Ikhlasku Melepasmu, Mas!

Ikhlasku Melepasmu, Mas!
Tak Sabar Ingin Bertemu


__ADS_3

Perjalanan dari bandara menuju kediaman Rahardian tidak membutuhkan waktu lama. Mereka Samapi di kediaman Rahardian satu jam setelahnya. Berhubung jam sudah menunjukkan waktunya beristirahat, Mama Anggi dan Papa Rangga pamit lebih dulu untuk beristirahat.


"Mama sama papa masuk dulu, ya. Rasanya ingin sekali beristirahat. Padahal sepanjang perjalanan tadi kebanyakan juga meremnya tapi beda rasanya kalau sudah berada di rumah," ucap Mama Anggi pada semuanya. Kemudian beralih menatap Azzam. "Zam, jangan tidur terlalu malam ya, Nak!" Mama Anggi mengingatkan.


"Iya, Mah," sahut Azzam.


"Za, Ra, mama istirahat duluan, ya!" ucap Mama Anggi.


"Iya, Mah! Selamat beristirahat," balas Yara.


Mama Anggi tersenyum membalasnya. "Ayo, Pah!" ajak Mama Anggi pada suaminya.


Papa Rangga menganguk setuju dan melangkah mendekati Mama Anggi. Kemudian melingkarkan tangan di pinggang istrinya tanpa malu di hadapan mereka. Papa Rangga selalu menunjukkan sayang dan perlakuan manis kepada wanita, ia ingin menunjukan kalau sayang terhadap pasangan haruslah diungkapkan dengan sikap dan perkataan seperti yang sering ia lakukan pada Mama Anggi.


"Ayo, Sayang! Papa dan mama istirahat duluan ya," gantian Papa Rangga yang pamit.


Erza dan Yara mengangguk pelan membalasnya.


Tinggal Erza, Yara, Dhiya dan Azzam di sana.


"Hoaam ... bunda, aku juga ngantuk!" timpal Dhiya. Bocah perempuan cantik yang berada di samping Erza juga ikut menguap.


"Kakak mau tidur sama bunda?" tanya Erza.


Dhiya menggelengkan kepalanya pelan. "Nggak mau, kakak 'kan sudah biasa tidur sendiri, Pah!" jawab Dhiya.


Erza pun mengacak pelan rambut Dhiya. "Anak pintar," serunya.


"Bunda antar ke kamar ya?" ajak Yara kemudian mengulurkan tangan pada putrinya. Dan di balas oleh Dhiya. Kedua wanita berbeda usia itu melangkah bersama menuju kamar Dhiya.


"Mas, aku temani Dhiya sebentar ya," ucap Yara.


Erza menganggukkan kepala membalasnya. Yara dan Dhiya berlalu dari hadapan mereka. Pria itu memilih merebahkan tubuhnya di sofa.


"Sini, Zam! Duduk di sebelahku!" titah Erza pada Azzam.

__ADS_1


Anak laki-laki itu mengikuti perintah Erza.


"Bang Erza mau aku pijitin?" Azzam menawarkan jasa pada Erza.


Seketika Erza menoleh pada Azzam. "Kamu bisa?" tanya Erza seakan tak percaya.


"Bisa tapi tidak ahli. Papa Rangga sering aku pijitin!" ujar Azzam.


"Wah ... bolehlah kalau begitu!" Erza nampak bersemangat dengan penawaran yang Azzam berikan.


"Tiduran di bawah aja, Bang! Di karpet sana! Azzam menunjuk karpet yang ada di ruang keluarga. Tempat yang biasa di tempati Papa Rangga saat mendapat pijatan nyaman dari Azzam.


"Oke, kita ke sana." Erza dengan semangat menuju tempat yang di tunjuk. Kemudian dengan semangat membuka baju dan kaos, tak lupa dengan celana yang dipakainya. Erza pun segera memasang posisi tengkurap di atas karpet.


Azzam mendekat dan mengambil minyak urut yang berada di dalam kotak di sisi televisi. Minyak dan perlengkapan P3K yang lain tersedia di sana.


Azzam pun mulai mengolesi tubuh Erza dengan minyak urut. Tangan Azzam mulai memijit tubuh bagian kaki Erza.


"Yakin kamu tidak lelah, Zam?" tanya Erza takut anak itu lelah.


Tak terasa lima belas menit sudah Erza merasakan kenikmatan dari pijatan Azzam. Meskipun sedikit kurang bertenaga karena Azzam masih kecil. Erza merasakan pijatan dari Azzam cukup membuatnya merasa rileks dan nyaman.


Yara masih membantu Dhiya membersihkan tubuh dan berganti pakaian. Setelah selesai, Yara menemani Dhiya sebentar karena anak gadis itu langsung terlelap kembali.


Perlahan Yara bangkit dari tempat tidur Dhiya kemudian keluar dari kamar putrinya itu.


Wanita itu menggelengkan kepala saat melihat Erza. Suaminya itu terlihat sedang sedang menikmati pijatan dari Azzam. "Mas, kasihan Azzam loh! Dia juga pasti lelah," protes Yara saat melihat suaminya sedang mendapat pijatan dari Azzam.


"Tidak apa, Kak! Aku tidak merasa lelah sama sekali. aku juga tidak keberatan melakukan ini." Azzam menimpali ucapan Yara.


"Ya sudah kalau kamu tidak keberatan," sambung Yara. "Mas, aku ke kamar duluan," pamit Yara.


"Iya, Sayang. Sebentar lagi juga selesai," jawab Erza pada Yara. "Iya 'kan, Zam?" Kemudian Erza bertanya pada Azzam.


"Iya, Bang."

__ADS_1


Sambil menunggu Erza kembali ke kamar. Yara membersihkan tubuhnya lebih dulu. Tak lama setelah selesai mandi Yara mempersiapkan pakaian ganti untuk suaminya nanti.


Yara tersenyum melihat kesekeliling kamarnya. Tidak ada yang berubah di sana. Kamar itu selalu terawat, bersih dan rapi. Yara meraih tas kosmetik miliknya. Lalu mengaplikasikan beberapa skincare pada wajahnya.


Meskipun sedang hamil, tapi Yara tidak lupa untuk merawat kecantikannya. Semenjak menjadi istri dari Erza. Yara rutin melakukan perawatan untuk wajah dan tubuhnya.


Senyum mengembang di wajah Yara saat melihat benda kecil yang selalu ia bawa. Capitan rambut, hadiah dari Pak Rio.


'Pah, Yara kembali. Yara sudah memaafkan semua kesalahan papa. Yara hanya manusia biasa yang tak luput dari rasa dendam dan benci. Tapi Yara saat sadar. Allah saja maha pemaaf dan memberi kesempatan pada umatnya. Yara yang manusia biasa seharusnya mampu juga untuk melakukan itu. Yara sudah mengikhlaskan semuanya, Pah. Saat ini Yara malah sangat bersyukur dengan hidup baru ini. Kalau saja tidak ada kesalahan yang papa lakukan. Mungkin Yara tidak akan bertemu dengan Mas Erza. Suami yang paling mengerti dan berhati mulia seperti dia. Kita akan bertemu, Pah. Yara ingin merasakan dipeluk dan dimanja oleh papa, seperti yang Mba Syafa rasakan selama ini. Yara rindu kalian papa, Mba Syafa.'


Batin Yara sembari memegang erat jepitan rambut dan meletakkannya di depan dada.


Rasa rindu semakin terasa saat dirinya telah berada di Indonesia. Yara telah mengubur rasa kecewanya pada Pak Rio. Setelah berpikir jernih serta dukungan dan nasihat dari suami dan kedua mertuanya. Yara sadar, Afkar dan Mba Syafa tidak sepenuhnya bersalah. Semua kesalahan yang mereka lakukan memang berawal dari Pak Rio. Pria tua itulah dalang dari semua penderitaan Yara. Tetapi, Sebesar apapun rasa benci Yara terhadap Pak Rio. Dia adalah ayah kandungnya. Pria yang ia rindukan selama ini.


Mama Anggi juga membuka hati Yara dan menasehatinya. Mengajak menantunya itu kembali menilai dengan hati. Tidak mungkin Pak Rio akan melakukan itu kalau dia tahu Yara adalah istri dari Afkar. Semua sudah suratan takdir yang harus dijalani.


Afkar tidak mungkin menikah lagi, kalau saja dirinya tahu statusnya sendiri. Apalagi saat itu Afkar mengalami hilang ingatan. Syafa memang salah, Dia egois ingin memiliki Afkar seorang diri tapi hampir semua wanita menginginkan seperti itu. Wanita tidak mau berbagi suami dengan wanita lain. Tapi sikapnya berubah saat mengetahui kalau suami yang menikahinya adalah suami dari adik kandungnya sendiri.


Mungkin dengan cara seperti itulah, takdir yang digariskan Allah untuk pertemuan Yara dan Erza. Yang terpenting saat ini Yaar sudah bahagia bersama orang yang tepat. Semua yang membuatnya kecewa pun telah mendapatkan ganjaran dari setiap perbuatan mereka. Hanya kesempatan memperbaiki dirilah yang sekarang patut di berikan.


Yara tersadar dari lamunannya.


"Aku belum mengabari Mba Syafa, sebaiknya aku kabari dulu. Agar kami bisa segera bertemu," gumam Syafa.


Wanita itu mencari ponsel miliknya. Tapi tidak ada, Yara malah melihat tas kecil milik Erza lalu Yara bergegas meraih ponsel dalam tas tersebut. Ponsel yang sengaja dimatikan itu langsung dinyalakan oleh Yara.


Beberapa detik menunggu hingga ponsel Erza menyala. Alangkah terkejutnya Yara melihat isi pesan dan panggilan tak terjawab yang terlewat beberapa jam lalu dari seseorang di ponsel Erza.


.


.


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2