
Yara masuk ke kamar Pak Setyo dengan pelan dan hati-hati. Ia tidak menu mengganggu waktu istirahat mertuanya itu. Tapi saat Yara membuak pintu, dilihatnya Pak Setyo memang memandang ke arah pintu. Beliau mengedipkan matanya kepada Yara.
Meski tidak berbicara Yara paham maksudnya apa.
"Bapak, sehat?" Sapa Yara yang menyalami tangan pria paruh baya itu.
Lagi-lagi hanya kedipan mata yang Yara dapatkan.
Yara lekas mendudukan diri di bangku yang ada di samping tempat tidur. Tanpa basa basi, Yara lekas mengutarakan niatnya yang pernah ia ucapkan sebelumnya pada Pak Setyo.
"Yara akan pergi ke kota hari ini, Yara minta ijin dan ridho dari bapak," Ucap Yara pelan.
Tak kuat menahan sedih, Yara menumpahkan air matanya di hadapan Pak Setyo.
"Maafkan Yara, Pak. Maaf jika semua jadi seperti ini. Mungkin benar kata ibu ... Yara adalah pembawa masalah untuk keluarga bapak," Ucap Yara sambil tertunduk, bahunya naik turun seiring tangis.
"Mungkin sudah saatnya Yara ikut bertanggung jawab atas musibah ini!" Yara kembali mendongak mentap Pak Setyo
yang ikut berkaca-kaca menatapnya.
"Bapak cepat sembuh ya! InsyaAllah bapa akan terus berobat jalan. Bapak tidak perlu khawatir soal biaya. Yara sudah akan memberikan uang tabungan Mas Afkar buat pengobatan, Bapak!"
__ADS_1
Terlihat Pak Setyo sedikit menggelengkan kepalanya. Yara sedikit paham respon dari Pak Setyo.
"Jika Mas Afkar ada di sini, dia pasti setuju, Pak! Yara juga ikhlas. Asal bapak bisa sembuh lagi," Ucap Yara sambil memegangi tangan Pak Setyo yang mulai terlihat kurus. Berat badannya cepat sekali merosot sejak kejadian itu, susah makan dan sulit tidur itu yang dialami Pak Setyo. Mungkin beliau tengah merasa khawatir soal Afkar.
"Bagus kalau kamu melakukan itu, memang sudah seharusnya kalian membantu pengobatan, bapak!" Celetuk Bu Nuri yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar dengan membawa semangkuk bubur di tangannya.
Bu Nuri hendak memberi makan Pak Setyo, Dia menyuruh Yara bangkit dari duduknya agar ia bisa gantian duduk di sana.
"Coba minggir!" Sentak Bu Nuri. Mertua perempuannya itu langsung duduk di bangku yang tadi Yara tempati.
Yara bangkit dari dudunya, sambil memperhatikan apa yang akan Bu Nuri lakukan.
"Ah, iya, Bu! Maaf, Yara tidak tahu!" Yara segera melakukan apa yang disuruh Bu Nuri, membantu Pak Setyo agar kepalanya sedikit terangkat dan mengganjalnua dengan bantal.
"Masa tidak tahu, makanya tinggal di sini jika suami tidak ada. Ini malah pulang, sengaja ya, tinggal di sana tanpa suami. Biar bisa deket sama pria lain," celetuk Bu Nuri.
"Astaghfirullahalazim, Bu. Kenapa berpikir seperti itu? Yara mana mungkin melakukan itu. Alasan Yara jarang kesini karena tanggung jawab Yara sama pesanan tetangga, kemarin Yara baru menyelesaikan semuanya, karena Yara hari ini akan pergi ke kota. Yara tidak mau meninggalkan tanggung jawab itu," balas Yara.
"Kamu berani sekarang menimpali ucapan ibu, ya!" Bu Nuri menggelengkan kepala. "Ternyata ini sikap kamu sebenarnya Ayara!" Bu Nuri sampai berdiri dengan manik mata yang menatap tajam pada Yara.
"Ya Allah, Bu. Maaf, bukan maksud Yara menimpali. Tapi Yara hanya meluruskan apa yang ibu pikir buruk terhadap Yara. Maaf jika membuat ibu tersinggung." Yara hendak menyentuh tangan Bu Nuri untuk meminta maaf. Tapi tepisan dari mertua perempuannya itu begitu kasar membuat Yara sedikit terhuyung karenanya.
__ADS_1
Mendengar keributan terjadi lagi di dalam kamar. Mira dengan cepat melangkah ke sana. Langkahnya terhenti sejenak. Ia menyuruh Dhiya agar gadis itu pergi ke samping rumah. melihat para pekerja yang sedang menjemur gabah di sana.
"Dhiya, kamu ke samping rumah dulu, ya! Maen sama Paman Yono.
Dhiya mengangguk pelan kemudian langsung berbalik badan berjalan ke samping rumah. Dhiya sangat senang saat membantu Paman Yono mengumpulkan gabah kering ke dalam karung. Setiap kali gadis kecil itu melakukannya. Eyang kung nya selalu melarang. Kata beliau, gabahnya merang kalau belum di giling. Bisa gatal nanti.
Sekarang, Dhiya merasa senang karena tidak ada yang melarang. Sebab eyang kung sedang terbaring lemah di tempat tidur. Gadis itu berjalan dengan ceria menghampiri Paman Yono.
Melihat Dhiya pergi menjauh. Mira masuk ke dalam kamar.
"Ada apa, Bu? Kenapa harus berbicara dengan nada tinggi seperti itu? Suara ibu sampai terdengar sampai keluar kamar!" Tanya Mira saat memasuki kamar yang pintunya sudah terbuka.
Yara hanya bisa menundukkan kepala menahan sedih. Sungguh dirinya merasa tidak berarti dan tidak berguna berada di tengah keluarga suaminya.
.
.
.
Bersambung.
__ADS_1