Ikhlasku Melepasmu, Mas!

Ikhlasku Melepasmu, Mas!
Papa ... Bangun, Pa!


__ADS_3

Afkar mencoba mendekati Uda Malik saat Zana, putri dari bosnya itu sudah pergi dari sana.


“Aku ragu sama kekasih putriku. Sepertinya dia hanya memanfaatkan Zana saja, Kar.” Uda Malik langsung bercerita saat Afkar baru saja tiba di meja tempat dia menghitung stok barang.


“Kalau keduanya sudah siap menikah, sebaiknya restui saja, Pak. Daripada terjadi sesuatu yang tidak mungkin.”


“Maksudmu?” tanya Uda Malik penasaran.


“Ketentuan Allah tidak ada yang tahu. Tidak baik jika sepasang manusia sering bersama. Jika sudah menikah tanggung jawab Zana akan berpindah pada suaminya nanti. Doakan saja, calon suami Zana itu biak.” Afkar menyarankan.


“Kamu selalu bijak dalam memberi masukan, tapi tidak semudah itu. Aku ingin memastikan kalau pria itu benar-benar baik untuk putriku.”


“Permisi, Mas Afkar! Barang baru yang kemarin datang belum ku masukin pembukuan. Takutnya malah kelewatan.” Salah seorang pegawai yang lain menyela obrolan Uda Malik dan Afkar.


“Sudah, barusan sudah aku masukkan. Tolong susun yang rapi. Ingat yang lama diletakkan di depan yang baru di belakangnya,” titah Afkar.


“Baik, Mas.” Usai pegawai itu pergi. Uda Malik juga ikut beranjak dari sana. Beliau tidak mau mengganggu pekerjaan yang sedang Afkar kerjakan.


“Teruskan pekerjaanmu! Terima kasih sudah mendengar keluhan ku,” ucap Uda Malik dengan seulas senyum terpancar dari wajahnya.


“Sama-sama, Pak.”


Uda Malik pun berlalu dari hadapan Afkar.


Di kediaman mewah milik Pak Rio. Suasana sunyi dan sepi Yara rasakan. Selama suaminya belum kembali, Yara berkeliling rumah mewah itu seorang diri. Berjalan santai memerhatikan rumah yang pernah ditinggali mama-nya dulu.


Wajahnya memancarkan senyum saat melihat beberapa foto dari wanita cantik yang terpampang di beberapa tempat di rumah itu. Tangan Yara mengulur meraba foto almarhum Mama Mira. “Mah, sekarang aku sudah berkumpul sama Kak Alieen dan papa. Aku senang bisa bersama mereka. Ini yang aku impikan selama ini. Andai saja, mama masih hidup. Pasti kebahagiaan ini lebih sempurna,” gumam Yara, ia kembali melangkahkan kakinya menuju halaman belakang.


Sebidang tanah kosong terlihat di sana. Bi Tum yang tak sengaja melihat keberadaan Yara di halaman belakang lekas mendekatinya.


“Non Yara lagi apa?” tanya Bi Tum membuat Yara yang sedang menatap tanah kosong itu menoleh padanya.


“Eh, bibi. Ini, kenapa tanah kosong? Nggak ditanami tumbuhan atau apa gitu, Sayang banget,” ucap Yara sambil menatap kembali ke tanah kosong yang luasnya sekitar 300 meter itu.


“Dulu, tanah ini dijadikan tempat menanam sayuran hidroponik oleh Nyonya Puspa. Tuan Rio juga memerintahkan seorang tukang kebun untuk menanam di sini. Hanya saja belakangan ini beliau jarang pulang ke rumah ini. Jadi tidak ada yang memantau. Kadang hasil kebun dari pekerjanya di bagian pada pekerja di rumah ini,” ucap Bi Tum.


“Mama juga sering menanam sayuran di panti, tempat kami tinggal dulu. Banyak sekali kenangan yang tidak dilupakan sama papa ya, Bik?” tanya Yara.


“Tidak pernah lebih tepatnya. Nona tahu, bibi kadang ingin menangis saat tuan diam seorang diri di sini. Sambil memandang ke arah kebun itu. Kesedihan jelas sekali saat itu. Yang paling disesalkan Nyonya besar belum sempat meminta maaf pada Nyonya Puspa.”

__ADS_1


“Bahkan aku belum sempat bertemu dengan Oma. Lalu bagaimana dengan wanita yang menghasut papa?” Yara semakin penasaran.


“Wanita itu entah ke mana setelah Tuan Rio mengusir dan melenyapkannya. Apa masih hidup atau tidak yang pasti saat itu Tuan Rio sangat murka saat tahu kalau Nyonya Puspa dijebak saat itu,” ucap Bi Tum.


“Ceritakan semuanya padaku, Bi. Aku ingin mendengar kebenarannya,” pinta Yara. Ia tahu kalau Bi Tum pasti tahu semuanya.


Bi Tum menatap Yara sejenak, kemudian menghela napas berat. Perlahan wanita tua itu memejamkan mata. Kepingan demi kepingan gambaran kejadian ia ingat. Dan perlahan Bi Tum menceritakan apa yang ia tahu soal kesalahpahaman antara Pak Rio dan Nyonya Puspa puluhan tahun lalu pada Yara. Kejadian yang menyebabkan pasangan suami istri itu berpisah sampai salah satu di antara meninggal dunia.


Ada rasa nyeri di hati Yara mendengar kisah kedua orang tuanya. Entah pada siapa ia harus marah dengan yang sudah berlalu itu. Tanpa terasa obrolan mereka berdua terpecah karena adzan dzuhur yang berkumandang. Begitu jelas terdengar sebab kediaman mewah itu berada tak jauh dari Majelis agung yang ada di kompleks perumahan elite itu.


“Ya Allah, papa minta dibangunkan pas dzuhur. Saya ke kamar papa dulu, Bi,” pamit Yara.


Bi Tum menganggukkan kepala membalasnya. “Hati-hati, Non. Pelan-pelan saja jalannya tidak perlu tergesa-gesa. Tuan Rio pasti sudah bangun lebih dulu sebelum nona sampai ke kamarnya,” ujar Bi Tum.


Yara terkekeh kecil. “Iya sih, tapi tetap saja papa minta dibangunkan tadi. Oh ya, Bi. Tolong buatkan makanan untuk papa. Tadi pagi makannya sedikit sekali,” titah Yara.


“Iya, Non. Saya akan siapkan. Usai tuan ibadah pasti sudah selesai.” Bi Tum dan Yara akhirnya melangkah bersama menuju ke dalam rumah. Jika Bi Tum berbelok ke arah dapur sedangkan Yara terus melangkah menuju kamar Pak Rio.


Ceklek ...


Yara membuka pintu kamar Pak Rio. Bibir Yara langsung merekah sempurna saat melihat papa-nya tengah melakukan ibadah. Meskipun selama keadaan duduk di tempat tidur. Yara berniat menunggu di depan pintu tapi sayangnya suara mobil dari depan rumah membuat wanita itu melangkah ke sana.


“Maaf, lama,” ucap Erza sambil merangkul Yara kemudian mencium keningnya.


Yara segera beralih pada Dhiya. Ia melihat perban di tangan putrinya itu sudah diganti. “Kakak tidak nangis ‘kan saat buka perban?” Tanya Yara. Dhiya menganggukkan kepalanya pelan. Kemudian Yara beralih pada Syafa. “Bagaimana keadaan Mba? Apa lukanya sudah lebih baik?” cecar pertanyaan Yara lontarkan, ia merasa khawatir juga dengan Syafa.


“Alhamdulillah jahitannya sudah dibuka. Tinggal pemulihan saja, tapi lihat, kepalaku jadi sedikit pitak.” Syafa menunjukkan kepalanya yang sedikit pitak akibat lukanya dengan sedikit tawa.


Yara ikut terkekeh melihat kepala Syafa. “Model rambut jaman sekarang,” ledek Yara.


“Huh, untung saja ada di bagian bawah, jadi bisa tertutup rambut yang atas,” keluh Syafa.


“Lebih bagus tertutup semua pakai hijab,” sambung Roni yang juga baru saja datang.


Syafa langsung menoleh pada pria itu. Pandangannya dan Roni saling bertemu. Mereka saling membalas dengan senyuman. Syafa memutuskan pandangan lebih dulu karena dia sadar siapa dirinya saat ini.


“Ya ampun, aku melupakan sesuatu,” ucap Yara mengagetkan semuanya.


“Kenapa, Sayang?” Erza ikut terkejut.

__ADS_1


“Aku sedang menunggu papa selesai solat. Bi Tum sudah menyiapkan makanan untuk papa, Aku ke kamar beliau dulu ya,” pamitnya pada semua. Yara pun segera menuju kamar Pak Rio.


“Aku ikut, Ra,” susul Syafa tapi langkahnya dicegah oleh Roni. Yara telah pergi lebih dulu meninggalkan Syafa.


“Tunggu, Fa.”


Syafa menghentikan langkahnya lalu menoleh pada Roni. “Kenapa, Mas?” tanya Syafa.


“Apa kamu sudah mengajukan gugatan cerai pada Afkar. Aku mendapat kabar dari pengacaramu kalau surat gugatan baru saja dikirim ke rumah Afkar. Apa benar itu?” tanya Syafa.


Wanita itu mengangguk membalasnya. “Benar, Mas. Sehari sebelum kecelakaan terjadi aku sudah mendaftarkan gugatan cerai itu.”


“Oh, maaf aku hanya ingin menanyakan itu saja. Aku juga berhasil bertemu dengan lawan yang akan membeli rumahmu. Tapi, maaf, untuk menjual saham yang ada di perusahaan Textilindo aku tidak bisa menjualnya karena Pak Rio berencana untuk mengambil alih kembali perusahaan itu.” Roni menjelaskan.


“Tapi sahamku tidak seberapa di sana, mana mungkin bisa kembali mengambil alih semuanya,” sanggah Syafa.


“Aku akan menanam modal di sana. Setelah perusahaan itu kembali pada kita, aku akan meminta Afkar untuk mengelolanya,” sambung Erza.


Syafa menggelengkan kepala mendengar ucapan Erza. Syafa sedikit curiga dengan ucapan Erza. Dan adik iparnya itu paham dengan kecurigaan yang ada dalam diri Syafa. “Tidak ada maksud lain. Aku dan papa kenal betul dengan Afkar. Dia sangat ahli di bidang perusahaan ini. Sebelum perusahaan diserahkan kembali pun. Peningkatan begitu pesat saat berada di tangannya.”


“Memang benar, tapi aku tegaskan aku tidak mau ikut campur dan ada sangkut pautnya nanti dengan Mas Afkar,” seru Syafa.


“Aku pastikan tidak,” tegas Erza.


‘Maaf, Mas. Bukanya aku tidak mau berhubungan baik denganmu meskipun kita sudah berpisah tapi aku belajar hidup jauh dari bayangmu.’


Batin Syafa.


"Papa, bangun! Pa ...," teriak Yara dari dalam kamar Pak Rio. "Mas, Mas Erza. tolong!"


Semua yang ada di luar langsung menoleh ke arah kamar itu. Erza langsung berlari menuju kamar saat mendengar teriakan Yara yang memanggil namanya.


.


.


.


To Be continued

__ADS_1


__ADS_2