
Hari ini hari Senin. Setelah sarapan, Azlan pamit keluar pada Dara, entah kemana. Lagian Dara gak peduli juga mau kemana Azlan, toh bukan urusannya. Sebetulnya Dara ingin pergi keluar juga, lagian badannya udah merasa sehat. Niatnya pengen ambil duit gajian di ATM. Mau bayar kontrakan dan membeli kebutuhan lainnya, pikir Dara. Hari ini hari terakhir Dara mendapat jatah istirahat sakit dari dokter yang memeriksanya Jumat kemarin, walaupun udah merasa baikan namun Dara ogah maksain masuk kerja nanti sore. Kebetulan dua minggu kedepan dia mendapat giliran shift sore dari jam 3 sore sampai jam 11 malam. Kalau hari ini keluyuran, takutnya ada teman sepabrik melihatnya. Daripada ambil resiko lebih baik di kontrakan saja, walaupun bosan.
"Assalamualaikum!" Sayup-sayup terdengar suara orang mengucap salam dari luar, Dara yang lagi melamun tiba-tiba terperanjat.
"Waalaikumsalam!" jawab Dara sambil perlahan membuka pintu. Dara terperangah saat dilihatnya Rivai dan Rian sudah didepan pintu.
"Kak Vai, Kak Rian!" teriaknya tak percaya. "Widih...., segitu kagetnya melihat kita kaya melihat BTS aja!" Ledek Rivai. "Bukan gitu, Dara gak sangka aja Kak!" Bela Dara sambil senyum malu-malu. "Si Azlan kemana Neng?" Tanya Rian sambil celingak celinguk ke dalam. "Tadi pamit keluar Kak!" jawab Dara.
"Asik dong, Azlan keluar gua bisa godain bini orang!" ceplos Rian sambil menoleh ke arah Rivai. Dara yang mendengar ucapan Rian sontak hatinya mendadak dag dig dug senang. Beda kalau dicandain Azlan, bawaannya jutek dan BT.
"Isss..... gak boleh gitu, jangan goda bini teman. Entar elu dibilangin teman makan teman dong. Lagian sebentar lagi kawin, masih saja tebar sana sini!" tepis Rivai mengingatkan.
"Ini Neng, ada sedikit buah tangan dari kita berdua buat Neng Dara yang sakit!" Rivai menyodorkan sebuah kantong kresek yang berisi buah-buahan. "Kalian kok repot-repot. Lagian Dara udah mendingan."
" Makasih banyak ya Kak Vai dan Kak Rian!" Balas Dara disertai senyuman. " Sama-sama". Jawab Rivai dan Rian bersamaan.
"Kalian mau minum apa?" tawar Dara. "Gak usah repot-repot Neng, dengan melihat wajah cantik Neng Darapun Kak Rian udah gak haus lagi." Goda Rian menggombal. "Alah, gombal Lu! Kalau Azlan tahu, bisa dibogem Lu!" Tepis Rivai memberi petingatan. Dara cuma mesem-mesem gak karuan, masih kesenengan digodain Rian. " Gak usah sirik Lu Vai, dasar bujang gak laku!" ejek Rian.
"Beneran nih kalian gak mau minum?"
"Gak usah Neng, lagian kami kesini mau nengok Neng Dara!" sahut Rivai. "Ya udah kalau gitu, makasih buah tangannya ya!"
Saat lagi asik-asiknya ngalor ngidul, tiba-tiba terdengar bunyi hape Rian nyaring. Dengan cepat Rian merogoh hape disakunya. "Halo.... , Ok, Ok, segera meluncur!" Jawabnya seraya buru-buru turun dari teras kontrakan Dara. "Aduh Bro, Gua buru-buru nih, pamit duluan ya. Saya pamit ya Neng, semoga benar-benar sembuh!, Vai titip Dara, jagain dia jangan sampe lecet sampe suami sedengnya pulang!" Pamit Rian buru-buru. Dengan cepat Rian menuju kontrakannya. Rivai cuma geleng-geleng kepala mendengar Rian mengata-ngatai Azlan begitu.
"Woyyy jangan lupa gawe malam Lu!" teriak Rivai mengingatkan Rian sebelum Rian benar-benar jauh. Entah terdengar atau tidak.
"Emang Kak Rian mau kemana buru-buru amat?"
Dara penasaran. "Entahlah Neng, mungkin ketemu ceweknya." Dara terdiam tapi nampak murung. "Kenapa sih Neng jadi murung?" Tanya Rivai. "Gak kok!"
"Jujur aja, Neng Dara suka kan sama Rian?" Todong Rivai mengenai banget dihati Dara.
__ADS_1
"Jangan mikirin atau ngarepin Rian, kan udah ada Azlan!" Peringat Rivai.
"Rian bentar lagi juga nikah, buat apa ngarepin dia!" "Apa, jadi benaran Kak Rian mau nikah?" Dara tersentak kaget.
"Benaran!" Yakin Rivai.
"Mungkin yang kali ini pelabuhan terakhir bagi dia." Tandas Rivai. Dara nampak sangat kecewa.
"Gak perlu kecewa Neng, Azlan masih lebih baik dari Rian." Rivai berusaha membesarkan hati Dara. "Baik apanya, dengan cara curang lalu dia dengan mudah bisa nikahi Dara?" Cebis Dara mengenang masa penggerebegan kala itu.
"Terlepas dari kejadian itu, Azlan masih lebih baik dari Rian." Ucap Rivai keukeuh dengan pandangannya. "Bukan ngebelain Azlan, tapi Aku banyak tahu soal Azlan." Tambahnya. "Kenal pertama kali dengan dia disini, ditempat kerja yang sama, sama-sama jadi operator. Solid dan banyak bantu teman, karena kami sama-sama keluran SMK jurusan mesin, lebih banyaknya kami paham tentang mesin, perlistrikan atau elektronik. Dua tahun kemudian Aku lebih dulu diangkat jadi Teknisi, sementara dia diover ke Perusahaan pusat di Korea bersama Rian. Setahun kemudian balik lagi kesini, karena kinerja mereka disana bagus maka Azlan dan Rian diangkat jadi Teknisi. Peningkatan posisi ini tidak banyak merubah sifat kami. Kami masih pribadi yang solid dan berteman dengan baik." Beber Rivai panjang lebar. Dara nampak jadi pendengar yang baik.
"Kembali lagi ke Azlan, Azlan itu pekerja keras dan orangnya pantang menyerah. Gak maluan dan serba bisa. Dia itu sosok setia dan penyayang, buktinya sampe kini cewek yang terus dikejarnya tetap Neng Dara. Dia juga gak pernah poya-poya, gak merokok, dan yang paling Aku salut dia rajin ibadah gak pernah tinggal. Orangnya sedikit keras tapi aslinya baik banget, sering bantu teman dan sayang sama keluarga di kampung." Imbuh Rivai panjang. Rivai menarik nafas dalam sejenak.
"Terus kalau Kak Rian?" Dara mencoba ingin tahu tentang Rian. "Rian?, dia orangnya baik juga. Tapi sayangnya dia punya sifat yang playboy, gampang nyatain suka sama cewek tapi gampang melupakan." Ucap Rivai. "Ohhh"
"Diantara kami bertiga Azlan memang wataknya agak keras, keukeuh dan akan terus memperjuangkan sesuatu yang dia ingin sampai dapat. Kalau dia pengen A maka harus dia dapatkan A. Tapi walaupun keras, dia tidak akan pernah bisa keras sama cewek." Tutur Rivai lagi. Dara berpikir ada benarnya yang dibeberin oleh Rivai tentang Azlan, sebab selama ini Azlan gak pernah sekalipun keras padanya walau sejutek apapun Dara.
"Jadi gak usahlah harapin Rian, toh dia bentar lagi nikah!" Lanjut Rivai lagi. "Kak Vai tahu gak kalau Kak Rian pernah ada perasaan sama Dara?" Dara masih penasaran.
Sesaat kemudian, tiba-tiba Azlan pulang.
" Vai....., sejak kapan Lu disini?" Azlan heran.
"Sejak tadi lah", jawab Rivai pendek. " Tadi Gua sama Rian sengaja datang kesini, mau jenguk Neng Dara sambil memberi sedikit buah tangan." Terang Rivai. "Terus Rian mana?"
"Dia dah balik entah kemana buru-buru!" sahut Rivai. "Dari mana Lu Bro, borong nih?" Rivai menatap kantong kresek yang dibawa Azlan. "Kepo Lu...!" Sergah Azlan. "Ya udah, berhubung Elu udah balik, sebaiknya Gua balik juga. Lagian Neng Dara udah ada Satpamnya!" Kata Rivai sambil menunjuk Azlan sebagai Satpam. "Vai..... awas Lu ya!" Tinju Azlan mengayun diudara. "Gua datang Elu pergi, ngopi dulu lah!" Ajak Azlan. "Gua mau molor dulu buat persiapan entar malem! Nenggg.......Kaka balik ya!" Tolak Rivai sambil pamit pada Dara dan berlalu.
"Makasih ya Kak!" Balas Dara sambil berlalu masuk.
Sepeninggal Rivai
__ADS_1
Azlan menyusul Dara masuk kedalam. Dilihatnya Dara sedang menonton TV.
Azlan menghampiri Dara lalu berkata. "Dek, Abang pengen kasih sesuatu!" Dara menoleh penasaran. "Ini untuk Adek!" Dara heran mengerutkan kening.
"Apa ini Bang?" Tanya Dara sambil menatap dua buah benda yang disodorkan Azlan. Ada amplop dan kotak segi empat seperti kado.
"Bukalah.....!" Perintah Azlan. Dara diam sesaat tanda ragu. "Ayolah......!" Azlan setengah memaksa. Akhirnya Dara menurut, perlahan dibukanya benda pertama yaitu amplop. Dara terperanjat setelah tahu isi amplop itu apa.
"Uang..... " Serunya heran. "Uang apa ini Bang?" Tanya Dara heran. "Uang nafkah buat Adek." Jelas Azlan. "Nafkah......?" Guman Dara.
"Iya...., kan Adek udah jadi bini Abang. Jadi Abang akan kasih nafkah tiap bulan." Terang Azlan. "Semuanya dua juta, Abang gak kasih semua gaji Abang ke Adek sebab Abang masih punya cicilan. Anggap saja ini sebagai pegangan buat Adek. Pakai buat beli apa saja terserah Adek." Terang Azlan.
"Tapi ini gede Bang, lagipula kita harus patungan untuk bayar kontrakan, kenapa dikasih ke Dara?" Dara masih belum paham. "Buat kontrakan, bayar air, listrik dan makan sehari-hari kan ada Abang yang urus, uang itu buat Adek kok. Pake buat apa saja terserah." Terang Azlan lagi.
Dara tak membantah. "Terus ini apa?" tunjuk Dara pada kotak segi empat. "Buka juga buat Adek." Dengan segera Dara membuka kotak itu perlahan. Setelah lipatan kertas kado terakhir, Dara melihat sebuah kotak perhiasan, tapi Dara tidak membukanya.
Azlan buru-buru meraih kotak perhiasan itu, lalu membukanya dan nampaklah sebuah cincin emas bermotif hati seberat kurang lebih 1,5 gram. Azlan meraih cincin itu lalu mengangkatnya ke permukaan.
"Cincin ini buat Adek, sebagai tanda cinta dan kasih sayang Abang yang tulus buat Adek!" Ungkap Azlan sungguh-sungguh. Tiba-tiba jantung Dara berdebar kencang. Dag dig dug tak karuan. Bingung dan risih dengan ungkapan Azlan barusan.
Saat Azlan akan meraih tangan Dara, sontak Dara menepis. "Kenapa Abang kasih cincin, Dara gak pantes terima itu!" Tolak Dara. "Abang cuma kasih hadiah buat Adek!" ucap Azlan. "Ayolah pakai!
" Bujuk Azlan penuh harap.
"Dara gak mau, gimana kalau nanti teman-teman Dara curiga kalau Dara udah nikah?" Tolak Dara lagi.
"Adek tinggal bilang aja bahwa ini bukan cincin perkawinan, lagipula ini bukan cincin kawin kok!" Paksa Azlan lagi. Dara mengamati cincin itu, ada rasa ketertarikan tersendiri pada cincin itu, motifnya Daun Eceng penuh tanpa mata, batangnya bermotif garis-garis. Pandai juga Azlan memilih cincin. Guman Dara dalam hati.
"Abang pakaikan ya....!" seru Azlan seraya meraih jemari Dara dan perlahan memasukan cincin itu ke jari tengah Dara. Dara tak sempat menolak karena kalah cepat dari Azlan. Akhirnya cincin sederhana itu tersemat di jari tengah Dara begitu manis.
"Wah...... cantiknya......!" Puji Azlan.
__ADS_1
"Abang pengen cium jemari Adek, boleh?" Ijin Azlan hati-hati. Dara sesaat diam, jantungnya makin dag dig dug tak karuan. Azlan menatap wajah Dara meminta persetujuan. Akhirnya Dara mengangguk pasrah. Perlahan Azlan meraih jemari itu makin dekat dengan bibirnya, dan ciuman penuh cinta itu pertama kali mendarat di jemari Dara penuh suka cita dan bahagia. Azlan senang sekali. "Makasih ya Dek udah ijinkan Abang seperti ini!" Ucap Azlan tulus. Azlan bahagia banget, apalagi kalau membayangkan bisa mencium kening, pipi, terlebih bibir Dara yang mungil dan tipis itu, alangkah bahagia berkali lipat.
Dara melepaskan genggaman jemarinya dari Azlan perlahan. Kemudian dia menatap Azlan sesaat, ada rasa aneh dalam hatinya. Melihat Azlan sok romantis kaya gini, Dara merasa jatuh cinta pada cowok yang katanya mirip To Ming Tse tapi versi sawo matang ini. Debaran didadanya kian bertambah. "Makasih Abang!" Ucap. Dara dalam hati.