Dijebak Nikah Paksa

Dijebak Nikah Paksa
Wisnu dan Tragedi Seblak


__ADS_3

Dara langsung dibuat salah tingkah dengan pertanyaan Wisnu. Tadi saat memakai kaos dia tidak lihat-lihat dulu, alhasil kini wajahnya bak kepiting rebus. Merah dan mendadak panas. Azlan yang mengetahui Dara salah tingkah, ikut salah tingkah. Tragedi kaos Dara terbalik kan awalnya dari ulah mereka berdua.



"Ta-tadi, Dara habis mandi A, itu makanya kaosnya terbalik," alasan Dara benar-benar dibuat-buat membuat Wisnu tersenyum simpul.



"Mandi kok matanya sayu, kayak habis bangun tidur," sangkal Wisnu, membuat Dara makin keder.


"Adek... ganti dulu kaosnya, lalu ke warung depan sebentar, kayaknya udara semakin panas. Kita butuh es batu nih buat bikin minuman dingin," Azlan menimpali dengan begitu elegan. Dara merasa terselamatkan dari rasa malu yang menyerang. Bagaimanapun juga walau kejadian hot itu tidak diketahui mata Wisnu, namun kaos yang diketahui terbalik dan diketahui orang lain, merupakan hal yang memalukan bagi ,


"Untung ada Bang Azlan, dia begitu cerdas menyelamatkan rasa malu Dara," batinnya merasa bersukur dengan Azlan.


Setelah Dara mengganti kaos pendek yang terbalik dengan kaos panjang dipadu rok dan kerudung segi empatnya, Dara keluar dari kamar seraya malu. Ditangannya dijinjing sebuah dompet.


"Dara ke warung dulu ya....!" ucapnya tidak ditujukan pada siapa-siapa. Wisnu menatapnya dengan ujung mata. Ada bulir bening disana yang di tahan.


"Kamu begitu cantik De memakai jilbab sederhana itu, seandainya kamu jadi milik Aa, alangkah bahagianya Aa. Maafkan Aa punya perasaan ini. Sejak kamu berubah menjadi perempuan baligh, terus terang Aa jatuh cinta pada pandangan pertama. Sampai kini, kamu belum terganti. Adikku dan kekasih hatiku! Tapi kamu tidak pernah menyadarinya," ungkapan batin Wisnu terasa mengiris hatinya, sehingga bulir bening di sudut mata itu jatuh dan dengan cepat ia seka sehingga tidak sampai jatuh.


Azlan menyadari itu. Dia tahu perasaan Wisnu yang sebenarnya.


"A, diminum dulu minumannya!" Azlan mempersilahkan mencairkan kebekuan diantara dia dan Wisnu. Wisnu hanya menoleh sejenak pada Azlan.


"Saat ini hanya ada kita berdua, Aku peringatkan bahagiakan Dara, jangan pernah kamu menyakiti hatinya sedikitpun. Jika itu kamu lakukan, maka bukan orang lain yang akan merebut dia dari kamu, tetapi aku!" peringatnya keras.



"Saya janji tidak akan pernah menyakiti hati Dara," balas Azlan sungguh-sungguh.


Wisnu tersenyum sinis lalu manatap tajam ke arah Azlan.


"Aku selama ini menjaganya, harkat dan martabatnya supaya dia bisa jaga diri dimanapun dia berada, tapi cara kamu begitu mudah mendapatkannya dengan menjatuhkan harga dirinya, itu yang saya kecewa. Sampai kapanpun saya akan ingat perlakuanmu," tegasnya.


"Saya akui saya salah, saya minta maaf. Saya akan berusaha sekuat tenaga saya akan selalu membahagiakannya," ucap Azlan sungguh-sungguh.



Tak terasa setengah jam berlalu, namun Dara belum sampai. Azlan dan Wisnu merasa khawatir. Azlan berjingkat bermaksud ingin mencari Dara namun Dara rupanya sudah menuju ke kontrakan.

__ADS_1



"Eh... Abang mau kemana?" Dara merasa heran.


"Tadi mau cari Adek karena lama, tapi Adek keburu nongol. Emang Adek beli apa sih, lama banget?"


"Dara beli Seblak ke kedai sebrang. Panas-panas gini selain minum yang dingin, harus dimix sama yang panas dan pedas, biar mantap," seru Dara sembari menuju dapur mengambil wadah dan menyiapkan Seblak yang akan dihidangkan.


"Tapi Aa tidak kuat pedas De....!" kelit Wisnu.


"Aa coba dulu, ini pedasnya cuma satu sendok kok."


Tiga wadah Seblak akhirnya sudah tersaji, tinggal dinikmati.


"Ini buat Abang... pedasnya dua sendok."


"Haduhhhh... kenapa banyak punya Abang....?" Azlan tersentak kaget mendengar Seblak dia begitu banyak pedasnya.


"Itu tidak pedas, itu sedang-sedang aja kok. Ayo dimakan!" Seru Dara. Dan mereka bertiga makan Seblak bersama seolah lagi berlomba makan Seblak, tiba-tiba Wisnu terbatuk dan kepedasan.




Dara jadi merasa sedih, padahal tadi Wisnu sudah bilang dia tidak kuat makan pedas, dan akhirnya terjadilah tragedi ini. Dara sangat menyesal.



"Aa... Dara minta maaf....!" ucap Dara penuh sesal, sesaat setelah Wisnu mulai reda batuknya.


"Kan sudah Aa bilang, Aa tidak kuat makan pedas. Ini mah ceritanya ingin meracuni Aa dong." Protes Wisnu merajuk memperlihatkan sikap manja pada Dara. Azlan melihatnya sedih salah tingkah melihat keakraban istri dan iparnya itu. Walau ia cemburu namun terpaksa dia tahan.


Satu jam setelah kejadian tersedaknya Wisnu. Wisnupun pamit. Dara nampak sedih, dia masih rindu dengan Wisnu


Namun mau bagaimana lagi, Wisnu masih harus ke Cijantung untuk mengawal Komandan saat kembali ke Bandung besok.


"Titip Dara, jangan sampai sakiti dia. Kalau tidak, maka obrolan aku yang tadi akan berlaku!" Peringat Wisnu tegas.


"Kalau kamu sudah siap, kami menunggu kedatangan kamu untuk menggelar resepsi. Supaya orang-orang kampung tahu bahwa Dara telah menikah," peringat Wisnu lagi tegas.

__ADS_1


Azlan membalas tatapan Wisnu, dia menjawab peringatan Wisnu dengan sorot matanya yang tajam. Kemudian Azlan menyalami Wisnu.



"Aa pergi dulu ya cantik....!" pamitnya sembari mencium ubun-ubun Dara penuh sayang.


Wisnu melambaikan tangannya saat dia membuka pintu mobil dinas yang disupirinya.


Dara menatap sedih kepergian kakak sepupunya, rasanya baru bahagia sebentar malah pergi lagi.



"Ayo Dek, masuk!" Ajak Azlan seraya meraih dan menarik bahu Dara membawanya ke dalam kontrakan. Dara patuh lalu mengikuti Azlan.


"Jangan sedih lagi, kita doakan saja A Wisnu selamat sampai tujuan," bujuk Azlan sembari meraih tangan Dara lalu diremasnya lembut.


"Adek tahu tidak?"


"Tahu apa....?"


"Jika seumpama Abang lebih dulu diambil Yang Maha Kuasa, maka Abang lebih ikhlas jika A Wisnu yang menggantikan Abang," tukasnya membuat Dara mengernyit heran.


"Ihhh... kok begitu ngomongnya....!" Dara merengut tanda protes.


"Abang cuma bilang seumpama... kan sah-sah saja. Lagipula tidak ada yang tidak mungkin sih Dek, jika Allah sudah berkehendak!" ralat Azlan.


"Jangan begitu dong ngomongnya, seakan Abang mau cepat-cepat meninggalkan Dara. Apa Abang sudah tidak mau mencintai Dara lagi sampai tua nanti?" Azlan jadi bingung Dara malah merajuk dan salah paham akan maksud kata-katanya tadi.



"Ya sudah... Abang minta maaf atas omongan Abang tadi. Itu tadi Abang khilaf. Sekarang Adek jangan marah lagi ya!" Buruknya seraya merangkul Dara.



"Ehh... ngomong-ngomong A Wisnu tidak akan mencret-mencret gitu setelah Adek kasih Seblak tadi?" Azlan berusaha mengalihkan pikiran Dara yang sedang merajuk.



"Iya ya... uhhh... Dara jadi merasa bersalah sama A Wisnu. Semoga A Wisnu tidak mencret-mencret deh," ucap Dara penuh harap.

__ADS_1


__ADS_2