Ikhlasku Melepasmu, Mas!

Ikhlasku Melepasmu, Mas!
Selalu Ada Untukku


__ADS_3

"Eughh ...." Afkar menggeliat sembari meregangkan ototnya yang terasa kaku. Tubuhnya pun merasa sesak seperti dalam pelukan seseorang.


Afkar begitu terkejut saat mendapati seorang wanita yang sedang memeluk erat dirinya. Bahkan Afkar dapat merasakan sentuhan kulit yang menempel dengan tubuhnya.


Afkar segera melepaskan tangan wanita itu yang melingkar di tubuhnya.


"Lepaskan! Kamu siapa?" Bentak Afkar membuat Alecia terbangun dari tidur lelapnya.


"Kamu sudah bangun, Sayang!" Alecia tidak peduli dengan bentakan Afkar. Wanita itu semakin mendekati Afkar dan berniat memeluknya kembali.


"Menjauh dariku!" Afkar sedikit menggeser tubuhnya agar jauh dari Alecia. Wanita itu menarik sudut bibirnya melihat reaksi Afkar.


"Kenapa kamu menghindar? Semalam kamu begitu bersemangat bercinta denganku, Sayang!" Ujar Alecia.


"Heh ... Jangan berbicara sembarangan.! Kamu pasti berbohong. Kamu sudah menjebak ku. Benar 'kan?" Hardik Afkar.


Pria itu tidak ingat dengan kejadian panasnya semalam bersama Alecia.


Dengan cepat Alecia membuka selimut yang menutupi tubuhnya. Memperlihatkan banyaknya jejak kepemilikan yang Afkar tinggalkan di tubuh moleknya.


"Kamu lupa jika semua ini atas perbuatanmu, Sayang!"


Bola mata Afkar membulat melihat itu. Ia menggelengkan kepalanya. Jejak kepemilikan itu begitu banyak tertinggal. Sejenak Afkar terdiam, mengingat kejadian semalam. Potongan kejadian yang memperlihatkan gagahnya dia saat bercinta dengan wanita itu lah yang Afkar ingat.


"Kita salah melakukan ini!" Afkar segera berdiri. Pria itu kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk bergegas membersihkan diri. Tak selang berapa lama. Afkar sudah kembali dengan tubuh yang segar. Ia segera meraih dompet dan ponselnya. Tiba-tiba saja, Alecia memeluknya dari belakang.


"Kamu tidak bisa pergi begitu saja, Sayang! Setelah menikmati tubuhku kamu membuang ku. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Kamu harus bertanggung jawab." Alecia menahan Afkar.


Afkar segera melepaskan tangan yang melingkar di pinggangnya. Kemudian berbalik badan menghadap Alecia.


"Siapa namamu?"


"Aku Alecia, Sayang!" Alecia kembali mendekati Afkar dan berusaha membelainya.


Afkar langsung merogoh dompetnya. Meraih beberapa lembar uang dari dalam sana.


Alecia tersenyum melihatnya.


"Lupakan kejadian malam ini! Jangan pernah muncul lagi di hadapanku!" Afkar menyodorkan beberapa lembar uang untuk Alecia.

__ADS_1


"Kamu pikir aku mau menerimanya. Kamu sudah mendapatkan kenikmatan dari tubuh ini. Dan ingat semalam kamu lupa memakai pengaman," bisik Alecia sambil menyorongkan tubuhnya agar lebih dekat dengan Afkar.


"Aku belum lama selesai menstruasi dan saat ini sedang dalam masa subur. Mungkin jika sekali tidak akan berpengaruh. Tapi semalam kamu melakukan hal itu beberapa kali. Bahkan kamu menikmati permainan yang aku berikan." Alecia memainkan jarinya di pipi Afkar terus menurun ke bawah dan sampai ke dadanya. Alecia pun tersenyum melihat jejak cumbuannya di leher Afkar. Itu sangat jelas terlihat. Afkar tidak menyadari itu.


"Semua tidak akan terjadi dan aku tidak akan membiarkan itu. Kita bukan siapa-siapa dan kita tidak saling mengenal." Afkar mengindari Alecia dan segera bergegas meninggalkan wanita itu.


Alecia sama sekali tidak menahannya. Alecia sudah mendapatkan apa yang ia cari selagi Afkar mandi tadi. Mendapat nomer ponsel Afkar. Bahkan sudah mengantongi kartu nama pria itu. Dengan semua itu dengan mudahnya Alecia mengubungi Afkar.


"Kamu bisa menghindari ku saat ini.Tapi aku yakin suatu hari nanti kamu yang akan datang padaku, Sayang!" Alecia tersenyum licik sambil menatap Afkar yang sudah menghilang dari kamar itu.


 


Afkar kembali mengemudikan mobil dengan kecepatan penuh. Ada rasa ketakutan yang ia rasakan.


"Syafa pasti mengkhawatirkan aku! aku harus segera pulang!" gumam Afkar.


Sesampainya di rumah. Afkar tidak melihat mobil yang biasa digunakan Syafa. Pria itu berjalan cepat memasuki rumahnya.


"Bu ... Bu ...." Panggil Afkar.


Bu Nuri langsung keluar dari kamarnya. Wanita itu berjalan tergesa-gesa ingin segera berbicara dengan Afkar.


"Ya ampun, kamu kemana saja Afkar. Dari kemarin sulit sekali di hubungi. Syafa sampai mengkhawatirkan kamu!" Ucap Bu Nuri saat melihat kepulangan Afkar.


"Istrimu ke rumah papa-nya tadi pagi!"


"Akhh ... Dia pasti sangat marah padaku" Afkar terlihat gusar dan bingung.


"Kamu pasti belum tahu apa yang terjadi kemarin setelah kamu pergi tanpa kabar usai persidangan cerai kamu dengan Yara?" Tutur Bu Nuri.


Afkar langsung beralih pada ibunya.


"Memangnya apa yang terjadi, Bu?" Afkar terlihat penasaran.


"Ternyata kedua istrimu itu bersaudara!"


Afkar menajamkan pendengarannya. "Apa? Maksud ibu, Syafa dan Yara kakak beradik?"


Bu Nuri menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Syafa yang menceritakan semuanya pada ibu. Ibu juga merasa terkejut mendengarnya. Ternyata kamu menikahi dua wanita satu darah. Dan itu di haramkan dalam agama kita. Tapi saat ini kamu terselamatkan karena kamu telah berpisah dari salah satu diantara mereka. Kalau kamu tidak bercerai dari Yara. Kamu harus memilih salah satunya."


"Itu berarti aku tidak bisa kembali pada Yara, Bu?"


"Untuk apa kembali? Kalian sudah bercerai!" seru Bu Nuri.


"Aku tidak bisa melepaskan Yara begit saja, Bu. Aku memang tidak mengingat semua kenangan bersama Yara. Tapi hati ini tidak bisa dibohongi, semenjak dia pergi dari rumah ini. Dalam hatiku ada yang hilang." Usai mengungkapkan isi hatinya Afkar teringat soal Dhiya.


"Dhiya mana, Bu?" Tanya Afkar.


"Anakku ikut dengan Syafa ke rumah Pak Rio. Mertuamu sakit, semenjak mencuatnya kebenaran soal Yara. Ternyata Pak Rio sudah mengetahui kalau Yara adalah anak kandungnya hanya saja dia belum berani mengungkapkan. Hanya itu yang ibu tahu dari ceria Syafa.


"Syafa membawa Dhiya lagi. Pasti dia akan mempertemukan Dhiya dengan Yara. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Bagaimana jika Yara membawa Dhiya pergi. Itu tidak boleh terjadi. Hanya Dhiya satu-satunya hal yang bisa membuat aku kembali bersama Yara." Gumam Afkar.


Bu Nuri yang mendengar ucapan Afkar lekas mencegahnya.


"Kamu tidak bisa seperti ini, Nak. Kalian tidak bisa kembali bersama."


"Aku tidak peduli. Aku mau Yara kembali bersamaku dan Dhiya. Kami bisa hidup bersama dengan Syafa juga tentunya. Aku juga tidak bisa melepaskan Syafa!" Afkar masih bersikeras dengan keinginannya.


"Tidak mungkin, Afkar. Ini tidak bisa terjadi. Ini hanya sebuah obsesi, kamu terobsesi ingin memiliki keduanya. Ingat mereka kakak beradik!" Sungut Bu Nuri.


Wanita itu sangat menyayangkan sikap Afkar yang keras kepala dan tidak mau dibantah karena memang itu sikap Afkar yang dari dulu sampai sekarang tidak hilang meskipun ingatannya belum kembali.


Afkar berlalu dari hadapan Bu Nuri. Ia bergegas ingin menyusul Syafa. Afkar mengira kalau istri keduanya itu sedang menemui Yara.


Dua minggu telah berlalu. Hubungan Erza dan Yara semakin dekat. Apalagi saat ini Erza selalu menemani Yara saat wanita itu mengurus semua berkas pengesahannya cerai dan surat janda dari pengadilan.


"Terima kasih selalu ada untukku, Za."


"Itu sudah jadi tanggungjawab ku, Ra. Jangan selalu berterima kasih padaku. Sekali-kali meminta kasih pasti langsung kau berikan padamu," canda Erza membuat Yara tersenyum mendengar candaan dari pria itu.


Erza paling bisa membuat senyum Yara selau berkembang sekarang ini. Yara merasa menjadi wanita istimewa karena sikap manis yang Erza berikan.


Sikap manis dan pandai merayu hanya ditunjukkan pada Yara. Sangat berbeda saat Yara melihat Erza berinteraksi dengan wanita lain. Sikap dingin dan cuek, itulah yang Erza tunjukkan pada mereka.


.


.

__ADS_1


.


to be Continued


__ADS_2