
"Apa kabar?" Sapa Afkar saat pria itu berada dekat di depan Syafa. Senyumnya mengembang saat melihat wajah manis yang ia nantikan dari tadi pagi itu. Afkar begitu semangat sampai langsung menghubungi Uda Malik untuk ijin kerja lagi hari ini. Padahal kemarin dia sudah ijin pulang cepat.
Tidak ada jawaban dari Syafa. Dirinya malah mendapat tatapan tak biasa dari wanita cantik di hadapannya itu.
Saat ini mereka saling berhadapan. saling mantap dalam kerinduan.
"Kenapa keadaanmu jadi seperti ini, Mas?" Tanya Syafa yang begitu terkejut dengan kondisi Afkar saat ini. Suaminya pincang saat berjalan.
Afkar tersenyum miring. "Ya memang seperti ini sekarang, cacat," jawab Afkar. "Bagiamana kabarmu? Kamu benar-benar hilang bak ditelan bumi, Fa," lanjut Afkar.
"Maaf, Mas."
"Tidak perlu minta maaf, aku yang salah. Aku sudah membuat mu kecewa dengan kelakuan bejat ku waktu itu," sela Afkar.
Afkar mencari pegangan untuk dia berdiri. Semenjak kecelakaan itu, Afkar tidak kuat berdiri lama. Syafa pun memperhatikan sikap suaminya.
"Lebih baik kita duduk saja, Mas!" Syafa hendak membantu Afkar untuk duduk tapi Afkar menolaknya.
"Aku bisa sendiri, Fa." tolak Afkar. Kemudian berjalan bersamaan dengan Syafa menuju sofa. Wanita itu menaruh file yang dipegangnya ke atas meja lebih dulu.
"Hati-hati, Mas." Syafa membantu Afkar duduk di sofa.
"Terima kasih, Sayang." Tiba-tiba Afkar memanggil Syafa dengan panggilan yang biasa ia ucapkan dulu. Syafa langsung mundur perlahan dan duduk menjauh dari Afkar.
Afkar dapat melihat perubahan sikap Syafa. "Maaf, jika kamu merasa tidak nyaman dengan panggilan itu sekarang ini." Afkar meluruskan kaki kanannya karena tidak bisa duduk dengan posisi normal. Masih ada rasa ngilu yang ia rasakan pada kakinya itu. Afkar pun sedikit meringis. Dan Syafa kembali melihat pemandangan yang mengiris hatinya.
"Maaf, jika aku tidak bisa menjadi istri yang baik untuk kamu, Mas. Maaf saat di rumah sakit waktu itu aku pergi meninggalkan mu," ucap Syafa sambil tertunduk tanpa berani memandang lawan bicaranya.
"Kamu tidak perlu minta maaf, Fa. Aku juga salah. Aku telah mengkhianati pernikahan kita waktu itu. Kamu pantas meninggalkan ku. Maafkan semua sikapku saat diri ini masih mengalami hilang ingatan. Aku ingat dan aku malu dengan sikap serakah ku itu.Tapi semua telah ku kembalikan atas namamu, Fa. Aku telah mengembalikan sesuatu yang memang bukan milikku," ucap Afkar seraya memandangi wajah Syafa yang tertunduk. "Dan sekarang aku ingin memperbaiki semuanya. Aku sangat berharap kita bisa kembali bersama,"
Syafa lekas mendongak menatap Afkar seraya mengelengkan kepalanya pelan.
"Tidak mungkin, Mas. Maaf kalau keputusanku akan menyakitimu. Keputusanku masih sama seperti kemarin. Aku ingin kita bercerai!" Syafa menatap tegas pada Afkar. Ia berusaha menguatkan hatinya berucap seperti itu pada Afkar.
"Apa kamu yakin dengan keputusanmu, Fa? Apa tidak ada kesempatan untuk kita bersama?"
Syafa kembali menggelengkan kepalanya. "Aku sudah memutuskan, Mas. Keputusanku sudah bulat. Tolong hargai itu dan sekarang aku meminta kamu datang ke sini hanya untuk minta persetujuan untuk penjualan rumah kita. Rumah yang pernah kita tempati bersama," balas Syafa sambil menyodorkan file berisi surat persetujuan penjualan pada Afkar dan meminta pria itu untuk menandatanganinya. "Aku harap kamu tidak mempersulit, Mas. Tolong tanda tangani ini!" Syafa berusaha sekuat tenaga untuk menahan rasa sedihnya.
__ADS_1
Berulang kali Afkar menatap manik mata Syafa dan berulang kali juga Syafa menghindarinya.
Akhirnya Afkar menyerah. Pria itu segera menandatangani surat persetujuan yang diminta Syafa.
"Papa juga ingin bertemu sama kamu, Mas. Makanya aku minta kamu datang ke sini. Kamu bisa tunggu sebentar!" Tanya Syafa sambil menutup file yang sudah ditandatangani Afkar. Sikap Syafa masih tetap sama menghindari tatapan mata Afkar. Dengan gerakan cepat Afkar meraih tangan wanita itu.
Sontak membuat manik mata mereka kembali bertemu. Syafa kembali memutusnya dengan membuang pandangan dan menarik tangannya dari Afkar.
"Fa, apa tidak ada kesempatanku? Tolong lihat aku! Aku sudah merelakan Yara dan Dhiya bersama kehidupan baru mereka. Aku juga sudah kehilangan Anindita Chairi, putri kita. Aku tidak ingin saat ini kehilangan kamu. Aku tau keinginan aku ini egois tapi apa aku salah ingin mempertahankannya?" lirih Afkar. Terlihat wajah putus asa dari pria itu.
"Anindita Chairi," ucap Syafa tak percaya.
"Ya, Dita putri kita. gadis kecil yang harus lahir sebelum waktunya. Bahkan nyawanya tidak terselamatkan waktu itu. Rencananya aku ingin mengajakmu mengunjungi makam putri kita saat kita pulang dari rumah sakit. Tapi aku malah tidak menemukan keberadaan mu saat itu sampai hari kemarin di mana kamu menghubungiku. Kamu seperti hilang di telan bumi, Fa," ujar Afkar. Ia menggeser tubuhnya agar posisinya dekat dengan Syafa.
"Aku ingin melihat makam Dita!" ujar Syafa pelan sambil memejamkan matanya. Setetes air mata tak terasa mengalir di pipinya. Sekelebat bayangan kesalahan yang ia lakukan pada Yara kembali terlintas dalam benaknya.
"Kita bisa ke sana sama-sama, Fa." sahut Afkar.
"Tidak! Aku akan ke sana sendiri," tolak Syafa. "Beritahu saja alamatnya dimana?" Syafa tetap bersikukuh dengan pendiriannya. "Andai saja waktu itu aku tidak egois. Menginginkan kamu seorang diri, andai saja aku lebih dulu tahu kalau Yara adalah adikku, pastinya aku sudah melepasmu lebih dulu sebelum semuanya seperti ini, Mas," ucap Syafa dengan penuh penyesalan.
"Semuanya sudah terjadi. Aku yakin Yara wanita yang tulus yang mampu memaafkan kita."
"Yara bukan wanita seperti itu, aku mengenal dia dengan baik. Karena itulah aku berani mengajakmu untuk Kemabli. aku tidak ingin. rumah tangga yang masih terjalin denganmu harus berakhir. Aku sungguh ingin meleraikannya."
"Tidak, Mas. perasaan bersalah itu akan selalu terbayang olehku!"
"Aku pun sama, Fa. Apa kamu pikir aku tidak menyesal dengan semua yang sudah aku perbuat. Aku sama menyesalnya. Bahkan lebih besar darimu." Afkar mengacak kasar rambutnya sendiri. Kedua tangannya berada di atas paha lalu menyangga wajah yang terlihat frustrasi itu.
"Kalian tidak bersalah. Papa yang patut disalahkan dalam kerumitan ini," ucap Pak Rio yang tiba -tiba datang dengan kursi rodanya dibantu oleh Lita, asisten rumah tangga Syafa yang baru.
'Oh, ternyata pria itu adalah suami dari Bu Syafa.'
Batin Lita yang baru mengetahui sosok suami dari Syafa.
"Loh, kenapa kamu tidak memberitahuku kalau papa akan kemari, Ta?" tegur Syafa pada Lita. Ia hendak bangkit dari duduknya dan menghampiri sang papa. Tapi dengan cepat Pak Rio mencegah Syafa berdiri dengan gerakan tangannya.
Akhirnya Syafa ikut duduk kembali di sofa sesuai perintah papa-nya.
__ADS_1
Melihat kedatangan Pak Rio, Afkar ikut bangkit berdiri meskipun sedikit kesulitan.
Afkar mendekat pada Pak Rio. Kemudian meraih tangan pria berumur yang terlihat jauh berbeda dari sebelumnya. Tubuh tinggi kekar itu, kini terlihat kurus dan ringkih. Afkar lekas menyalaminya, mencium punggung tangan mertuanya dengan takzim.
"Maafkan kesalahanku, Pah! Maaf telah melukai perasaan papa dengan menyakiti kedua putri papa. Sungguh aku tidak tahu dan tidak kuasa saat itu. Afkar kala itu bukanlah aku. Aku sungguh-sungguh minta maaf!" Afkar berjongkok dan meneteskan air mata di hadapan Pak Rio.
"Papa yang bersalah. Kalau saja, papa tidak egois menyembunyikan identitasmu. Seharusnya papa mengembalikan kamu pada istri dan keluargamu saat itu. Sudah pastinya Yara tidak akan tersakiti. Syafa pun sama. Jadi semua biang kerok masalah ini adalah papa. Kamu, Syafa tidak salah di sini! Papa yang bersalah hingga kamu mengalami kondisi seperti ini!" Pak Rio menatap kondisi tubuh Afkar.
"Aku sudah ikhlaskan semuanya, Pah. Mungkin ini sudah jadi jalan takdirku."
Pak Rio menarik Afkar ke dalam pelukannya. "Papa merasa lega telah meminta maaf secara langsung padamu, Nak. Beban dalam hidup ini terasa berkurang," ucap Pak Rio disela pelukannya.
Afkar menepuk pelan pundak mertuanya. mereka saling memaafkan satu sama lain.
Afkar lalu menoleh pada Syafa yang ikut menangis sambil melihat ke arahnya. "Aku juga harus rela kehilangan istriku untuk kedua kalinya." Afkar menatap Syafa. "Aku tunggu gugatan cerai darimu, Fa. Aku akan mengabulkan keinginanmu," ucap Afkar membuat perasaan Syafa terasa teriris. Tapi bukankah ini yang ia inginkan.
Syafa hanya bisa mengangguk pelan. "Maaf aku ke belakang sebentar!" Syafa bangkit dari duduknya dan segera berlalu dari hadapan Afkar dan Papa-nya. Ia berusaha menghindar.
Afkar melihat kepergian Syafa dengan putus asa.
Syafa berjalan cepat menuju dapur. setelah sampai, wanita itu menyandarkan tubuhnya di dinding, ia menumpahkan kesedihannya di sana. Hubungannya dengan Afkar akan segera berakhir, itulah keputusan yang Syafa buat.
Melihat kepergian Syafa, Afkar melepas pelukannya dari papa mertuanya.
.
.
.
to be continued...
Maaf kalau kurang pas alurnya.
sebetulnya tadi siang tuh udah ngetik di bab yang mengenaskan tapi tiba-tiba saja naskah hilang di draf.
dan Author harus mengulang ketikan. dan ini baru seperempat nya.
__ADS_1
Besok author lanjut lagi ya.