Ikhlasku Melepasmu, Mas!

Ikhlasku Melepasmu, Mas!
Dhiya Hilang


__ADS_3

Bell pulang sekolah telah berbunyi. Satu persatu anak-anak di taman kanak-kanak Al Basri itu sudah di jemput orang tuanya masing-masing. Kecuali Dhiya, anak perempuan berumur 5 tahun yang masih duduk sambil mengayunkan kakinya di tempat duduk tepat di depan kelasnya.


"Dhiya belum dijemput?" Tanya salah satu guru di sekolah taman kanak-kanak itu.


Dhiya hanya menggelengkan kepalanya pelan. "Belum, Bu!" Sahut Dhiya.


"Kalau belum dijemput, tunggu sampai mamih kamu datang, ya! Jangan kemana-mana. Ibu guru mau ke ruangan dulu, sebentar! Sekalian mau menghubungi mamih kamu."


Dhiya mengangguk pelan. Kemudian dengan sabar menunggu seseorang untuk menunggunya.


Beruntung bagi Yara. Putri dari hasil pernikahannya dengan Afkar tidak rewel karena perpisahan mereka. Hanya saja banyak perubahan sikap yang Dhiya alami. Anak itu menjadi lebih pendiam. Dhiya juga lebih banyak menahan diri.


Sampai waktu berlalu hingga dia jam lebih. Guru yang mengabari Syafa hanya mengabari lewat pesan singkat saja tidak dengan cara menelponnya. Guru itu tidak tahu keadaan di rumah Syafa sedang dalam kepanikan. Sehingga guru tersebut tidak mengecek pesan yang ia kirim terbaca atau tidak oleh Syafa.


"Kenapa Mamih lama jemputnya?" gumam Dhiya merasa tidak sabar menunggu sendiri di depan sekolah.


Merasa jenuh, Dhiya berjalan pelan menuju gerbang sekolah. Ia melihat sekumpulan orang di seberang jalan sedang melihat pertunjukan topeng monyet. Wajah Dhiya sumringah saat melihat itu. Sudah lama sekali dia tidak menyaksikan atraksi dari monyet kecil yang banyak tingkah itu. Dhiya pun berjalan mengikuti kemana topeng monyet itu pergi.


Tidak ada yang melihat Dhiya keluar dari gerbang sekolah. Satpam yang biasanya berjaga pun tidak menyadari kalau Dhiya keluar dari sekolahnya.


"Kemana Dhiya?" Guru yang tadi menegur Dhiya keluar dari ruangan dan tidak melihat keberadaan anak kecil itu. Kemudian berjalan ke pos satpam untuk menanyakannya. Guru itu tidak mau sekolah tempatnya mengajar itu dianggap teledor karena mengabaikan anak muridnya.


"Pak satpam lihat anak kecil yang tadi duduk di bangku ini?" Tanya ibu guru pada Pak satpam.


"Aduh, maaf bu guru. Saya baru saja kembali dari toilet jadi saya tidak melihat ada anak kecil duduk di sana?" jawab pak satpam.


"Mungkin sudah dijemput kali ya?" pikir guru tersebut. Beliau pun kembali ke dalam ruangannya.


Di Rumah Sakit Harapan Jaya.


Di depan ruang UGD rumah sakit tersebut dua orang wanita berbeda usia terlihat cemas menunggu kabar dari dokter yang sedang bekerja untuk menyelamatkan nyawa Pak Setyo.


kesehatan Papa mertua Syafa dan mantan mertua Yara itu semakin memburuk. semenjak beliau tahu kabar perceraian antara Afkar dan Yara.


"Fa, apa kamu sudah menghubungi Afkar? Dari kemarin ibu lihat dia tidak pulang ke rumah?" Tanya Bu Nuri penasaran.


Syafa memang tidak menceritakan permasalahan yang terjadi di cafe kemarin pada Bu Nuri. Ia tidak mau kericuhan rumah tangganya tercium oleh ibu mertuanya.


"Nomer Mas Afkar tidak aktif, Bu! Mas Afkar sedang ada pekerjaan di luar kota," balas Syafa. Wanita itu harus berbohong pada Bu Nuri.


"Tumben sekali tidak pamit sama ibu?"


"Ibu sudah tidur semalam. Jadi Mas Mas Afkar tidak mau membangunkan ibu!" Selesai berucap Syafa teringat kalau waktu sudah menunjukan jam keluar sekolah. Wanita itu segera merogoh ponsel di tasnya.


Alangkah terkejutnya Syafa, saat guru pengajar Dhiya mengiriminya pesan singkat yang memberitahukan kalau Dhiya sudah keluar dari kelasnya.

__ADS_1


Syafa langsung balik menghubungi guru tersebut. Sebelumnya wanita itu pamit sebentar kepada Bu Nuri.


"Bu, aku keluar dulu sebentar. Aku lupa kalau Dhiya sudah keluar dari kelas."


Bu Nuri hanya menganggukkan kepalanya pelan wanita tua itu masih terlihat cemas dan khawatir dengan keadaan suaminya yang berada di ruang UGD.


Tak lama sambungan telepon Syafa pada guru pengajar Dhiya pun tersambung.


"Selamat siang, Bu Syafa. Ada yang bisa saya bantu?" Sapa seseorang dari seberang telepon yang merupakan guru Dhiya di sekolah taman kanak-kanak.


"Bu Fitri, tolong! Kalau Dhiya sudah keluar kelas, suruh tunggu dulu! Nanti ada supir saya menjemput ke sana. Sekarang saya sedang ada di rumah sakit!" Ujar Syafa.


Ucapannya itu membuat Bu Fitri mengerutkan alis. Bu Fitri mengira kalau Dhiya a sudah dijemput oleh orang tuanya karena anak itu tidak ada di depan kelasnya.


"Loh, bukannya Dhiya sudah di jemput ya, Bu? Tadi sih dia ada di depan kelas. Dan saya menyuruh anak ibu menunggu di sana karena saat itu saya harus menyimpan perlengkapan mengajar di ruang guru. Dan saat saya kembali menghampiri Dhiya. Anak ibu itu sudah tidak ada di depan kelas." Bu Fitri menjelaskan secara rinci. ia tidak mau salah dalam berbicara.


"Apa? Dhiya tidak ada! Ibu ini gimana sih? Seharusnya tunggu sampai ada yang menjemput!" Bentak Syafa. wanita itu terlihat sangat khawatir. "Dhiya kamu kemana, Nak!"


Saat itu juga, Syafa langsung menghubungi Afkar. Wanita itu berharap suaminya, mengaktifkan ponselnya kali ini.


Syafa semakin kesal pada Afkar. Ponselnya masih saja tidak aktif. Syafa mencoba menghubungi asisten Afkar di kantor.


Beruntung bagi wanita itu, Miko langsing bisa dihubungi.


"Selamat siang, Bu Syafa!" Sapa Niko dari seberang telepon.


"Kebetulan saya berada di kantor, Bu! Ada apa, ya?" sahut Miko penasaran.


"Apa Mas Afkar datang ke kantor hari ini?' Tanya Syafa lagi.


"Sepertinya belum, Bu. Pagi tadi Pak akrab langsung menuju gedung pertemuan di daerah Kedoya. tapi beliau tadi mengabari saya kalau memang beliau berada di sana. Setelah acara selesai mungkin akan langsung ke kantor. Mungkin ada yang bisa saya bantu, Bu?"


"Tolong sampaikan pada dia. Hubungi saya segera!" Titah Syafa dengan tegas pada Miko.


"Siap, Bu!" sahut Miko.


setelah sambungan telepon terputus Syafa menghela nafas berat. Wanita yang tengah hamil 4 bulan itu merasa bingung harus berbuat apa.


Di dalam sana Bu Nuri sedang menunggu Pak Setyo yang semakin kritis. Sedangkan di luar, Syafa harus mendapat kabar hilangnya dia dari sekolah. Padahal baru 2 bulan ini, anak itu mengikuti pelajaran di taman kanak-kanak.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Pikir Syafa. "Yara, ya ... Dia harus tahu kabar hilangnya Dhiya." Syafa pun segera menghubungi Yara. Tapi sayang sudah beberapa kali mencoba menghubungi nomor Yara. tetap tidak tersambung.


"Kenapa hari ini orang-orang sulit dihubungi?" Dengus Syafa kesal. Hari ini dirinya harus mengambil keputusan sendiri.


"Papa ... Aku butuh bantuanmu kali ini. Meskipun hari ini masih kecewa tapi aku yakin kalau dia bisa membantuku." akhirnya Syafa mau menghubungi Pak Rio. Sebelumnya, wanita itu juga merasa kecewa dengan papa-nya. Sebab Syafa merasa dibohongi soal identitas Afkar. Kalau Syafa tahu Afkar sudah menikah. Dia tidak akan menyetujui pernikahannya dengan Afkar, dulu.

__ADS_1


Di kantor Afkar.


Seorang wanita dengan pakaian yang sebegitu minim masuk ke dalam ruangan Afkar tanpa permisi dulu kepada Miko.


"Tunggu! Pak Afkar sedang tidak ada di tempat. Anda juga harus membuat janji terlebih dulu kalau ingin bertemu dengan beliau." Miko mencegah Alecia masuk ke dalam ruangan.


"Aku sudah membuat janji pribadi dengan Afkar!" Ucap Alecia.


"Jangan bercanda, Nona! Semua pertemuan Pak Afkar dengan siapapun harus melalui aku lebih dulu." Miko tidak percaya dengan ucapan Alecia.


Wanita itu seakan tidak peduli dengan ucapan Miko.


Ia terus memaksa masuk ke dalam ruangan Afkar.


Tak berselang lama. Afkar tiba dikantornya. Pria itu melangkahkan kakinya dengan cepat. Amarah masih menguasai diri. Kekesalannya pada Erza masih belum reda. Afkar tidak mau terkalahkan oleh rival-nya itu.


Afkar tidak menyadari seseorang yang membuntutinya melaporkan keberadaan dirinya pada seseorang.


"Dia sudah berada di kantornya, Tuan!" Ucap seseorang pada Pak Rio.


"Kerja yang bagus," ucap Pak Rio dengan bangga.


Setelah mendapatkan keberadaan Afkar. Pak Rio segera pergi menuju kantor menantunya.


"Saya akan memberi pelajaran pada dia karena telah berani bermain api di belakang putriku!" Geram Pak Rio sembari mengepalkan tangannya. Pak Rio ingin segera bertemu dengan Afkar. Ia ingin sekali memberi pelajaran pada menantunya itu.


Perdebatan yang masih terjadi antara Alecia dan Miko masih berlangsung.


"Ada apa ini?" tegur Afkar tegas. kemudian beralih menatap Alecia. "Kamu sedang apa di sini? Aku pernah bilang jangan pernah datang ke kantorku!" sentak Afkar.


Alecia langsung menarik Afkar masuk ke dalam ruangan yang ada di depannya.


"Jangan terima tamu, siapapun itu!" Perintah Afkar tegas dengan manik mata yang tajam. Pria itu memperingati Miko saat dirinya dan Alecia masuk ke dalam ruang kerjanya.


.


.


.


.


To be Continued


Selamat malam....

__ADS_1


Like dan komen jangan lupa ya...


sambil nunggu karya ini up. mampir ke karya otor yang lain . ok.


__ADS_2