasa bahagia.


"Ayo kita mandi besar. Biar Abang rebuskan banyu buat Adek!" ucapnya sambil melangkah pergi menuju kamar mandi. Dara menatap malu kepergian Azlan. Dirinya merasa telah menjadi wanita liar seketika. Saat membayangkan sensasi nikmat yang tadi dia rasakan dan keliarannya saat merespon Azlan tadi, rasanya ingin mengulang kembali. Dara sudah menjadi wanita liar dan nakal dihadapan Azlan. Kini. senyum malu-malu terlukis di wajahnya yang semakin ayu.


Jam di dinding baru disadarinya menunjukkan pukul 5.15 menit. Wahhh.... pergumulan tadi sampai menyita waktu begitu lama. Sampai kumandang Adzan tak mereka sadari.


"Maafkan kami ya Allah!" ucapnya dalam hati.


Suara Azlan yang mengagetkan menyadarkan Dara dari lamunannya.


"Sayang ayo bangun, banyunya sudah siap!" ucapnya sambil melirik Dara yang nampak masih malas berdiri.

__ADS_1


Darapun segera berdiri sambil menahan sedikit rasa sakit akibat semalam.


Azlan menatap bahagia kepergian Dara menuju kamar mandi. Dia bahagia karena sudah bisa menaklukan Dara, dan memilikinya seutuhnya. Tinggal melaksanakan tekadnya, yaitu untuk selalu membahagiakan Dara dan menyamankan Dara, supaya Dara bisa selamanya bersama dirinya baik suka maupun duka.


__ADS_2