
Zurich, Swiss.
Kota sejuta pesona itu tidak hentinya memberikan kebahagiaan bagi Yara dan Dhiya. Kegiatan yang paling mereka suka adalah berkeliling danau Zurich di pagi hari. Mulai dari mengarungi perairan hingga perjalanan menggunakan perahu sambil mendengarkan musik.
Sayangnya Yara tidak bisa ikut kali ini. Sebelumnya saat wanita itu belum mengetahui kehamilannya Yara bisa ikut naik perahu itu tapi kali ini Yara hanya bisa menunggu di tepi danau. Erza tidak mengijinkan istrinya naik perahu dayung itu. Takut terjadi sesuatu pada kandungannya.
Saat ini hanya Erza dan Dhiya yang mengarungi danau tersebut.
"Bunda tadi aku lihat di sisi utara danau ada sejumlah perumahan dan villa bagus banget, di tepi atas danau juga melihat taman bunga yang indah, Bun!" Ujar Dhiya saat gadis itu turun dari perahu di bantu oleh Erza. "Pah, Kita ke sana ya!" pinta Dhiya.
Yara hanya bisa memanyunkan bibirnya. "Sayang banget ya, Kak. Bunda gak bisa ikut lihat tadi. Coba tadi bunda dibolehin sama papa naik perahu. Kita pasti berhenti dulu di sana!" Yara terlihat kesal sambil melirik pada Erza, suaminya dengan bibir yang masih mengerucut.
Pria yang mendapat lirikan itu lekas menarik Yara dalam rangkulannya.
"Kamu itu masih hamil muda, kalau terjadi sesuatu pada kandungannya gimana?" Ucap Erza dengan suara lembut dan menenangkan.
"Iya bener kata papa, Bun. Nanti dede bayinya kaget saat di tengah danau. Perahunya terasa bergoyang banget!" Dhiya ikut menimpali.
"Nah, kakak benar!" seru Erza.
Yara masih saja terlihat cemberut.
"Sudah jangan manyun mulu! Sekarang ikut aku kira pergi jalan-jalan ke Rapperswill." Erza merangkul Yara agar ikut dengannya. "Ayo, Kak!" ajaknya pada Dhiya.
"Ayo! Seharusnya aku ajak Windi tadi, Pah!" sesal Dhiya. Anak itu sedang dekat -dekatnya dengan Windi.
"Kamu 'kan tahu Windi sedang ke rumah sakit. Mana bisa diajak ke sini."
"Hem, iya juga!" Dengus Dhiya. "Kenapa lukanya harus dilaser sih?" Tanya Dhiya penasaran. "Padahal lukanya ada di tangan jadi tidak begitu terlihat loh, Pah!"
"Mungkin orang tua Windi tidak ingin melihat ada luka cacat di tubuh anaknya, Nak!"
Dhiya mengangguk pelan. kemudian mereka bertiga ber-iringan melangkah santai menuju kereta yang akan membawa ketiganya menuju taman bunga mawar. Hanya memerlukan waktu sekitar 35 menit menuju Rapperswill, kota Abad Pertengahan yang cantik dan wajib dikunjungi saat berada di kota itu.
Sayang seribu sayang, ingin melihat bunga mawar bermekaran tapi Yara dan Dhiya datang tidak tepat waktu. Mereka Dateng di bulan yang salah. Seharusnya mereka datang di bulan antara Juni dan Oktober jika ingin melihat bunga merah bermekaran di taman itu.
"Yah, hanya ada beberapa bunga yang bermekaran. Kita tidak bisa lihat taman bunga seperti di Qitube ya," keluh Dhiya.
Erza mengacak pelan rambut gadis kecilnya itu."Sabar ... Dua bulan lagi kita ke sini. Di saat waktunya bunga mawar bermekaran."
"Beneran ya, Pah?" Dhiya masih bersemangat untuk kembali ke tempat itu.
__ADS_1
"Pasti, Sayang!" Erza kembali menggandeng Dhiya menuju kastil tua tak jauh dari taman itu. Mereka mengabadikan moment kebersamaan hari ini. Bersenda gurau serta bercanda seru bersama. Dhiya terlihat begitu bahagia saat itu. Mereka menikmati keindahan danau Zurich dari atas sana. Kedekatan Erza dan Dhiya begitu dekat.
Interaksi keduanya terdengar hangat dan seru oleh Yara.
Wanita itu begitu senang melihatnya. Erza benar-benar memberikan kasih sayangnya pada Dhiya melebihi ayah kandungnya sendiri. Setelah puas berada di kastil tua dan melihat pemandangan dari atas sana.
Mereka bertiga kembali berjalan santai menuju kereta yang akan membawa ketiganya pulang ke rumah.
"Bagaimana hari ini, kalian senang?" Tanya Erza.
"Aku senang sekali, Pah! Nanti kita cari tempat wisata yang lain ya?" Ujar Dhiya.
Erza mengacungkan jempol membalasnya. "Kita akan berkeliling ke tempat lain setelah ini," ujar Erza.
"Aku sangat senang, Mas. Terima kasih telah membuat hari-hari aku dan Dhiya penuh dengan kebahagiaan," ucap Yara sambil menggandeng tangan Erza.
Ciuman singkat Erza berikan pada Yara. "Karena itu kewajibanku yang harus membuat kalian bahagia selalu." Ketiganya kembali melanjutkan langkahnya.
Rasanya lengkap sudah kebahagiaan Yara. Di tambah kehamilannya saat ini semakin menambah sempurnanya rumah tangga mereka.
Sang Pencipta telah menggantikan kesedihan dan pilu di masa lalu Yara dengan kebahagiaan. Perlahan kebencian dan kekecewaan yang Yara rasakan pun sedikit demi sedikit terobati. Sebab pada hakikatnya tidaklah tenang jika seseorang yang ingin menggapai kebahagiaan masih menyimpan rasa benci dan kecewa. Sang Pencipta saja maha pemaaf, apalah kita yang cuma manusia biasa.
Biarkan masa lalu yang tertinggal menjadi sebuah kenangan. Terus berjalan menatap masa depan indah adalah tujuan hidup Yara kali ini. Bahagia hidup bersama Erza, Dhiya serta buah cintanya bersama suaminya yang masih dalam kandungan, menjadi tujuan hidup Yara. Senyum kebahagiaan terus mengembang di wajah cantik Yara.
...🌱🌱🌱🌱...
Di tempat lain, tepatnya di depan sebuah rumah besar. Syafa berdiri sambil memandangi rumah tersebut dengan perasaan sedih. Pasalnya ia harus kehilangan sosok pria yang selama ini siap siaga menjaga, melindungi dan selalu ada untuk keluarganya. Pria tersebut adalah Roni.
Syafa harus merelakan Roni agar pria itu meraih kebahagiaannya sendiri.
Meskipun dalam hati Syafa ada rasa tidak rela melihat Roni bersama wanita lain. Tapi semua Harus Syafa terima sebab dirinya sendiri yang sudah membentengi hati dari cinta yang Roni berikan untuknya.
Syafa dengan tegas menolak pria itu. tanpa ia sadari kehadiran Roni begitu berarti dalam hidupnya selama ini.
Helaan napas panjang terdengar dari mulut Syafa. Ia melanjutkan langkah memasuki rumah.
Langkahnya terhenti saat melihat seorang wanita yang akhir-akhir ini sering datang ke rumahnya. Gita, wanita yang Syafa kenal sebagai sahabat baik papa-nya. Bersama wanita itu Papa Rio banyak berbicara. Ada satu hal yang tertangkap oleh manik mata Syafa. Tatapan Gita yang tidak biasa saat bersama dengan papa Rio.
Ketulusan, cinta dan kesabaran ia lihat dari tingkah Gita.
Syafa merasa penasaran karenanya. Saat ingin mendekat, Gita memberi kode agar Syafa diam tak mendekat. Syafa pun mengikuti perintahnya.
__ADS_1
Tak berselang lama. Gita menghampiri Syafa. Tidak mau berbasa-basi. Syafa langsung menanyakan rasa penasaran yang ada dalam hatinya.
"Kenapa Tante begitu baik pada papa. Apa Tante mencintainya?" Tanya Syafa tanpa basa-basi.
Gita hanya tersenyum membalas pertanyaan dari Syafa. Wanita itu berjalan menuju ruangan depan. ia tidak mau obrolannya nanti menganggu seseorang yang baru saja memejamkan mata.
Syafa pun mengikuti langkah Gita. "Jawab pertanyaan ku, Tante?" desak Syafa.
Gita duduk cantik di sofa dengan gaya anggunnya. "Kamu mau jawaban seperti apa? Jujur apa pura-pura."
Syafa mengerutkan alis mendengarnya.
"Jangan banyak basa-basi, Tan. Aku melihat ada cinta dalam pandangan Tante pada papa." Syafa semakin tidak sabar mendengar jawaban dari Gita.
"Tante memang sangat mencintai papa kamu, bahkan dari dulu," cetus Gita sontak membuat Syafa menoleh padanya. Kemudian menggelengkan kepalanya. "Tante mau mengkhianati mama!" Ucap Syafa tak percaya.
Gita tersenyum mendengar penuturan dari Syafa. Kemudian menggelengkan kepalanya pelan.
"Tante bahkan mencintai papa-mu sebelum mama dan papa kalian bertemu. Kalau Tante mau mengkhianati mama mu, sudah Tante lakukan dari dulu. Tetapi selama ini Tante lebih mengorbankan perasaan demi kebahagiaan mereka. Dan saat ini Tante kembali bukan ingin mendapatkan papa-mu. Kami bersahabat sudah sangat lama. Tante hanya tidak tega melihat keadaan dia seperti ini!"
Syafa semakin tidak mengerti dengan ucapan Gita. "Apa maksud Tante dengan mengorbankan perasaan?" Tanya Syafa penasaran.
Gita menarik kedua sudut bibirnya mendengar pertanyaan Syafa.
"Merelakan orang yang kita cintai lebih memilih wanita lain. Tante rela melihat mama dan papa mu bersatu waktu itu meskipun rasa sakit ini Tante rasakan. Tante tidak mau jadi wanita egois yang mempertahankan perasaan saat Tante tahu keduanya saling mencintai. Tante akan menyesal jika memisahkan mereka berdua. padahal saat itu Tante sangat bisa melakukannya. Tapi rasa cinta Tante pada papa mu lebih besar. Tante tidak mau hubungan dengan papa mu rusak karena masalah ini. Tante mengorbankan cinta demi hubungan dengan papa-mu terus membaik seperti ini."
Syafa termenung mendengar ucapan Gita. Ada perasaan bersalah dalam dirinya mengingat kesalahan yang pernah lakukan pada seseorang.
'Egois ... Aku pernah bersikap egois ingin mempertahankan Mas Afkar dari Yara. Aku sungguh tidak berperasaan. Ra, ternyata seperti ini rasanya penyesalan. Kamu adikku tapi kamu lebih memilih melepaskan Mas Afkar untukku. Sedangkan aku begitu bodohnya berharap kembali pada Mas Afkar. Sekarang keputusan akan aku ambil, Ra. Aku lebih sayang padamu. Mencintai Mas Afkar adalah sebuah kesalahan. Aku tidak mau melakukan kesalahan yang sama dengan kembali padanya. Aku tidak mau kamu kembali ingat luka yang pernah tertoreh dulu. Aku ingin bertemu kamu, Ra. Ayara Faeqa, adikku.'
Batin Syafa setelah mendengar penuturan Gita. Menurut Syafa rasa sesal itu akan terus teringat jika ia kembali dengan Afkar. Tapi jika Syafa lebih mengorbankan perasaanya pada Afkar. luka tidak akan tercongkel lagi pada Yara. Meskipun Yara berucap sudah memaafkan rasanya sesal akan terus terasa jika syafa kembali mempertahankan cintanya.
Jadi, keputusan Syafa adalah berpisah dan melupakan Afkar demi Faeqa, adiknya.
.
.
.
To be continued
__ADS_1