
Seperti yang sudah direncanakan malam hari tadi bersama Kak Ima. Mereka akan mencari lagi Afkar ke beberapa rumah sakit di sekitar jalan yang dilalui mobil travel itu.
Yara juga berencana mencari ke kantor polisi terdekat untuk menanyakan apa ada pengaduan kecelakaan seorang pria yang bernama Afkar. Sebab menurut Kak Ima, Afkar tidak berganti baju sore itu. Suami dari Yara masih menggunakan seragam kerja.
"Maaf mba, tidak ada nama Afkar dalam catatan rumah sakit di sini, mungkin ada di rumah sakit lain?" ucap perawat yang bertugas hari itu.
Yara pun keluar rumah sakit dengan perasaan kecewa.
"Bagaimana? Ada?" Tanya Kak Ima.
Yara hanya menjawab dengan celengan kepalanya pelan.
"Tidak ada, Kak."
"Ya sudah, besok kita cari lagi. Sudah sore, kita pulang yuk!" Ajak Kak Ima sambil menepuk pelan bahu Yara.
"Iya, Kak!"
Itu adalah rumah sakit ke empat yang mereka singgahi dari pagi. Yara masih bersikeras untuk mencari Afkar besok.
Upaya dan berbagai cara sudah Yara tempuh. Di bantu Firman, Yara menyebarkan poster berisikan orang hilang dan menempelkan di setiap tembok berharap ada yang pernah melihat dan mengenalinya.
Tiga bulan telah berlalu. Tak terasa sudah selama itu Yara berasa di Kota. Beruntung sebelum Afkar menghilang, suaminya itu sudah membayar uang sewa kontrakan tiga bulan ke depan. Jadi, uang pegangan yang Yara punya cukup untuk biaya hidup sehari-hari dia di kota itu.
"Sudah selama ini kita mencari, Ra! Tapi tidak ada hasil. Apa tidak lebih baik kamu ikhlaskan saja, Afkar?" celetuk Kak Ima ragu.
Upaya dan usaha telah di lakukan tapi tetap saja tidak ada hasil. Yara menghela napas berat. Dirinya juga sudah mulai lelah, mencari dengan ketidakpastian. Dhiya terus menanyakan kapan dia dijemput, kapa ayah pulang. Pertanyaan yang menelusuri sedih sampai ke denyut nadi.
"Sabar, ya, Dhiya. Bunda sebentar lagi pasti pulang. Dhiya tidak lupa berdoa buat ayah 'kan?" tanya Yara.
"Iya, bunda. Dhiya selalu beldoa sama Eyang uti juga semoga ayah cepat ketemu. Nda, nda, tau gak? Eyang kung udah bisa gelakin tangan sama bibil loh," Dhiya berbicara dengan girang dan senang.
"Alhamdulillah, Dhiya sering temani eyang kung 'kan?"
"Iya, Nda. Kalau eyang uti sama Ateu Mila lagi di tempat penggilingan, Dhiya nemenin eyang kung," sahut Dhiya yang masih bersemangat bercerita pada Yara.
"Ya sudah, anak pintar. Doakan bunda juga agar cepat pulang dan bisa menemukan ayah, bunda tutup teleponnya ya, Nak! Sampaikan salam buat Eyang Uti dan Eyang Kung sama Ateu Mira juga."
"Ya, Nda. di sini Eyang uti dengel ko bunda bicala."
__ADS_1
Yara tersenyum menanggapinya.
"Bunda Pamit, ya, Sayang. Assalamu'alaikum."
"Waaalaitumcalam, Nda" jawab Dhiya dengan suara cadelnya.
----
"Ra, apa tidak baik jika terus memberi harapan terus pada Dhiya. Sudah 3 bulan kita mencari loh!"
"Aku yakin, Mas Afkar masih hidup, Kak," sanggahnya.
"Tapi kita masih belum menemukannya sampai saat ini, Ra!" Kak Ima kembali menyadarkan Yara.
"Aku tidak peduli, aku akan terus mencarinya." Yara tetap dengan pendiriannya.
Firman dan Kak Ima tidak habis pikir dengan Yara. Kemana lagi dia akan mencari Afkar, sejauh ini mencari pun belum ada secuilpun hasil yang mereka dapat. Afkar seperti hilang di telan bumi.
Di tempat lain, sepasang wanita dan pria saling melempar senyum bahagia saat kata sah terucap oleh penghulu yang menikahkan mereka berdua.
"Terima kasih sudah mau merawat dan berada di sisiku selama ini. Tidak kenal lelah tanpa waktu merawatku, aku mencintaimu," ucap Afkar pelan saat mereka sedang merayakan resepsi pernikahan sederhana di sebuah hotel bintang 5 di negara besar yang banyak disebut sebagai Kota Singa Putih itu.
Hanya ada rekan bisnis dan beberapa keluarga yang hadir di sana.
Merka berdua berdansa pelan menikmati suasana malam indah pernikahan. Privat room yang mewah menjadi tempat resepsi pernikahan Syafa dan Afkar. Hanya orang-orang tertentu yang bisa masuk ke sana.
Afkar masih harus menjalani perawatan rutin ke rumah sakit. Sebab itulah ia masih berada di negara itu. Dan minggu depan pria yang saat ini sudah sah menjadi suami Syafa itu akan kembali ke tanah air. Masih dengan nama Afkar Chairi tapi dengan ingatan yang berbeda.
Semua kenangan yang Afkar miliki dulu sama sekali tidak berbekas diingatannya. Saat ini yang Afkar ingat hanya seorang Syafa Aileen Wirawan wanita cantik yang begitu lembut dan penuh kasih sayang. Wanita yang rela menghabiskan waktu untuk merawatnya. Dan selama itu pula perasaan cinta tumbuh diantara mereka.
Tuan Rio sengaja mempercepat rencana pernikahan mereka berdua sebab tidak ingin Afkar berubah pikiran saat ingatannya telah kembali.
Tuan Rio tidak peduli dengan kehidupan Afkar sebelumnya sebelum bertemu dengan Syafam. Yang ia pentingkan hanyalah kebahagiaan Syafa.
Sangat tidak mungkin seorang Rio Wirawan tidak bisa mencari tahu siapa itu Afkar Chairi. Dengan mudah baginya mencari informasi soal pria asing itu. Ketika menyuruh asistennya untuk mencari tahu siapa Afkar. Pak Mardi bisa langsung bergerak cepat. Sebab ia hapal dengan pakaian yang Afkar kenalan saat kecelakaan terjadi. Pakaian itu adalah seragam dari salah satu perusahaan yang Tuan Rio miliki, jadi dengan mudahnya Pak Mardi mencari tahu soal Afkar.
Usai acara resepsi pernikahan. Afkar dan Syafa sudah berada di kamar apartemen milik Syafa yang ada di Kita Singa itu. Semenjak merawat Afkar dirumah sakit yang ada di negara itu Syafa sengaja membeli satu apartemen di sana. Agar tidak terlalu jauh dengan rumah sakit tempat Afkar dirawat.
"Minggu depan kita akan pulang ke Jakarta. Bagaimana jika saat pulang nanti kita cari tahu asal usulmu, Mas?" Ucap Syafa saat kepala wanita itu tengah bersandar di bahu Afkar. Duduk bersama di atas tempat tidur king size.
__ADS_1
Mereka berdua baru saja membersihkan diri setelah seharian merasa lelah dengan acara pernikahan yang begitu cepat dilaksanakan.
"Kenapa? Apa kamu akan menyesal jika tahu masa laluku?" Afkar menegakkan badannya. Syafa pun bangun dari sandaran di bahu Afkar.
"Bukan begitu, Mas! Bagaimana kalau nanti kamu bertemu keluargamu, Mas?" Syafa terlihat sangat khawatir.
"Memangnya harus bagaimana? Ya ,tinggal bilang keadaanku yang sebenarnya. Dan mereka kembali memperkenalkan diri. Sebab mana aku tidak kenal dengan semua anggota keluargaku. Yang aku kenal sampai saat ini hanya kamu," Afkar menyentuh pipi Syafa dengan lembut.
Sentuhan itu membuat Syafa memejamkan mata. Meskipun hilang ingatan tapi naluri lelakinya tetap saja tidak hilang. Afkar semakin maju mendekat, bibir merkea bersentuhan.
Saat ini mereka sudah dah menjadi suami istri. Tangan Afkar bergerak pelan membuka satu persatu kain yang menempel di tubuh Syafa.
Sangat lembut dan hati-hati Afkar menyusuri setiap inci tubuh Syafa setelah tak ada satu lembar kain yang menutupi tubuh indahnya.
Wajah Syafa seperti tomat saat ia sadar keadaanya saat ini. Syafa berusaha meraih kembali pakaian yang ada di dekatnya.
"Biarkan aku melihat seluruhnya, sekarang semuanya milikku," cegah Afkar kemudian menyambar bibir Syafa. Afkar kembali bermain panas di sana. Erangan dan Suara lembut yang keluar dari bibir Syafa semakin memacu Afkar untuk merengguk manisnya malam indah itu.
"Ah... Sakit, Mas!" jerit Syafa kemudian menggigit bibirnya sendiri saat rudal milik Afkar melesat masuk ke dalam gua sempit milik Syafa.
"Terima kasih, karena telah mengijinkan aku yang menyentuhnya untuk pertama kali," bisik Afkar dan mendapat anggukan pelan oleh Syafa.
Perlahan tapi pasti Afkar memompa dengan penuh irama dan kenikmatan. membuat keduanya terbang melayang dan Afkar mencapai nirwana setelah pelepasannya.
"Aku mencintaimu, Ayara," gumam Afkar hampir tak terdengar kemudian pria itu memejamkan matanya karena lelah.
"Mas, aku Syafa bukan Ayara!" protes Syafa.
"Hm...." Hanya kata itu balasan dari Afkar.
Syafa mengerutkan alisnya. "Ah, mungkin aku salah dengar!" Syafa tidak ambil pusing dengan gumaman Afkar.
Syafa memilih memeluk tubuh kekar suaminya. Afkar suami yang bukan hanya miliknya.
.
.
.
__ADS_1
To be continued...
Jangan lupa tinggalkan komentar, like dan bintang 5 ya....