Ikhlasku Melepasmu, Mas!

Ikhlasku Melepasmu, Mas!
Tangis Tanpa Suara


__ADS_3

"Kamu di mana, Ra? Aku di depan tukang pecel!" Ucap Kak Ima dari seberang telepon.


Yara menghubungi Kak Ima, tetangga Afkar di kota. Meski belum pernah bertemu tapi keakraban mereka sudah terlihat. Afkar sering mengajak Yara mengobrol dengan Kak Ima saat suaminya berada di rumah. Jadi tidak terlalu canggung saat meminta bantuan wanita itu untuk menjemput Yara jauh dari titik lokasi. Sebab kemacetan Jakarta yang membuat Yara harus turun lebih dulu sebelum tiba di tempat tujuan.


"Aku juga di depan tukang pecel, Kak! Kakak di mananya?" Yara mengedarkan pandangannya. Ia melihat sosok wanita yang berdiri sambil memegangi telepon. "Kak Ima pakai baju merah, bukan?" Tanya Yara.


Kak Ima langsung melambaikan tangan ke arah Yara. "Sini!" Titahnya.


Yara lekas meraih tas yang dibawanya. Berjalan mendekati Kak Ima.


"Yara?" Tanya Kak Ima saat mereka saling berhadapan.


Yara mengangguk pelan kemudian mengulurkan tangannya untuk menyalami Kak Ima.


"Aku kira tadi bukan kamu, Ra! Ternyata aslinya lebih cantik dan muda. Kelihatan masih gadis, berapa sih umurmu?" Tanya Kak Ima usai Yara menyalaminya.


"Umurku 22 tahun, Kak!"


"Hah... Masih muda banget!" pekik Kak Ima.


"Pinter banget Afkar nyari daun muda! Berarti umur kalian berbeda jauh?" Kak Ima makin penasaran. Sebab Afkar tidak pernah bercerita soal perbedaan umurnya dengan Yara.


"Aku dan Mas Afkar beda 8 tahun Kak."


"Kurang asem, anak itu. Bisa-bisanya menikahi gadis di bawah umur."


"Sudah, kita pulang sekarang apa masih mau ngobrol di sini?" Serobot Bang Boy, suami Kak Ima.


Kak Ima terkekeh kecil membalasnya. "Abisnya aku terkejut sekali, Bang! Bininya Afkar masih muda banget. Bisa jadi incaran pemuda gang ini mah. Apalagi suaminya gak ada. Aku berasa punya anak perawan jadinya." Kak Ima tersenyum membayangkannya.


"Anggap saja seperti itu," sahut Bang Boy.


Yara hanya bisa ikut tersenyum menanggapinya.

__ADS_1


"Ayo, pulang ke kontrakan," ajak Kak Ima. "Tapi kamu sama temennya Bang boy, ya! Gak pa-pa 'kan? Tadinya aku mau bawa motor sendiri tapi tidak diijinkan. Maklum masih hamil muda," Ujar Kak Ima dan Yara pun memakluminya.


Perjalanan dari tempat bertemu menuju kontrakan hanya sebentar.


"Ton, ngopi dulu!" Ajak Kak Ima pada teman Bang Boy yang tadi bersama Yara.


"Siap," jawab Tono.


"Tunggu ya, Ra! Aku ambil kunci kontrakannya dulu di dalam," ucapnya pada Yara dan mendapat anggukan dari wanita itu.


"Bentar ya, Ton! masuk saja deh sama Bang Boy sini!" Titah Kak Ima pada Tono.


Kemudian melangkah ke dalam rumah kontrakan.


Tono mengacungkan jempol, tanda menyetujuinya.


Setelah beberapa menit menunggu, Kak Ima keluar dengan dua cangkir berisi kopi dan satu gelas teh manis hangat di atas nampan.


"Kopinya, Ton!" Kak Ima menaruh dua gelas kopi untuk suaminya dan Tono. Satu gelas lagi buat Yara.


"Afkar sudah mempersiapkan ini semua buat kamu, Ra! Mainan anak juga. Tapi, sekarang orangnya malah gak ada. Lihat! Semua ini dia sendiri yang menyiapkannya," ujar Kak Ima membuat Yara diam. Matanya mengedar memperhatikan keadaan di dalam kontrakan. Memang terlihat rapi dan nyaman.


"Mas Afkar memang senang dengan kerapihan dan kebersihan. Aku sangat bertolak belakang dengannya. Di rumah juga lebih sering Mas Afkar yang menata posisi perabot. Aku kurang pandai dalam menyusunnya." Yara tersenyum membayangkan kelakuan suaminya.


Yara mempunyai sikap yang sedikit ceroboh, berbeda dengan Afkar yang begitu teliti.


"Ini minum buat kamu, Ra! Kamu bisa langsung istirahat, tenang saja tidak akan ada debu. Setiap hari aku bersihkan, Tunggu biar Bang Boy keluarkan motor ini dulu!" Kak Ima hendak keluar memanggil suaminya tapi Yara mencegah.


"Tidak perlu, Kak. Biar aku yang keluarkan sendiri!" pungkas YaraYara, sambil berbicara Yara mengeluarkan motornya.


Kak Ima mengambil sapu dan membersihkan lantai yang sedikit kotor karena motor tersebut.


"Sekarang, kamu istirahat saja dulu! Pasti cape 'kan? Oh ya, sampai kelupaan. Di dalam ada tas dan satu kardus barang milik Afkar yang tertinggal di mobil travel. Firman sudah mengambilnya beberpa hari lalu," ujar Kak Ima.

__ADS_1


"Kak, terima kasih sudah mau direpotkan hari ini. Kedepannya, aku pasti banyak meminta tolong padamu," ucap Yara pelan dan tulus pada Kak Ima.


"Selama aku bisa bantu, pasti ku lakukan. Tenang saja!" Kak Ima menyentuh bahu Yara sambil menepuknya pelan kemudian berlalu meninggalkannya.


Usai kepergian Kak Ima, Yara tidak bisa beristirahat. Ia kembali memeriksa apa saja yang telah disiapkan Afkar untuknya.


Mulai dari ruangan depan. Tidak ada banyak barang di sana. Hanya kasur bulu, televisi dan mainan rumah berbie di sana. Yara yakin itu adalah hadiah untuk Dhiya nanti saat mereka akan tiba di sana.


"Ternyata kamu menepati janjimu, Mas!" Yara menyentuh rumah berbie itu. Kemudian terus memasuki kamar tengah dan dapur. Di sana juga sudah ada perlengkapan ruang tangga lengkap. Dari mulai perabotan untuk masak, dan mencuci. Meskipun tidak banyak tapi Yara perhatian semuanya komplit. Afkar memang mengerti semua kebutuhan dapur. Sebab pria itu sering bersama Yara saat istrinya itu bergelut di dapur. Banyak hal dan kegunaan yang Afjar tanyakan saat itu.


Hanya ada 3 ruangan dalam rumah kontrakan itu. Ruangan yang langsung tersambung ke kamar, dapur dan kamar mandi.


Bersih dan tertata dan tertata rapi itu yang yara lihat di dalam sana. Afkar betul-betul menempatkan semua barang sesuai tempat.


Yara langsung teringat dengan sebuah kejutan yang akan dia berikan pada Yara. Wanita itu juga belum tahu apa. Tapi Yara yakin, Afkar menyimpannya di tas yang akan ia bawa pulang. Dengan cepat Yara meraih tas yang disandarkan dipojok ruangan. Yara membukanya pelan. Satu persatu barang yang ada di dalam dikeluarkannya. Ada ponsel, dompet, dan yang paling membuat Yara terkejut adalah dua barang yang dihias rapi dengan pita.


"Ya Allah, Mas. Pantas saja kami sulit mencarimu. Identitasmu ada semua di sini." Yara meneteskan air mata saat menyadarinya. "Aku yakin kamu masih hidup Mas," ujarnya kemudian.


Melihat dua kotak yang terbungkus rapi. Yara penasaran dengan isinya. Perlahan ia buka satu persatu kotak tersebut. Kotak kecil lebih dulu Yara buka.


"Terima kasih, Mas. Indah sekali cincinnya!" Ucap Yara sambil memasang akan sendiri cincin itu pada jari manisnya.


Yara melanjutkan membuka kotak yang sedikit lebih besar. Ia menutup mulut sambil tersenyum malu melihatnya. Lingerie merah yang begitu cantik.


"Mas, kamu benar-benar menginginkan aku memakai ini di hadapanmu?" gumam Yara pelan. Ia ingat betul saat video call se..k..s bersama Afkar, suaminya pernah berucap ingin melihat Yara memakai baju tipis tersebut.


Matanya tiba-tiba mengembun. Tak kuasa ia menahan sedih. Yara rindu akan sosok Afkar. Lekas ia peluk lingerie itu dengan erat, Yara menumpahkan air matanya.


"Mas Afkar... Yara rindu kamu, Mas!" Yara memeluk erat kain tipis tersebut dengan isak tangis tanpa suaranya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2