Dijebak Nikah Paksa

Dijebak Nikah Paksa
Mimpi, wakwakwak...


__ADS_3

Kumandang Adzan Ashar menggema, Azlan bergeliat seolah dibangunkan dari mimpi panjangnya.


"Hoammm...!" Azlan bangkit sambil mengkretek-kretek sekujur tubuhnya yang terasa pegal akibat pergumulannya bersama Dara.


Azlan terduduk di atas ambal (tikar) sambil berusaha mengembalikan kesadarannya.


"Basah!" gumannya, sembari meraba-raba sekitar paha kebawah.


"Ya ampun, tadi hujan besar kan? Si Rio membatalkan pertemuannya karena hujan!" Azlan seperti orang linglung mencoba mengingat-ingat semua rincian kejadian hari ini. Dari sejak pulang kerja, Dara yang tidak mau diajak pulang bareng, ada paket buku nikah lalu siap-siap pergi mau janjian sama Rio yang batal karena hujan.


"Ya ampun, rupanya mimpi. Masih perjaka dong Gua!" sadarnya seraya tepok jidat.


Kirain tadi beneran melepas perjaka bersama Dara, rupanya mimpi. Tapi ciuman itu serasa nyata. Dan basah di celana ini apa? Waduhhh dasar kampret, mimpi basah Gua! Azlan membatin memikirkan kejadian tadi seakan nyata, namun rupanya mimpi. Azlan nampak prustasi, dia jenggut-jenggut rambut di atas ubun-ubunnya yang mendadak sakit.


"Sialan...!" umpatnya kesal.


Tiba-tiba Dara muncul dari kamar mandi "Rupanya gadis perawanku baru beres mandi!" batin Azlan. Tercium wangi sabun dan sampo merek lokal yang menguar, membuat Azlan makin tertantang kelelakiannya, sama seperti yang dia rasakan di mimpinya. Apalagi kini Dara melewati Azlan hanya dengan menggunakan handuk dan kaos tangtop dalam.


Azlan menatap tak berkedip ke arah Dara, dia nampak risih. Ahh... rasanya ingin melihat sekujur dalaman gadis pujaannya ini, dulu saat hampir terjadi "pertautan" yang gagal karena Dara menjerit kesakitan, Azlan tidak sempat mengabsen setiap inci dari tubuh molek gadisnya ini. Intinya dia belum melihat setiap jengkal tubuh gadis perawannya itu.


Azlan melenguh prustasi saat Dara masuk ke kamar dan tidak kelihatan lagi.


"Abang... tadi saat Abang tidur nyenyak, hujan lebat masuk lewat sela-sela ventilasi. Hujannya nyembur dari arah utara. Dara udah coba bangunin Abang yang tidur kayak Kebo, supaya pindah, tapi susah. Jadinya semburan air hujan mengenai Abang." Lapor Dara, setelah berpakaian rapi.


"Waduhh... pantesan badan Abang basah!" decaknya sambil berdiri.


Dara mengamati bagian bawah Azlan yang basah, tadi memang semburan hujan sedang lebat-lebatnya dan mengenai Azlan yang tidur berselonjor ke arah utara. Dara sempat mengeringkan lantai dengan kain, agar airnya tidak menggenang.

__ADS_1


"Kenapa juga Abang nyenyak banget sih tidurnya, sampai dibangunkan susah banget," gerutu Dara.


"Abang tidak ingat Dek, tapi yang Abang ingat tadi Abang sedang berciuman dengan Adek, tapi rupanya mimpi, tapi terasa nyata," ungkapnya.


Dara menutup mulutnya seakan menyimpan kekagetan.


POV Dara


Saat Bang Azlan masuk kembali dan membatalkan janjiannya dengan salah satu temannya karena hujan, rupanya Bang Azlan ketiduran pulas di bawah lemari yang digelar ambal. Sampai hujan turun sangat lebat, Bang Azlan tidak terganggu sama sekali. Bahkan saat aku mencoba membangunkannya karena air semburan hujan yang menyembur lewat ventilasi udara masuk ke dalam, Bang Azlan tidur kayak Kebo yang susah dibangunkan.


Aku sibuk mengelap dan memeras air yang masuk itu supaya tidak menggenang, namun kejadian yang tidak terduga-duga terjadi, saat aku memeras air dekat tubuhnya, tiba-tiba Bang Azlan meraih tanganku dan memeluk tubuhku erat. Dan saat itu Bang Azlan melancarkan aksinya mencium bibirku dengan begitu lembut dan penuh perasaan. Akupun sebenarnya menikmatinya. Tapi ciuman itu hanya berlangsung satu menit, Bang Azlan melepaskan ciumannya lalu tertidur lagi.


Rupanya dia mengigau saking nyenyaknya.


POV End


Azlan berlalu ke kamar mandi mengguyur sekujur tubuhnya yang terasa lemas.


"Oh iya Bang, tutup saja ventilasi udara itu dengan plastik transparan, lubangi sedikit saja supaya ada celah masuk." Saran Dara sebelum Azlan masuk kamar mandi.


"Ok...!" balas Azlan.


Sesaat kemudian Azlan selesai mandi dan kembali dengan lilitan handuk di pinggangnya. Azlan segera berbaju dan langsung melaksanakan sholat Ashar yang sempat tertunda.


"Adek, buku nikahnya disimpan dimana? Abang mau bilang sama Mamak, apakah boleh?" Azlan meminta persetujuan Dara.


"Boleh saja terserah Abang!" balas Dara.

__ADS_1


Azlan segera mengetikkan pesan WA untuk Mamaknya di kampung.


"Assalamu'alaikum, Mak! Kami punya kabar gembira. Kami sudah nikah resmi dan punya buku nikah!" pesan WA terkirim.


Tiba-tiba HP Dara berbunyi, tanda panggilan vidio masuk.


Terdengar suara perempuan paruh baya menyapa dari sebrang sana, berbasa basi dan berceloteh gembira menanyakan ini itu tentang keadaan Dara ataupun tentang yang lainnya, yang dibalas dengan celotehan riang pula oleh Dara.. Mereka seakan-akan saling menumpahkan rasa rindu yang lama terpendam. Intinya pembicaraan mereka membahas buku nikah dan pernikahan resmi kami yang sudah sah di mata agama dan negara. Hingga sebuah pertanyaan yang tak mampu dijawab Dara terlontar dari wanita paruh baya disebrang sana


"Kapan mau resepsi, kami akan persiapkan?" tanya Mamak.


"Kami belum tahu Mak, kami masih sama-sama sibuk dan cari waktu yang tepat!" jawab Dara cerdas. Alasan yang tepat yang dilontarkan Dara. Dia paham dengan situasi dan kondisi, dimana dirinya belum bisa melaksanakan resepsi sementara dirinya dan Wisnu Kakaknya belum menemukan jalan untuk kembali baik seperti semula. Mungkin sampai Wisnu kembali baik padanya, Dara siap melaksanakan resepsi.


Sedangkan Azlan, kapan saja siap untuk diajak resepsi termasuk biaya yang akan digelontorkan.


Dara nampak mengakhiri perbincangan vidio callnya bersama Mamaknya Azlan, Dara nampak sedikit murung setelahnya. Azlan dengan cepat menghampiri Dara.


"Dek, mana buku nikahnya? Sini biar disimpan di lemari biar tidak tercecer," pinta Azlan. Dara memberikan buku nikah ke tangan Azlan.


Azlan membuka lembar demi lembar buku nikahnya bersama Dara, dipandanginya foto dirinya dan Dara yang bersanding. Sekilas Azlan menyunggingkan senyum bahagia.


Namun senyum itu kembali sirna. Azlan kini sedang berpikir bagaimana caranya dirinya bisa memberikan nafkah batin pada Dara. Sedangkan dirinya sudah sangat menginginkannya. Waktupun seakan berpihak pada mereka berdua, dua minggu ini dan dua minggu kedepan Azlan dan Dara sama-sama masuk kerja di shift yang sama. Sehingga kebersamaan mereka bisa dibilang banyak.


Dari mimpi tadi yang seakan nyata, Azlan seakan mendapat ilham untuk melancarkan rencana, untuk menjerat Dara supaya bisa jatuh kedalam dekapannya. Semoga ilham Wigunanya kali ini benar-benar berguna dan berjalan sesuai dengan rencana.


Azlan nampak tersenyum kambali mengingat rencananya nanti.


"Adek, Abang mau ke toko buku depan dulu, mau beli plastik kado dan solatif untuk menutupi ventilasi udara, Adek mau ikut tidak?" Pamit Azlan. Dara menggeleng pertanda tidak ingin ikut. Azlan gemas dibuatnya.

__ADS_1


__ADS_2