Ikhlasku Melepasmu, Mas!

Ikhlasku Melepasmu, Mas!
Hati Manusia Tidak Bisa Di Tebak


__ADS_3

Cukup lama Afkar berdiam diri di toilet yang ada di luar toko. Pria itu tidak mau ada yang melihat dirinya tengah menangis.


"Kenapa sesakit ini mendengar ucapan mu, Nak! Andai saja ayah bisa merubah waktu. Ayah tidak ingin kehilangan kalian. Andai saja, ayah juga mendengarkan apa kata bundamu, yang menginginkan kita selalu bersama dalam kesederhanaan di kampung dulu. Kita tidak akan berpisah seperti ini." Sesal Afkar seraya memukul dadanya sendiri yang terasa semakin sesak. Hanya dengan tangis, Afkar bisa merasa lega. Penyesalan memang terasa di akhir.


Afkar masih betah berdiam diri di dalam toilet. Membasahi wajah dengan air agar terlihat lebih segar. Ia memejamkan mata. Kini, rasanya percuma meratapi yang telah terjadi. Mendengar Dhiya terdengar bahagia bersama Erza membuat Afkar kembali berpikir. Kalau memang takdir Kebersamaan bersama Yara memang sudah berakhir. Kebahagiaan Yara dan Dhiya tidak ada padanya. Hanya saja dalam hati Afkar rasa rindu itu masih tetap ada. Ia tidak mau berharap lebih. Ia hanya berharap bisa bertemu dengan mantan istri dan putrinya. Meminta maaf atas kejadian lalu dan memperbaiki diri agar tidak bersikap egois dan semaunya sendiri.


"Lebih baik aku ijin pulang cepat hari ini. Aku harus memberitahu ibu soal kabar yang aku dapat. Semoga dengan bertemunya kami dengan Syafa dan Yara kehidupanku bersama ibu lebih tenang," gumam Afkar.


Setelah mendapat ijin dari Uda Malik Afkar berjalan tertatih menuju perkiraan. Meskipun berjalan sedikit pincang tapi tidak menutup ketampanan dan kegagahan dari pria itu. Banyak wanita yang menyayangkan kondisi Afkar sekarang ini. Tapi ada juga yang terpesona dengan kegigihannya dalam bekerja.


"Mas Afkar, tumben sudah pulang jam segini?" Tanya salah satu penjual baju yang Afkar kenal kebetulan berada di parkiran. Bekerja di Toko Uda Malik hanya sebentar tapi banyak yang sudah mengenalnya sosok Afkar. Apalagi dengan kejadian terbongkarnya kecurangan yang Jono lakukan. Afkar semakin dikenal karena dialah yang berjasa atas itu semua.


"Iya, Mba. Ada keperluan mendadak jadi harus segera pulang,' ujar Afkar.


Usap berpamitan, Afkar segera pulang ke rumahnya. Wanita paruh baya duduk seorang diri di depan rumah kontrakan sederhana milik Afkar. Wanita itu sumringah saat melihat kepulangan Afkar.


"Tumben jam segini sudah pulang, Kar?" tanya Bu Nuri yang langsung berdiri menyambut kedatangan Afkar di depan rumah.


"Ijin pulang cepat, Bu." Afkar lekas menyalami wanita tua itu. Kemudian duduk di sisi Bu Nuri.


"Pulang cepat? Kenapa? Kamu sakit?" Tanya Bu Nuri sembari menatap Afkar penuh selidik. Sebab tidak pernah Afkar ijin pulang kerja tanpa sebab. "Ya sudah, istirahat lah dulu! Biar ibu ambil minum buat kamu."


Afkar menganguk membalasnya. Bu Nuri pun berlalu masuk ke dalam rumah untuk mengambil minum untuk Afkar. Tak lama wanita tua itu kembali.


"Diminum dulu, Nak!" Bu Nuri menyodorkan segelas air putih pada Afkar.


"Terima kasih, Bu!" Ucap Afkar kemudian meneguk pelan air yang ia terima dari Bu Nuri.


Wanita tua itu ikut duduk di sisi Afkar dengan napas yang sedikit tersengal. Keadaanya mulai ringkih dan sakit-sakitan. Bahkan untuk berjalan saja napasnya terasa berat di tambah lagi kondisi jantungnya yang kurang baik. Dengan kondisi seperti ini, Bu Nuri lebih memilih tinggal bersama Afkar di banding dengan Mira, anak perempuannya yang sudah kembali membina rumah tangga.


Bu Nuri tidak mau mengganggu kehidupan rumah tangga putrinya untuk kedua kali. Padahal suami dari Mira adalah seorang dokter. Akan lebih mudah bagi Mira untuk merawat orang tua satu-satunya itu.


Tetap saja Bu Nuri menolak, kali ini Ia meminta Mira untuk lebih berbakti kepada suaminya. 'Ikuti kemanapun suamimu pergi' itulah kata yang Bu Nuri ucapkan untuk Mira.

__ADS_1


"Ibu kenapa? Sesak lagi?" Tanya Afkar saat melihat ibunya begitu lelah seraya mengatur napasnya.


"Ibu baik-baik saja. Kamu tidak perlu khawatir. Ini hal biasa, ibu hanya merasa sedikit sesak," sahut Bu Nuri.


"Sesak?" Tanya Afkar penuh kekhawatiran.


"Sedikit," sanggah Bu Nuri.


"Lebih baik kita berobat, Bu! Afkar hendak berdiri dari duduknya. "Aku akan menghubungi Mira," lanjutnya.


"Jangan, Nak!" cegah Bu Nuri kemudian menggelengkan kepalanya. "Ibu tidak mau menganggu Mira. Kemarin dia mengabari ibu kalau mereka sedang berada di luar kota. Mira ikut dengan berlibur dengan keluarga Renaldi. Ibu dengar dia sangat bahagia, keluarga suaminya menerima semua kekurangan Mira. Ibu sangat bersyukur akan hal itu, Mira bisa mendapat kebahagiaannya," ucap Bu Nuri penuh rasa syukur.


"Tapi yakin ibu baik-baik saja?" Afkar kembali menegaskan.


"Ya, ibu baik-baik saja! Kamu bagaimana? Kenapa pulang cepat? Sakit?" Bu Nuri balik bertanya.


Afkar mengelengkan kepalanya lalu membuang napas pelan. "Hari ini banyak kejadian yang aku alami, Bu?" Afkar mulai bercerita.


"Kejadian apa? Bahayakah?" Bu Nuri semakin penasaran mendengarnya.


"Syukurlah kalau begitu. Berarti usahamu untuk menjebaknya berhasil? Lalu bagaimana dengan uang yang sudah kamu bayarkan untuk ganti rugi atas fitnah yang kamu terima?" Tanya Bu Nuri.


"Uda Malik berjanji akan mengembalikannya." Afkar menjeda ucapannya, tadinya pria itu ingin memberitahu juga kalau Jono berhasil kabur. Tapi Afkar tidak mau ibunya merasa khawatir akan keselamatannya. "Aku juga akan bertemu dengan Syafa, Bu. Satu lagi dengan Dhiya dan Yara juga," ucap Afkar sontak membuat Bu Nuri menatap tak percaya padanya.


"Benarkah? Bagaimana bisa?" Bu Nuri merasa heran.


"Allah mendengar do'a kita yang sangat berharap bertemu dengan mereka," ucap Afkar. Bu Nuri begitu senang mendengarnya.


"Ibu akan bertemu dengan Dhiya, cucuku!" seru Bu Nuri penuh haru.


"Kita juga akan bertemu dengan Yara. wanita yang telah menelan pahit dan luka akibat perbuatan kita."


"Ibu yang banyak salah pada Yara. Ibu rasa kamu tidak sepenuhnya bersalah. Kamu melakukan kesalahan pada Yara dalam kondisi yang berbeda. Ibu yakin, Yara pasti paham soal itu." Bu Nuri menenangkan Afkar yang merasa sangat bersalah pada Yara.

__ADS_1


"Aku tetap bersalah. Aku memperlakukannya tidak baik selama hilang ingatan dan itu semakin membuatnya terluka."


"Sudahlah, semua sudah berlalu. Semoga saat bertemu dengannya nanti kita bisa meminta maaf secara langsung. Dan semoga hubungan kita kembali membaik. Ibu sudah tua, ibu hanya ingin hidup tenang setelah mendapat maaf dari Yara."


"Bu," Panggil Afkar.


"Ada apa lagi?"


"Apa aku salah jika berharap rumah tanggaku dengan Syafa kembali?"


"Salahnya di mana? Bukankah kalian masih suami istri?"


"Syafa menginginkan kami berpisah," lirih Afkar. Terdengar nada putus asa di sana.


Bu Nuri sangat mengenal sifat anaknya. Ia yakin dalam hatinya Afkar tengah berperang batin. Antara melepaskan dan mempertahankan. Sebab Afkar pernah bercerita kalau dia akan melepaskan Syafa demi maaf dari Yara. Hati manusia tidak bisa ditebak, begitu juga dengan Afkar. Pikiran dan ucapan bisa saja berubah.


"Apa aku salah ingin mempertahankan rumah tanggaku yang sekarang? Ibu tahu rasa penyesalan ini begitu dalam pada Yara. Aku melepaskan dia begitu saja. Tapi aku lega saat ini Yara berada dengan orang yang tepat. Aku hanya ingin rumah tanggaku dengan Syafa kembali, Bu. Aku ingin memperbaiki semuanya," lirih Afkar.


Bu Nuri tidak bisa memberi solusi apapun. Ia paham dengan situasi dan kondisinya. Andai saja Syafa bukanlah kakak dari Yara. Mungkin dukungan dan semangat sudah diberikan olehnya.


"Semoga masalah yang kamu hadapi ini ada jalan keluarnya, Nak. Ibu hanya bisa mendoakan yang terbaik," ucap Bu Nuri seraya menepuk pelan bahu Afkar.


Tanpa Afkar sadari, seorang pria tengah menatap ke arah rumahnya dengan tatapan tajam penuh kebencian. Tangannya mengepal kuat, "Kamu kira bisa membuat aku mendekam di jeruji besi dengan mudah. Kamu belum tahu siapa aku, pria bodoh! Lihat saja kamu akan menyesal sudah membuatku jadi seperti ini. Aku akan memberi pelajaran pada seluruh keluargamu, Afkar. Tunggu pembalasan dariku!" ucapnya penuh kebencian.


"Cepat pergi dari sini! Kita sembunyi di tempat biasa! cari jalan tikus menuju basecamp, polisi pasti sedang mencariku!" ucap pria tersebut pada rekannya.


"Siap, Bos," rekannya tersebut bersiap menarik gas dan melajukan kendaraan roda duanya. pria tersebut kemudian menutup kepalanya dengan penutup kepala dari hoddie yang dipakai. Ia berusaha bersembunyi. Sebab saat ini sudah dipastikan dirinya telah menjadi buronan polisi.


.


.


.

__ADS_1


To Be continued


__ADS_2