
...Like komentar kalian begitu author harapkan loh, sesuatu banget kalau baca komen komen dari kalian itu ...
...jangan lupa πππππ ...
... Selamat Membaca...
'Kita akan kembali bersama, Mas. Aku dan Dhiya akan sabar menunggumu.'
Batin Yara mantap sedih kepergian Afkar.
Setelah kepergian Afkar, Yara memberi pengertian kepada Pak Setyo dan Bu Nuri bahwa Yara ingin tinggal di rumahnya lebih dahulu. Sayang menurutnya jika di tinggalkan karena sewa rumah tersebut baru bulan kemarin Afkar perpanjang selama 1 tahun.
"Terserah kamu saja, Nak! Tapi jangan lupa sering-sering berkunjung ke rumah!" Pak Setyo mengingatkan. Beliau tidak mau memaksa. Dia mengerti keadaanya, pasti Yara merasa takut atau risih dengan sikap ibunya Afkar.
"Ya, Pak. Yara pasti sering ke sana, kok?" balas Yara.
"Tidak mau tinggal bersama kita, kamu ingin bebas 'kan. Mumpung tidak ada Afkar di sini. Jadi kamu bisa keliaran, secara putraku sangat posesif sama kamu. Setelah dia pergi kamu merasa bebas," sindir Bu Nuri dengan ketusnya.
"Bukan begitu, Bu! Yara masih banyak kerjaan yang belum selesai. Pesanan kue kering dari tetangga belum semuanya terpenuhi. Nanti kalau sudah selesai, Yara pasti ke rumah Ibu," sanggah Yara.
"Ah, alasan!" Bu Nuri memberikan wajah judesnya sambil melipat tangan di depan dada.
Pak Setyo
hanya bisa menggelengkan kepala kemudian menatap Yara sambil memberi tepukan pelan para menantunya agar bersabar menghadapi sikap ibu mertuanya.
"Sabar, ya," bisik Pal Setyo lalu mendapat anggukan pelan dari Yara.
Salah satu alasan Afkar ingin pergi ke kota adalah ingin mendapatkan uang lebih agar bisa membeli rumah kontrakan yang ia tempati. Sebab pemilik rumah kontrakan yang ia tempati saat ini sudah ada obrolan dan negosiasi untuk pemindahan kepemilikan kepada Afkar. Ia berniat menjual rumah tersebut kepada mereka berdua. Dengan bekerja di Kota yang diketahui upah minimum pekerja lumayan besar. Afkar begitu semangat untuk menjalaninya, meski harus berpisah dengan keluarga kecilnya untuk sementara waktu. Uang yang didapat akan dikumpulkan untuk membeli rumah tersebut.
...
Pesanan para tetangga sudah selesai dibuat. Seperti ucapannya pada Bu Nuri, Yara menginap beberapa hari di rumah mertuanya.
Setiap satu minggu sekali Yara pulang ke rumahnya untuk bersih-bersih. Setiap harinya Yara harus bersabar menghadapi sikap Bu Nuri yang sangat tidak ramah kepadanya.
__ADS_1
Tak terasa waktu cepat berlalu. Tepat tiga bulan setelah kepergian Afkar. Yara mulai terbiasa hidup tanpa Afkar di sampingnya. Tetapi suaminya itu selalu menepati janji untuk terus mengabarinya dan Dhiya. Lebih sering mereka melakukan Video call, Yara ingin Dhiya terus mendapat perhatian sang ayah meski mereka jarang bertemu.
Saat berkomunikasi Afkar sering bercerita tentang kegiatannya sehari-hari di tempat kerjanya. Afkar mendapat jabatan yang cukup lumayan tinggi dibanding yang lain.
Afkar mendapat jabatan menjadi kepala divisi di gedung penyimpanan bahan. Gaji yang didapat pun lumayan besar. Ditambah uang lembur yang didapat saat pertama masuk kerja sampai saat ini. Kerja yang padat membuat Afkar belum sempat pulang untuk bertemu Yara dan Dhiya, Yara pun sangat memahami kesibukan suaminya itu.
"Ya sudah, gak pa-pa, Mas! Daripada kamu bolak-balik dalam waktu singkat malah jadi lelah. Nanti saja kalau sudah ada waktu lenggang," ucap Yara di sela obrolannya melalui sambungan telepon.
"Maafkan, Mas ya, Ay!"
"Iya, Mas."
Komunikasi yang terus terjalin saja sudah membuat Yara merasa tenang dan senang. Yara merasa tenang jika Afkar selalu memberi kabar padanya.
Afkar juga bercerita tentang Firman yang di pindah pabrik. Security biasanya bergilir jaga ke beberapa pabrik setiap 6 bulan sekali. Firman masuk ke dalam yayasan yang menyalurkan tenaga security untuk setiap pabrik. Berbeda dengan Afkar yang menetap kerja di satu tempat.
Kontrakan tempat tinggal mereka pun sekarang pisah. Afkar tinggal sendiri di kontrakan yang semula di tempati dirinya dan Firman. Sedangkan Firman lebih memilih tinggal di mes pabrik tempat ia bekerja sekarang ini. Tempat tinggal yang disediakan di dalam lingkungan pabriknya yang baru. Menurut Firman akan menghemat biaya. Lumayan buat tambahan kiriman untuk keluarganya di kampung.
Awalnya Yara merasa khawatir, tetapi Afkar lebih tahu cara agar membuat Yara tenang. Uang penghasilan Afkar diberikan lebih besar kepada Yara. Afkar hanya mengambil untuk keperluan makan, bayar kontrakan dan beberapa keperluan pribadinya.
Afkar
"Mas, kenapa uangnya Mas kasih ke Yara banyak banget, memang berapa gaji Mas sebulan?" tanya Yara saat mereka asik mengobrol setelah menemani Dhiya sampai tertidur.
"Alhamdulillah, Mas dapat gaji cukup besar, Ay. Itu belum tunjangan dan uang lembur. Mas pasti akan giat bekerja, untuk masa depan kita. Mas percaya padamu, kamu pasti bisa mengelola uang yang Mas berikan dengan baik,β ucap Afkar dari seberang telepon.
"Iya Mas, terima kasih sudah memberi Yara kepercayaan untuk mengelolanya. InsyaAllah Yara akan mengaturnya dengan bijak," sahut Yara.
"Oh ya, Ay, jangan lupa kalau ada waktu mampir ya ke rumah Dina, main ke sana sebentar. Meski bagaimanapun kita harus berterima kasih pada mereka. Berkat Firman 'lah Mas bisa bekerja di sini."
Dina adalah istri dari Firman, teman Afkar yang sudah berjasa mengajaknya bekerja di kota.
"Iya Mas, nanti Yara mampir ke sana. Sekalian ke rumah Bapak juga.β
"Jangan lupa bawakan buah tangan juga ya, Ay!β
__ADS_1
"Iya mas."
" Ay...β panggilan Afkar terdengar lirih dari seberang telepon. βMas kangen!β Suara itu melembut dan terdengar samar tetapi masih bisa didengar oleh Yara, hingga membuat tubuh wanita itu berdesir.
Yara paham betul jika Afkar sudah terdengar manja seperti itu, Tatapan yang berbeda pun Afkar tunjukkan. Kebutuhan batin yang suaminya butuhkan saat ini. Kewajibannya sebagai istri tak bisa ia jalankan, karena jarak yang membuat mereka jauh. Tapi membantu Afkar menuntaskan hasrat sedikit bisa Yara lakukan.
Yara harus menuruti kemauan Afkar. Yara harus melakukan Video call Se.k.s. Awalnya Yara merasa malu karena harus menunjukkan lekuk tubuhnya melalui video call, tapi ia kembali berpikir tidak apa. Toh itu untuk suaminya sendiri. Daripada Afkar jajan di luar.
"Arghh!β suara ******* pelepasan dari Afkar terdengar samar membuat Yara malu. Suaminya harus bermain jari sendiri untuk menuntaskan hasrat dalam tubuhnya. Yara pun segera menutupi tubuh bagian atasnya yang terbuka karena permintaan sang suami.
"Terima kasih, Sayang," ucap Afkar dari seberang telepon. βJangan di matikan teleponnya, ya! Tunggu sebentar! Mas mau mandi dulu.β Afkar mengerlingkan matanya genit kepada istrinya itu, lalu pergi meninggalkan Yara dengan sambungan telepon yang masih terhubung.
Yara tersenyum sendiri mengingat tingkahnya di hadapan Afkar. Menunjukan tubuh polos di hadapan kamera. Itu jadi pengalaman pertamanya jauh dari suami. Ia merasa malu karena kelakuan suaminya yang tak di duga seperti itu.
Tak lama Afkar terlihat kembali dengan rambut yang masih basah. Ia tersenyum jahil ke arah layar ponsel yang masih terhubung dengan Yara.
"Mas... Ih, udah ah, jangan liatin aku kaya gitu!" Wajah Yara merona, Ia menarik selimut menutupi tubuh sampai ke dada. Ponsel yang ia genggam disandarkan pada bingkai di tas nakas, tepat di samping ranjang.
"Hahaha, kamu itu gemesin banget, Ay! Kalau saja kamu sekarang ini bersama Mas, mau Mas ulang lagi sampai pagi,β goda Afkar membuat Yara mengerucutkan bibirnya.
"Mas, ih, jangan tertawa begitu, nanti Dhiya bangun dengar suara kamu. Aku tutup nih, teleponnya,β sungut Yara sebal dengan wajah yang merah merona di pipi menahan rasa malunya. Afkar terus saja menggodanya.
"Ok, ok, Sayang, jangan di tutup, Mas masih mau ngobrol sama kamu. Mas masih kangen," ucap Afkar manja.
Tok... tok... tok...
"Kar," panggil seseorang sambil mengetuk pintu. Dari nada suaranya jelas itu suara seorang wanita.
.
.
.
Bersambung.
__ADS_1