Dijebak Nikah Paksa

Dijebak Nikah Paksa
Dibalik Marah ada Cinta


__ADS_3

Selesai makan, sesi foto bersama kedua mempelai, dipersilahkan. Azlan tidak membiarkan Dara berfoto dekat Rian. Padahal dari tadi sikap Rian sangat mendambakan ingin berfoto dekat Dara. Beruntungnya Dara pun tidak membiarkan dirinya berfoto dekat Rian, mungkin menghargai mempelai perempuan.



"Pindah posisi dong!" pinta Rian nampak memelas menginginkan Dara berfoto dekatnya.


"Si Rian gila banget, di hari pernikahannya masih genit-genit sama cewek lain. Gak menghargai orang di sebelahnya yang telah sah menjadi bininya. Dasar sifat playboynya memang belum kelar-kelar," batin Azlan gedek.


Dara melengos menghindari Rian, dia seakan memahami situasi yang mulai tidak nyaman jika dilihat.



"Ayo balik!" tarik Azlan lembut. Walau hatinya merasa sedikit dongkol sejak tadi berangkat, namun dia harus tetap lembut memperlakukan Dara.



"Bang, Gua duluan ...." pamit Azlan pada Jabar yang nampak masih sibuk ngobrol dengan yang lain.


"Ok Lan ... duluan saja, Gua masih betah nih. Pegangin bininya jangan sampai diembat orang!" kelakar Jabar sambil terkekeh.


"Neng, jangan lupa pegangan yang kuat. Kalau bisa sampai tercubit kulit pinggangnya Azlan," canda Jabar sambil terkekeh. Dara balas tertawa sambil berlalu karena lengannya dipegang Azlan.


*


*


Motor Matic yang ditumpangi Azlan membelah jalanan kota Bekasi-Cikarang yang selalu padat. Terik panas matahari setia mengiringi. Tidak ada pembicaraan antara keduanya, semuanya sibuk dengan pikirannya masing-masing.



Azlan menatap Dara dari kaca spion, gadis itu tidak sadar bahwa sedang diperhatikan Azlan. Azlan sejenak fokus ke jalanan, sejenak menatap ke arah spion. Dan saat tatapan mereka saling beradu, Azlan langsung memalingkan pandangan dan kembali fokus pada jalanan.



Dara menarik nafas perlahan, ada sedikit rasa sesak di dadanya, sikap Azlan yang dingin membuat dia merasa makin bersalah. Seandainya tadi pagi dia tidak berbicara seperti itu, mungkin Azlan tidak dingin seperti ini. Ada apa pula dengan hati Dara ini, biasanya dia yang selalu jutek dan dingin terhadap Azlan. Namun ketika menerima perlakuan serupa dari Azlan, hati Dara terasa sakit. Mungkin Azlan mengalami hal demikian, saat dirinya selalu memperlakukan dia seperti itu.


__ADS_1


Motor Matic masih membelah jalanan yang polusinya kurang bagus, debu jalanan terbang kesana kemari terbawa hembusan knalpot kendaraan yang berlalu lalang.


Di belakangnya Rivai setia mengekor tanpa protes.


30 menit kemudian mereka sampai di kontrakan.


Motor berhenti, Dara langsung turun dan berdiri tepat di depan pintu menunggu pintu dibuka.


"Ceklek," pintu terbuka, Dara langsung menghambur ke dalam.


"I, nanti malam habis Isya lu datang sini! Kita gitaran!" pinta Azlan pada Rivai.


"Siap ... asal sesajennya mantap!" balas Rivai.


"Huhhh dasar ... pamrih," ledek Azlan sembari menuju ke dalam kontrakan.


Azlan mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, rupanya Dara sedang di kamar mandi. Terdengar bunyi gemericik air dari keran yang sengaja dinyalakan, dan gebras gebrusnya air yang menimpa tubuh. Dara sedang mandi, rasa gerah akibat terik matahari dan sentuhan debu jalanan membuatnya memutuskan segera mandi.


Azlan pun merasakan badannya sangat gerah dan lengket. Azlan memutuskan akan mandi setelah Dara mengakhiri aktivitasnya.



Dara membaringkan tubuhnya di kasur, rasa kantuk menyerang hingga lamat-lamat dia tertidur.


"Dor ... dor ... dor ...." bunyi palu beradu dengan paku bersahutan, mencoba menembus dinding tembok rumah kontrakan. Membuat Dara yang tadi terlelap kini tersadar kembali.


"Ada apa ini, berisik banget?" ujarnya heran seraya menajamkan pendengarannya.


Perlahan Dara bangkit dan mengintip dari balik lemari. Rupanya Azlan sedang memasang paku untuk kaitan cermin. Cermin yang tadi cuma bersandar di bawah, kini seketika tergantung.


Dara segera kembali ke kasur, berbaring menyamping ke arah tembok. Rasa kantuk tadi hilang seketika. Kini Dara gelisah, satu hal yang disesalinya adalah kata-katanya tadi pagi yang diucapkannya pada Azlan.


"*Cowok itu sedang cemburu padaku, sehingga menghukumku dengan sikap dingin seperti ini. Rasanya tidak sanggup dicuekkan begini*." *Haruskah aku yang memulai duluan minta maaf*?" Dara membatin.


Sangat menyiksa, kini Dara benar-benar tidak bisa memejamkan mata. Yang ada di kepalanya hanyalah penyesalan tentang sikapnya tadi siang.


Cermin yang tadi sempat dia protes karena posisinya, kini sudah terpasang.

__ADS_1


"Huhhh ... " helanya berat.


"Trek...!" bunyi pintu dikunci terdengar. Derap langkah kaki Azlan terasa menuju ke dalam kasur.


Jantung Dara tiba-tiba berdegup kencang bersamaan dengan Azlan yang membaringkan tubuhnya di samping Dara. Lalu dipeluknya tubuh Dara dari belakang dengan sempurna. Posisi yang intim dan nyaman bagi Azlan begitupun dengan Dara.


Tanpa sengaja bagian inti si kembar milik Dara tersentuh tangan Azlan. Azlan merasakan sensasi lain. Dara bergerak, merasakan hal aneh saat sentuhan tangan Azlan mengenai si kembar.



"Rupanya belum tidur sayang, atau terbangun gara-gara barusan?" ucap Azlan kembali hangat dan mesra meneduhkan hati Dara, seraya matanya memberi kode menunjuk ke arah dua aset milik Dara. Dara tersipu malu.


"Kangen....!" Azlan memberi kode aneh yang dipahami Dara, tanpa merasa ragu Dara memutar tubuhnya menghadap Azlan. Kini tubuhnya saling berhadapan, Dara ingin melingkarkan tangannya di pinggang Azlan namun kesusahan.


"Sayang..., baringnya menghadap kesana!" tunjuk Azlan pada langit-langit rumah. Dara patuh.


Sejenak Dara merasakan wanginya sampo yang menyeruak dari rambutnya dan rambut Azlan. Azlan menatap gemas kelakuan Dara.


"Abang, Dara minta maaf atas kata-kata Dara tadi siang!" akhirnya kata maaf itu keluar dari mulut Dara. Hembusan nafasnya masih tercium wangi pasta gigi, segar rasanya.


Tanpa menjawab, Azlan secepat kilat menyambar bibir Dara lembut. Lama dan penuh penghayatan. Dirasakan dan dinikmatinya, bersamaan dengan itu sebuah hasrat besar tiba-tiba menguasai pikirannya. Azlan mulai menatap sendu bola mata gadis yang kini berada dalam pelukan eratnya.


Diraupnya kembali, secara reflek Dara membalas ciuman itu. Ini ciuman pertama yang dirasakan Dara dengan perasaan menggebu.


Tanpa sadar tangan Azlan sudah bergerilya kemana-mana, membuka satu persatu yang melekat di tubuh Dara, anehnya Dara membiarkan dengan pasrah. Ada sebuah hasrat besar di dalam dadanya. Hasrat ingin ... melanglang buana ke surga dunia yang sama sekali belum dilakoninya.


Gadis polos yang benar-benar masih tersegel rapi ini, seakan hilang nalar membiarkan dirinya dirasuki hasrat yang menggebu. Perlahan dan pasti tertanggal semua yang melekat di sekujurnya. Malu-malu namun entah kenapa memberi ruang pada insan cowok yang kini semakin leluasa menguasainya.


Selimut tipis itu menutupi keduanya, hembusan kipas angin terasa dingin walau keduanya makin panas. Azlan makin merangsek.


"Sayang ... Abang ingin ...!" pintanya menatap sendu sang gadis perawan. Sang gadis melingkarkan tangannya di bagian pinggang Azlan dan menautkan jemarinya. Sempurna..., persetujuan yang direspon dengan baik oleh keduanya.


Azlan kembali memberikan ciuman lembut di bibir gadis perawannya, gadis perawannya membalas dengan suka rela. Saat keduanya makin terlena dan sebuah hal besar sedang berjuang keras untuk merangsek masuk, tiba-tiba lengkingan keras terdengar begitu nyaring.



"Ahhhh ... sakit ... hentikan!" Azlan mengangkat tubuhnya, tatapan kecewa menuju bola mata gadis yang kini berada di bawah kungkungannya, dengan berderai air mata.

__ADS_1


__ADS_2