
"Apa tidak ada jalan untuk kalian bersama?" Tanya Pak Rio usai mendengar penuturan Afkar.
"Entahlah, Pah. Syafa sudah membuat keputusan. Sebenarnya aku tidak ingin melepaskannya. Tapi aku tidak mau memaksa. Aku sadar kalau kami kembali bersama adalah sebuah kebodohan. Kami akan tetap berada di ruang segitiga yang akan saling menyakiti. Tapi aku sungguh ingin memperbaiki diri, Pah," ucap Afkar lirih.
Pak Rio memegangi dada sebelah kirinya dengan satu tangannya sambil berkata, "Ini semua salah papa! Andai papa tidak egois saat itu, kedua putriku tidak akan terluka seperti ini. Bagaimana aku menebus semuanya, Ya Allah," ucap Pak Rio diiringi Isak tangisnya. Pria berumur itu tertunduk sambil memegangi dadanya yang terasa sesak. Melihat Pak Rio kesakitan Afkar mendekatinya.
"Kenapa, Pah? Apa yang terjadi? " Afkar terlihat panik sambil berusaha berdiri kemudian mendekati papa mertuanya.
Di Dapur, Syafa mencoba menetralkan perasaanya yang masih berkecamuk sedih dalam hatinya. Perlahan mengembuskan napasnya, membuang semua kesedihan yang tersisa. Syafa pun kembali melangkahkan kaki ke ruang tamu.
Alangkah terkejutnya Syafa, saat ia melihat Pak Rio sedang menahan sesak di dadanya.
"Papa," teriak Syafa ketika melihat kondisi Pak Rio. Wanita itu pun berlari kecil menghampiri dua pria itu.
"Papa, kenapa?" tanya Syafa dengan wajah panik sambil memegangi tubuh Pak Rio.
"Papa baik-baik saja!" balas Pak Rio pelan dengan suara terbata, dia masih berusaha menutupi kesakitannya. Tapi napas pria itu sudah tersengal karena kehabisan oksigen.
"Sesak napas papa, pasti kambuh," ujar Syafa yang melihat kondisi papa-nya sudah menduga hal itu. "Ya Allah hari ini juga jadwal papa cuci darah," pekik Syafa.
"Ta ... Lita!" panggil Syafa pada asisten rumah tangganya dengan suara sedikit meninggi.
"Iya, Bu!" sahut Lita seraya berlari kecil baru dari arah dapur.
"Tolong ambilkan Ventolin inhaler milik papa!" titah Syafa.
"Ya, obat itu kan habis, Bu!" sahut Lita.
"Ck," Syafa berdecak. "Panggilkan Pak Muji," titah Syafa lagi.
"Barusan saja Pak Muji di suruh beli ke apotek sama Tuan," seru Lita.
Syafa semakin panik mendengarnya. Tidak mungkin ia meminta bantuan pada Afkar. Dengan kondisinya yang seperti itu.
"Sebaiknya bawa ke rumah sakit saja, Fa!" usul Afkar.
Syafa sempat terdiam lalu menatap pada Pak Rio.
Papa-nya itu menggelengkan kepalanya pelan membalas ucapan Afkar. "Tidak usah! Kita tunggu Pak Muji saja pulang dari apotek." Usai berucap Pak Rio kembali merasakan sesak yang begitu menyakitkan.
Afkar yang melihat kondisi papa mertuanya semakin memburuk langsung ambil tindakan. "Kita ke rumah sakit sekarang!"
"Tapi Mas ...." Syafa terlihat ragu karena kondisi Afkar yang sekarang berbeda dengan dulu.
"Aku masih bisa mengemudi, kamu tenang saja!" ucap Afkar yang mengerti pemikiran dari Syafa tentang dirinya.
Mendengar itu, Syafa lekas mengambil kunci mobil di atas nakas dan memerintahkan Lita untuk mengambilkan tasnya di kamar.
Pak Rio pun dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan.
***
Di bandara Soekarno-Hatta, penerbangan Swiss-Jakarta tiba lebih cepat dari biasanya.
Semua anggota keluarga Rahardian tengah berjalan menuju pintu keluar bandara. Mereka berjalan bersama menuju pintu keluar itu. Dhiya berada di gendongan Erza. Suami dari Yara itu berjalan lebih dulu dari semuanya. Sedangkan Yara berjalan pelan ber-iringan dengan Mama Anggi. Diikuti Papa Rangga dan Azzam di belakangnya. Yara tiba-tiba saja menghentikan langkah saat merasakan sesak di dadanya. Dengan gerakan cepat Yara mencengkram lengan Mama Anggi yang berada di samping kanannya. Tangan kiri Yara memegangi dadanya yang terasa sesak.
__ADS_1
"Mah," lirih Yara pelan.
"Yara! kamu kenapa, Sayang?" pekik Mama Anggi sembari membulatkan matanya, ia merasa terkejut saat melihat Yara memegangi dada.
"Dadaku, sesak, Mah!" sahut Yara, ia berusaha mengatur napasnya yang tersengal.
Seketika Erza pun menoleh, pria itu tak kalah terkejut dengan Mama Anggi. "Sayang, kenapa?" tanya Erza pada Yara.
Mama Anggi langsung meraih Dhiya yang ada dalam gendongan Erza. "Sini, Dhiya sama mama!" Dhiya tak terusik sama sekali saat tubuhnya berpindah tangan.
Erza langsung mendekati Yara. Kemudian segera merangkul tubuh istirnya itu untuk menepi ke bangku besi lalu duduk di sana.
"Coba atur napas mu!" titah Erza.
Azzam berlari kecil menghampiri kakak angkatnya lalu menyodorkan satu botol air mineral pada Erza."Ini minum buat Kak Yara."
"Terima kasih, Zam," ucap Erza saat menerima air botol itu dari Azzam. "Minum, Sayang!" Erza membuka tutup botol air minum lalu memberikannya pada Yara.
"Masih sesak? Apa kita langsung ke rumah sakit saja?" tanya Erza dengan sederet pertanyaan ketika Yara selesai meneguk pelan air minum di tangannya.
Wanita itu menggelengkan kepala. "Tidak usah, Mas. Aku merasa sudah lebih baik." Balas Yara.
"Kamu yakin?" Erza kembali menegaskan.
Agar pun mengangguk membenarkan.
"Apa sebaiknya kita ke rumah sakit saja?" Papa Rangga yang baru saja dateng mendekat pada Erza.
Yara segera memegang tangan Erza kemudian meyakinkan suaminya kalau dirinya saat ini sudah lebih baik. Erza pun mengangguk membalasnya.
"Benar, kamu baik-baik saja, Ra. Mama takut kamu mengalami sesuatu usai penerbangan tadi." Mama Ami menimpali.
"Tidak apa-apa, Mah! Aku merasa lebih baik. Mungkin hanya jetlag saja," sahut Yara.
Dua buah mobil mewah sudah sampai untuk menjemput anggota keluarga Rahardian.
"Kita istirahat di rumah saja, Ya!" ajak Erza saat melihat mobilnya sudah menunggu.
Yara menganguk. "Iya, Mas."
Satu persatu dari mereka langsung menaiki mobil itu. Erza dan Yara berada dalam satu mobil berbeda dengan Dhiya. Anak itu ikut dengan Mama Anggi di mobil yang lain.
"Mas, perasaanku tidak enak!" ucap Yara saat mereka berada di dalam mobil. "Apa yang akan terjadi ya?" pikir Yara.
"Ibu hamil jangan terlalu banyak berpikir. Positif thinking saja. Sebaiknya kamu beristirahat saja! Besok kita periksa kandunganmu. Aku tidak mau anak kita kenapa-napa usai penerbangan perdananya." Erza mencoba menenangkan Yara.
Yara mengangukkan kepalanya. "Kenapa harus periksa ke dokter kandungan, Mas? yang terasa sesak itu dadaku, bukan kandunganku," protes Yara.
"Tak apa! Aku ingin kamu periksa semuanya besok," tegas Erza. kemudian mengecup singkat kening Yara.
"Bersandar lah! Aku tidak mau kamu lelah karena perjalanan jauh kita." Erza kembali menegaskan. Kali ini pria itu tidak mau dibantah lagi.
Yara mengangukkan kepalanya pelan. Kemudian menyandarkan nya di bahu Erza. Yara mencari posisi yang nyaman bersama suami tercintanya itu.
Kedua mobil itu pun melaju menuju kediaman Rahardian lebih dulu.
__ADS_1
'Kenapa perasaan ini begitu gelisah, Semoga tidak akan terjadi apapun.'
Batin Yara kemudian berusaha memejamkan mata. Wanita itu merasa lebih tenang karena Erza selalu ada di sisinya. Seperti saat ini, Erza terus menggenggam erat tangannya memberikan ketenangan untuk dirinya.
Di tempat lain.
Syafa tengah menunggu tindakan yang sedang dilakukan oleh dokter pada papanya di ruang UGD.
Selama itu pula Afkar menemaninya. Keduanya saling diam. Mereka sibuk dengan pemikirannya masing-masing.
Afkar berdiri dari duduknya dan pamit pada Syafa. Tapi tidak ada balasan sama sekali dari wanita itu. Syafa masih sibuk dengan pemikirannya sendiri. Afkar pun memakluminya, pria itu pun menjauh, lirikan setingkat Syafa lakukan detik berikutnya ia kembali fokus melihat ke rumah UGD.
'Semoga tidak terjadi sesuatu pada papa!'
Batin Syafa, ia terus berdoa untuk keselamatan Pak Rio.
Setelah mendapatkan makanan dan minuman untuk dirinya dan Syafa. Afkar hendak kembali menemui wanita yang masih berstatus sebagai istrinya itu. Langkahnya terhenti mengingat Erza. Pria itu ingin memberi kabar pada Yara tapi lebih baik untuk memberitahu kepada Erza terlebih dulu.
Beberapa kali Afkar mengunjungi nomer Erza, tetapi gagal. Dan mengirim pesan adalah jalan terbaik. Afkar berharap Erza akan membaca pesan darinya saat ponselnya aktif nanti. Pria itu tidak tahu kalau Erza, Yara dan keluarganya sudah sampai di Indonesia malam itu.
"Yara ...," gumam Pak Rio pelan dengan napas yang tersengal-sengal. Pak Rio sedikit memberontak karena tidak mau dipasang berbagai alat di tubuhnya.
Dokter yang sedang menangani pria tua itu mengelengkan kepala dengan reaksi Pak Rio.
"Apa ada keluarga yang menunggu bapak ini?" tanya dokter yang menangani Pak Rio.
"Ada anak dan menantunya di depan, Dok!" jawab suster yang membantu di dalam ruangan itu.
"Panggil saja anaknya! Kita tidak bisa memaksakan pemasangan alat kepadanya," ujar sang dokter.
"Baik, Dok!"
Suster pun berlalu dari hadapan sang dokter. ia segera keluar dari ruangan untuk memberitahu apa yang terjadi di dalam ruangan.
Pak Rio meraih tangan dokter yang menanganinya. "Aku ingin bertemu dengan Yara!" ucap Pak Rio.
"Sabar, ya, Pak! Kita sedang memanggil putri bapak, sekarang pakai alat bantu napas ini supaya bapak bisa bernapas dengan baik. Saya tidak akan memaksakan jika Pak Rio menolak untuk pemasangan alat itu. Banyak beristighfar dan menyebut nama Allah." Dokter yang menangani Pak Rio sedikit menenangkan pria tua itu.
Pak Rio mengangguk. "Astaghfirullahaladzim," ucap Pak Rio berulang kali mengikuti perintah sang dokter.
.
.
.
To Be Continued
Selamat siang. maaf buat semua pembacaku, 3 hari tidak up. Author mengalami kendala dalam penglihatan. sakit mata yang begitu menyiksa membuat Author harus off beberapa hari kemarin. bengkak dan berair mungkin karena pekerjaan selalu di depan layar hape jadi begini. Jangankan buat ngetik sambil liatin layar, melek aja linu.
Tapi perlahan cerita ini terus lanjut ko sampai selesai. Dan hari ini perlahan membaik. Do'akan ya!
Dukung terus ceritanya juga ya ..
terima kasih.
__ADS_1