
Setiap hari memilih kerja lembur untuk menutupi kerugian atas hilangnya beberapa gulung bahan tekstil yang sebenarnya bukan kesalahan dari Afkar. Beruntung Uda Malik mau menerima pembayaran dengan cara di cicil. Tapi Afkar tidak tinggal diam. Dia bukan pria yang menyerah begitu saja. Afkar mencari tahu siapa yang telah menjebaknya.
Hari ini Afkar sudah menyusun rencana untuk menjebak orang yang memang ia curigai selama ini. Afkar yakin kalau Jono lah yang telah berbuat jahat padanya.
Sebuah rencana telah ia susun dengan matang. Kebetulan sekali hari ini pengiriman bahan dari distributor sampai di toko. Uda Malik, pemilik toko masih mempercayakan semuanya pada Afkar. Dan kali ini kalau ada kesalahan atau kehilangan barang lagi tentunya beliau tidak akan memberi kesempatan kedua untuk Afkar dan hal ini diketahui oleh semua karyawan toko.
"Kamu tidak bisa lolos kali ini, Jon. Sudah saatnya kamu jera dengan pencurian yang selama ini kamu lakukan dengan menjerumuskan orang lain," gumam Afkar usai menyembunyikan kamera pengintai di beberapa sudut agar tidak diketahui oleh Jono. Pria yang menjadi incaran Afkar saat ini.
"Kar, Jam berapa kontainernya datang?" Tanya Jono yang baru saja masuk dari luar toko. Beruntung Afkar sudah selesai memasang kamera kecil yang telah ia sembunyikan.
Afkar mengangkat tangan untuk melihat waktu di pergelangan tangannya. "Kemungkinan sampai sini jam 8 malam nanti. Kenapa?" Tanya Afkar seraya menatap tajam pada Jono. "Kalau kamu mau pulang, silakan. Masih ada Sandy sama Beni 'kan?"
"Ah, enggak. Gue cuman nanya doang." Celetuk Jono.
"Oh, ya sudah kalau begitu lebih baik kamu pindahkan beberapa barang di belakang. Bawa ke depan sini, jadi tempat yang di belakang untuk bahan yang baru datang. Supaya ketahuan mana barang yang baru dan lama," titah Afkar pada Jono. "Segera Jon, jangan suka menunda pekerjaan. Kamu harus lebih gesit lagi kalau kerja. Kalau tidak lebih baik kamu pulang! Sandy dan Beni lebih bisa diandalkan!" Ucap Afkar tegas kemudian meninggalkan Jono dengan kekesalannya setelah mendengar ucapan Afkar padanya. Tangan Jono mengepal, tatapan matanya penuh emosi dan dendam saat menatap Afkar yang berjalan menjauhinya.
'Sialan, enak banget si Afkar tinggal nyuruh-nyuruh doang. Tapi jangan senang dulu, Kar. Sekarang adalah malam terakhir lu ada di sini. Gue bakal lakuin hal yang sama kayak dulu. Setelah itu, lu gak akan bisa kerja di sini lagi. Posisi lu bakalan beralih ke gue karena Uda Malik nggak bakal kasih kesempatan kedua buat lu. Dan pilihan yang harus diambil adalah keluar dari toko dan membayar kerugian secara full atau masuk ke dalam penjara.'
Batin Jono dengan seringai liciknya.
Waktu yang ditunggu-tunggu telah tiba. Mobil kontainer yang membawa bahan untuk Toko Uda Malik Tekstil sudah datang. Dua orang yang akan membantu aksi Jono sudah siap untuk mengelabui salah satu dari Sandy atau Beni. Supaya Jono lebih mudah menyelundupkan golongan bahan saat pemindahan bahan.
Afkar sudah bersiap dengan buku di tangannya. Jono bertugas merapikan dan menyusun bahan yang baru datang di gudang. Sedangkan Sandy dan Beni bertugas memanggul bahan dari mobil kontainer menuju toko yang ada di dalam pasar.
Afkar mencatat satu persatu bahan yang turun dari mobil. Sudah hampir sepuluh golong lebih bahan yang di bawa menuju toko.
"Ben, tolong sampaikan pada Jono. Lima golong bahan sutra tadi tolong di simpan di bagian paling depan saja. Pesanan itu untuk Tuan Almeer, dan besok pagi akan diambil. Kamu tahu sendiri pelanggan kita yang satu itu rewelnya minta ampun kalau pelayannya lama. Biar besok lebih mudah mencarinya," titah Afkar pada Beni.
"Siap, Pak!" sahut Beni.
Afkar menggelengkan kepala mendengar panggilan untuknya. Padahal umur Beni dan dirinya hanya berbeda dua tahun. Tapi Beni begitu sopan padanya. Sebab Beni menganggap Afkar adalah atasannya jadi lebih pantas di panggil bapak dari pada lu gue atau memanggil nama seperti Jono.
"Ya sudah kerjakan dengan baik. Tinggal 35 golong lagi yang belum turun. Yuk, semangat yuk! Nasi goreng spesial menunggu!" Afkar memberi semangat pada Beni. Ia menjanjikan untuk makan bersama usai kerja lembur itu.
"Semangat!" sahut Beni sambil memanggul golongan bahan dengan semangatnya.
Di tengah perjalanan Sandy dan Beni memanggil bahan masing-masing ada yang mencekal mereka berdua. Dua orang itu beralasan datang untuk membantu pekerjaan mereka sesuai perintah Afkar supaya pekerjaan cepat selesai. Ingin menanyakan pada Afkar namun Sandy dan Beni begitu sibuk dengan pekerjaan yang sedang dikerjakan oleh masing-masing.
__ADS_1
Afkar yang menunggu di dekat kontainer mulai merasa ada keganjalan. Kedua bawahannya begitu cepat membawa gulungan bahan berat menuju ke toko. Afkar sudah menduga apa yang telah terjadi saat ini. Afkar segera memberikan tips untuk supir mobil itu. Mobil box besar itu pun berlalu dari halaman pasar.
"San, tolong belikan nasi goreng spesial untuk kita makan bersama jangan lupa minumnya juga!" Titah Afkar usai semua pekerjaan selesai.
"Baik, Pak!"
"Ini uangnya. Saya tunggu di toko saja ya," ucap Afkar.
"Beli enam bungkus 'kan Pak?" Tanya Sandy.
Afkar mengerutkan alis mendengarnya. "Enam?"
"Iya sama dua orang yang tadi bantu kita ya, Ben." Sandy beralih pada Beni.
Kawan si sebelahnya mengangguk pelan. Tidak ada keberadaan Jono di sana. Sebab karyawan satunya itu masih berada di toko untuk menyusun bahan.
"Ah, iya!" sahut Afkar.
Sandy pun berlalu dari hadapan Afkar.
"Ben, antar gue, yuk!" ajak Sandy sembari merangkul Beni dan menyeretnya agar mau mengantarkan dirinya ke depan pasar untuk membeli nasi goreng untuk makan malam mereka.
"Serem cuy! Lu liat sepanjang lorong itu. Serem banget 'kan? Kalau siang sih rame tapi sekarang banyak toko yang udah pada tutup. Iseng gue jalan ke depan pasar sendirian." Ucap Sandy. "Lagian Pak Afkar kenapa nggak makan di luar aja sekalian! Malah makan di toko. Nyeremin!" sahut Sandy merasa sedikit parno berada di sana.
"Si Jono gimana? Dia sendirian nyusun puluhan golong bahan sendirian," seru Beni.
"Lah seharusnya lu bantuin sana!" Ucap Sandy.
"Dih, amnesia dia! Tadi yang minta anter ke luar toko siapa?" sungut Beni.
Sandy menggaruk tengkuk kepalanya yang tidak gatal mendengar ucapan Beni.
"Ya udah cepet yuk! Udah ada Pak Afkar ini, deh." Sandy kembali melangkahkan kakinya ber-iringan dengan Beni.
Afkar berjalan pelan menuju toko. Langkahnya beberapa kali terhenti saat mencabut kamera fortabel yang ia pasang di beberapa sudut.
Satu di tempel mengarah ke mobil kontainer, dua lagi di pasang di setiap sudut lorong menuju toko dan satu lagi di depan pintu masuk gudang. Afkar ingin melihat siapa yang telah membantu Jono berbuat licik seperti itu.
__ADS_1
Saat Afkar tiba di toko. Jono berjalan cepat menghampirinya. "Kar, gue ijin harus pulang sekarang. Anak gue panas, Sekarang mau gue bawa bertobat!" Ucap Jono beralasan.
"Tapi saya sudah beli makan untuk kita berempat!" Sahut Afkar.
"Buat kalian aja, gue udah gak nafsu."
"Ya sudah, pulang saja! kabari kalau terjadi sesuatu."
Jono segera keluar dari toko. Setelah Jono sedikit menjauh. Afkar segera menutup toko. Ia pun segera mengikuti Jono dengan sembunyi-sembunyi. Afkar ingin tahu dimana Jono menyembunyikan barang curiannya dari toko tempatnya bekerja.
Jono terlihat sangat senang dengan aksinya yang berhasil.
Tawa renyah terdengar nyaring dari Jono. Pria itu merasa bangga misinya telah berhasil.
"Mampus lu, Afkar. Besok terakhir kali lu kerja di sana. Makanya jangan suka belagu dan nyari perhatian bos. Gue bakal rebut posisi lu saat ini." Jono tersenyum licik saat semua aksinya berjalan lancar.
"Kamu tidak bisa berkutik lagi, Jon. Kelicikan mu harus berakhir saat ini!" gumam Afkar pelan saat ia berhasil menemukan tempat yang dijadikan Jono untuk menampung bahan yang dicurinya.
.
.
.
To be continued
Selamat malam
Selamat beristirahat.
sambil nunggu cerita ini update bab baru. Mampir ke karya Author yang lain yuk!
__ADS_1
Mampir ya!