
Ciitttt ....
Suara rem mobil mewah berwarna hitam keluaran terbaru tipe Mercy A200 berhenti mendadak.
Ketika sang pemilik kendaraan menyadari bahwa mobil yang ia kendarai menabrak seseorang yang akan melintas jalan.
Kejadian itu menyebabkan sang korban terlempar jauh sehingga kepalanya membentur pagar beton dengan keras.
Kecelakaan yang tak bisa dihindari olehnya.
Syafa Aileen Wirawan begitu terkejut. Gadis itu diam mematung dengan kejadian yang baru saja terjadi. Syafa masih bergetar memegangi stir mobil memandang ke arah depan dengan wajah pucat dan tangan yang bergetar. Melihat keadaan seseorang di depan mata yang berlumuran darah sedang dikerumuni banyak orang.
Syafa takut untuk keluar dari mobilnya. Suara ketukan kaca membuatnya tersadar.
“Woy ... keluar! tanggung jawab lo!” gertak seorang pemuda berbaju merah yang mengetuk kaca mobil Syafa.
Dengan rasa takut dan tangan yang masih bergetar Syafa memberanikan diri keluar dari mobil. Daripada ia menjadi amukan masa.
“Iya Mas, saya pasti bertanggung jawab.” Suara Syafa terdengar gemetar karena takut.
“Korban harus segera dilarikan ke rumah sakit, kondisinya parah,” ucap satu pemuda lagi menghampiri Syafa.
“Bagaimana, Mbak?” tanya pemuda berbaju merah.
“Bawa ke mobil saya saja, Mas! Saya Akan membawanya ke rumah sakit.”
Tubuh yang berlumuran darah dengan kondisi tak sadarkan diri itu langsung dimasukkan ke dalam mobil. Syafa bergegas pergi meninggalkan lokasi kejadian menuju rumah sakit. Dia segera membawa pria yang ia tabrak ke salah satu rumah sakit ternama di daerah tersebut.
Cemas, takut itulah yang Syafa rasakan saat ini. Ia takut pria yang ditabraknya tidak selamat. Syafa duduk di depan ruang ICU seorang diri sambil menunggu papanya datang ke sana.
__ADS_1
“Keluarga pasien,” panggil seorang suster yang keluar bersama seorang dokter dari ruang ICU.
Syafa lekas berdiri “Saya yang bertanggung atas dia, suster!” Ujar Syafa. "Bagaimana keadaannya, Dokter?" tanya Syafa pada dokter yang masih memakai pakaian khusus usai operasi.
"Sebaiknya kita bicara di ruangan saya saja. Ada beberapa hal yang akan saya ucapkan mengenai korban. Anda yang menabrak korban?" Dokter menatap tajam pada Syafa.
Syafa terlihat takut. Ia hanya bisa mengangguk pelan menanggapinya.
"Saya akan bertanggung jawab semuanya, Dok! termasuk biaya dan semua perawatan korban. Hanya saja, saya belum bisa menemukan keluarganya. Tidak ada indentitas di sana."
"Mari kita bicarakan ini di ruangan saya!" Ajak Dokter itu kemudian melangkah meninggalkan ruang ICU di mana Afkar ada di dalamnya.
Syafa pun mengikuti langkah sang dokter.
"Korban mengalami luka dalam yang cukup berat. Peralatan medis di sini tidak lengkap dan kurang memadai untuk pasien kecelakan itu. Kakinya mengalami patah, sedangkan kepalanya mengalami benturan yang cukup keras. Saya menduga ada kerusakan otak dan cairan yang menggumpal di dalam otaknya akibat benturan itu." Dokter menjeda ucapannya.
“Tolong berikan yang terbaik untuk dia, Dokter!" Syafa reelihat semakin cemas kedua tangannya terus bergetar.
"Lakukan secepatnya, Dokter! saya ingin dia selamat."
Di tempat kejadian kecelakaan
Setelah peristiwa kecelakaan itu. Penjaga toko Birumarket bingung mendapati korban kecelakaan yang di bawa adalah seorang lelaki yang meninggalkan ponsel di tokonya.
Supir travel yang menunggu di Pom Bensin pun ikut menyusul Afkar karena terlalu lama menunggu. Supir itu tidak sadar akan kecelakaan yang terjadi di seberang jalan adalah salah satu penumpangnya. Ia berjalan menuju toko Birumart.
"Ada kecelakaan, Pak?" Tanyanya pada tukang parkir yang ada di depan toko tersebut.
"Iya, Pak!"
__ADS_1
"Mana korbannya?" Supir itu kembali bertanya sambil mengedarkan matanya melihat keadaan sekitar. Orang-orang sudah bubar meninggalkan lokasi kejadian.
"Korban langsung dibawa ke rumah sakit sama yang nabrak."
"Oh." Tanpa banyak bertanya lagi supir travel langsung masuk ke dalam toko. Ia mengedarkan pandangan, mencari sosok Afkar di dalam sana.
"Kemana sih, tuh orang! Gak tau apa yang lain nungguin dia doang!" gerutu supir travel itu. "Mending gue nanya kasir aja, deh. Kali aja dia tau." Supir pun menghampiri petugas toko yang berjaga.
“Maaf, Mbak. Ada laki-laki yang beli pulsa gak ke sini? pake baju Merah, orangnya tinggi putih, cakep dah,” tanya pak supir, karena yang ia ingat Afkar meminta sopir menunggu sebentar untuk membeli pulsa di tempat ini.
“Iya Pak ada, ini ponselnya masih di saya! Tadi dompetnya ketinggalan, jadi dia jadikan ponsel ini sebagai jaminan. Dia mau ambil dompet di mobil. Tapi pas si Mas yang tadi mau menyeberang, dia tertabrak mobil, Pak! Kejadiannya barusan banget. Si Masnya dibawa sama yang nabrak ke rumah sakit. Bapak kenal orangnya?” Penjaga toko itu bertanya balik smaa Pak supir.
“Saya gak kenal, Mbak! cuman dia pakai jasa travel saya buat mudik, duh mana barang bawaannya masih di mobil lagi. Sini aja deh ponselnya, nanti biar saya yang balikin ke alamat penjemputan tadi,” pinta Supir travel sambil menyodorkan tangan hendak mengambil ponsel milik Afkar.
“Bayar dulu, Pak! Tadi 'kan si Mas nya belum bayar, makanya ponselnya ditinggal di sini.”
Pak Supir menepuk jidatnya sendiri.
“Sue banget, jadi gue yang bayarin belanjaannya," gerutunya. "Berapa totalnya?”
“Sembilan puluh ribu, Pak!”
“Anjir... Gede juga, sue banget gue hari ini!Nih, Mbak!” Pak supir membayar pas kepada penjaga toko. “Nasib ... nasib, baru juga mulai narik, udah ngegelosor aja tuh duit.” Sambil berjalan balik ke Pom Bensim Pak supir sedikit menggerutu.
Pak supir tak mau penumpang yang lain menunggu terlalu lama. Ia memasukkan ponsel Afkar ke tas ransel dan memisahkan barang bawaan Afkar di bagasi belakang, rencananya ia akan mengantarkan barang bawaan Afkar ke tempat tadi ia menjemput. atau ke tempat pemesanan bangku di jasa penyedia mobil travel.
“Kasian juga tuh orang, belum ketemu sama keluarganya malah kena musibah, Semoga baik-baik aja deh tuh, bocah,” Ucap Pak Supir kembali melanjutkan perjalanannya.
.
__ADS_1
.
.