
Mobil mewah itu berhenti tepat di depan Panti Asuhan Karya Asih. Pak Rio semakin tidak sabar untuk bertemu orang yang paling cinta selama ini.
"Apa ini tempatnya, Ta?" Tanya Pak Rio.
Gita pun menganggukkan kepalanya pelan. "Ya, benar. Ini adalah alamat yang pernah Puspa berikan padaku, dulu. Aku masih menyimpannya."
Mereka berdua pun turun dari mobil. Beberapa anak panti terlihat sedang bermain di halaman. Ada pula dari beberapa anak yang menghampiri Pak Rio dan Gita. Mereka menyambut kedatangan kedua orang itu dengan ramah dan sopan.
Gita tersenyum saat mendapatkan perlakuan hangat dari anak-anak panti itu.
"Kalian pintar sekali, Saya ada sesuatu buat kalian," ucap Gita sambil berjalan menuju bagasi mobil. "Pak, tolong buka bagasinya," titah Gita kepada pak supir.
Bagasi itu pun terbuka.
Beberapa makanan dan hadiah sengaja Gita bawa ke sana untuk dibagikan kepada anak-anak panti itu. Gita juga melambaikan tangan kepada anak panti yang lain. Semua berjalan mendekat ke arah wanita itu. Gita merasa lega karena makanan dan beberapa hadiah yang ia bawa tidak kurang bahkan lebih. Wanita itu meminta pak supir membantu membawanya ke panti.
Pak Rio mengembangkan senyumnya saat melihat apa yang dilakukan oleh Gita, sahabat dari Puspa.
"Kamu seperti terbiasa melakukan hal ini." Pak Rio ikut membantu membawa sisa makanan yang ada.
Gita tersenyum membalasnya. "Setelah suamiku meninggal dan mewariskan banyak harta untukku, ya seperti inilah kegiatanku. Aku tidak mempunyai anak, jadi aku hanya ingin dekat dengan banyak anak-anak. Ya, salah satunya anak-anak panti," sahut Gita.
Pak Rio menganggukkan kepalanya. "Ayo, kita temui pemilik panti asuhan ini. aku tidak sabar ingin bertemu dengan Puspa!" Ajak Pak Rio yang berjalan lebih dulu dari Gita.
"Tidak sabar sekali pria tua ini," ejeknya.
Mereka berdua segera menuju bangunan sederhana di depannya. Hendak menemui pemilik panti asuhan itu. Pak Rio ingin segera mencari tahu keberadaan istri dan anaknya.
Pak Rio terlihat putus asa saat mendengar ucapan Bu Laras. Seorang wanita yang menyambut kedatangan Pak Rio dan Gita itu menjelaskan dengan jujur. Kalau dirinya memang belum lama tinggal di sana.
Bu Laras merupakan kerabat jauh Bu Weni. Salah satu pekerja yang ikut membantu Bu Lidia di panti asuhan ini.
"Berapa hari mereka pergi?" Tanya Gita.
"Satu minggu, Bu. Sebab salah satu anak panti harus menjalani operasi. Jadi Bu Lidia dan Bu Weni yang oergi. agar bisa saling ganti berjaga. Tapi Anda bisa menghubunginya sendiri ke nomer ponselnya."
Mendengar itu Pak Rio langsung bersemangat dan segera menghubungi Bu Lidia.
"Mohon maaf, saya tidak bisa pulang dalam waktu dekat. Sayang sekali ya, padahal saat ini adalah hal yang sudah lama saya tunggu. Bertemu dengan suaminya almarhum Mira," ucap Bu Lidia dari seberang telepon.
Mendengar itu, Pak Rio sontak menjatuhkan ponsel yang ada di tangannya.
__ADS_1
"Puspa ...," gumam Pak Rio dengan suara lirihnya. Matanya terpejam merasakan sakit. Jantungnya serasa berhenti saat itu juga. Saat mendengar ucapan Bu Lidia.
Gita yang berada di sisi Pak Rio lekas meraih ponsel itu kemudian mengambil alih obrolan mereka. Bu Lidia menceritakan secara singkat soal Mira.
Sama dengan Pak Rio, Gita pun terkejut mendengarnya. Tapi wanita itu bisa menguasai diri.
"Diana pusaranya?" Tanya Gita pada Bu Lidia.
"Kalian bisa minta antar Pak Bejo. Pria berumur yang ada di panti. Makan Mira tak jauh dari sana," ucap Bu Lidia dari seberang telepon.
"Terima kasih, informasinya. Maaf apa kita bisa bertemu, nanti? Saat anda sudah mempunyai waktu luang." lanjut Gita. Wanita itu melirik ke arah Pak Rio. Ia merasa kasihan dengan pria itu.
"Bisa, karena ada yang harus saya bicarakan juga dengan suaminya, Mira," balas Bu Lidia.
"Ok. aku akan atur waktu untuk pertemuan berikutnya. Satu lagi, sebelum kami kembali ke Jakarta. apa tidak ada foto atau apapun untuk kamu agar bisa mengenali anak perempuan Mira? Dan siapa namanya?"
"Itu salah satu keuangan Aya. Dia tidak suka berpose. Kami sama sekali tidak mempunyai foto dia di panti. Hanya ada beberapa, itupun foto saat Aya masih kecil. Anda bisa meminta Laras untuk mengambilkannya."
"Baiklah kalau begitu, Bu Lidia. Terima kasih banyak. Sayang sekali kita tidak bisa bertemu," ucap Gita masih dari seberang telepon.
"Kalau saya boleh tau, dengan siapa saya berbicara?" Tanya Bu Lidia.
"Saya Gita, sahabat Puspa. Puspa Almira Rajak."
Gita tersenyum mendengarnya.
"Saya tutup teleponnya, Sebentar lagi dokter datang untuk memeriksa anak asuh kami."
"Oh, ya. Terima kasih sebelumnya," balas Gita.
Sambungan telepon pun terputus. Gita kembali menatap Pak Rio terlihat sangat kacau setelah mendengar berita kalau istrinya sudah meninggal dunia. Dunia pria itu sekan runtuh. Baru saja harapan itu muncul kini harus hancur seketika.
Gita menepuk pundak Pak Rio. "Kita ke pusara istrimu!" Ajaknya dan hanya mendapat anggukan pelan dari Pak Rio.
Pemakaman Cijeruk, Pak Rio dan Gita berada. Pak Bejo mengantarkan dan menunjuk makan yang di cari oleh kedua orang asing itu. Selama perjalanan Gita berusaha menanyakan soal Puspa pada pria itu, tapi hasilnya nihil. Pak Bejo tidak bisa diajak berbicara serius. Setiap pertanyaan yang diberikan pasti mendapat jawaban yang tidak pasti. Gita hanya bisa mendesah berat dengan sikap Pak Bejo itu. Rasanya banyak membuang-buang waktu saja.
Saat ini Pak Rio berjongkok di depan sebuah makam. Batu nisan yang ada di hadapannya itu terukir nama seseorang yang amat ia rindukan selama ini.
Puspa Almira Rajak, dengan tanggal lahir dan tanggal wafatnya tertera di sana.
Tangan Pak Rio menyentuh baru nisan itu. Kepalanya tertunduk, Pria itu mencurahkan isi hatinya saat ini. Berbicara soal penyesalan dan kebodohannya di depan pusara Puspa.
"Maafkan aku, Puspa. Aku begitu bodoh. Sangat bodoh, tidak percaya dengan ucapanmu dulu. Sekarang kemana aku harus mencari putri kita, adik dari Syafa," ucapnya lirih.
__ADS_1
Gita, sahabat dari istrinya ikut merasakan kesedihan itu. Wanita itu hanya bisa memberi semangat pada Pria yang saat ini sedang hancur perasaannya.
"Sudahlah, kita kembali lagi ke sini. Kamu bisa mencari tahu keberadaan putrimu, nanti. Kamu tidak perlu khawatir, bukankah kata Bu Lidia dia sudah berumah tangga. Jadi pastinya dia bahagia dengan kehidupannya."
Tak ada jawaban dari Pak Rio. Pria itu masih menundukkan kepala sambil terdiam. Penyesalan memang pasti datang belakangan. Apalagi setelah kehilangan. Rasanya hidup tidak ada artinya lagi.
Harapan untuk kembali membangun rumah tangga menuju kebahagiaan di ujung senja, musnah sudah.
Pak Rio dan Gita kembali ke kota. Sepanjang perjalanan tidak ada yang keluar sepatah katapun dari Pak Rio. Pria itu terlihat tak bernyawa.
🌱🌱🌱
Sesuai dengan ucapannya semalam dengan Bi Ninis. Yara saat ini sudah ada di rumah mewah milik seorang pria yang terbiasa makan dengan masakan rumahan. Pak satpam langsung membukakan pintu untuk Yara karena sudah mendapatkan kabar dari Bi NiNis sebelumnya. Kalau ada seorang wanita yang akan menggantikannya memasak di rumah itu.
Dateng ke sana pukul setengah 6 pagi. Yara langsung berkutat di dapur. Semua bahan masakan sudah tersedia. Tidak banyak yang harus ia masak. Sebab di dapur itu ada catatan masakan yang diinginkan si pemilik rumah setiap harinya.Yara sampai menggelangkan kepala melihat list masakan yang berbeda setiap harinya.
"Selesai," ucap Yara saat tiga masakan baru saja ia selesaikan. "Aku harus segera pulang," lanjutnya ketika melihat jam di tembok dapur.
Cumi saus asam manis pedas, capcay dan perkedel. Menu masakan yang Yara masak hari ini. Semua sudah siap dan tersaji di dapur. Yara pun segera pamit pada satpam yang berjaga setelah tugasnya selesai.
Harum dari masakan matang mengganggu tidur Erza. Pria itu langsung turun menuju dapur meskipun dirinya belum mandi.
"Wangi sekali," ucap Erza saat pria itu memasuki dapur. Ia melihat masakan sudah tersaji di meja makan. "siapa yang masak? Bukannya Bi Ninis lagi libur?" gumam Erza kemudian melihat ke arah jendela. Ia melihat pak satpam sedang berbicara dengan seorang wanita. Dan tak lama, wanita itu pergi dengan motor maticnya.
Tidak peduli dengan itu, Erza langsung duduk dan mencicipi masakan yang begitu menggugah selera itu.
"Hari ini, hari libur. bolehkah makan dulu sebelum mandi," kilahnya.
Satu persatu masakan Erza cicipi.
"Eum ... Enak sekali masakannya! Tapi, kenapa rasanya beda dengan yang biasa Bi Ninis masak? Ini lebih enak!" Erza kembali meneruskan sarapannya. Erza sampai tidak sadar sudah 2 kali menambahkan nasi ke dalam piringnya.
Erza menyukai masakan Yara. "Masakan ini sesuai dengan lidah dan perutku," gumamnya lagi.
.
.
.
Masakannya sesuai dengan selera. kalau orangnya gimana nih?
Bersambung.
__ADS_1