Ikhlasku Melepasmu, Mas!

Ikhlasku Melepasmu, Mas!
Tidak Rela Jika Harus Berpisah


__ADS_3

"Maaf, Mir. Mba yang salah," ucap Yara sambil tertunduk. Tangannya tak henti mengusap buliran bening yang menetes di pipinya.


Mira mendekati Yara kemudian menepuk pelan pundak Yara. Tanpa diberitahu pun, Mira sudah menduga apa yang terjadi.


"Sini, Bu. Biar Mira saja yang nyuapin bapa!" Mira mengambil alih semangkuk bubur yang ada ditangan Bu Nuri. "Sebaiknya ibu makan dulu, dari tadi pagi belum makan loh!" lanjut Mira.


"Ibu gak napsu makan! Di mana Dhiya?" Tanya Bu Nuri.


"Dhiya di samping rumah sama Paman Yono," jawab Mira.


"Nih, suapin bapakmu! Ibu mau nemenin Dhiya saja." Bu Nuri berlalu keluar dari kamar.


Setelah Bu Nuri pergi. Mira kembali berbicara pelan dengan Yara.


"Mba, saya minta maaf atas sikap Ibu. Tolong maklumi, saat ini hati dan pikirannya juga sedang bercabang. Di samping masih memikirkan keberadaan Mas Afkar, ibu juga harus memikirkan bapak yang kondisinya seperti ini," ucap Mira. Adik dari Afkar itu berharap Yara mengerti akan situasinya.


"Mba ngerti ko, Mir! Gak pa-pa. Mba hanya sedih saja, terbawa suasana. Oh, ya. Sekalian mba mau memberikan ini." Yara menyodorkan tabungan serta ATM milik Yara kepada Mira. "Tadinya mau mba berikan sama ibu. Tapi rasanya ibu tidak bisa bicara baik-baik sama mba, bawaannya benci terus kalau dekat-dekat mba."


"Ini apa, Mba Yara?" Tanya Mira saat Yara menyelipkan dua benda itu di tangan Mira.


"Ini tabungan milik mba ama Mas Afkar. Sekarang ini, bapa lebih membutuhkan buat biaya berobat. Sedangkan penggilingan padi saat ini sedang sepi," balas Yara.


"Tapi mba---,"


"Terimalah jangan biarkan mba semakin tidak berguna buat keluarga ini. Mbak mohon kamu simpan uang ini. nomer pun sesuai tanggal lahir Dhiya, kamu pasti ingat."

__ADS_1


"Yara," teriak Bu Nuri dari luar Yara bergegas menghampirinya. Daripada kembali dapat omelan.


"Ada apa, Bu!" Tanya Yara.


"Ambilkan minum untuk Dhiya. Kasihan dia, kamu belum kasih makan cucuku ya di rumah!"


"Sudah, Bu. Dhiya biasa makan roti dan susu kalau pagi dan jam segini memang biasanya Dhiya makan. Sebentar Yara ambilkan minum dulu." Yara pun berlalu dari hadapan Bu Nuri.


"Mba, ponsel nya dari tadi bunyi!" Ucap Mira menghadang langkah Yara saat akan memberikan air minum untuk Dhiya. "Sini air minumnya, biar aku yang berikan! Lebih baik kakak angkat dulu teleponnya."


"Makasih, Mir!"


Yara mengerutkan alis saat ia melihat nomer dilayar ponselnya. "Nomer siapa ya?" Tanpa menunggu lama Yara balik menghubungi nomer tersebut.


Yara harus menunggu beberapa saat. Tak lama telepon pun tersambung.


"Saya bicara dengan Mba Ayara Faeqa bukan ya?" Seseorang di seberang sana balik bertanya pada Yara.


"Iya betul saya sendiri."


"Saya dari travel yang akan menjemput mba, posisinya saya sebentar lagi tiba di lokasi. Mohon supaya bersiap agar kami bisa langsung melanjutkan perjalanan," ucapnya terdengar jelas oleh Yara.


"Baiklah, aku akan siap-siap sekarang."


Yara bergegas menghampiri Mira dan Bu Nuri di samping rumah. Hatinya merasa lega saat melihat Dhiya tertawa kecil bersama Bu Nuri. Yara yakin meskipun sikap Bu Nuri tak baik kepadanya tapi sayangnya pada Dhiya tulus. Jelas saja karena Dhiya adalah keturunannya.

__ADS_1


Yara ikut duduk di bale panjang yang saat ini mereka duduki. "Bapak sudah tidur, Mir?" Tanya Yara.


"Sudah, mba. Tadi makannya hanya sedikit, habis aku kasih obat malah tidur," jawab Mira.


"Bu, aku akan pergi sebentar lagi. Mobil travel yang akan menjemputku sudah hampir tiba," ucap Yara pelan sontak membuat Bu Nuri menoleh kepadanya.


"Lalu?" cetus Bu Nuri


"Seperti yang ibu dengar dari Mira sebelumnya. Aku mau menitipkan Dhiya, aku lebih percaya dua bersama ibu di sini. Dan untuk pengobatan bapak ... Aku sudah memberikan sedikit uang untuk itu."


"Heh, dari mana kamu mendapatkan uang? Kalau tahu kamu punya uang, untuk apa Afkar harus pergi ke kota." Bu Nuri masih saja ketus kepada Yara.


"Itu tabungan wajib milik kami, Bu! Tabungan untuk membeli rumah, seperti keinginan Mas Afkar. Dan sekarang Yara serahkan pada Ibu dan Mira, semoga bisa membantu pengobatan bapak. Yara yakin, Mas Afkar pasti mengijinkannya."


"Nda, kapan mau pelgi?" Tanya Dhiya yang berpindah duduk di pangkuan Yara.


Yara tidak bisa menjawab. Napasnya terasa tercekat mendengar pertanyaan dari Dhiya.


Yara lekas memeluk tubuh kecil Dhiya seiring air mata yang mengalir di pipinya. Rasanya tidak rela jika harus berpisah dengannya.


Mira ikut sedih melihatnya. Adik dari Afkar ikut menangis sambil mengelus pelan pundak Yara. "Sabar, ya, mba!" ucapnya pelan berharap Yara kuat dengan masalah yang menimpanya.


Begitu juga Bu Nuri, wanita paruh baya itu memalingkan wajahnya kemudian mengusap air mata yang ikut mengalir di pipinya yang penuh kerut penuaan. Ia ikut merasa sedih mendengar isak tangis dari menantunya, Yara.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2