Ikhlasku Melepasmu, Mas!

Ikhlasku Melepasmu, Mas!
Dhiya Bisa Memahami Kondisinya


__ADS_3

Informasi yang di berikan Firman semalam, membuat Yara tidak bisa tidur semalaman. Sedih rasanya kehilangan orang tercinta. Tapi harapan untuk menemukan Afkar masih ada. selagi belum menemukan tubuh Afkar, Yara yakin kalau suaminya masih hidup. Hatinya juga mengatakan itu. Yara sudah mengambil keputusan untuk kedepannya akan seperti apa. Ia benar-benar harus mencari afkar.


Merasa berat menghadapi ini semua sendiri, Yara menceritakan semua kepada Mira, adik dari afkar. Meminta pendapat dan saran dari adik iparnya itu. Yara ingin segera menyusul ke kota untuk mencari keberadaan suaminya. Tapi Yara masih bimbang harus meninggalkan Dhiya atau membawanya gadis kecil itu bersamanya.


"Mba yakin, akan pergi ke sana?" Tanya Mira.


"Yakin, Mir? sudah hampir dua minggu lebih. Tak ada kabar tentang, Mas mu! Apalagi mendegar kabar dari Mas Firman semalam. Mba makin yakin harus ke kota, besok!" Balas Yara.


"Ya sudah, kalau begitu. Biar Dhiya sama Mira saja. Kebetulan suamiku juga lagi ada tugas di luar provinsi selama tiga bulan. Jadi kemungkinan Mira akan tinggal di rumah ibu dulu, selama pengobatan bapa.


"Terima kasih, Mir. Maaf kalau mba ngerepotin kamu."


"Aku tidak merasa direpotkan, Mba! Kita saudara sudah sepantasnya saling membantu," ucap Mira berhasil membuat perasaan Yara lega karena dia bisa menitipkan Dhiya sama Mira.


Pagi ini, semuanya sudah siap. Satu tas berisi pakaian yang akan di bawa Yara. Dan satu tas berisi perlengkapan Dhiya untuk tinggal di rumah mertuanya.


Yara akan pergi ke kota dengan berbekal sisa uang tabungannya bersama Afkar. Usai solat subuh, Yara berdoa kepada Sang Pemilik Kehidupan. Berpasrah diri dan memohon agar diberi petunjuk soal beradaan suaminya. Setelah semuanya siap. Yara berbicara pelan dan hati-hati pada Dhiya, ia akan berbicara soal kepergiannya ke kita seroang diri tanpa Dhiya. Agar Dhiya tidak terkejut saat akan ditinggal Yara nanti.


“Dhiya," panggil Yara saat anak gadisnya sedang makan sendiri sambil menonton kartun kesukaannya yang tayang tiap pagi, Ipin dan Upin.


"Apa Nda?" jawab Dhiya tanpa mengalihkan tatapannya.

__ADS_1


Yara tersenyum melihat respon dari Dhiya. Lekas Yara mendekati anak gadisnya. Ia duduk di samping Dhiya kemudian mengambil alih makanan yang Dhiya makan.


"Sini, Bunda suapin!" Ucap Yara.


Dhiya langsung menoleh ke arah Yara.


"A," Yara menyodorkan satu suap makanan pada Dhiya.


"Pintar sekali anak, Bunda!" Yara tersenyum setelah makanan yang disuapkan pada Dhiya dimakannya dengan lahap.


"Bunda mau susul ayah ke kota, ya? Dede sama Tante Mira dulu, mau 'kan?” Yara kembali menyodorkan minum ke arah Dhiya. Makanan yang ada di piring habis cepat segera Yara meletakkannya di atas meja.


“Nda, mau jemput yayah?” Tanya Dhiya dengan polosnya.


Yara mengangguk pelan.


“Emang, yayah temana? Ko nda puyang-puyang? Dhiya mau tetemu ayah!” Dhiya menunduk, wajahnya berubah muram. Selama beberapa minggu ini tak henti menanyakan keberadaan Afkar. Dhiya terbiasa dengan komunikasi yang di lakukan setiap hari dengan sang ayah.


Ucapan seorang anak yang merindukan sang ayah begitu pilu. Hati Yara kembali perih, sakit rasanya jika harus membiarkan anaknya selalu menanti kedatangan Afkar, sang ayah yang tak ada kabar. Untuk itu ia bertekad menemukan Afkar, selama jasadnya masih belum bisa ia lihat dan tak ada kabar bahwa suaminya meninggal.


Yara akan terus berusaha mencari. Apapun yang terjadi nanti, setidaknya ia sudah berusaha dan berharap suaminya dalam keadaan baik-baik saja.

__ADS_1


“Makanya Bunda mau susul ayah! Kita ajak pulang ayah kesini sambil jemput DHiya. Dede 'kan anak baik, sholehah nya ayah sama bunda. Bunda janji ngga kan lama, kalau bunda sudah ketemu ayah, kita bisa sama sama lagi, ya, sayang!” Yara memeluk erat Dhiya, ingin rasanya ia kembali menumpahkan butiran air mata yang sudah membendung di sudut matanya. Lekas ia usap cairan bening itu, ia tak mau Dhiya melihat bundanya bersedih. Ia mau menunjukan bahwa bundanya kuat.


“Janji ya, Bunda?” Dhiya mengacungkan jari kelingking meminta Yara untuk melakukan hal yang sama berjanji untuk menepati ucapannya.


“Ya, Bunda janji,” lirih Yara berharap bisa menepati ucapannya. Sekarang kita bersiap kerumah Eyang kung ya? Dhiya baik-baik di sana! Jagain Eyang Kung juga? Nurut sama Eyang Uti sama tante Mira ya, sayang?” Yara merapihkan rambut dan baju yang dikenakan Dhiya sambil menasehatinya.


“Iya, bunda,” jawab Dhiya.


"Alhamdulillah, Nanti Dhiya tidak boleh nakal saat bersama Ateu Mira, Ok!"


"Ok, Bunda!"


Yara merasa lega sekali. Dhiya menurut dengan ucapannya. Dhiya bisa memahami situasinya saat ini.


Semoga saja ucapan Dhiya tidak berubah. Saat dirinya melihat kepergian Yara. Biasanya bocah akan bereaksi lain kalau saatnya tiba karena sudah dipastikan Yara akan sangat berat jika sikap Dhiya seperti itu.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2