Ikhlasku Melepasmu, Mas!

Ikhlasku Melepasmu, Mas!
Suara Manja


__ADS_3

"Lepaskan! Kalian tidak bisa menangkap orang sembarangan. Ini hanya fitnah saya bisa menuntut balik kalian," Jono berusaha memberontak saat dua pria berseragam menangkapnya di rumah pagi hari sebelum Jono pergi bekerja. Istri dan anaknya menangis menyaksikan penangkapan tersebut.


"Anda bisa menjelaskannya nanti!" Ucap salah satu dari pria berseragam itu.


"Saya bilang lepaskan!" Jono terus saja memberontak.


"Kamu harus bertanggung jawab atas perbuatan kamu selama ini, Jon!" Ucap seorang pria yang baru saja datang ke sana.


Jono sangat mengenali suara itu. pria itu adalah Uda Malik pemilik toko di mana dirinya bekerja. Beliau datang bersama dengan Afkar.


"Pak Malik," Jono menatap bosnya lalu beralih pada Afkar dan menatap tajam pada pria itu. Jono lekas kembali menatap Uda Malik. "Apa maksud Anda, Pak? Kenapa saya harus bertanggung jawab?" Jono berpura-pura bodoh.


Uda Malik memperlihatkan beberapa kecurangan yang Jono lakukan bahkan video kecurangan yang ia lakukan semalam dengan dua orang yang membantunya.


Tatapan mata Jono membulat saat melihat aksi yang ia lakukan ternyata terekam kamera. Bahkan saat dirinya menyembunyikan beberapa golong bahan selundupan di sebuah gudang kosong tak jauh dari toko milik Uda Malik.


"Kamu tidak bisa mengelak lagi, Jon. Kejadian tempo hari yang melibatkan aku juga kamu 'kan yang melakukannya?" Ucap Afkar membuat Jono tidak bisa mengelak lagi.


"Kurang ajar! Lu sengaja ngelakuin ini semua buat menjebak gue!" Jono berusaha memberontak untuk mendekati Afkar. Tapi kedua petugas itu dengan sekuat tenaga menahannya.


"Sudah cukup! Saya masih menghargai kamu, Jon. Saya memberi pilihan untuk semua yang berbuat salah saat menghilangkan barang toko. Tapi kalau seperti ini keadaannya saya rasa untuk mengganti barang-barang yang sudah hilang dan mungkin sudah kamu jual entah ke mana, saya tidak bisa memberi keringanan. Apalagi perbuatan kamu termasuk tindakan kriminal. Lebih baik kamu mempertangungjawabkan nya di penjara," ucap Uda Malik membuat Jono merasa tidak terima.


"Tidak, saya tidak mau masuk penjara. Bagaimana dengan istri dan anak saya, Uda? Tolong maafkan saya! Saya lebih baik membayar kerugian toko dengan mencicilnya, Pak. Saya janji tidak akan berbuat seperti itu lagi. Tolong ampuni saya!" Teriak Jono. Ia tidak terima dengan keputusan yang dibuat Uda Malik.


"Bawa dia, Pak! Biar pengadilan yang memutuskan hukuman apa yang pantas buat pencuri seperti Jono," titah Uda Malik pada dua petugas yang sudah memborgol kedua tangan Jono.


"Semua gara-gara lu! Gue gak bakal tinggal diem, gue bakal bales apa yang ku lakuin sama gue sekarang," teriak Jono saat dirinya diseret paksa oleh kedua petugas berseragam yang memasukannya ke dalam mobil tahanan.

__ADS_1


"Bapa, Bu!" ucap anak Jono yang masih kecil saat melihat bapaknya diseret oleh pria berseragam.


Ada perasaan iba dalam hati Afkar melihat tangis dari anak itu. "Maafkan Om, Nak. Tapi ini harus dilakukan agar bapakmu jera." Afkar mendekati anak itu dan mengusap pucuk kepalanya dengan lembut. Kemudian melirik istri Jono. "Maaf, Bu. Kejahatan yang suami Anda lakukan harus dihentikan. Selain membuat rugi toko. Suami Anda juga melakukan banyak melakukan penjualan barang haram," Afkar menjelaskan.


Isak tangis terdengar dari istri Jono. "Saya benar-benar tidak menyangka suami saya seperti itu. Tapi kemana uang yang dihasilkan, Saya merasa tidak pernah menerima uang besar dari dia. Setiap hari dia hanya mengeluh cape dengan pekerjaannya. pulang pun selalu larut pagi," keluh istri Jono.


Dan sebagai gantinya wanita itu harus menggantikan kerugian yang Jono lakukan. Pilihannya diganti semua secara langsung atau dengan mencicilnya. Hal ini sudah mutlak dilakukan sesuai aturan yang ada. Uda Malik memberi keringanan dengan mempekerjakan wanita itu di tokonya dengan kewajiban gaji yang harus dipotong tiap bulannya untuk menggantikan barang yang telah diselundupkan oleh Jono.


Istri Jono pun menerima keputusan itu. Sebab dengan mengganti uang semua secara langsung, wanita itu tidak sanggup. Jadi pilihan kedua 'lah yang ia pilih.


Setelah menunggu kesepakatan yang dibuat Uda Malik dan Istri Jono. Afkar dan Uda Malik pun kembali toko. Pemilik toko itu sangat berterima kasih kepada Afkar karena telah mengusut tuntas penyebab kerugian yang selalu terjadi setiap bulan pada tokonya.


"Ini sudah kewajiban saya untuk itu, Uda. Kalau tidak begini bukan hanya saya yang akan jadi korban kambing hitam oleh Jono. Bisa jadi karyawan lain juga akan kena imbasnya," ujar Afkar.


"Apapun itu, saya berterima kasih pada kamu. Ya sudah sekarang kerja seperti biasa. Sandy yang akan menggantikan posisi Jono, untuk istrinya nanti karena dia seorang wanita. Biar dia yang mencatat keluar masuk barang," ujar Uda Malik.


"Anda sungguh berbesar hati pada istri tersangka, Pantas saja toko ini selalu maju dan sukses," puji Afkar.


Rutinitas jual beli pun kembali dilakukan. Toko Uda Malik Tekstil semakin ramai oleh pengunjung. Beberapa pekerja pun di tambah untuk membantu pelayan jual beli itu. Afkar dengan ramah melayani semua pengunjung yang datang.


"Ben, tolong gantikan aku sebentar!" Pinta Afkar pada Beni yang sedang merapikan golongan bahan ke tempatnya.


"Baik, Pak!"


"Di teruskan oleh pegawai lain ya, Bu. Mohon maaf sekali ada yang menghubungi sepertinya dari toko pusat," ujar Afkar pada pembeli yang ia layani.


Anggukan pun Afkar dapat dari pembeli itu. kemudian ia segera menjauh dari keramaian toko. Ia ingin segera mengangkat telepon yang dari tadi siang berdering. Sebab hari ini Afkar sudah kesekian kalinya menerima telepon dari nomer yang tidak ia kenal dengan nomer yang sama. Awalnya ingin mengabaikan karena Afkar malas berurusan dengan nomer tak dikenal. Berhubung nomer yang sama terus menghubungi. Afkar memilih untuk menerimanya.

__ADS_1


"Afkar tunggu!" Panggil Uda Malik saat Afkar hendak keluar toko. Niatnya harus tertunda sesaat. Afkar pun kembali mengabaikan telepon yang ia terima.


"Ada apa, Uda?" Tanya Afkar saat dirinya menghampiri Uda Malik.


"Saya baru saja mendapat kabar dari kepolisian. Bahwa Jono berhasil kabur dari rutan dimana dia tahan tadi pagi. Jono ikut menyelusup ke dalam mobil catering yang masuk ke dalam lapas. Jono menyandera pelayan catering dan menyamar menggantikan pelayan tersebut. Sekarang Jono jadi buronan sebelum persidangan. Saya hanya mengingatkan kamu agar berhati-hati. Tetap waspada dan jaga diri," Uda Malik memperingati Afkar.


"Terima kasih sudah memberitahu. InsyaAllah saya akan selalu berhati-hati, Uda."


"Ya sudah lanjutkan pekerjaannya."


Afkar mengangguk pelan. "Saya mau keluar sebentar, Da. Mau menerima panggilan!" Pamit Afkar.


"Oh, ya. Silakan!" Uda Malik pun kembali disibukkan dengan urusan pembayaran di meja kasir.


Afkar segera keluar dari toko. Ia penasaran dengan nomer telepon yang terus menghubunginya.


"Siapa sih? Perasaan nomer ini tidak banyak yang tahu, kecuali---"Afkar menggantung ucapannya saat ia mengingat seseorang yang tahu nomer ponselnya. Dengan cepat Afkar menggeser tombol hijau untuk menghubungi nomer yang dari tadi meneleponnya. Afkar tidak sabar untuk segera mengetahui siapa dibalik penelpon itu. Pikirannya tertuju pada seseorang.


"Assalamualaikum," sapa seseorang di seberang telepon saat sambungan telepon itu terhubung.


Suara manja yang lama tak didengar oleh Afkar. Bibirnya mengembang saat mengetahui siapa pemilik suara itu.


"Waalaikumussalam," balas Afkar dengan senyuman di bibirnya.


.


.

__ADS_1


.


To be continued


__ADS_2