Dijebak Nikah Paksa

Dijebak Nikah Paksa
Darurat Dara Sakit


__ADS_3

Jumat Pagi


Dara mondar-mandir di ruang tengah, dia nampak sibuk mencari sesuatu. Kadang bolak-balik ke lemari dan kastop yang menempel di pintu, dibuka helai perhelai baju yang tergantung di kastop itu. Kayanya yang dia cari nihil, kemudian dia balik lagi ke lemari, diaduk-aduk lagi isi lemari, nihil juga. Azlan nampak heran.


"Adek cari apa, dari tadi kaya yang bingung?" tanya Azlan heran.


"Baju atasan kerja Dara tidak ada, Abang ada nyuci gak?" tanya Dara kalang kabut. Kali ini Dara tidak diam saat ditanya Azlan.


"Abang gak ada nyuci," sahut Azlan. "Adek, kan saat itu marah kalau Abang cucikan, jadi sejak itu Abang gak cuci baju Adek lagi," sambung Azlan.



"Aduh, gimana nih!" Dara tepok jidat dan nampak bingung.


"Coba cari di kamar mandi, jangan-jangan masih kotor," ucap Azlan mengingatkan. Dara seakan diingatkan, lantas dia segera ke kamar mandi. Ternyata baju kerja yang cuma satu-satunya itu masih tergantung di atas kastop. Kemarin selepas pulang kerja sore, niatnya mau dicuci. Namun entah kenapa dia lupa, biasanya Dara nyuci baju kerjanya setiap tiga hari sekali, bajunya cuma itu-itu saja.


Jorok gak, ya, nyuci baju kerja yg cuma satu-satunya, dicuci cuma setiap tiga hari sekali? Kayanya itu baju cepet bladus dan kumel, untungnya Dara tidak bau ketek. Terakhir Dara dikasih baju dari Leadernya 4 bulan yang lalu, kalau mau yang baru harus nunggu dua bulan lagi. Karena setiap 6 bulan sekali para Operator dikasih baju kerja yang baru. Dara seperti habis akal, dia kebingungan.



"Kan ada baju yang satunya lagi Dek!" Azlan mengingatkan. "Pakai saja yang itu, sudah lama tidak dipakai, kan?" Azlan memberi ide.



"Baju yang itu sudah rusak, kena tinta sama kena luntur baju batik Dara," sanggah Dara.



"Coba lihat!" pinta Azlan sambil bergegas ke lemari baju Dara. Tidak lama, Azlan menemukan baju yang dimaksud. "Iniii!" Azlan membeberkan baju seragam Dara yang kusut dan ada bekas lipatan. "Coba setrika dulu Dek!" perintah Azlan.



Dara dengan cepat memasang setrika, setelah panas dia segera menyetrika baju itu.


"Tuh ... kan tintanya besar apalagi warna luntur baju batiknya tepat di dada," protes Dara.


"Tutupin saja sama jaket!" saran Azlan.


"Gak bisa Bang, jaket harus dibuka kalau di dalam, kecuali orang sakit." Dara memberi alasan.


"Bilang aja Adek lagi sakit!" Dara mendelik sebal diberi ide konyol seperti itu.


"Abang ini, kalau sebal sama Dara gak tanggung-tanggung doainnya." Dara merengut marah.


"Becanda Dek, lagian Abang cuma punya idenya itu," alasan Azlan.


Dara melihat jam weker, buset jam 7 kurang 10 menit, alamat Dara bakal terlambat masuk kerja. " "Haduhh," dengusnya.


Dara buntu tidak ada ide. "Adek pakai kerudung saja, Adek punya, kan kerudung segi empat yang warna hitam dan kuning," Tiba-tiba Azlan memberi saran yang tidak terpikir oleh Dara.


"Benar juga tuh," pikir Dara dalam hati. Lekas Dara mencari kerudung warna hitam miliknya, tidak sulit mencari, Dara sudah menemukan kerudung yang dimaksud. Dengan cepat Dara mengganti bajunya dengan baju kerja yang ada tinta dan kena luntur itu, lalu mengenakan kerudung hitamnya, untung saja dia punya ciputnya.


Ternyata ide Azlan tidak buruk. Dimasa darurat seperti ini, ide Azlan brilian juga. Setelah mengenakan kerudung Dara nampak sangat cantik, Azlan sampai ternganga dibuatnya.



"Masya Allah, Adek cantik sekali pakai kerudung. Cocok banget Dek. Apalagi tinta sama kelunturan warna ketutup sama kerudung," puji Azlan seraya berdecak kagum. Benar juga omongan Azlan, baju Dara yang kena tinta dan kena luntur sudah tertutup oleh kerudung hitam segi empatnya. Ide Azlan rupanya tidak buruk.



"Makasih Bang idenya gak buruk, Ok deh Dara berangkat dulu, keburu telat nih," ucap Dara sambil melengos keluar. Sebelum benar-benar keluar, Azlan menangkap tangan Dara.



"Tunggu dulu, bareng Abang saja naik motor. Tidak akan telat. Kalau jalan kaki Adek pasti telat dan cape harus lari-lari," bujuk Azlan. Sebentar Dara berpikir, akhirnya dia setuju.



"Ok deh, Dara ikut naik motor," Akhirnya Dara tidak menolak, biasanya dia tidak mau pergi kerja bareng Azlan naik motor. Alasannya takut ketahuan teman-temannya kalau dia sudah nikah paksa dengan cowok bernama Azlan ini.

__ADS_1



Sebelum pergi, Azlan menutup jendela dan mengunci pintu. Azlan menyalakan motornya. Dengan canggung, Dara duduk bersilang di belakang Azlan dan menjaga jarak. Azlan nampak senang Dara ada di belakangnya, sebab ini baru pertama kali Dara mau dibonceng olehnya.



"Dek, pegangan!" Intruksi Azlan. Dara cuma pegangan ke besi yang berada di belakang motor. "Awas ya Bang, kalau dilihat teman Dara, jangan bilang kalau kita ada hubungan. Bilang aja teman!" Peringat Dara.



"Kalau Abang bilangnya Adek bini Abang gimana?" tanya Azlan cengengesan.


"Awas aja, Dara minggat," ancamnya.


Akhirnya cuma butuh 4 menit Dara sampai di pabrik tempat dia bekerja, sementara Azlan masih 40 meter lagi sampai di depan pabrik tempatnya bekerja. Maklum pabrik mereka bertetangga, namanya juga kawasan industri.


Tanpa pamit, Dara langsung turun dan menghambur ke mesin absen. "Tit ..." Dara menggesek kartu absennya. Beruntung tidak telat, masih ada 3 menit lagi ke jam 7.



"Dara, itu elu?" Tanya Nela heran. Dara mengangguk. "Gua pikir siapa, ada angin apa nih tiba-tiba elu berkerudung?" Nela keheranan, dia menatap lama ke arah Dara, rasa heran dan takjub bercampur jadi satu. Dara nampak lebih cantik dikerudung, apalagi bentuk pipinya jadi nampak lebih tegas. Pokoknya bedalah.



"Woy, jangan ngobrol. Siap-siap mesin dicek!" Tiba-tiba Kak Vita, Leader Dara menegur dan memperingatkan Dara dan Nela untuk segera ke mesin.


"Siap Kak," sahut mereka.


"Ehh, Dara ... kamu berkerudung?" tanya Kak Vita heran seakan baru sadar, disela-sela ngecek laporan dari Leader shift malam. "Ada angin apa nih tiba-tiba?" Kak Vita masih penasaran.


"Iya nih, ada angin apa Dar tiba-tiba elu pake kudung?" Nela ikut nimbrung.


"Anu, tadi darurat Kak, baju Dara yang biasa Dara pakai, kemarin lupa belum dicuci, akhirnya pake yang lama yang udah bladus dan kena tinta juga kena lunturan. Akhirnya untuk nutupi tinta dan lunturan, Dara ada ide ditutup sama kerudung, Kak," beber Dara, padahal ide dikerudung adalah ide Azlan. Dara tidak mau berkata yang sebenarnya.


"Tapi bagus juga Dar kamu dikerudung, jadi lebih cantik," puji Kak Vita."


"Besok juga dilepas Kak," sergah Dara. "Ngapain elu lepas lagi, malu tahu. Kalau dilepas lagi justru malah elu dibuly, entar dibilang elu mempermainkan hijab," sergah Nela memperingatkan.


"Iya, tidak usah dilepas, udah bagus kok Dar. Lagian perusahaan ini tidak melarang pegawainya berhijab, asal hijabnya tidak mengganggu kinerja kita, ok ok saja," timpal. Kak Vita memberi masukan. Dara manggut-manggut paham.


"Itu baru benar Dar, asal jangan hijab yang gombrong, kalau gombrong kan takutnya mengganggu gerak kerja kita," timpal Nela lagi logis.


"Ok sip," ujar Dara setuju.


"E, ehhh Neng Dara, kirain Mamah Dedeh mampir ke pabrik mau tausyiah," ledek Bang Jabar bercanda. Dara tersenyum manis ke arah Bang Jabar Teknisi mesin yang Dara pegang. Teknisi ganteng itu tersenyum manis ke arah Dara.



"Alah, Abang ngeledek nih, Dara mah gak ada setahi kukunya Mamah Dedeh, Bang," sergah Dara sambil tersenyum.


"Lebih cantik Neng kalau dikerudung," puji Bang Jabar jujur.


"Ih Abang bisa saja kalau gombal," tepis Dara malu.


"Beneran cantik banget, Abang jadi naksir deh," serunya.


"Abang ini gombal terus, gak ingat ya di pabrik Hitachi ada bininya!" peringat Dara.


"Kalau Abang belum nikah, Abang embat dirimu Neng ke pelamina," Canda Bang Jabar.


"Jabar...., kamu ini gombal terus!" teriak Kak Vita tiba-tiba, mengacaukan gombalan Bang Jabar.


"Becanda Vit, biar happy terus," sergahnya sambil ketawa ketiwi.


Waktu menunjukan pukul 11 siang, satu jam lagi istirahat. Suara mesin 10 yang dijalankan Dara nampak adem ayem, tidak ada alarm merah yang menandakan trouble. Mesin ini memproses sebuah PCB, kebetulan yang sedang berjalan adalah PCB remot. Dara lega jika mesin tidak ada masalah, kalaupun ada masalah, Dara tinggal panggil Bang Jabar si Teknisi ganteng, wangi dan baik hati.



Baik hati, karena kalau mesin ada masalah dia tidak pernah marah-marah, selalu sabar dalam menghadapi mesin apalagi penjaga mesinnya. Sekelebat bayangan Azlan muncul di benak Dara. Azlan yang saat ini sedang Dara jutekin, akibat ulahnya menjebak tempo hari. Kesal dan muak menyerang seketika, tapi bersamaan dengan itu semua kebaikan-kebaikan Azlan dan sikap sabarnya menari-nari di kepala.

__ADS_1



Dara tiba-tiba merasa pusing dan meriang, sendi-sendi badannya juga sakit. Tapi sakit sendi sebenarnya sudah Dara rasakan tadi malam, namun tidak Dara hiraukan.



"Brukk!" tiba-tiba tubuh Dara ambruk. Nela, Siti dan Mita yang mesinnya bersebelahan dengan Dara berhamburan menghampiri Dara.


"Dara pingsan, Dara pingsan," teriak Nela khawatir dan suaranya masih Dara dengar samar-samar.


Setelah itu Dara tidak mendengar lagi suara apapun. Dara tak sadarkan diri.


Perlahan Dara mulai siuman. Dia heran berada di mana. Lamat-lamat Dara melihat Nela di pinggir brangkar.


Rupanya Dara berada di klinik. Dara mencoba bangkit tapi kepalanya terasa pusing. Nela sigap membantu Dara. "Nel....!" seru Dara sambil meringis.



"Elu tadi pingsan Dar," info Nela.


"Makasih Nel udah bantu gua," ucap Dara.


"Kata dokter gua sakit apa?"


"Gak paham gua, katanya sih elu kecapean, terus bisa jadi banyak pikiran, yang berimbas pada ketahanan fisik elu. Karena lu gak tahan, jadilah terserang pusing, demam dan lain-lain," terang Nela.


"Apa sih, gua gak paham sakit apa?" protes Dara.


"Tuh tanya dokter, kebetulan datang," tunjuk Nela.


"Sudah siuman Nona Dara?" tanya dokter yang dibalas anggukan oleh Dara.


"Saya sakit apa dok?" tanya Dara tidak sabar.


"Anda cuma gejala tipes, kayanya Anda kecapean, istirahat kurang, minum air putih kurang dan banyak pikiran," terang Dokter.


"Tapi, apakah tidak apa-apa dok, maksudnya tidak parah?" tanya Dara lagi penasaran.


"Tidak, selama Anda mengikuti saran saya dan meminum obat secara teratur, Anda boleh rawat jalan, nanti saya kasih surat dokter, Anda harus istirahat di rumah selama 3 hari," jelas dokter sambil menuliskan resep obat.


"Baiklah Nona Dara, berhubung tidak ada yang lebih menghawatirkan dari Anda, untuk saat ini Anda bisa rawat jalan. Obatnya diminum teratur. Jangan lupa makan yang teratur, minum air putih minimal 8 gelas sehari, jangan kelelahan dan banyak pikiran, ini bisa mempengaruhi kesehatan Anda," peringat dokter sembari menjelaskan, sembari menyodorkan secarik kertas resep.



Perlahan Dara keluar dari ruangan IGD klinik itu, dia dibantu Nela dan Bang Jabar yang ikut mengantar. "Makasih, ya Bang udah anter Dara ke klinik. Terus gimana, mesin siapa yang jaga?" Dara mengucapakan terimakasih pada Jabar dengan suara lesu.



"Kamu ini Neng, sakit kok masih mikirin mesin. Tenang aja, mesin udah dihandel Vita n Bang Tedy," ucap Jabar menenangkan. "Sekarang kita pulang ke kontrakan, kasih alamatnya ke Nela," pinta Bang Jabar.



Tanpa lama, Dara memberi alamat kontrakannya dengan jelas.


"Lho kok, elu pindahan Dar?" tanya Nela heran.


"Udah Nela, nanyanya lain kali aja, kasian Dara harus cepat-cepat ke kontrakan dan istirahat," cegah Jabar kesal. Akhirnya Dara pulang diantar mobil ambulan klinik. Nela dan Jabar ikut mengantar sampai tujuan.



Setelah sampai dan Dara benar-benar terbaring dengan nyaman, Nela dan Jabar pamit, sebab masih jam kerja. Sesaat Nela mengamati kamar kontrakan Dara yang baru, dia nampak berpikir dan keningnya berkerut.


"Dara sejak kapan pindah kontrakan, dan dia tinggal bareng siapa, seperti banyak baju-baju cowok?" tanya Nela dalam hati. Sebelum terjawab rasa penasarannya, Jabar meneriaki Nela.


"Nel, ayo dong, mau balik pabrik lagi gak!" ajak Jabar membuyarkan pikiran Nela.


"Ok, ok Bang!" seru Nela. "Dar, gua pamit. Assalamualaikum!" pamit Nela mengucap salam bersamaan dengan Jabar. Sementara Dara cuma bisa membalas pelan ucapan salam mereka bersamaan ditutupnya pintu kontrakan oleh Nela. "Nela pasti penasaran," desah Dara. Lamat-lamat akhirnya Dara tertidur, mungkin pengaruh obat yang diminumnya.


Hai Kaka2 readers, minta dukungannya untuk karya saya yang perdana ini ya.

__ADS_1


__ADS_2