
Erza bertugas menaruh tas berisi uang ke dalam ruangan. Sedangkan Afkar sudah bersiap menunggu di depan barisan pintu yang ada di ujung gedung. Menanti Dhiya yang akan dibebaskan diantara empat pintu yang tertutup itu.
Erza bersiap menunggu di depan pintu tempat uang yang ia bawa akan di letakkan. Erza juga memberi kode pada anak buahnya untuk bersiap-siap.
Brak ...
Pintu ruangan terbuka lebar. Tandanya Erza harus segera meletakkan tas yang saat ini berada di tangannya ke dalam ruangan itu. Erza berjalan mendekati pintu tersebut. “Kalian siap- siap sekarang!” titah Erza sembari berjalan menuju ruangan yang sudah terbuka. Ia berbicara melalu microphone kecil yang sengaja diselipkan di dalam kantung bajunya agar bisa memberi perintah pada anak buahnya.
Sesampainya di dalam ruangan, Erza mengedarkan pandangannya. Sepi, tidak ada orang lain di sana. Tapi Erza melihat ada meja di ujung ruangan. Erza pun kembali melangkahkan kaki mendekati meja itu. Tak mau mengulur waktu lebih lama. Erza segera melekatkan tas berisi uang itu kemudian berbalik badan meninggalkan ruangan itu.
Setelah Erza menutup pintu, Jono keluar dari balik tembok. Pria itu dengan cepat mengambil tas yang diletakkan Erza di atas meja tadi. Baru beberapa langkah Jono berjalan meninggalkan ruangan itu. Satu tembakan berhasil meluncur ke arahnya.
Dorr ...
Tembakan yang meluncur tepat mengarah pada kakinya. Tapi sayang, Jono bisa menghindar dari peluru itu. Jono berlari kencang meninggalkan ruang itu. “Lu kita gue goblok, gue tahu niat lu mau ngelumpuhin gue dengan tembakan itu. Sayangnya gue lebih pintar dari kalian,” gumam Jono sambil berlari ke ruangan lain dimana temannya dan Dhiya berada.
Salah seorang anak buah Erza berlari menghampirinya. “Bos, penjahatnya berhasil kabur,” ujarnya.
“Ah, sialan. Kejar! Jangan biarkan dia berhasil kabur dari sini!” titah Erza.
Afkar yang berada lumayan jauh dari Erza berjalan terseok-seok dengan kaki cacatnya. Pria itu merasa ada yang tidak beres saat mendengar suara tembakan dari dalam gedung itu.
“Ada apa, Za?” tanya Afkar saat dirinya sampai di dekat Erza.
“Kita kecolongan, Jono kabur bawa uangnya tapi Dhiya belum dibebaskan,” ujar Erza.
“Apa? Mana mungkin? Aku tidak akan membiarkan ini terjadi.” Afkar berlalu dari hadapan Erza. Meskipun kesulitan saat berjalan. Tapi Afkar dengan cepat memutari gedung tua itu. Afkar tidak mau kehilangan Dhiya. Putri kesayangannya.
Sama seperti Afkar, Erza pun segera memerintahkan beberapa anak buahnya untuk mengepung gedung tua itu.
“Cabut, Bro. Cepet! Kita di kepung,” teriak Jono sambil meraih kunci mobilnya.
“Cabut kemana, Jon. Ni bocah gimana?”
“Bawa!” balas Jono sambil berteriak. “Kita keluar dari pintu belakang,” Jono berlari cepat sambil memeluk erat tas berisi uang yang ia dapat.
__ADS_1
Mendengar ucapan Jono. Dhiya hanya bisa menggelengkan kepalanya. Air matanya terus mengalir karena ketakutan. Mulut Dhiya di bekap dengan tangan dan kaki yang di ikat. Sehingga anak kecil itu sama sekali tidak bisa bergerak dan berteriak.
Jono sampai lebih dulu di belakang gedung tua. “Ck, lama banget tuh orang,” gerutu Jono saat diriny sudah memasuki mobil.
“Lelet lu! Cepet!”
“Susah, Njirr! Nih bocah gak bisa diem makanya gue gemblok dia.”
“Nyusahin aja tuh bocah,” Jono kembali menggerutu.
“Berhenti , menyerahlah kalian sudah di kepung!” teriak salah satu anak buah Erza yang tiba-tiba saja muncul dari samping gedung dan mengarahkan senapannya ke arah Jono.
“lepaskan putriku!” teriak Afkar.
“Ayah,” gumam Dhiya tanpa bisa bersuara. Ada kelegaan melihat seseorang yang ia kenal saat itu. Dhiya hanya bisa menangis. Terlihat jelas ketakutan dari wajah Dhiya.
Dor ...
Satu tembakan dari Erza berhasil melumpuhkan kaki pria yang sedang bersama Dhiya.
Melihat temannya tak berdaya Jono segera tancap gas. Pria itu hendak meninggalkan tempat itu tapi sayang salah satu anak buah Erza kembali berhasil melepaskan peluru dari senapannya. Tepat mengenai bahu pria itu. Sehingga Jono sempat oleng saat mengendarai mobilnya.
Brakk ...
Mobil yang dibawa Jono menabrak pagar tinggi di depannya. Jono pun berhasil tertangkap oleh anak buah Erza.
Afkar berhasil menarik tubuh Dhiya dari teman Jono kemudian membuka sumpal yang ada di mulut Dhiya. Begitu juga dengan ikatan di tangannya.
“Ayah, aku takut!” Dhiya langsung menghamburkan tubuhnya pada Afkar.
Tak lama beberapa petugas kepolisian datang sehingga Jono dan temannya berhasil dibekuk dan dibawa oleh petugas berseragam itu. Kedua tangan Jono kembali di borgol supaya tidak kembali kabur. Jono meringis saat para petugas itu membawanya menuju mobil tahanan.
Manik mata Jono melihat ada senjata api menempel di ikat pinggang polisi itu. Meskipun kedua tangannya di borgol tapi tangan Jono masih bisa bergerak. Pria itu meraih senjata api itu dengan cepat dan mengarahkannya pada Dhiya.
Dor ...
__ADS_1
Tembakan kembali terdengar menggema. Bersamaan dengan suara jerit Dhiya yang mengeluh kesakitan.
“Aww ... Bunda,” jerit Dhiya saat tangan kirinya terkena peluru yang diarahkan padanya. Seketika Dhiya langsung tidak sadarkan diri.
Kejadian yang begitu cepat sehingga Afkar dan Erza pun tidak bisa menghindarinya.
Merasa tidak puas Jono hendak melesatkan lagi tembakan ke arah Afkar yang sedang merengkuh tubuh putrinya. Sayangnya, petugas kepolisian lebih cepat membekuk Jono. Penjahat itu mendapat satu tembakan lagi di tangannya. Sehingga senjata api yang sedang di pegang Jono terlempar begitu saja.
“Akhh ...,” Jerit Jono saat tangannya kembali berdarah. Petugas kepolisian pun segera membawa pergi kedua penjahat itu.
“Dhiya, bangun, Sayang!” Afkar menepuk pipi anaknya.
Wajah Dhiya berubah pucat. Ada rasa bersalah dalam diri Afkar karena dia tidak bisa melindungi Dhiya dari Jono.
“Kita harus segera membawanya ke rumah sakit, Kar.” Erza segera mengangkat tubuh Dhiya yang ada di rangkulan Afkar.
“Ya, tolong bawa putriku, Za. Cepat!”
Erza pun dengan cepat menggendong Dhiya menuju mobilnya.
Melihat kesiagaan Erza pada Dhiya, Afkar merasa jadi pria tak berguna saat itu. Dua kali, kemarin saat Syafa membutuhkannya dan sekarang Dhiya. Keadaan cacat pada kakinya membuat Afkar merasa jadi pria yang tidak bisa apa-apa.
Menyusul Erza yang berjalan cepat pun Afkar merasa kesulitan. Andai saja ia bisa melanjutkan terapi dan operasi, Afkar bisa kembali normal. Sayangnya untuk saat ini tidak bisa karena biaya yang menjadi kendalanya.
Di rumah sakit, Yara masih belum tenang. Sampai malam ini Erza suaminya masih belum mengabari soal Dhiya.
Di saat kekhawatiran yang sedang Yara rasakan. Ada kabar baik dari perawat yang menangani Syafa di ruang UGD. Perawat itu mengabari kalau Syafa sudah sadar. Hal itu membuat perasaan dan pikiran Yara yang sedang kalut memikirkan Dhiya beralih lega. Perawat itu meminta Yara untuk masuk ke dalam ruangan. Sebab nama Yara ‘lah yang disebut oleh Syafa.
“Mah, aku ke dalam dulu!” pamit Yara pada Mama Anggi yang masih setia menemani menantunya itu.
.
.
.
__ADS_1
to be continued