Ikhlasku Melepasmu, Mas!

Ikhlasku Melepasmu, Mas!
Cuma Masak Aja 'Kan?


__ADS_3

"Kenapa? Apa kamu tidak bersedia bekerja sama denganku?" Haryani kembali bertanya karena Yara terlihat diam tak berkomentar apapun dengan tawarannya.


"Bukan itu maksudku, Bu! Aku belum berpengalaman banyak dalam hal ini. Jadi aku tidak begitu percaya diri," balas Yara. Ia selalu menunduk saat berbicara.


"Kalau begitu saya tidak akan memaksa, tapi tawaran yang saya berikan akan selalu ada. Ini alamat dan nomer pribadiku, jarang sekali saya memberikan kartu ini kepada orang yang baru ku temui. Tapi saya yakin kamu pasti sukses dengan keahlianmu ini! Kamu bisa kapan saja ke sana. Jika kamu berubah pikiran," ujar Haryani.


Yara mengangguk pelan dan menerima kartu nama itu. Pikirannya masih bingung untuk menjawab. Jalan untuk menuju impiannya saat ini memang ada di depan mata. Tapi Yara masih berpikir tentang Dhiya.


Jika Yara menerima tawaran itu, ia takut waktu kebersamaan bersama Dhiya akan semakin berkurang. Meskipun saat ini juga sama. Tapi Yara bisa kapanpun pulang sesuai keinginannya untuk saat ini.


"Aya sudah, lebih baik kamu menemaniku makan sekarang ini. Sekalian aku ingin melihat keahlianmu yang lain," tutur Haryani.


Yara tidak enak hati untuk menolak tawaran Haryani kali ini. Mereka berdua akhirnya makan sore bersama.


Setelah makan selesai, Haryani meminta Yara membuat gambar lain yang ia bisa ia berikan untuknya. Haryani tersenyum ketika melihat Yara dengan santai dan penuh penghayatan saat membuat sketsa pakaian yang sedang ia buat.


'Saya yakin kamu akan sukses dengan keahlianmu ini, Kenapa saya begitu penasaran dengan wanita ini? Dari raut wajahnya, dia menyimpan luka yang sedang ia tutupi.'


Batin Haryani.


"Selesai, maaf, Bu. Hanya ini yang bisa saya buat." Yara menyerahkan dua lebar kertas kepada Haryani.


Senyum kepuasan Haryani pancarkan saat melihat hasil karya Yara selanjutnya. Seperti dugaannya, Yara memberikan sketsa yang bagus.


"Terima kasih, dan ini bayaran untuk pesanan yang tadi kamu bawa." Haryani memberikan sejumlah uang pada Yara.


"Bu, ini banyak sekali?" Yara enggan menerima uang yang disodorkan Haryani kepadanya.


"Anggap ini bayaran karena kamu telah membuat ini!" Haryani mengangkat keras bergambar design di tangannya.


Yara mengulas senyum melihatnya. Kemudian menerima uang tersebut karena tidak dipungkiri Yara memang sedang butuh uang itu. Saat ini Yara sudah tidak memiliki pegangan uang untuk sehari-hari nya bersama Dhiya.


Sebelum mereka berpisah, Haryani kembali mengingatkan Yara untuk kembali memikirkan tawaran yang ia berikan. Yara mengangguk pelan membalasnya. Ia pun pulang dengan lega dan senang.


 🌱🌱🌱


Dua buah kantung makanan ada di tangan Yara saat ini. Sebelum pulang Yara menyempatkan membeli makanan untuk Dhiya. Tak lupa juga untuk Kak Ima dan suaminya. Selepas magrib Yara sampai di rumah kontrakannya.


"Bunda," panggil Dhiya.


Anak gadis itu langsung berlari ke luar rumah saat mendengar suara motor yang Yara kendarai berhenti di depan rumah kontrakannya. Dhiya lekas menghampiri bundanya. Kemudian menyalaminya. Yara menyambut itu, saat hendak mencium pipi Dhiya. Kak Ima yang baru saja keluar dari ruang kontrakannya mencegahnya.


"Ganti baju dulu, Ra. kamu habis dari luaran loh!" tegur Kak Ima.


"De, sini! Bunda baru sampai, biarkan bunda bersih-bersih dulu," ucap Kak Ima pada Dhiya.


Anak gadis itu menurut. Sebab Kak ima dan Yara memang selalu mengajarkan kebersihan pada Dhiya. Ketika baru sampai dari luar usai mengendarai motor alangkah baiknya membersihkan diri dulu.


Yara yang mengerti maksud dari Kak Ima lekas memberikan makanan yang ia bawa kepada wanita hamil itu.


"Ini buat makan malam kita, Kak. Aku mandi dan bersih-bersih dulu, sebentar," ucap Yara kemudian berlalu dari hadapan mereka untuk segera membersihkan diri.


"Bunda mandi dulu, ya. Nanti kita makan sama-sama," ucapnya pada Dhiya. Dan mendapat anggukan dari anak perempuannya itu.


Selagi Yara mandi, Kak Ima menyiapkan makanan yang Yara bawa untuk mereka makan. Sudah menjadi hal biasa baginya. Yara selalu seperti ini. Pasti membawa makanan saat pulang narik.


Tak lama Yara kembali dengan wajah dan tubuh yang sudah segar.


"Ra, kamu beli banyak sekali ayam bakarnya?" Tanya Kak Ima.


"Iya, buat Bang Boy juga, Kak!" seru Yara kemudian ikut duduk di karpet lantai di dalam kontrakannya.

__ADS_1


"Bang Boy nya juga belum pulang. Tadi sehabis nganter ke rumah sakit, terus main sebentar ke Mall dia langsung balik lagi ke bengkel. Banyak kerjaan katanya, Sayang kalau tidak dimakan. Pasti Bang Boy makan di sana!" ujar Kak Ima.


"Simpan aja di kulkas, Kak. Besok pagi bisa dihangatkan lagi buat sarapan," usul Yara.


"De ...," panggil Yara pada putrinya yang sedang menikmati makanannya sendiri.


"Ya, Nda!" sahut Dhiya.


"Mau bunda suapin?"


Dhiya menggelengkan kepalanya pelan. "Kata Ibu, Dede udah gede harus bisa makan sendiri!" balas Dhiya.


Yara terkejut saat mendengar Dhiya bicara.


"Wah, kamu udah bisa mengucapkan huruf R," Yara tampak terkejut.


Dhiya mengangguk pelan. "Ibu yang ajarin," ujar Dhiya sambil melirik ke arah Kak Ima.


Wanita yang ada di samping Dhiya hanya tersenyum saat anak kecil itu melirik kepadanya. Dhiya kembali melanjutkan makannya sendiri.


"Kak, terima kasih banyak sudah membantu aku menjaga Dhiya. Maaf aku merepotkan Kakak dan Bang Boy. Aku tidak tahu bagaimana kalau tidak ada Kak Ima di sini," ucap Yara dengan wajah terharu.


"Sama-sama, aku merasa senang ko, ada Dhiya di sini. Jadi ada teman saat Bang Boy kerja. Kamu juga jadi bisa kerja 'kan?" Ujar Kak Ima. "Jangan sungkan, kita sudah seperti saudara," lanjutnya.


"Ya, hanya Kak Ima dan Bang Boy yang bisa mengerti aku di sini. Di saat Mas Afkar tidak ada di sisiku. Bahkan sudah dua hari aku dan Dhiya di sini, dia sama sekali tidak peduli atau menyusul kami." Yara berucap dengan wajah sedih.


Tanpa Yara ketahui. Afkar selalu mencari cara agar bisa pergi meski sebentar dari sisi Syafa. Entah mengapa begitu sulit. Syafa sama sekali tidak bisa ditinggal olehnya. Bahkan seperti perintah papa mertuanya. Afkar libur bekerja selama satu minggu hanya untuk menemani Syafa.


"Sabar, semua pasti kembali seperti semula. Yakinlah!" Kak Ima menasehati.


Yara mengangguk pelan membalasnya.


"Aku sudah makan, Kak!" tolak Yara.


"Loh, aku sudah siapkan makanannya loh. Sayang kalau tidak di makan."


Yara melihat nasi dan ayam yang sudah disiapkan Kak Ima.


Yara merasa bersyukur akan kehadiran Kak Ima bersamanya. Yara seperti mempunyai seorang kakak yang perhatian padanya.


"Iya juga." Yara terdiam sesaat sambil berpikir. "Kak, biar kau berikan sama Bi Ninis saja ya. aku dengar dia sakit hari ini. Tadi pagi juga dia libur ngojek sama aku," Ujar Yara.


"Ya sudah, aku siapkan makanannya sebentar. Biar kakak tambah ayamnya."


Setelah siap, Yara mengantarkan makanan itu kepada Bi Ninis. Wanita tua yang tinggal tak jauh dari rumah kontrakannya. Jaraknya hanya terpisah dua rumah saja dari kontrakan Yara.


Sesampainya di rumah Bi Ninis. Ternyata kedatangan Yara sangat dinanti oleh wanita itu.


"Ya Allah, bibi bersyukur sekali kamu datang ke sini, Ra!" Ucap Bi Ninis.


Yara mengerutkan alis mendengarnya.


"Kenapa, Bi. Apa ada yang sakit? Aku bisa antar ke klinik," ujar Yara.


"Bibi sudah berobat hanya saja vertigo ku sedang kambuh. Jadi mau berdiri pun serasa melayang. Bibi mau minta tolong sama kamu, Ra," pinta Bi Ninis.


"Apa, Bi?"


"Kamu 'kan pintar masak. Bibi minta tolong buat menggantikan pekerjaan bibi selama satu minggu, atau sampai kepala bibi sudah tidak pusing lagi," ujar Bi Ninis.


"Cuma masak aja 'kan?" Tanya Yara.

__ADS_1


Bi Ninis mengangguk pelan.


"Iya, kamu masak untuk pagi saja. Soalnya si Aden tidak suka masakan dari luar. Dia lebih suka masakan rumahan. Kadang yang bibi masak sering ia bawa ke kantor. Nanti kamu buatkan bekal saja untuk dia."


"Bagaimana kalau bos bibi tidak suka masakan aku?"


"Pasti suka! Orang masakan kamu enak. Bibi jamin, karena bibi udah ngerasain masakan kamu. Lidahku itu pilih-pilih dan bisa merasakan mana yang enak dan tidak." Setelah berbicara Bi Ninis kembali memegang kepalanya yang terasa pusing.


"Bibi kenapa? pusing lagi?" Tanya Yara.


Bi Ninis cuma bisa mengangguk pelan sambil memejamkan mata.


"Ya sudah, kalau begitu bibi istirahat saja. InsyaAllah, besok Yara mau mengantikan bibi di sana. Di tempat yang biasa Yara antar bibi 'kan?" Yara memastikan.


"Iya, di rumah anaknya Bu Anggi ya, bukan rumah yang kemarin kamu antar," ucap Bi Ninis.


Yara mengangguk pelan. "Lagian kenapa bisa bibi tidak tinggal di rumah ibunya saja? Malah memilih tinggal sendiri, kecuali kali dia sudah menikah baru pisah dengan orang tuanya," Ujar Yara.


"Dia itu ingin bebas, kalau di rumah orang tuanya. Dia selalu di suruh untuk nikah!" balas Bi Ninis.


"Ya kalau umur sudah cukup memang sudah seharusnya menikah, Bi."


"Belum nemu yang cocok kali, Ra!"


"Orang kaya, memang selalu pilih-pilih pasangan ya, Bi!" Lanjut Yara.


"Memang harus, jangan sampai kita menyesal nanti setelah berumah tangga, Ra."


Mendengar itu Yara teringat dengan kondisi rumah tangganya saat ini.


'Apa aku juga terlalu cepat memutuskan menikah saat itu.'


Batin Yara tapi secepat mungkin ia tepis rasa sesal itu. Yara hanya bisa berpasrah untuk hidupnya saat ini. Semua keajaiban akan datang pada kehidupannya.


Di tempat lain. Seorang pria kelimpungan mendengar Bi Ninis tidak masuk kerja hari ini.


"Mah, masak nggak di rumah? ada masakan apa? Aku mau ke rumah sekarang. Bi Ninis tidak datang," ucap Erza dari sebrang telepon.


Bu Anggi hanya bisa menggelengkan kepala mendengarnya. "Perasaan dari tadi mama sudah menyuruhmu datang ke rumah, kenapa tidak datang dari pagi? masakan banyak di sini!" Balas seorang wanita yang masih cantik meski umurnya sudah tidak muda lagi.


"Mama nyuruhnya pas ada Rianti dan keluarganya. Kalau tidak ada mereka juga aku datang! Aku malas dijodohin, Mah. Biarkan kau pilih calon istriku sendiri," Erza kekeh dengan pendiriannya.


"Terserah kamu, buktikan saja kamu bisa membawa wanita ke rumah ini!" Bu Anggi langsung menutup sambungan telponnya dengan Erza. Beliau menyerah untuk mengenalkan beberapa gadis lajang padanya. Pendirian Erza kekeh, tidak mau dijodohkan.


Erza langsung menarik ponsel yang menempel di telinganya.


"Dikira gampang nyari cewe, Kenapa pada ngebet banget sih pengen liat gue nikah!" Gumam Erza. "Ah,.. sial banget hari ini. Mana harus gantiin motor si Beno. Eh ... Tapi ada untungnya juga sih, bisa ketemu sama anak kecil yang manis dan baik hati, sama ketemu ojek cantik itu. Coba tadi gue ajak kenalan dulu, tuh cewek!" sesal Erza.


.


.


.


.


Done seperti janjiku.... hari ini 2 bab. meski agak malam up nya.


Vote mana Vote.. like dan komen juga...


makasih 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2