Dijebak Nikah Paksa

Dijebak Nikah Paksa
Tamu Tak Terduga


__ADS_3

"Tok... tok... tok....!" Suara pintu diketuk terdengar begitu nyaring. Sampai beberapa kali diketuk namun sang empunya rumah belum menampakkan respon. Lalu dia berdecak kesal sembari melihat jam ditangannya.


"Huhhh....!" Desahnya sedikit kesal. Namun tanpa menyerah dia mengulang kembali mengetuk pintu dibarengi ucapan salam.


"Tok... tok... tok... Assalamu'alaikum....!" Ucapnya ngebass.


Sementara di dalam kamar petak sang empunya kamar baru menyadari bahwa diluar ada orang yang mengetuk pintu, itupun baru disadarinya karena suara ketukan itu sampai terbawa mimpi.


"Dara menggeliatkan tangan ke kiri dan ke kanan, lalu mencoba menepuk-nepuk Azlan yang tertidur sama pulasnya.


" Abang... Abang....!" Sambil menepuk lebih keras, sehingga Azlan benar-benar terbangun.


"Kenapa, Dek... ada apa?" tanyanya terkejut, sementara matanya masih benar-benar terpejam.


"Di depan ada yang ketuk pintu, sampai terbawa mimpi ketukannya," ungkap Dara sedikit ngomel.


"Ketuk pintu? Siapa ya? Biarkan saja, kita tunggu saja apa dia ngetuk lagi, nggak," ucap Azlan dengan nada suara yang serak khas orang ngantuk yang kebangun.



"Paling si Vai, benar-benar deh dia, minta ditampol," Azlan ngedumel kesal.


"Ah terserah Abang, Dara mau bobo lagi," Dara berbaring kembali seraya melilitkan tangan Azlan di pinggangnya. Azlan malah kegirangan, semakin erat saja dia memeluk Dara.


"Assalamu'alaikum...! Tok... tok... tok....!" Ucapan salam dan ketukan pintu itu diperdengarkan ulang lebih jelas.


Azlan dan Dara sama-sama tersentak. Sementara Dara mengernyitkan dahinya seakan mengingat sesuatu, namun lupa.


"Tuh kan, ngetik lagi. Sana Abang buka. Dara takut orang yang jahat," ujar Dara seraya mendorong supaya Azlan bangkit dan membuka pintu itu.


"Pasti si Vai, kurang kerjaan dia. Sudah dibilangin jangan datang kaya Jalangkung, ini malah ngeyel dan nekad datang. Tidak paham banget jadi sohib," omel Azlan gedek.


"Tapi, suaranya kayak bukan Kak Vai. Ini suara orang lain yang seperti Dara kenal.... " ujarnya mencoba mengingat-ingat sesuatu.


Perlahan Azlan bangkit, sejenak dia membetulkan kaos dan mengganti celana pendeknya dengan training panjang. Lalu perlahan dia keluar kamar sepetak itu dan menuju pintu.


"Ceklek.... "! bunyi kunci dibuka. Dengan hati dongkol perlahan Azlan membuka kenop pintu, lalu....


Pintu terbuka dengan mulut Azlan yang masih ngedumel.


" Apa sih Vai, sudah Gua bilang jangan kayak Jalangkung. Kok tidak paham banget sih!" rutuk Azlan saat pintu benar-benar terbuka. Namun seketika saat pandanganya jelas siapa yang datang, Azlan langsung tersentak tidak percaya.


"A Wisnu....!" pekiknya terkejut. Sungguh ini kejutan yang luar biasa bagi Azlan. Tidak disangka orang yang juga mencintai Dara sebagai wanita, tiba-tiba berada disini di hadapannya.

__ADS_1



"Dara mana... ?" Wisnu tidak berbasa-basi dahulu, dia langsung pada intinya. Azlan jadi tengsin sendiri dan secepat kilat membingkai wajahnya dengan senyuman yang terkulun.



Sebelum Azlan menjawab, dia dengan perlahan mencoba meraih tangan Wisnu dan menyalaminya, Wisnu dengan cepat segera menariknya tangannya yang sudah tersentuh Azlan sedikit.



"Siapa Bang....?" Dara menghampiri dengan tangan yang menutupi mulut yang menguap.


"Ini....!" seru Azlan tersendat.


"Aaaa....!" jerit Dara seraya berlari dan langsung menubruk tubuh atletis dan sixpack itu lalu memeluknya. Azlan terhenyak dengan sikap Dara. Namun dia berusaha menempatkan diri sebagai seorang adik ipar yang baik dan pengertian. Azlan membiarkan Dara merangkul Kakaknya itu sampai kerinduannya tercurahkan.


Azlan paham kerinduan Dara begitu besar, setelah lama tidak saling kontak dan berkirim kabar, namun kini di depan matanya, Kaka sepupu Dara benar-benar menjelma nyata.



Dara memeluk erat Wisnu disertai isak tangis yang dalam. Bagaimana tidak, selama ini setelah pernikahan resminya dilaksanakan. Wisnu seakan menghilang dari kehidupan Dara, karena merasa kecewa pada Dara.




Dengan sigap, Azlan menyiapkan minuman dan membawanya ke hadapan Wisnu yang kini sudah duduk di atas ambal yang digelar.



"Minumnya A....! " tawar Azlan tulus. Azlan tahu sikap dingin Wisnu ini kenapa, hanya dirinya dan Wisnulah yang tahu. Namun Azlan berusaha menutupinya di hadapan Dara. Sebisanya sikap kaku itu disembunyikan.



"Diminum A... setelah itu Dara ingin tahu, kenapa Aa bisa sampai disini sedangkan Aa belum tahu kontrakan kami sebelumnya?" Dara bertanya penasaran. Kakak yang selama ini dia rindukan, akhirnya ada di depan mata.



"Aa tahu karena Aa bertanya, Aa juga tidak tahu sebelumnya kontrakan Ade dimana. Lalu Aa cari tahu lewat orang-orang disini."



"Memangnya Aa habis darimana, tiba-tiba mampir kesini. Bandung Cikarang jauh lho," heran Dara.

__ADS_1


"Bukan Bandung Cikarang, tapi Cijantung- Cikarang," rapatnya sambil tertawa kecil. Wahh tampannya Wisnu saat tertawa, kalau saja Dara bukan saudara sepupunya dan Dara masih lajang, pasti Dara naksir habis pada cowok Tentara tampan dan kool di depannya kini.


"Akhir-akhir ini Aa ke Cijantung, kenapa? Bukankah Aa bukan seorang Kopassus?"


"Ada deh... pengen tahu aja," sahut Wisnu penuh canda. Azlan yang sejak tadi tidak nimbrung, hatinya sedikit cemburu saat Wisnu mulai akrab dengan Dara. Andai saja Dara tahu perasaan Wisnu yang sebenarnya, maka apa yang akan Dara lakukan?


"Aa ngawal komandan kesana. Sekarang Aa lagi santai, jadi Aa maksain menjumpai Ade Aa tersayang," ungkapnya semakin membuat Azlan. dilanda cemburu.



"Ihh... Aa... Dara juga sayang sama Aa. Itu makanya Dara merasa kehilangan dan sedih saat Aa memutuskan kontak. Dan sekarang Dara bahagia banget karena Aa sudah datang dan kembali seperti dulu lagi, seperti Aa yang Dara kenal," ucap Dara berkaca-kaca bahagia.



"Bahkan saat terakhir Aa dihubungi pakai Hp Bang Azlan, Aa masih belum mau memaafkan Dara dan masih marah sama Dara. Maka saat itu, Aa tahu tidak Dara sempat down dan tidak bersemangat," ungkap Dara menerawang mengingat kejadian waktu itu.



Dara melirik Azlan dan berkata, "beruntung ada Bang Azlan, dia selalu menguatkan Dara, bahkan Bang Azlan bilang suatu saat A Wisnu pasti akan kembali menjadi A Wisnu seperti semula, hangat dan perhatian sama Dara." Sambungnya sambil menunduk.



Wisnu menatap dalam wajah Dara. Ohhh... betapa sedihnya gadisnya ini saat dulu dia biarkan bersedih. Alangkah jahatnya Wisnu melakukan itu pada Dara yang menganggap dia benar-benar Kakak sepupu. Wisnu menatap lekat dari ujung kaki sampai ujung kepala. Ada binar bahagia di wajah gadis itu. Binar bahagia dalam rumah tangga yang dijalani bersama cowok yang dia anggap brengsek.



Wisnu mendadak sesak, dadanya seakan terhimpit baru besar mengetahui kini Dara dan cowok yang dianggapnya berengsek bahagia. Wisnu dapat menilai dari sorot mata Dara yang terdalam.



"*Adikku ini kini sudah benar-benar bahagia dan* *menerima cowok brengsek ini dengan penuh* *cinta, sepertinya sudah tidak ada harapan lagi aku* *memilikinya. Kalau dia memang benar bahagia*, *maka aku rela melepasnya*." Batin Wisnu seraya menatap sayu.



Saat Wisnu menemukan kenyataan yang dianggapnya terpahit dan harapan untuk memiliki Dara sudah nol persen, maka hantaman di dadanya kini seakan bertambah beratnya. Namun Wisnu mencoba bertahan. Menarik nafas dan menghembuskannya perlahan tanpa diketahui Dara dan Azlan. Dan Wisnu memberanikan diri mencoba menggodanya sejauh mana sikap dan tingkah Dara.



"Kaos Ade terbalik, kok bisa? Tidak dilihat dulu tadi saat dipakai?" Jlebbbb... sontak pertanyaan itu membuat Dara seakan limbung dan berubah salah tingkah.



"*Kamu benar-benar telah bahagia Dengan, Aa* *sudah mengetahuinya*," batinnya lagi sedikit kecewa namun berusaha lapang dada.

__ADS_1


__ADS_2