
Yara berdiri dibantu Erza. "Kamu tidak apa-apa, Ra?" Tanya Erza. Pria itu melihat sudut bibir Yara yang sobek akibat pukulan yang salah sasaran dari Afkar.
Erza kembali emosi. Saat pria itu hendak berdiri untuk membalasnya pada Afkar. Yara menahannya.
"Za, tolong sudah perdebatan ini. Aku mau pulang saja!" Ucap Yara.
"Bunda ...." Dhiya mendekati Yara sambil menangis.
"Bunda tidak apa-apa, Nak. Kita pulang ke kontrakan, ya!" Ajak Yara dan Dhiya pun menyetujuinya.
Yara lekas mengangkat tubuh Dhiya. Kemudian berjalan meninggalkan Afkar yang masih diam menyesali perbuatannya.
"Kamu harus pulang bersamaku, Ra!" Bariton perintah terucap dari bibir Afkar.
Yara mengentikan langkahnya. Kemudian menatap Afkar. "Aku tidak akan pernah kembali ke rumah itu lagi, Mas! Jika kamu mau pulang ke sana, silahkan sendiri. Aku semakin tidak mengenal kamu. Mas Afkar yang aku kenal sudah tidak ada lagi dalam dirimu. Mas Afkar yang saat ini ada di hadapanku adalah Mas Afkar yang kasar dan tidak berperasaan." Setelah berbicara Yara kembali melangkah pergi.
"Aku tidak akan meridhoi langkahmu, Ra! Ingat aku masih suamimu saat ini. Dan surgamu ada padaku!" Ucap Afkar dengan lantang dan tegas membuat langkah Yara berhenti seketika.
...🌱🌱🌱🌱...
Erza melihat kepergian mobil mewah yang membawa Yara. Pria itu tidak bisa menahan Yara kali ini. Sebab Ia sadar kalau posisinya akan disalahkan saat itu.
Hati Erza perih saat melihat Dhiya pergi sambil memanggil namanya. Meminta tolong agar Dhiya tidak ikut pulang bersama Afkar. Sikap kasar Afkar terhadap Yara tadi membuat gadis kecil itu takut kepadanya.
Tangan Erza mengepal saat mengingat itu semua.
'Aku janji tidak akan menyerah untuk mendapatkan kamu, Ra. aku akan membebaskan kamu dari suami jahat mu itu.'
Batin Erza. Mobil yang membawa Dhiya dan Yara pun menghilang dalam pandangannya.
Erza pun pergi dari tempat itu. Pasar malam yang memberikan kenangan manis saat bersama Yara dan Dhiya sekaligus memberi kenyataan pahit kalau wanita yang ia cintai adalah milik orang lain.
"Mas tunggu!" Panggil seseorang mencegah kepergian Erza. "Ini boneka gadis kecil tadi 'kan?" ucapnya sambil menyodorkan boneka beruang itu ke hadapan Erza.
"Oh, iya. Terima kasih, Mba!"
"Sama - sama, Mas!"
Memegang boneka yang memberi kenangan itu Erza mengulas senyum. Pria itu berencana untuk mengantarkan boneka itu ke rumah kontrakan Yara. Erza yakin Dhiya dan Yara pasti akan kembali lagi ke sana. Erza melajukan motornya menuju ke rumah kontrakan Yara.
__ADS_1
Sesampainya di sana, Ia bertemu dengan Kak Ima. Berbagai pertanyaan dilontarkan oleh wanita itu pada Erza. Sebab Bang Boy sudah memberitahu Istrinya itu ketika suaminya itu sampai ke rumah.
Erza menjawab dengan sejujurnya. Ia juga menceritakan apa yang terjadi.
"Ya ampun, Bang. Apa ini perasaanku yang tidak enak tadi. Bagaimana Dhiya! Pasti anak itu sangat ketakutan," ucap Kak Ima sambil menangis sedih. Erza merasa penasaran dengan kisah rumah tangga Yara.
Ia meminta Kak Ima menceritakan semuanya pada Erza. Awalnya Kak Ima tidak mau mengungkapkannya tapi berkat Erza yang meyakinkannya kalau dia tulus mencintai Yara. Kak Ima pun menceritakan semuanya.
Erza pun pamit dari rumah kontrakan Kak Ima setelah mengetahui semuanya.
'Apakah aku mampu masuk ke dalam hatimu, Ra. Pria itu terlalu istimewa untuk mu. Aku akan siap merangkul mu jika kamu menyerah dengan sikapnya. Aku tulis padamu, Ra. Begitu juga dengan Dhiya. Aku tulus menyayangi putri mu itu.'
Batin Erza.
...🌱🌱🌱🌱...
Di tempat lain, Yara terus berbicara lembut untuk menenangkan Dhiya. Afkar mencoba untuk mendaki gadis itu tapi di tolak mentah-mentah olehnya. Dhiya terlihat takut pada Afkar.
elusan lembut dan ucapan yang membuat Dhiya tenang mampu membuat Dhiya tertidur dalam pengakuan Yara.
Perdebatan kecil masih terus saja berlangsung selam perjalanan. Afkar masih tidak terima dengan Yara yang jalan bersama pria lain. Padahal Yara sudah menjelaskan semuanya pada Afkar. Sampai akhirnya mobil mewah itu berhenti di teras rumah mewah milik Syafa.
"Cepat turun!" titah Afkar masih dengan nada bicara yang kurang ramah pada Yara.
Selama perjalanan Yara terus mengelak dan membantah Afkar. Semua ia lakukan karena memang apa yang dituduhkan Afkar tidak benar padanya.
Yara mengikuti perintah Afkar. Dengan pelan dan hati-hati, Yara turun dari mobil. ia takut Dhiya terbangun dari tidurnya.
"Bi Ami ...." Panggil Afkar sambil berteriak saat masuk ke dalam rumah.
Seorang wanita datang dengan tergesa.
"Saya, Tuan."
"Ambil Dhiya. Tidurkan dia di kamarnya!" Titah Afkar. Bi Ami segera mengambil alih Dhiya dari gendongan Yara.
"Sini, Nyah! biar saya tidurkan di kamarnya saja."
Dengan sangat terpaksa Yara mencoba mengikuti perintah Afkar.
__ADS_1
"Ada apa ini?" Tanya Bu Nuri yang muncul dari kamarnya. Ibu dari Afkar itu melihat Yara dengan tatapan tidak suka. "Ternyata kamu kembali lagi ke sini. Kenapa? pasti diluar tidak enak makan dan tidur nyenyak 'kan?" Ucap Bu Nuri sinis. Sikap Bu Nuri sama sekali tidak berubah pada Yara.
"Aku sama sekali tidak ingin kembali. Tapi Aku berada di sini karena titah suamiku, Bu!" Balas Yara.
Bu Nuri tersenyum miring. "Ah ... Palingan kamu sudah tidak punya uang. Jadi kamu kembali lagi ke sini."
"Kalaupun benar kenapa, Bu? Itu sudah tanggung jawab Mas Afkar menafkahi ku 'kan! Meski hanya nafkah lahir yang ia berikan." sindir Yara.
Afkar langsung menoleh ke arah Yara. Ia tersinggung karena memang selama mereka bertemu setelah lama berpisah. Afkar sama sekali belum menyentuh Yara. Setiap kali ingin bersama Yara saat tidur. Syafa selalu menghalanginya. Wanita itu seakan tidak mau kalau Afkar memberikan nafkah batin pada Yara. Karna Syafa yakin kalau sekali saja berhubungan badan maka perasaan Afkar akan berubah. Pasti akan ada kenangan indah yang terlintas saat melakukan itu. Syafa tidak mau itu terjadi.
"Kamu semakin pintar membalas ucapan ibu."
"Aku bukan Yara yang dulu. Yara yang bisa ibu hina dan ibu rendahkan, Bu!" Yara semakin berani.
"Sudahlah jangan berdebar! Bu tolong bawakan aku handuk dan air hangat! Kamu ikut denganku!" Afkar menarik Yara agar mengikutinya.
Sesampainya di kamar yang pernah Yara tempati. Wanita itu memberontak.
"Lepaskan, Mas!" Yara menepis tangan Afkar.
Afkar melihat perbedaan sikap Yara yang pendiam berubah memberontak.
"Apa sikap kamu berubah karena pria itu? Hah! Apa karena kamu sudah di sentuh olehnya?" tuduh Afkar.
Plak...
Tamparan keras mendarat di pipi Afkar.
"Kamu pikir aku murahan, Mas!"
"Kalau begitu buktikan kalau kamu memang tidak murahan. Layani aku sebagai suamimu." Afkar berjalan mendekat ke arah Yara.
Yara tidak mau melakukannya saat ini. "Tidak jangan lakukan itu padaku, Mas. Sama saja kamu memperkosa aku jika kamu seperti ini, Mas!"
"Aaah.... Mas!"
.
.
__ADS_1