
Jangan lupa bintang 🌟🌟🌟🌟🌟 ya...
“Fa... tunggu, Sayang, aku bisa jelaskan!” teriakan Ryan yang menggema di lorong itu tidak membuat langkah Syafa terhenti.
Panggilan dari wanita di dalam kamar yang sibuk mencari pakaiannya pun tidak Ryan dengarkan.
Ryan berhasil mengejar Syafa. Ia menarik tangan Syafa dan membalikkan badannya kemudian menangkup kedua bahunya.
“Sayang ... Aku bisa jelaskan sama kamu soal tadi!" Ryan berusaha merayu Syafa.
“Sayang ... Siapa yang kamu panggil Sayang, hah?”Aku atau teman tidurmu!” hardik Syafa. Ia terlihat emosi dan marah.
"Dengar Ryan! Mulai detik ini, kita bukan siapa-siapa lagi, kita tak ada hubungan lagi, Kita berdua putus, RYAN MAHARDIKA!Syafa lebih menekankan ucapannya kepada pria itu. Ia pun menepis tangan Ryan dari bahunya kemudian berjalan meninggalkan Ryan.
“Aku melakukan ini karena kamu selalu menolakku, Syafa!“ teriak Ryan lantang agar Syafa mendengar perkataannya.
Langkah Syafa terhenti kemudian ia berbalik badan lagi. “Picik sekali pemikiranmu, Aku seperti itu juga untuk kita Ryan. Aku mau menyerahkan semua untuk suamiku nanti. Aku kira kamu bisa menjaga komitmen, tapi kamu sama saja, pemain wanita.”
“Aku tak akan melepasmu, Fa! kita perbaiki hubungan ini, aku akan meninggalkannya. Maafkan aku, Sayang,” ucap Ryan merajuk, agar Syafa terbuai oleh bujukannya.
“Aku paling tidak terima dengan pengkhianatan. Aku bisa memaafkan kesalahan apapun kecuali perselingkuhan. Anggap kita tidak saling kenal Ryan. Jangan kejar aku lagi!”
Meski lantang Syafa mengucapkan kata putus. Namun, dalam hati Syafa, ingin berteriak dan menangis akan pengkhianatan Ryan. Syafa berlari meninggalkan Ryan yang terdiam akan penyesalannya.
Pria itu telah kehilangan wanita yang selama ini baik dan royal kepadanya.
"Shittt ... Aku kehilangan bank berjalan ku!" sesalnya.
Flashback off
Sesuai dengan saran dokter. Afkar di bawa ke Rumah Sakit Besar di Singapore.
Syafa mendengar penjelasan dari dokter pun menyanggupi untuk pemindahan pasien agar stabil keadaannya dari keberangkatan sampai di tempat tujuan.
__ADS_1
Masalah biaya tak jadi masalah untuk keluarga Syafa Aileen Wirawan.
"Lakukan yang terbaik dan tutup masalah kecelakan ini jangan sampai ada pihak lain yang mendengar jika putriku yang menabrak pria itu!" Titah Tuan Rio pada seseorang yang ia percaya.
"Siap, Tuan!"
Tuan Rio lekas meninggalkan rumah sakit bersama Syafa. Awalnya putrinya itu sempat menolak karena takut terjadi sesuatu pada korban. Tapi papanya membuat Syafa yakin jika orang suruhannya sudah berjaga di sana.
"Besok pagi kita ke sini. kita kan membawa dia ke luar negeri untuk menyelamatkan hidupnya," Tuan Rio meyakinkan.
"Jangan lupa cari tahu keberadaan keluarganya, Pah!"
"Iya, Sayang. Sekarang kita pulang! Kamu harus beristirahat," ajak Tuan Rio pada Syafa.
Akhirnya Syafa pun mau menuruti ajakan papanya. Meskipun begitu ketakutan masih ia rasakan. Syafa begitu takut terjadi sesuatu kepada korban yang ia tabrak.
Pagi pun tiba. Keberangkatan Afkar ke Rumah Sakit Singapore sudah dipersiapkan dengan baik. Berbagai peralatan medis lengkap yang ada di pesawat pun sudah siap. Syafa tak hentinya berdoa untuk keselamatan pria yang telah menjadi korban kecelakaan karena kecerobohannya. Afkar Chairi, Syafa tahu nama itu dari seragam kerja yang ia gunakan saat kecelakaan.
Seminggu telah berlalu. Kondisi Afkar di Ruang ICU sama sekali tidak ada perubahan. Tak ada identitas apa pun yang ada di tubuh Afkar. Hanya sebuah cincin yang tersemat di jari manis sebelah kiri. Garis wajah yang tampan dan tegas terlihat meski di wajah Afkar masih terdapat luka lecet akibat gesekannya dengan aspal dan perban di kepala.
-----
Di Rumah Pak Setyo.
"Jika kemarin sore Mas Afkar berangkat dari kota, seharusnya Mas Afkar sudah sampai dari tadi pagi, Pak!" Ujar Yara ketika mereka menunggu kedatangan Afkar di rumah mertuanya.
"Yang benar, kamu telepon suamimu, belom?" Sentak Bu Nuri pada Yara.
"Tidak aktif, Bu!" sahut Yara.
"Kamu ini bisanya apa sih, kenapa tidak cari tahu sama tetangga kontrakannya, kek!" Lagi-lagi Yara kena omelan Bu Nuri.
"Sudah, Bu!"
__ADS_1
"Ayah, beyum dateng, Nda!" Celetuk Dhiya yang berjalan menghampiri Yara. Gadis kecil itu sudah tidak sabar menanti kedatangan Afkar.
"Sebentar lagi, ya, Nak!" Yara berusaha menenangkan Dhiya.
"Kemana anakku, Gusti! Kenapa dia susah dihubungi. Jangan sampai aku dengar berita buruk, nantinya." Bu Nuri merasa geram. Sudah hampir tengah hari mereka menunggu Afkar tapi yang sedang si tunggu tidak kunjung datang.
"Bu, bapak sudah pernah bilang. Hati-hati kalau bicara. Satu lagi jangan selalu menyalahkan Yara soal ini. Apa ibu ridak punya perasaan, selalu menyudutkannya?" Pak Setyo kembali mengingatkan istrinya.
"Puas kamu selalu di bela oleh suami dan putraku!" sembur Bu Nuri pada Yara kemudian berlalu meninggalkan mereka di ruang tamu.
"Sabar ya, Mbak!" Mira, adik Afkar yang kebetulan sedang ada di sana sedikit mensupport Yara agar bersabar menghadapi ibunya.
Yara hanya bisa mengangguk pelan. Sedih, sakit hati sebenernya jika mengingat semua perlakuan Bu Nuri padanya. Selama 4 tahun upaya mendekatkan diri pada Bu Nuri sia-sia dan dirasa percuma. Mertua perempuannya itu sama sekali tidak pernah berubah baik padanya.
----
Yara dan Dhiya memilih tinggal dulu di rumah mertuanya. Ia berharap Adkar tiba-tiba datang ke sana. Sebab suaminya itu memnag berpesan agar Yara dan Dhiya menunggu kepulangannya di rumah orang tua Afkar karena rumah orang tua Afkar berasa di pinggir jalan utama. Jadi mempermudah mobil travel untuk berhenti.
'Mas, kamu di mana? Kenapa sampai saat ini belum juga sampai ke rumah?'
Batin Yara sambil memandangi jalanan di depan rumah mertuanya berharap Afkar datang saat itu.
Menunggu dan menunggu itulah yang sering Yara lakukan bersama Dhiya di depan rumah Pak Setyo. Melihat itu hati pria paruh baya itu merasa sedih dan kasihan.
"Ya Allah, selamatkan putraku. Dimana pun dia berasa sekarang," Ucap Pak Setyo kemudian berlalu masuk ke dalam rumahnya.
Yara merasa heran, kenapa sampai hari ini Afkar belum tiba di rumah. Yara yang resah dan takut terjadi sesuatu dengan suaminya terus menghubungi Afkar. Selama Dua hari ponsel tersebut aktif tetapi tak ada yang menjawab, itu karena supir travel menyimpannya di dalam tas ransel milik Afkar dengan ponsel mode silent, jadi tak akan terdengar jika ada yang menelepon. Saking sibuknya berkendara dan jauhnya jarak tujuan yang di kendarai, pak supir pun lupa jika ia akan menghubungi keluarganya melalui ponsel tersebut, memberi kabar tentang apa yang terjadi terhadap pemilik ponsel itu.
"Aku harus minta bantuan Mas Firman!" Pikir Yara. Meskipun ia tahu saat ini mereka bekerja di tempat yang berbeda tapi Yara yakin, Firman bisa membantunya.
.
.
__ADS_1
.