
'Apa jika aku ikut dengan Ibu ini, aku bisa melihat anak itu setiap hari?'
Batin Azzam sambil menatap Dhiya dari kejauhan.
Saat pertama kali melihat Dhiya, Azzam sudah tertarik pada anak itu. Azzam menarik kedua sudut bibirnya saat melihat Dhiya tertawa dengan anak panti lain yang baru pulang sekolah.
'Semoga dengan ikut bersama dengan mereka ke Jakarta aku juga bisa menemukan adikku.'
Batin Azzam selanjutnya.
Anak lelaki itu terlihat sedih mengingat musibah yang dialami keluarganya. Kehilangan kedua orang tua dan kehilangan adik kandungnya.
Menjadi anak angkat dari Mama Anggi, Azzam bertekad ingin menyelidiki semua yang terjadi pada keluarganya. Dan mencari keberadaan adik kandungnya. Ketika ia dewasa kelak.
...🌱🌱🌱...
Di tempat lain, Afkar, Bu Nuri dan Mira baru saja sampai di sebuah alamat yang dikirimkan oleh Dokter Renaldi.
Mira mengelengkan kepala saat mendapati rumah kontrakan yang menurutnya tidak biasa itu. Terlihat Dokter Renaldi pun berada di sana menunggu kedatangan mereka.
Mira menghela napas berat saat ia turun dari mobil. Mau tidak mau Mira harus menerimanya saat ini. Sebab wanita itu yang memang meminta bantuan Dokter Renaldi saat itu.
Saat turun dari mobil Mira membantu Bu Nuri terlebih dulu.
Begitu juga dengan Renaldi, pria itu membantu Afkar.
"Apa ini rumah yang akan kita tempati, Dek?" Tanya Afkar pada Mira.
"Ya, untuk sementara, Kak. Nanti Mira akan cari yang lain," sahut Mira membuat Renaldi menoleh padanya.
Afkar beralih pada pria yang barusan membantunya. "Kamu yang membantu Mira mencarikan rumah tinggal ini?" Tanya Afkar.
"Ya," jawab Renaldi singkat.
Afkar menarik sudut bibirnya sekilas. Lalu menepuk pundak pria itu. "Terima kasih," seru Afkar sambil berlalu dari hadapan Renaldi. Afkar berjalan menuju teras rumah itu, bersama dengan Bu Nuri di sampingnya.
"Biar aku yang bawa tas nya, Mas!" kata Mira.
"Ya, sekalian minta bantuan teman lelakimu itu untuk membawanya." Afkar melirik pada Renaldi.
__ADS_1
"Dokter Renaldi namanya, Mas!"
Sayangnya ucapan Mira diabaikan oleh Afkar
Pria yang mendapat lirikan itu hanya menganggukkan kepalanya pelan.
Melihat Afkar dan ibunya sudah menjauh. Mira mendekati Renaldi.
"Dokter, maaf. Tempat ini terlalu berlebihan untuk kami. Gaji bulanan ku tidak cukup untuk membayar sewa rumah sebagus ini!" protes Mira pada pria itu.
"Kamu tenang saja, aku sudah membayar uang sewa rumah ini selama satu tahun," sahut Renaldi.
"Itu semakin membuatku berhutang, Dokter!" Mira kembali menimpali.
"Kamu tidak perlu menggantinya, Mir. Aku ikhlas membantu kamu dan keluargamu."
Mira tersenyum tipis menanggapinya. ia tidak mau semakin merepotkan pria itu.
"Aku akan membayarnya, Dokter. Aku tidak mau merepotkan Anda," ucap Mira sambil tertunduk kemudian berlalu dari hadapan Renaldi.
'Kamu selalu menolak ku, Mir. Kenapa kamu sulit untuk membuka hati. Aku mendekatimu bukan karena mengasihani mu. Tetapi karena memang aku memiliki perasaan padamu, Mir.'
Tanpa mereka sadari Afkar mendengar percakapan itu. Pria itu merasa jadi tidak berguna karena keadaannya.
Satu bulan telah berlalu.
Afkar mulai berusaha mencari pekerjaan dengan segala keterbatasannya. Beberapa perusahaan yang menerima surat lamaran menolak lamarannya. Bukan karena tidak masuk kriteria tapi saat wawancara mereka melihat kekurangan dari Afkar. Itu menjadi bahan pertimbangan buat mereka.
Afkar menghela napas berat saat dirinya lagi -lagi harus gagal mendapatkan pekerjaan. Pria itu mendaratkan pantatnya di bangku tepatnya di depan rumah kontrakannya.
"Aku sungguh tidak berguna saat ini." Afkar merutuki dirinya sendiri yang masih belum bisa mendapatkan pekerjaan. "Bagaimana bisa memberi nafkah pada Syafa kalau begini! Meskipun aku tahu dia tidak membutuhkan sedikitpun uang dariku." Afkar menyisir rambutnya sendiri. Merasa pusing dengan keadaannya saat ini.
"Kamu kenapa, Kar?" Tanya Bu Nuri saat wanita itu baru saja pulang ke rumah.
Afkar mendongak menatap ke arah Bu Nuri. Pria itu menyipitkan mata saat melihat ibunya yang terlihat lelah.
"Ibu darimana?" Tanya Afkar curiga.
Bu Nuri mengulas sedikit senyum. Lalu duduk di samping Afkar. "Habis cari angin saja. Berjalan-jalan ke sekitar rumah ini," ujar Bu Nuri berbohong. Wanita berumur itu takut Afkar curiga dia baru saja menjadi buruh cuci di rumah tetangganya.
__ADS_1
Pekerjaan itu ia lakukan karena terpaksa. Kebutuhan hidup mereka semakin memprihatinkan.Sebab uang yang Afkar bawa untuk modal hidup mereka sudah habis. Afkar juga tidak menyangka biaya pengobatan yang ia lakukan bisa menghabiskan banyak uang. Sehingga tidak terasa pegangan uang yang mereka miliki semakin menipis. Itulah yang menyebabkan Bu Nuri dengan rela ikut membantu bekerja demi membantu keuangan keluarganya.
Bu Nuri pun lepas berdiri. Wanita itu berdiri dan hendak masuk ke dalam rumahnya. "Istirahat di dalam saja, Nak!" ajak Bu Nuri.
Afkar mengangguk pelan. Pria itu lekas berdiri mengikuti langkah ibunya. Langkah Afkar terhenti begitu saja saat seorang wanita memanggil nama ibunya.
"Permisi, Bu Nuri!" Panggil orang itu.
Afkar menoleh dan menyambut baik sapaan yang ia dengar. Sayangnya Bu Nuri sudah masuk lebih dulu. Jadi beliau tidak bisa ikut menyambut.
"Sepertinya ibu masuk ke dalam kamar mandi! Ada Yang bisa saya bantu?" Seru Afkar.
"Kalau begitu sama si mas-nya juga tidak apa-apa 'kan?" orang itu menyahuti.
"Ada apa ya, Bu?" Afkar semakin penasaran.
"Ini saya ada makanan sedikit. Tadi, terima kasih Bu Nuri sudah membantu beres-beres di rumah saya. Tolong sampaikan sama beliau, besok datang ke rumah buat menggosok baju. Tapi, tolong sampaikan sama Bu Nuri jangan terlalu siang! Soalnya pakaiannya mau dipake anak-anak," ucap orang itu sopan.
Afkar begitu terkejut mendengarnya.
"Iya, Bu. Nanti saya sampaikan," jawab Afkar sopan. Tetap saja rasa terkejut itu masih terasa. Afkar tidak menyangka kalau Bu Nuri sampai rela ikut kerja keras untuk kelangsungan hidup mereka menjadi buruh cuci dan gosok. kesedihan pun semakin terasa oleh Afkar. Pria itu sungguh tidak menyangka akan seperti ini jadinya.
Afkar lekas mendudukkan pantatnya di kursi yang ada di dalam rumahnya. "Aku harus mencari cara lain untuk mencari pekerjaan. Aku tidak bisa mengandalkan bekerja pada orang lain. Aku harus berpikir membangun pekerjaan sendiri. Aku lelaki di rumah ini. Aku pasti bisa!" Afkar menyemangati diri sendiri. Semangatnya kembali berkobar demi mas depannya.
Di tempat lain. Mengetahui kabar perginya Afkar dan keluarganya semakin membuat Syafa semakin terpuruk. Hati dan hidupnya hancur.
Di samping harus kehilangan anak yang ada dalam kandungannya, ia juga harus kehilangan orang yang dicintai. Tapi semua terbayarkan dengan hubungannya dengan Yara yang semakin membaik.
Penuturan Yara yang mengungkapkan kalau dia sudah bahagia dengan kehidupan barunya saat ini. Tidak lantas membuat Syafa mudah kembali dengan Afkar. Meskipun Yara mengikhlaskan mantan suaminya itu dengan dia. Tapi rasanya berat bagi Syafa untuk kembali.
.
.
.
To Be continued
Para pembacaku maafkan ya . Author buat bab ini sedikit. Yang penting absen ya. author masih juntai.. doakan segera pulih. Terima kasih
__ADS_1