Ikhlasku Melepasmu, Mas!

Ikhlasku Melepasmu, Mas!
Kehidupan Baru Yang Lebih Menjanjikan


__ADS_3

Suara kicauan burung di pagi hari dan sejuknya udara di villa itu. Membuat Yara semakin menarik selimut karena dinginnya udara pagi itu.


Yara sangat terkejut saat ia merasakan kehangatan dalam tidurnya. Tubuhnya langsung terperanjat saat menyadari keberadaan dirinya saat ini. Bukankah semalam dia bersama Erza di belakang villa bernyanyi dan saling bercerita. Kenapa sekarang dia malah berada di kamar.


Yara kembali mengingat apa yang terjadi. Wanita itu senyum -senyum sendiri saat ingat kejadian semalam. Yara malah tertidur saat Erza memainkan gitar sambil bernyanyi. Yara tidak menyangka ternyata Erza mempunyai suara yang merdu saat bernyanyi.


"Apa Erza yang membawaku ke kamar ini?" Tanya Yara pada dirinya sendiri. "Mana mungkin aku berjalan sendiri ke kamar ini?" pikir Yara.


Daripada berpikir sendiri Yara lebih baik mencari Erza. Dengan gerakan cepat Yara berjalan ke arah jendela kamarnya. Ia ingin melihat apakah Erza masih ada di paviliun atau tidak. Sebab dari balkon kamarnya jelas terlihat tempat api unggun semalam.


Yara mengerutkan alis saat melihat Erza sudah rapi dengan perlengkapan hiking nya. Yara ingat ucapan Bi Titin semalam. Kalau Erza sering pergi mendaki setiap kali dia datang ke villa ini.


"Za," panggil Yara dari lantai dua villa itu.


Merasa ada yang memanggilnya Erza lekas mendongak ke atas dan betapa bahagianya ia saat melihat wajah cantik dari wanita yang ia cintai tersenyum ke arahnya.


"Mau kemana?" Tanya Yara dengan suara sedikit tinggi agar Erza mendengar suaranya.


"Hiking! Kamu mau ikut?" Erza membalas dengan suara yang bernada tinggi juga.


Yara menganggukkan kepalanya. "Mau."


"Aku tunggu di sini! cepat turun!" titah Erza.


"Aku belum mandi, Za!"


"Tidak usah mandi, begitu saja sudah cantik!" goda Erza.


"Ogah, aku mandi dulu, sebentar. Tunggu aku!"


Erza membalas dengan mengacungkan jempol tangannya. Melihat Itu Yara bergegas masuk. Wanita itu ingin segera ikut dengan Erza. Ia ingin ikut pergi hiking karena ini adalah pengalaman baru untuknya.


Baru saja keluar dari kamar mandi, Yara sedikit terkejut saat Bi Titin tiba-tiba saja masuk ke dalam kamarnya. Yara tidak menyangka kalau Bi Titin sudah mempersiapkan perlengkapan hiking dari sepatu dan pakaian ganti untuknya.


"Ini perlengkapan untuk Non Yara pakai!" Bi Titin menaruh barang bawaannya dia tas tempat tidur.


"Terima kasih, Bi! Kenapa bisa secepat ini mendapatkan perlengkapan hiking ini, Bi!"


Bi Titin tersenyum mendengar pertanyaan Yara. "Ini milik Nyonya Anggi, Non!"


"Loh, Tante Anggi juga suka hiking juga?"


"Iya, Non. Sampai kesukaannya itu menular sama Den Erza," ujar Bi Titin.


Setelah itu Yara segera memakai semua perlengkapan hiking nya. Kemudian segera menghampiri Erza yang menunggunya dari tadi.


"Maaf, lama!" Ucap Yara.


"Selama apapun aku tetap setia menunggu mu, Ra!" Rayu Erza.


"Dih, mulai deh. Gombal!"


Erza terkekeh membalasnya. "Kamu ini tidak percaya kalau aku setia menunggu kamu, Ra!"


"Jadi hiking apa tidak?" Yara berkacak pinggang menghadap Erza.


"Jadi dong!" Erza langsung mengambil tas yang berisi perlengkapan mendakinya.


"Mang saya pergi dulu!" Pamit Erza.


"Hati-hati, Den."


Erza dan Yara mulai perjalanannya dengan mengendarai motor Kawasaki KLX yang ada di villa itu.


"Kenapa harus naik motor, Za. Memangnya jauh ya?" Tanya Yara saat Erza fokus berkendara.


"Lumayan! Kita akan mulai jalur pendakian dari jalur telaga warna. Di sana kamu bisa melihat pemandangan kebun teh yang indah. Baru kita lanjut ke tanjakan sambalado," ujar Erza.


Yara terkekeh kecil mendengarnya.


"Loh, kenapa tertawa?"


"Namanya lucu. Tanjakan sambalado!" Ujar Yara.


"Kamu jangan salah. Tanjakan sambalado cukup terjal loh!"


"Benarkah? Aku semakin penasaran ingin segera mendaki gunung."


"Sebentar lagi kita sampai," ujar Erza.


Yara hanya menganggukkan kepala. Wanita itu hanya diam karena tidak mengerti seperti apa mendaki gunung. ini adalah pengalaman pertamanya.

__ADS_1


Jalur pendakian gunung kencana menjadi tujuan Erza. Jalur aman dan tidak terlalu sulit. Biasanya Erza akan mencari jalur yang lebih menantang tapi berhubung Yara pertama kali ikut. Erza memilih jalur aman untuk mereka berdua.


Tiba di pintu masuk ternyata perjalanan masih panjang dan harus melewati jalan makadam hingga melewati kampung LC (Ladang cadangan) yang merupakan ladang parkir kendaraan.


Mengendarai kendaraan sejauh 9km bukanlah hal yang menyenangkan. Beruntung sejauh mata memandang mereka melihat hamparan kebun teh yang menyegarkan mata. Sesekali Erza menghentikan kendaraannya untuk melihat pemandangan kebun teh itu.


"Masih kuat?" Tanya Erza saat mereka menghentikan kendaraannya.


Yara mengangguk sebagai jawaban. Erza pun kembali melanjutkan perjalanannya. Sepanjang perjalanan menjadi kisah seru buat Erza sebab saat itulah dirinya mulai dekat dengan Yara. Erza juga mulai tahu sisi lain dari Yara. Calon istrinya itu adalah sosok ceria dan banyak bicara, Erza merasa nyaman bersama wanita itu. Begitu juga dengan Yara. Wanita itu baru merasakan perasaan lega dan bebas seperti sekarang ini.


Hingga lahirnya mereka sampai di kampung LC. Erza memarkirkan motornya di sana.


"Kamu siap?" Tanya Erza meyakinkan Yara.


Yara menarik napas berat. Ini adalah petualangan pertamanya. Kali ini Yara bebas jadi diri sendiri. "Siap." Yara mengeratkan pegangannya pada tas ransel yang di ada di punggungnya.


Erza tersenyum melihat semangat yang ada dalam diri Yara.


"Let's go!" Ucap Erza dengan semangatnya sama seperti Yara.


Mereka mengawali pendakian hingga ke pos pertama yang merupakan pembatas antara kebun teh dan hutan belantara.


Di pos pertama itu juga Erza dan Yara ditarik tiket seharga 20k perorangan. Belum lagi untuk yang lainnya. Tanah luas terhampar di depan mata. Beberapa tenda sudah berdiri saat mereka sampai di sana pos pertama itu.


"Kamu mau beli cemilan tidak untuk di perjalanan?" Tanya Erza.


Yara mengelengkan kepalanya. "Bukan kah sudah dibekali makanan sama Bi Titin. Sayang sekali kali tidak di makan nantinya," balas Yara.


"Jadi kita lanjutkan perjalanan?" Ajak Erza. Mereka kembali melanjutkan perjalanannya.


Melewati pos satu tadi Yara dan Erza tiba di Tanjakan Sambalado. Tanjakan ini bukan sembarang tanjakan. Awal pendakian yang cukup terjal. Meskipun sudah ada anak tangga tapi jarak anak tangga itu begitu tinggi sehingga Yara, Erza maupun pendaki lain harus mengangkat tinggi kaki mereka agar bisa melangkah ke atas.


Erza melangkah lebih dulu. Lalu mengulurkan tangannya kepada Yara.


"Pegang tanganku!"


Yara menyambutnya. Wanita itu berhasil mencapai anak tangga terakhir.


"Bagiamana? seru?" Tanya Erza saat mereka berdua break sebentar untuk mengatur irama napas.


Yara mengangguk. "Ya, seru sekali. Ini adalah pendakian yang memacu adrenalin. Aku baru kali ini melakukannya," sahut Yara sambil mengatur napasnya.


Melihat semangat Yara, Erza jadi ikut bersemangat. Pria itu kembali mengajak Yara untuk melanjutkan pendakiannya.


Pendakian semakin menantang Erza bekerja sama dengan Yara untuk mencapai puncak. Keseruan sepanjang pendakian menjadi kisah seru dua insan itu.


Sesekali Yara menghentikan langkahnya. Wanita itu terlihat mengatur napas.


"Minum dulu!" Erza menyodorkan air mineral botol kepada Yara.


"Terima kasih, Za!"


Yara tidak menyadari mereka minum dalam satu botol yang sama.


"Cape?" Tanya Erza singkat.


Yara mengangguk pelan kemudian tersenyum manis pada Erza sambil mengatur irama napasnya.


"Lumayan," jawab Yara sambil mendaratkan pantatnya di salah satu besar yang ada di sana


Erza melihat kening Yara yang berkeringat. Pria itu lekas meraih sapi tangan di kantung celananya. Kemudian berjalan mendekati Yara. Diusapnya kening Yara yang berkeringat itu dengan sapu tangan olehnya.


"Kelihatan banget dari keringat yang kamu keluarkan. Kita istirahat dulu saja kalau begitu!" Erza ikut duduk di samping Yara.


Beberapa pendaki yang ada di belakang Yara dan Erza berhasil menyusul mereka.


"Bro ... Kita duluan!" ujar salah satu dari mereka sambil ber tos ria.


"Yoi .. silakan! Hati-hati Bang, jalannya sedikit licin," balas Erza.


"Cewek lu, semangat banget keliatannya," lanjutnya.


"Calon bini gue, Bang!" Erza dengan bangga berucap.


"Waw ... pasti seru punya pasangan yang punya hobi yang sama seperti kita. Ya sudah gue duluan, ya. Biar lebih lama menikmati satu hari ini di atas puncak," ujarnya."


"Sip!" Jawab Erza singkat.


Yara yang mendengar pengakuan Erza merasa malu mendengarnya. Ia ingin melarang tapi Yara tidak ingin merusak suasana hari ini. Yara merasa terlalu cepat jika mengumumkan kalau dia adalah calon istri dari Erza. Pasalnya baru kemarin ia resmi bercerai dari Afkar.


"Kita lanjutkan perjalanan," Ajak Yara sambil berdiri dari duduknya.

__ADS_1


Erza mendongak menatap Yara. "Kamu yakin? Tidak mau istirahat dulu?" Tanya Erza kembali meyakinkan. "Aku takut kamu lelah!"


Yara menggelangkan kepalanya. "Aku juga mau menghabiskan hari ini di atas puncak, Za."


Mendengar itu Erza menyetujuinya. Pria itu berdiri kemudian meraih tangan Yara kemudian menggenggamnya. Sontak membuat Yara terkejut.


"Jalanan di depan akan semakin menanjak. Aku akan menggenggam tanganmu sampai di atas sana. Kita akan mencapai puncak bersama." Erza tersenyum hangat pada Yara.


Yara pun membalas hal yang sama. Hatinya menghangat setiap kali mendengar ucapan Erza disaat sedang serius seperti ini.


Selama mengenal Erza. Pria itu mampu memberi warna dalam hidup Yara. Erza mampu menjadi teman saat Yara ingin bercanda. Berperan hangat saat Yara membutuhkan seorang sahabat untuk berkeluh kesah. Menjadi pria sejati saat Yara membutuhkan perlindungan. Dan mampu memberikan kasih sayangnya secara tulus meskipun mereka belum menjadi pasangan halal. Sikap Erza terhadap Dhiya pun sama seperti kepada-nya. Hal itulah yang membuat Yara tidak menolaknya.


'Semoga aku tidak salah memilih untuk kali ini.'


Batin Yara.


Akhirnya Yara melangkah bersama Erza berjalan pelan menuju puncak. Sama seperti kehidupannya, Yara harap bersama dengan Erza mampu membawa kebahagian untuk dirinya dan Dhiya.


 


"DHIYA ... BUNDA KANGEN SAMA KAMU!" teriak Yara saat mereka sampai di puncak.


"Lagi teriakan apa yang mengganjal di hatimu saat ini!" Titah Erza.


Yara mengedarkan pandangannya kepada pendaki yang lain. Wanita itu merasa tidak enak hati berteriak di sana.


"Apa tidak menggangu yang lain?"


"Tidak masalah! Abaikan mereka." Erza meyakinkan. Mendengar itu Yara berbalik badan dan kembali berteriak.


"MAS AFKAR ... AKU BENCI KAMU! PAPA ... MBA SYAFA ... AKU JUGA BENCI KALIAN, KALIAN JAHAT ...." Yara berteriak dengan kencang. Seakan akan mengeluarkan kebencian di dalam hatinya Yara berharap dengan berteriak rasa benci itu hilang. Dia tidak mau jadi seseorang yang penuh dendam.


Usai berteriak Yara kembali menumpahkan tangisnya. Erza yang berada di belakang tubuh Yara langsung menarik wanita itu dalam pelukannya.


"Setelah ini, kamu harus menatap masa depanmu. lupakan kebencian, tata hatimu dengan baik, Ra," ucap Erza disela pelukannya.


Yara menganggukkan kepalanya pelan. Saat itu Yara membalas pelukan Erza. Ia merasakan kehangatan dan kenyamanan berada dalam pelukan pria itu. Erza mampu menjadi pelindung dirinya.


"Terima kasih sudah mau menerima semua kekurangan ku, Za!"


Erza lekas mengusap lembut pundak Yara. Tanpa ragu ia mencium pucuk kepala Yara, menyalurkan rasa sayang tulusnya pada wanita itu.


Sampai menjelang siang hari Erza dan Yara mengabiskan harinya di atas puncak Gunung Kencana. Mereka berdua bekerja sama membangun tenda kecil di sana bersama dengan pendaki yang lain.


Beberapa diantaranya ada yang berfoto dan mengabadikan moment di sana.


Matahari yang semakin meninggi sangat jelas memperlihatkan suguhan utama dari Gunung Kencana begitu indah terpampang di depan mata.


Yara ikut takjub dibuatnya.


Pemandangan Gunung Gede dan Gunung Pangrango dapat jelas terlihat dari puncak Gunung Kencana.


Erza berdiri di belakang Yara. Pria itu menunjuk beberapa lokasi yang indah dan seru untuk dikunjungi.


"Kenapa kita tidak mendaki ke Gunung Pangrango saja, Za. Sepetinya di sana juga seru!"


"Setelah aku dan kamu resmi menjadi pasangan halal akan lebih indah saat berada di sana," bisik Erza dengan suara lembutnya. hembusan napas dari pria itu begitu terasa di sekitar telinga Yara. Wanita itu tidak menoleh sebab ia sudah dipastikan wajahnya akan bersentuhan dengan Erza. Yara hanya bisa tersenyum mendengarnya.


Hari ini menjadi hari yang begitu menyenangkan bagi Yara. Sejenak ia bisa melupakan kesedihannya. Esok hari Yara semakin yakin untuk melangkah. Menghadapi kenyataan hidup dan berjuang untuk mendapatkan Dhiya. Bersama Erza Yara yakin untuk memulai hidup barunya. Terlalu cepat memang tapi hidup harus terus berjalan. Masa lalu dan kepahitan harus segera ditinggalkan. Berganti dengan kehidupan baru yang lebih menjanjikan.


.


.


.


To be continued.


Jangan lupa mampir ke karya lain Author ya. selagi menunggu bab baru.



Satu Cinta Dua Keyakinan (Tamat)


Fake Love (Tamat)


Pemilik Kehormatanku (Tamat)


Ikhlasku melepasmu, Mas! (on going)


__ADS_1


__ADS_2