
Jika Afkar yang tertimpa musibah. Lain hal dengan Yara. Kebahagiaan semakin menyertai kehidupan rumah tangganya yang baru.
Usai menerima keputusan hak asuh Dhiya. Yara dan Erza mulai melengkapi persyaratan ijin tinggal mereka di Swiss. Pasangan pengantin itu pun mulai siap-siap untuk kepindahan mereka ke negara maju itu.
Sebab negara Swiss memiliki perekonomian yang tinggi dan stabil, serta perkembangan teknologi yang modern karena itulah Erza memilih mendirikan perusahaan di sana.
Sebelum kepindahannya ke luar negeri. Yara dan Erza serta Dhiya berencana pulang ke kampung halaman dulu. Di mana Yara lahir dan dibesarkan.
Ya, di Panti Asuhan Bunda Asih adalah tempat Yara dibesarkan. Wanita itu ingin berziarah dulu ke makam almarhum Mama Mira lebih dulu sebelum mereka berpindah tempat tinggal jauh di sebrang benua.
"Masih lama?" Tanya Erza saat pria itu baru saja keluar dari kamar mandi. Pria itu melingkarkan tangannya di pinggang Yara. lalu menempelkan dagunya di pundak Yara. Istrinya itu yang sedang membenahi pakaian mereka ke dalam koper.
Yara dapat mencium aroma segar dari tubuh suaminya. "Sedikit lagi, Mas. Tidak perlu banyak bawa pakaian ganti. Kalau kurang kita bisa cari di pasar tradisional di sana," ujar Yara sembari menghentikan gerakannya.
Tangan wanita itu terangkat untuk membelai wajah Erza yang ada di pundaknya. Yara tersenyum saat merasakan bulu-bulu halus di rahang Erza masih ada.
Biasanya suaminya itu tidak akan membiarkan bulu halus itu tumbuh. Tetapi permintaan Yara yang ingin melihat Erza memiliki bulu halus di sekitar rahang pipinya. Erza membiarkannya tumbuh kali ini.
"Kamu tidak mencukurnya, Mas?" tanya Yara sembari terus mengucap pipi suaminya.
"Katanya mau lihat aku berjenggot," sahut Erza sambil sesekali menciumi telinga dan leher Yara menimbulkan sebagian kecil yang membuat Yara merasa geli.
"Mas, aku belum selesai. Kalau kamu terus seperti ini. Kapan aku selesai coba?" protes Yara. Tapi sayangnya Erza nampak tidak peduli.
Yara melanjutkan memasukan satu pasang pakaian lagi ke dalam koper. Selesai sudah apa yang Yara kerjakan.
"Selesai," Yara segera menutup resleting koper itu dan berbalik badan menghadap Erza.
"Mas kenapa? Ko mukanya di tekuk begitu?" Tanya Yara yang seraya memerhatikan wajah suaminya.
Yara kembali tersenyum cerah saat melihat penampilan suaminya. Terlihat macho dan keren dengan jenggot tipisnya.
"Kita harus pergi sekarang, ya?" Erza malah bertanya balik.
Yara menganggukkan kepala menjawabnya.
"Kalau tidak sekarang kapan lagi, Mas? Minggu depan kita kita sudah terbang ke Swiss," ujar Yara. "Tapi kita harus jemput Dhiya ke rumah mama dulu!" Yara mengingatkan sembari mengusap pipi Erza dengan Keuda tangannya. kemudian berlalu dari hadapan pria itu. Istrinya itu hendak melangkah ke kamar mandi.
__ADS_1
"Dhiya di rumah mama? Kapan?" Erza nampak terkejut mendengar ucapan Yara. Suaminya itu mengekori Yara di belakang wanita itu.
"Mama ke sini tadi pagi! Pas pulangnya Dhiya malah pengen ikut!" Sahut Yara kemudian berbalik badan menghadap Erza.
"Mas ngapain sih ngikutin terus? Aku mau mandi. Kita sudah telat, mama sudah menghubungiku untuk segera ke sana. Ada keluarga kamu dari Bogor yang datang. Katanya mau ketemu sama kita!" Tutur Yara.
Satu sudut bibirnya tertarik ke atas disertai dengan ide yang tiba-tiba saja muncul dalam benak pria itu.
"Mas, Eh, dia malah senyum sendiri. Gimana sih, gaje!" Ucap Yara sembari memutar bola mata malas.
Yara melanjutkan niatnya ke kamar mandi. Tapi baru satu langkah berjalan, Yara merasakan tubuhnya melayang.
"Akhh ... "Jerit Yara saat tubuhnya diangkat oleh Erza. "Mas, apaan sih? Aku mau mandi!" protes Yara.
Erza tersenyum miring. Pria itu tidak peduli dengan Yara yang meminta diturunkan.
Pria itu malah menurunkan Yara di atas tempat tidur dengan pelan dan hati-hati.
Yara dapat melihat tatapan penuh damba dari wajah sang suami.
"Mas aku belum mandi loh!"
"Nanti sekalian, kita bikin main- main dulu! Mumpung gak ada Dhiya," bisik Erza di telinga Yara. Kini Yara berada di bawah tubuh Erza.
Yara tersenyum malu. Wanita itu memejamkan mata saat Erza mulai mengecup pipinya beralih ke telinga dan menjulur ke leher putih Yara. Tangan ya begitu lihai membuka satu persatu kancing baju Yara.
"Ahhh ... " Suara indah lolos begitu saja dari bibir Yara. Sensi yang membuat gelenyar aneh mulai menguasai tubuh. Yara menyukai sensasi itu.
Kecupan yang terus menurun hingga tiba di dua buah gundukan kenyal dengan pucuk yang merah muda.
Erza terus bermain di darah kesukaannya. Setelah puas Erza tanpa menunggu lebih lama lagi melakukan penyatuan diri. Sore itu menjadi sore indah buat Erza dan Yara.
"Love you Sayang ...." Erza mengusap keringat yang membasahi kening Yara. Kemudian mengecupnya dalam dan penuh cinta.
"Love you to, Mas Erza!" sahut Yara diiringi dengan senyuman manis yang membuat Erza mengembangkan senyumnya.
Erza berhasil menempati tempat di hati Yara. Kali ini setiap ungkapkan cinta yang Erza berikan selalu berbalas manis. Satu kebahagiaan yang Erza raih dengan kesabaran.
__ADS_1
Keduanya melepas lelah dengan memejamkan mata sejenak. Saling memeluk erat dengan tubuh yang sama-sama polos. Erza menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka.
...🌱🌱🌱🌱...
Syafa berhasil menghubungi Bu Nuri. Wanita itu mengabarkan kalau dia sedang dalam perjalanan ke rumah sakit di mana Afkar berada.
"Kamu hati-hati, Fa! Jangan ngebut!" Ucap Bu Nuri saat beliau tahu kalau Syafa mengendarai mobil seorang diri.
"Sebentar lagi, aku sampai, Bu! Ini tidak jauh dari rumah sakit, ko!"
"Syukurlah kalau begitu, Ibu juga belum bertemu dengan Afkar. Ibu baru saja dari ruangan dokter! Ibu tunggu kamu saja dulu. Baru kita sama-sama menemui Afkar menurut dokter, Suamimu baru saja diberi obat agar bisa beristirahat. Ibu tunggu, kamu, Nak!" Ujar Bu Nuri pada Syafa dari seberang telepon.
"Baik, Bu!"
Sambungan telepon pun terputus.
Syafa juga merasakan ada sesuatu yang kurang nyaman dari mobilnya.
Wanita hamil itu turun dari mobil.
"Ah, kenapa dengan mobilnya?" sesal Syafa saat wanita itu merasakan ada yang tidak beres dengan mobilnya. Ia keluar dari mobilnya sendiri. Tapi saat melihat ban mobilnya tidak ada yang kempes. Entah apa yang terjadi sampai mobil itu mengalami sedikit kendala.
Syafa mengedarkan pandangan ke sekeliling. Mencari seseorang untuk di mintai pertolongan.
Dua orang pria pun menghampiri Syafa. Bukannya menolong. Dua pria itu malah menekankan benda tajam pada tubuh Syafa.
"Serahkan semua benda berharga milikmu sekarang! Atau kamu dan bayi ini tidak akan selamat," ancam salah satu pria dari mereka.
Syafa merasa terkejut, ia tidak bisa berbuat apapun selain menuruti semua perintah orang itu.
"Jangan sakiti saya! Ambil semua yang kalian inginkan tapi tolong bebaskan saya?" Ucap Syafa pada keduanya. Tangannya gemetar karena takut. Syafa memegangi perutnya agar tidak terkena goresan dari benda tajam yang diarahkan kepadanya.
.
.
. to Be continued
__ADS_1