Ikhlasku Melepasmu, Mas!

Ikhlasku Melepasmu, Mas!
Kejutan Buat Afkar


__ADS_3

"Masa?" seru Erza yang ikut berdiri menyusul langkah Yara matanya tak henti memperhatikan wanita itu. "Memangnya kamu hapal dengan alamat itu? Atau pernah ke sana?" Tanya Erza. Manik mata pria itu tidak lepas memperhatikan Yara yang hanya tertutup selimut itu


Yara paham maksud dari Erza, ia segera berlari masuk ke dalam kamar mandi. Yara tidak


Erza tersenyum melihatnya. Pria itu berjalan ke arah kamar mandi dengan sedikit berteriak Erza berseru. "Sayang, lebih hemat waktu kita sama-sama mandinya. Kasihan Dhiya menunggu di rumah Kak Ima!" Erza berbicara dengan suara keras. Pria itu berusaha membuat Yara membuka pintu tapi hasilnya nihil.


"Tunggu! Sebentar lagi juga selesai," balas Yara dari dalam kamar mandi.


Yara senyum-senyum sendiri saat mengingat pergulatan panasnya semalam bersama Erza. Meskipun kegiatan itu bukan yang pertama buatnya. Tapi perlakuan dan sentuhan Erza padanya mampu membuat Yara melayang. Yara begitu menikmati sentuhan suaminya malam itu.


Pasangan pengantin baru itu saling memancarkan aura kebahagiaan hari ini. Erza berencana akan mengajak Yara ke rumahnya. Rumah yang berpaa bulan terakhir ini jarang ia tempati.


Erza memilih tinggal di rumah Mama Anggi karena kebiasaannya seperti Papa Rangga yang tidak bisa makan kalau bukan masakan rumah. Itu menjadi hal mutlak yang tidak bisa ia tinggalkan.


Yara melihat Bu Haryani baru saja menyelesaikan sarapan paginya seorang diri. Yara jadi merasa tidak enak karena tidak membantu wanita itu.


"Pagi, Bu!" Sapa Yara seraya mencium pipi wanita itu.


"Paginya udah mau lewat ini sudah jam 10, Ra!" sahut Bu Haryani sedikit menyindir Yara. "Pengantin baru, kelelahan ya?" ledek Bu Haryani.


Yara tersenyum kikuk tapi tidak dengan Erza. Suaminya itu terlihat cuek. Erza memilih langsung duduk bergabung dengan Bu Haryani.


Yara menggelengkan kepala dengan sikap suaminya itu. Tapi Bu Haryani lebih nyaman seperti itu. Jadi tidak canggung.


Yara dan Erza pun sarapan yang kesiangan hari itu. Mereka mengungkapkan rencananya hari ini. Begitu juga dengan rencana kepindahannya ke negara Swiss tempat di mana perusahaan Erza telah beroperasi saat ini.


"Huh ... Rasanya tidak rela kamu pergi, tapi mau bagaimana lagi. Tugas istri adalah mengikuti kemana langkah suami," ucap Bu Haryani menanggapi ungkapan kedua pengantin baru itu.


"Kami masih menunggu waktu, Bu! Besok Mas Erza baru akan mengurus banding soal hak asuh Dhiya. Agar anakku bisa ikut kami ke Swiss. Aku merasa tidak tenang kalau Dhiya ikut dengan Mas Afkar," ungkap Yara.


Erza meraih tangan Yara untuk menenangkannya. "Sabar ya, Sayang! Aku sudah menyuruh Riko untuk mengurus semuanya. Kemungkinan sih hari ini sudah ada tanggapan dari pihak pengadilan. Dan secepatnya pasti ada panggilan untuk Afkar dan Syafa." Erza menjelaskan.


"Nah, suamimu gercep 'kan, Ra. Kamu tidak usah khawatir soal Dhiya kali ini." Bu Haryani menimpali.


Yara mengangguk sambil tersenyum. "Terima kasih, Mas!"


"Sama-sama, aku sudah bilang. Sekarang dan seterusnya saatnya kamu bahagia dan itu bersamaku!" Ucap Erza. Bu Haryani ikut tersenyum dan bahagia melihat kebahagiaan Yara.


"Ra, ada sesuatu yang ingin ibu berikan padamu! Maaf kalau ibu terlambat memberikannya," ucap Bu Haryani.


"Apa, Bu?" Tanya Yara penasaran.


"Tunggu, sebentar!" Bu Haryani berdiri dari duduknya. Wanita itu melangkah ke arah lemari kaca tempatnya menyimpan barang tersebut.

__ADS_1


Setelah mendapatinya, Bu Haryani kembali duduk bersama dengan Yara dan Erza.


"Ini pemberian ayahmu?" Bu Haryani memberikan kotak kecil pada Yara.


"Apa ini, Bu?" Yara merasa penasaran.


"Buka saja! Pak Rio memberikan ini saat pembukaan butik waktu itu."


Yara lekas melirik pada Erza.


"Buka saja!" Titah Erza.


Dibantu suaminya, Yara membuka kotak kecil itu. Sebuah jepitan kecil berwarna perak. Terlihat cantik dan manis. Melihat jepitan rambut itu, Yara teringat dengan Mama Mira, ibu kandungnya. Almarhum mama-nya itu senang sekali memakai jepit pada rambutnya yang legam tapi hanya di kamar saja. Sebab kalau keluar kamar dan beraktivitas sehari-hari Mama Mira lebih nyaman memakai hijab.


"Ada suratnya, Yang!" Erza menyerahkan sepucuk surat pada Yara. Pria itu membantu membuka kertas itu dan menyerahkannya pada istri tercintanya.


Tatapan Yara kembali menatap pada Erza. Suaminya itu memberi dukungan penuh pada Yara.


"Kamu kuat, jangan pernah menutupinya lagi saat ini. Memaafkan dan merelakan semuanya membuat hidup kamu lebih tentram nantinya."


Yara menarik napas dalam. Wanita itu mulai membaca sepucuk surat yang tertuliskan untuknya.


'Yara, selamat atas keberhasilanmu ini, Nak! Maaf hanya memberikan benda murah seperti ini karena papa ingat benda inilah yang paling disukai oleh mamamu. Kamu begitu cantik sangat mirip seperti Puspa. Papa tahu sulit rasanya untuk menggapai maaf darimu!


Yara kembali menetaskan air mata setelah membacanya. Wanita itu diam sejenak.


"Kamu baik-baik saja?" Tanya Bu Haryani sambil menyentuh pundaknya pelan.


"Alhamdulillah aku baik -baik saja." sahut Yara. Ia berusaha tegar. Tidak Meu menunjukkan kesedihan dirinya lagi.


Erza meraih benda kecil itu dari tangan Yara. Lalu memakaikannya pada rambut legam Yara.."Kamu terlihat semakin cantik, Sayang."


Yara tersenyum malu. Perasaan sedih menguar begitu saja. Dering telepon dari ponsel Yara membuat wanita itu segera menerimanya.


"Bunda," teriak Dhiya dari seberang telepon.


Senyum Yara kembali mengembang saat mendengar suara Dhiya.


"Bunda, gak usah ke rumah ibu! Aku mau ikut ibu sama Apah ke rumah saudara ibu, ya 'kan, Bu?" Dhiya bertanya pada Kak Ima.


"Sini! berikan ponselnya!" pinta Kak Ima. "Halo, Ra!"Kak Ima langsung menyapa Yara.


"Iya, Kak," sahut Yara.

__ADS_1


"Dhiya ingin ikuti ke rumah saudaranya Bang Boy. Dulu Dhiya pernah ke sana!" Ujar Kak Ima.


"Tapi Dhiya bakalan merepotkan kakak!


"Sudah biasa!" Kam Ima terkekeh. Yara jadi ikut terkekeh geli menanggapi.


"Ya sudah, titip Dhiya, Kak!" Ucap Yara pada Kak Ima.


"Ya, pengantin baru tenang-tenang saja berdua. Oh ya, biar cepet menyusul punya bayi lagi. Dhiya senang sekali dengan anak kecil. Cepat-cepat 'lah kalian memberi dia adik."


Yara hanya bisa tersenyum menanggapinya. Yara ingat dirinya belum lama ini melepas KB spiral yang selama ini dipakainya. Yara tidak tahu apakan akan segera hamil atau tidak. Tapi yang pasti Yara berharap yang terbaik untuk dia dan Erza. Sebab Yara tahu Mama Anggi sangat berharap mendapat cucu dari pernikahannya itu


Yara dan Erza pun pamit pada Bu Haryani. Mereka berdua sepakat untuk tinggal di rumah Erza. Kabar itu pun sudah disampaikan kepada Mama Anggi dan Papa Rangga.


...~...


Di tempat lain, Seorang pria sedang merasa kesal saat ia ingin membayar apa yang dia makan dengan kartu debitnya.


"Maaf, Pak. Ada kartu lain?" Tanya kasur wanita yang bertugas di restoran itu.


Afkar mengerutkan dahinya. Sudah dua kali menggunakan kartu debit gagal terblokir. Semua uang yang masuk ke dalam kartu debit itu ia dapat dari hasil kerja kerasnya di perusahan tekstil yang selama ini ia pimpin.


"Kenapa semuanya terblokir? Apa yang terjadi?" geram Afkar.


Akhirnya pria itu membayar dengan uang cash yang tersisa di dompetnya. Setelah melakukan pembayaran, Afkar masuk ke dalam mobilnya.


"Shitt ... Semenjak Syafa pergi dari rumah tidak ada yang mengurusku! semuanya berantakan!" geram Afkar sembari memukul stir mobilnya.


"Mana Alecia tidak bisa dihubungi! Kemana wanita itu, biasanya dia paling bisa membuatku melayang. Wanita ini seperti menghilang di telan bumi!" Gerutu Afkar. Pria itu merasa kesal sendiri. Dia tidak tahu kalau Alecia memilih menjauh darinya daripada hidupnya seperti debu jalanan jika Pak Rio sudah turun tangan menyingkirkannya jika dia masih tetap mau berhubungan dengan Afkar. Alexia diancam dan di beri pilihan oleh orang suruhan Pak Rio. Wanita simpanan Afkar itu memilih menghindar daripada hidupnya menderita.


Satu persatu kejutan akan Afkar dapatkan. Keegoisan dan keserakahannya akan segera berakhir. Kali ini baru kartu debit yang tidak bisa digunakan. Selanjutnya jika Afkar kembali ke kantor usai masa dukanya. Afkar akan mendapat kejutan yang selanjutnya.


Syafa tidak tahu soal ini. Pak Rio masih menyembunyikan pengkhianatan Afkar darinya. Tapi secepatnya putri sulungnya itu harus mengetahui semuanya. Meskipun harus terluka tapi itu lebih baik.


Roni, asisten Pak Rio akan memberitahukan Syafa dengan caranya sendiri. Agar wanita itu tidak mengalami syok yang akan berakibat fatal pada kandungannya.


.


.


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2