Ikhlasku Melepasmu, Mas!

Ikhlasku Melepasmu, Mas!
Donor Darah


__ADS_3

“Dhiya,” ucap Afkar pelan.


Semua yang ada di depan rumah Unit Gawat Darurat itu menoleh ke arahnya. Termasuk Afkar, papa sambung dari Dhiya langsung berdiri kemudian berjalan mendekati Afkar.


“Di mana Dhiya?” tanya Erza, suami dari Yara itu mendapat kode agar dirinya diam sejenak.


Afkar menempelkan jari tengahnya pada bibirnya sendiri. Erza pun seketika diam, Afkar tengah menegaskan pendengarannya pada suara di seberang telepon. Pria itu masih bisa mendengar tangisan Dhiya.


“Berapa yang kamu mau agar putriku bisa bebas?” tanya Afkar tanpa banyak basa-basi, ia langsung bertanya pada intinya. Afkar sudah bisa menebak apa yang diinginkan oleh Jono.


Tawa renyah Jono terdengar jelas dari seberang telepon. “Pintar sekali! Lu langsung bisa menembak apa yang gue mau, Afka,” lanjut Jono.


Penasaran dengan kondisi Dhiya. Erza merebut ponsel yang ada di genggaman tangan Afkar.


Yara lalu mendekat pada Erza. Wanita itu terlihat sangat khawatir dengan keadaan Dhiya. Bu Nuri dan Mira juga ikut mengkhawatirkan Dhiya.


“Cepat katakan! Berapa uang yang kamu inginkan?” sambung Erza.


“Lima ratus juta, gue akan kirim alamatnya dan ingat jangan sampai ada pihak berwajib yang ikut saat kalian nyerahin duit itu!” ancam Joni. “Kalau sampai itu terjadi, nyawa Dhiya taruhannya. Ingat itu!”


Erza terdiam sesaat mendengar ucapan Jono. Kemudian beralih pada wanita yang berdiri di sampingnya. Mata Yara sudah berkaca-kaca saat mendengar nyawa Dhiya terancam.


“Selamatkan Dhiya, Mas,” lirih Yara.


Erza mengangguk pelan. Tangannya mengulur menghapus satu tetes air mata yang menetes di pipi Yara. Erza kembali beralih pada sambungan teleponnya.


“Cepat kirim alamatnya, saya akan segera membawa apa yang kamu inginkan, ingat juga kalau sampai Dhiya kenapa-napa aku tidak akan membiarkan kalian hidup tenang!” Erza balik mengancam.


“Gue gak bakal berbuat macam-macam asal apa yang gue perintahkan tadi lu turutin. Gue ingetin sama kalian tunggu perintah dan aba-aba dari gue kalau lu udah sampai.” Tanpa menunggu jawaban sanggup dari Erza. Jono segera menutup teleponnya.


“Lepaskan aku!” teriak Dhiya, anak kecil itu masih saja berteriak dan memberontak minta di bebaskan. Bahkan Dhiya sampai berteriak kencang dari itu membuat Jono merasa kesal karena Dhiya benar-benar tidak bisa diam.


Plak ...


Satu tamparan keras mendarat di pipi Dhiya membuat gadis itu seketika diam. Bukan diam karena takut oleh Jono. Tapi diam karena pingsan setelah mendapatkan tamparan keras dari pria itu.


“Jon, nih bocah pingsan!” Teman Jono memberitahu sambil mendekat ke arah Dhiya. “Gila mana sudut bibirnya berdarah,” ocehnya. Pria itu tidak berani menyentuh Dhiya takut gadis itu tiba-tiba tak bernyawa.


“Masa bodo, habisnya tuh anak berbisik.” Jono berjalan menjauh dari Dhiya yang pingsan karena ulahnya seakan tidak peduli. “Lu siap-siap! Bentar lagi mereka bakal datang bawa duit yang banyak buat kita berdua. Sekarang lu bantu gue cari jalan agar kita bisa cepat kabur saat mereka tiba di sini!” titah Jono. Temannya itu mengikuti langkah Jono.


“Apa sebaiknya kita obati dulu tuh bocah,” usul teman Jono.

__ADS_1


“Nggak perlu biarin aja, buang-bunag tenaga tau gak lu!”


Dan akhirnya kedua pria itu bekerja sama mencari celah yang tepat untuk keduanya kabur nanti.


Di rumah sakit.


Afkar dan Erza pergi bersama mencari keberadaan Jono yang berhasil menculik Dhiya. Dua orang pria yang Gita yang baru saja mendapat kabar soal kecelakaan yang menimpa Syafa langsung turun dari ruangan dimana Pak Rio dirawat ke ruang Unit Gawat Darurat di lantai satu.


“Bagaimana keadaan Syafa?” tanya Gita panik dan khawatir pada Yara.


“Aku belum tahu, Tan. Dokter di dalam belum selesai menangani Mba Syafa,” jawab Yara.


Mira yang ada di sisi Yara mengusap pelan tangan wanita itu. “Sabar ya, Mbak.” Yara pun menoleh ke arah Mira.


“Aku benar-benar bingung, Mir. Di dalam sana, Mba Syafa masih berjuang untuk hidup. Di ruangan lain, papa masih dalam pemulihan. Satu lagi putriku masih terancam nyawanya. Di tambah lagi suamiku yang saat ini sedang menyusul nya ke sana.” Yara terlihat sangat sedih mengingat bertubi-tubi peristiwa ia alami dalam waktu bersamaan. “Aku harus bagaimana, jika papa menanyakan keberadaan Mba Syafa?” Yara tertunduk lesu.


“Biar tante yang akan menjawabnya nanti, kamu tenang saja! Kita fokus dulu sama pencarian Dhiya sambil terus memantau kondisi Syafa. Kamu harus jaga kesehatan, ingat kamu sedang hamil,” ujar Tante Gita.


Dari ujung ruangan suara derap langkah begitu nyaring terdengar. Dua orang terlihat tengah berjalan tergesa menuju ruangan unit gawat darurat, di mana Yara dan yang lain berada.


“Yara,” panggil Mama Anggi.


Mama mertuanya itu, langsung mendekat ke arah Yara. Wanita berumur yang masih terlihat cantik itu lekas menarik Yara dalam pelukannya.


“Kenapa bisa seperti ini? Bagaimana kejadiannya? Kamu pasti sedih sekali. Oh, Sayang. Sabar ya!” Mama Anggi mengusap pelan pundak menantunya itu. Sangat terlihat jelas rasa sayang mama mertua itu pada Yara.


Melihat pemandangan itu membuat hati Bu Nuri merasa teriris. Selama pernikahan Afkar dan Yara tidak pernah dirinya bersikap manis dan lembut seperti wanita yang ada di hadapannya ini. Sikap ketus dan jute, itulah sikap yang lebih sering Bu Nuri berikan untuk Yara. Sesak di dadanya semakin membuat rasa penyesalan itu kembali ia rasakan. Bu Nuri hanya bisa tertunduk melihatnya padahal wanita tua itu ingin sekali merangkul Yara dalam pelukannya. Tapi sayang sepetinya pelukannya tidak begitu berarti di banding dengan wanita yang baru saja datang menghampirinya.


Yara melepas pelukan Mama Anggi. “Kejadiannya begitu cepat, Mah! A-aku---,” ucapan Yara terhenti saat Yara kembali menangis saat mengingat kejadian yang begitu nyata di terjadi di depan matanya.


“Sudahlah, Mah. Ajak Yara duduk dulu! Kasihan menantu kita. Jangan banyak ditanya-tanya dulu,” timpal Papa Rangga.


“Oh, ya. Maafkan mama, Sayang! Ayo, duduk dulu!” Mama Anggi merangkul Yara agar duduk di bangku besi yang ada di depan ruangan itu.


Tante Gita tersenyum hangat melihat sikap baik yang ditunjukkan oleh kedua mertua Yara.


“Aku khawatir sama Mas Erza, Mah. Dia tetap bersikeras tidak mau melapor polisi karena penjahat itu melarangnya. Aku tidak mau Mas Erza kenapa-napa,” lirih Yara sedih.


Papa Rangga ikut mendekati Yara. “Kamu tenang saja, Papa yakin Erza sudah menyiapkan semuanya. Tidak mungkin anak papa itu berangkat tanpa persiapan yang matang.” Papa Rangga ikut menenangkan Yara.


Ceklek ...

__ADS_1


Pintu ruangan unit gawat darurat terbuka. Seorang suster yang masih berpakaian lengkap dengan baju dinasnya keluar dari ruangan itu.


“Maaf apa diantara keluarga pasien ada yang golongan darahnya sama dengan Bu Syafa? Rumah sakit ini kekurangan golongan darah A, pasokan kantung darah akan dikirim dari bank darah rumah sakit sore anti sedangkan Bu Syafa membutuhkan darah itu segera. Barangkali ada diantara keluarga pasien yang memiliki golongan yang sama?” tanya suster tersebut.


“Golongan darah saya sama, Dok,” sahut Yara. “Kami bersaudara pastinya golongan darah aku dan Mba Syafa sama,” ujar Yara. Adik dari Syafa itu langsung berdiri duduknya setelah mendengar penuturan suster itu.


Sang suster menatap ke arah Yara. Pandangan matanya berfokus pada perut Yara yang membuncit karena hamil. “Mohon maaf, ibu hamil tidak dianjurkan untuk melakukan donor darah. Hal ini karena ibu dan janin memerlukan kadar zat besi yang cukup untuk mencegah terjadinya anemia, mendukung tumbuh kembang janin, serta menjaga kesehatan ibu hamil sendiri. Masih banyak anggota keluarga yang lain yang bisa mendonorkan darahnya pada pasien.”


Yara terlihat lesu mendengar penuturan suster itu.


“Golongan darah saya O sus, bukankah bisa mendonorkan darah pada golongan darah A?” Mira yang maju untuk menawarkan diri sebagai pendonor darah untuk Syafa.


“Bisa, sebaiknya Anda ikut saya ke dalam. Lebih cepat lebih baik sebab pasien membutuhkan donor darah segera.” Suster itu lekas mengajak Mira untuk masuk ke dalam ruangan. Darahnya akan langsung ditransfusikan pada Syafa.


Mira menganggukkan kepalanya pelan. Kemudian beralih menatap Bu Nuri. “Bu tunggu sebentar ya! Aku mau mendonorkan darahku untuk Mba Syafa, tidak apa ‘kan?” tanya Mira pada ibunya itu.


Anggukan pelan ia dapatkan dari wanita yang tengah duduk di kursi roda. “Iya, Nak. Tidak apa, semoga dengan kamu mendonor kan darah untuk Syafa, menantuku bisa cepat tertolong. Ibu tidak mau kehilangan lagi menantu yang baik. Cukup rasa penyesalan ibu yang besar setelah kehilangan menantu seperti Yara,” balas Bu Nuri. Wanita tua itu masih berharap kalau Syafa bisa kembali pada Afkar, putranya. Setalah itu Mira beralih pada Yara. “Aku titip ibu, Mba!” ucap Mira pada Yara yang berdiri tak jauh dari ibunya.


“Iya, Mir. Sebelumnya terima kisah sudah mau menolong Mba Syafa,” ucap Yara dengan perasaan leganya.


“Sama-sama, Mba. Aku masuk dulu.” Usai berbicara Mira masuk ke dalam ruangan itu.


Yara berjalan pelan mendekati Bu Nuri. “Bu,”panggilnya.


“Yara,” Bu Nuri mengulurkan tangannya pada mantan menantunya itu.


“Terima kasih, Bu, sudah mengijinkan Mira untuk mendonorkan darahnya,” ucap Yara saat meraih tangan Bu Nuri dan mengusapnya pelan.


“Tidak perlu berterima kasih, Nak. Itu sudah kewajiban kita untuk saling tolong menolong. Semoga Syafa bisa diselamatkan dan Dhiya bisa berkumpul kembali bersama kita di sini,” balas Bu Nuri.


“Amiin,” jawab semuanya kompak.


.


.


.


To be continued


Otor malu sebenernya. Bolong Mulu updatenya. Mohon maaf ya buat semuanya.

__ADS_1


__ADS_2