
Dara menatap Wisnu heran, yang lebih heran lagi mau kemana Sofia pergi sama Rivai.
"Aa... sudah lama? Terus kesini maksudnya mau temui Sofia kan?"
"Nggak jadi, Aa maunya temui kamu."
"Sofia kok pergi, mereka janjian kali ya?"
"Entahlah....!"
Niat Dara ingin mendekatkan Sofia sama Wisnu malah gagal total, ya sudahkah kayaknya Sofia sudah tidak tertarik lagi sama Wisnu.
Dua minggu kemudian, tiba saatnya Sofia pulang. Kali ini Sofia pulangnya naik bis, alasannya perjalanan darat lebih lama dan menyenangkan bisa sambil menikmati pemandangan dari jarak dekat. Dara tidak bisa mencegah keinginan Sofia.
"Jadi benar nih kamu sudah tidak suka sama A Wisnu lagi? Jangan-jangan kamu sudah jadian sama Kak Vai ya?" desak Dara disela-sela menjelang kepergian Sofia. "Tidaklah Yuk, Sofi sama Kak Vai cuma temanan saja. Sekarang Sofia mau fokus dulu sama sidang yang sebentar lagi segera tiba. Doakan Sofi ya Yuk, dan maaf Sofi tidak bisa menemani Ayuk lebih lama lagi, sebab Sofi harus mempersiapkan segalanya, dari mulai skripsi dan lain-lain."
"Ok deh, semangat ya Sof sidang dan skripsinya diberi kelancaran, salam buat Mamak dan Bapak serta Azman," balas Dara seraya memeluk erat Sofia sebelum melepas kepergian adik ipar yang Dara sayangi itu.
__ADS_1
"Mau sampaikan salam tidak buat A Wisnu?" Sofia yang ditanya diam, dia seakan ingin mengatakan sesuatu namun tidak kuasa untuk bicara. "Tidaklah, Yuk! Sofia pamit ya, gojeknya sudah datang." Akhirnya Sofia pergi bersama gojek pesanannya menuju PO bis 🚌 tujuan Cikarang-Prabumulih.
Dara menatap sedih kepergian adik iparnya, Dara tahu sebenarnya Sofia ada hati pada Wisnu. Namun Wisnu seolah tidak mau menghendaki Sofia. Tugas Dara sekarang mencari tahu, sebetulnya Wisnu itu punya kekasih atau tidak sehingga menolak keberadaan Sofia. Dan yang lebih penasarannya lagi, Dara takut Wisnu menyimpang dari kodrat. Sebab selama ini Dara belum melihat Wisnu pamer perempuan atau. menyimpan foto perempuan di dalam galeri HPnya.
"Semoga Allah selalu melindungi Aa dari perbuatan yang menyalahi kodrat. Semoga A Wisnu segera diberikan jodoh secepatnya oleh Allah. Aamiin....!" doa Dara begitu tulus untuk sosok kakak sepupu yang sudah seperti kakak kandung, matanya kini berkaca-kaca.
Sofia sebetulnya sedih meninggalkan kota Cikarang, sedih meninggalkan Dara kakak iparnya yang sangat baik, dan sedih juga saat ingat perlakuan Wisnu padanya. Namun entah kenapa di hatinya nama Wisnu masih ada. Dia teringat Wisnu terus. Apalagi mengingat perlakuan Ibunya Wisnu di Lembang dulu saat resepsi pernikahan Dara dan Azlan, Ibunya Wisnu begitu perhatian dan ramah padanya. Selalu memegang tangan Sofia.
Ingin rasanya Sofia berkirim kabar pada Wisnu bahwa hari ini dia pulang ke Prabumulih, namun sejak dirinya cuek dan pergi bersama Rivai, Wisnu tidak lagi datang ke kontrakan Dara. Padahal kata Dara, tujuan Wisnu saat itu ke kontrakan adalah ingin menemui Sofia. Sejenak Sofia membuka galeri foto saat dirinya berfoto narsis bareng Wisnu di depan Monas, itulah foto pertama dia dan Wisnu terlihat dekat.
__ADS_1
"*A, padahal Sofi suka sama Aa. Tapi Aa tidak* *pernah menghendaki Sofi. Mungkin foto di depan* *Monas ini akan jadi kenang-kenangan bagi Sofi*. *Selamat tinggal Aa*," batin Sofia berkata-kata dan kini mata Sofia mulai berkaca-kaca.
"Ting....!" notifikasi WA Sofia tiba-tiba berbunyi. Sofia langsung membuka HPnya dan melihat dari siapa gerangan WA tersebut.
[Assalamu'alaikum, Sofia. Ini aku Wisnu. Kamu pulang hari ini? Kenapa nggak bilang aku? Hati-hati ya, semoga perjalanan kamu lancar dan menyenangkan. Oh iya ada salam dari Ibuku, beliau menanyakan kamu terus!"]
Sofia tertegun membaca kata perkata yang dikirimkan Wisnu untuknya, Sofia berpikir baru saja dirinya memikirkan tentang Wisnu, tapi kini Wisnu datang lewat WA. Seakan dia dan Wisnu mempunyai kontak batin. Wajah Sofia kini berubah berseri dia bermaksud mengirimkan balasan WA.
[Wa'alaikumussalam. Iya A, Sofi sekarang sudah berada dalam bis. Sampaikan balik salam hormat Sofia buat Ibunya A Wisnu!"] balasan terkirim.
Tiba-tiba telepon WA Sofia berdering, sebuah panggilan VC dari Wisnu memanggil. Namun Sofia tidak berani mengangkat VC tersebut. Antara senang, malu, dan ragu, menyatu dalam diri Sofia kini. Akhirnya telepon VC itu berhenti. Namun kemudian telepon Sofia berdering kembali, bukan VC tapi telpon WA biasa, dan kini Sofia mencoba memberanikan diri mengangkat telpon tersebut.
\["Halo Sofia, kenapa kamu tidak mau mengangkat VC saya?"\]
["Ini diangkat kok A, tadi kamera Sofia buram jadi Sofia tidak angkat,"]
[Kamu malu ya bertatap muka dengan saya?"]
Sofia terdiam, benar dia malu sebab dia tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia karena WA dari Wisnu.
[Ya sudah, hati-hati ya Sofi. Kapan-kapan kamu datang lagi ke Cikarang ya. Salam buat Ibu Bapak kamu"].
__ADS_1
Telpon itu berakhir, seiring berhentinya debaran jantung Sofia yang kencang saat tadi menerima telepon dari Wisnu. Sofia kini sedikit bernafas lega, ada setitik harapan dalam dirinya. Entahlah harapan itu akan menjadi nyata atau hanya harapan yang tinggal harapan.