Ikhlasku Melepasmu, Mas!

Ikhlasku Melepasmu, Mas!
Tumben Sekali Dia Mau Jemput


__ADS_3

Hari berlalu begitu cepat. Penjemputan paksa Mira di rumah mertuanya menjadi hari terakhir di mana Mira menjadi seorang menantu di sana. Orang tua dari Agung, suami Mira baru mengijinkan Mira untuk di bawa setelah Afkar menyetujuinya perjanjian yang harus disepakati Mira.


Dengan beberapa syarat, Mira bisa di bebaskan dari rumah mertuanya. Bahkan dengan status baru, seorang janda dari Agung. Mira di talak Agung melalui sambungan telepon. Sebab jika tidak dengan perjanjian seperti itu. Jabatan Agung serta nama baik keluarganya akan hancur.


Afkar memilih menyetujuinya. Sebab saat ini pun sedang banyak sekali beban yang dipikirkan Afkar. Pria itu ingin segera pergi dari sana.


Seminggu telah berlalu. Mira berhasil di bawa dari sana. Kini Mira ikut tinggal bersama Afkar dan Syafa.


"Makan dulu, Nak!" Ucap Bu Nuri sambil membawa sepiring makanan ke kamar Mira. Kamar yang pernah ditempati oleh Yara.


Tidak ada jawaban sama sekali dari Mira. Putrinya itu terus diam tak bersuara. Mira malah menangis sambil memeluk kakinya yang ditekuk.


"Kenapa Mas Agung tega sama aku, Bu? Dia lebih memilih bersama wanita itu di Bandung denganku. Kenapa aku tidak kunjung hamil juga? Kalau aku hamil pasti Mas Agung akan kembali padaku, iya 'kan?" Mira berbicara sambil meraih tangan Bu Nuri dan menggoyang-goyang nya.


Bu Nuri sampai tidak bisa menahan piring yang ada di tangannya. Sehingga piring itu jatuh ke lantai.


Prang ...


piring yang ada di tangan Bu Nuri jatuh dan pecah. Membuat makanan jatuh berserakan.


Mira melihat ke arah piring itu. Ia lekas menatap Bu Nuri.


"Ibu ini bisa kerja dengan baik tidak, masa pegang piring saja tidak becus. bisanya ibu apa sih," Teriak Mira, sikapnya langsung berubah dari sedih menjadi kasar seperti itu. Ia tertawa sendiri, kemudian meraih makanan yang ada di lantai.


"Itu kotor, Nak!" cegah Bu Nuri saat Mira akan memasukan makanan itu ke dalam mulutnya. Bu Nuri menahan tangan Mira dan membuang makanan yang ada di telapak tangannya.


"Hentikan, Bu! Sekarang jangan mencoba melarang aku lagi. Ini hidup aku, benar atau tidak pun aku yang akan jalani. Ibu tidak berhak mengatur-ngatur lagi hidupku!" Sentak Mira pada Bu Nuri.


Perubahan sikap Mira terjadi begitu cepat.


"Ya Allah Gusti, kenapa kamu jadi seperti ini, Ndo!" lirih Bu Nuri yang tidak tega melihat Mira.


Anak perempuan nya itu terlihat seperti depresi.


Dhiya yang biasanya dekat dengan Mira merasa takut dengan perubahan sikapnya yang selalu berubah. Kadang menangis, tertawa dan berteriak memanggil nama suaminya.

__ADS_1


Syafa sengaja mendatangkan dokter untuk memeriksa keadaan Mira. Dokter sangat menyarankan agar adik iparnya itu dirawat di rumah sakit jiwa. Sebab mentalnya sedang tidak baik-baik saja.


Dan sesuai keputusan bersama hari ini Mira di bawa ke rumah sakit jiwa daerah Cilendek, Jakarta. Awalnya Mira menurut tapi setelah tahu dia dikurung. Mira berteriak dan meminta ampun.


"Ampun, Ma. Mira janji akan menurut. Mira janji akan menyetujui pernikahan Mas Agung dengan wanita itu. Tapi jangan kurung Mira di sini! Ibu ... Bapak ... Tolong aku!" teriak Mira.


Bu Nuri begitu sakit mendengar ucapan Mira. Dengan berat hati mereka meninggalkan Mira di tempat itu, semua demi kebaikan Mira sendiri agar mendapatkan perawatan terbaik. Sebab jika tetap tinggal di rumah. akan membahayakan Syafa yang sedang hamil dan Dhiya. Sebab setiap melihat anak kecil dan wanita hamil. Mira selalu berteriak dan melemparkan barang yang ada di sisinya ke arah Syafa dan Dhiya.


"Bunda ...." Dhiya berucap pelan, anak itu merindukan Yara.


Hampir dua Minggu tidak bertemu dengan bundanya. Saat ini, Syafa dan Dhiya berada di dalam mobil menunggu Afkar dan Bu Nuri yang masih berada di dalam.


"Kamu kangen sama bunda?" Tanya Syafa pada Dhiya.


bocah kecil itu tidak menjawab. dia hanya bisa diam. Dhiya terlihat seperti bahan tekanan.


"Kalau kamu rindu sama bunda, Mamih akan mengantarkan kamu bertemu sama dia. Kamu mau?"


"Mau ...." Balas Dhiya dengan suara pelan karena takut?"


Dhiya mengangguk membalasnya.


Di tempat lain. Yara semakin bisa beradaptasi dengan pekerjaannya.


Bu Haryani mengarahkan Yara untuk mengasah bakatnya.


Ruang kerja Bu Handayani menjadi tempat favorit untuk Yara selain di dapur. Banyak desain pakaian yang sudah Yara buat. Sesekali Yara juga menghubungi Kak Ima untuk memberitahukan keberadaannya. Yara memutuskan untuk tinggal bersama Bu Haryani. Yara tidak mau Afkar berusaha menemuinya.


"Sesekali pergilah keluar jangan di rumah terus," tegur Bu Handayani saat wanita itu masuk ke dalam ruang kerja.


"Iya, Bu. sebentar lagi kelar! Aku akan keluar, nanti." balas Yara sembari meletakkan pensil yang dipegangnya.


Bu Haryani tersenyum. "Aku ada janji dengan teman dekat ku di cafe, tempatnya tidak jauh dari sini. Kamu aku ikut?" Ajak Bu Handayani.


Yara menggelangkan kepalanya pelan. "Aku di rumah saja, Bu," jawabnya.

__ADS_1


"Kalau begitu aku pamit, mungkin besok atau lusa teman baikku. Dia juga akan berkunjung ke sini.Nanti tolong bantu ibu masak untuk dia ya?" pinta Bu Handayani.


Anggukan dari Yara membuat Bu Handayani merasa senang. Wanita itu lekas pergi menuju tempat janjinya bersama temannya.


Setalah kepergian Bu Haryani. Sudah saatnya Yara beristirahat dari kegiatannya seharian ini. Ia ingin rehat sejenak. Tapi menghentikan pekerjaan dan bersantai malah membuat Yara kembali teringat dengan Dhiya. Itu sebabnya Yara tidak mau diam. Apapun ia lakukan di rumah Bu Handayani demi mengalihkan rasa rindunya pada Dhiya. Selain menggambar design pakaian, Yara sering mengisi kegiatan dengan memasak. Bu Haryani bahkan ketagihan pada masakan Yara. Karena itulah dia mengajak sahabat baiknya untuk berkunjung ke rumahnya. Dengan imbalan akan mengajak makan enak di rumahnya.


Di cafe.


Sudah setengah jam lebih dua wanita berumur mengobrol santai di cafe Blackwhite.


"Aku mau ke rumahmu tapi janji berikan aku design baju untuk calon menantuku nanti!" ucap Mama Anggi.


"Emang, anakmu itu anak menikah?" Celetuk Bu Haryani.


Mendengar itu, Mama Anggi menekuk wajahnya dengan pertanyaan Bu Handayani. Ia sadar kalau anaknya bahkan tidak mempunyai calon istri


"Doakan saja agar segera terlaksana." "Aamiin," jawab Bu Handayani singkat.


Dan pertemuan itu berakhir saat kedua sahabat itu bersama saling mengobrol ringan soal kehidupan mereka.


Mama Anggi juga curhat soal anak sulungnya yang tak kunjung ingin menikah. Padahal usianya sudah matang. Dengan berbagai usaha yang sedang digelutinya selama ini.


"Sepertinya hari semakin sore. Aku pamit duluan ya, Nggi!" Ucap Bu Haryani. "Kamu mau pulang bersamaku?" Bu Handayani menawarkan tumpangan.


"Ah .. Tidak perlu. Aku akan pulang bareng sama Erza," tolak Mama Anggi.


"Tumben sekali Erza mau menjemput," Bu Haryani heran mendengarnya.


"Putraku sedang patah hati sepertinya, Har. Hampir dua minggu ini, dia selalu pulang ke rumah." Mama Anggi merasa kasihan pada Erza.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2