
"Kamu, ngapain di sini?" Tanya Yara heran pada Erza.
"Kebetulan lewat aja," jawab Erza santai sambil membuka helmnya.
"Teman kamu, Ra?" Tanya Bang Boy setengah berbisik pada Yara.
"Iya." Dengan cepat Erza yang membalas pertanyaan Bang Boy sebelum Yara menjawab.
"Pede, siapa juga yang berteman?" elak Yara. Wanita itu kembali fokus dengan ponselnya. Ia ingin melihat sampai dimana riwayat pemesanan ojek onlinenya.
"Kita udah berapa kali bertemu, masa masih belum berteman?" protes Erza.
Dhiya menarik-narik celana Yara. Yara pun sedikit berjongkok untuk mendengar bisikan dari Dhiya.
"Bunda, kapan kita sampai di rumah eyang?" Bisik Dhiya tanpa bisa di dengar oleh siapapun.
Anak kecil itu terlihat malu di depan orang baru seperti Erza. Sebab mereka belum pernah mengobrol sebelumnya. Hanya bertemu sesaat seminggu lalu, itupun hanya bertatap wajah saja tanpa berkenalan.
"Sebentar ya, ojek online nya belum dapat," seru Yara. Ucapannya itu terdengar oleh Erza.
"Biar aku antar!" Erza menawarkan diri.
"Tidak perlu, aku sedang menunggu ojek,' tolak Yara.
Bang Boy menggelengkan kepalanya pelan dengan sikap Yara. Wanita itu masih teguh dengan statusnya. Tidak ingin dekat dengan pria lain selain suaminya. Ya, meskipun Bang Boy sendiri seorang pria tapi dia kenal baik Yara dan Afkar suaminya.
Yara berdecak sambil bolak balik melihat aplikasi Yho-Jek nya. Tetap masih belum ada yang menerima pesanannya.
"Masih belum dapat?" Tanya Bang Boy.
Yara menganggukkan kepalanya pelan.
"Kenapa tidak menerima tawaran dari temanmu ini. Sudah semakin sore, ini juga termasuk jam sibuk. Pasti banyak yang memakai aplikasi itu. Kalau kamu terus menunggu kapan berangkat. Kasihan Dhiya," ucap Bang Boy.
Yara melirik Dhiya yang tengah berjongkok sambil memainkan tali sepatunya. Anak kecil itu sudah terlihat bosan. Yara kemudian beralih menatap Erza.
Erza pun tersenyum saat manik mata mereka bertemu.
"Bagaimana, aku siap antar ko? Memangnya alamatnya di mana?" Tanya Erza kemudian.
Yara tidak menjawab. Wanita itu terlihat sedang berpikir. Tidak ada salahnya kali ini menerima ajak Erza. Toh mereka hanya kebetulan bertemu, bisa saja besok sudah tidak lagi.
"Hei, kenapa diam?" Tegur Erza.
"Apa tidak merepotkan?" Yara balik bertanya.
"Tidak ... Tidak sama sekali." Erza segera memakai kembali helm-nya dan memberikan satu helm kepada Yara untuk dipakai wanita itu. "Gadis kecil tidak pakai helm gak pa-pa ya?" Ucap Erza pada Dhiya.
Dia terlihat malu saat Erza berbicara padanya.
"Adikmu lucu sekali!" lanjut Erza. "Ayo kita berangkat." Erza sudah bersiap dengan motornya. Tinggal menunggu Yara dan Dhiya naik di jok belakang.
Yara ingin sekali membantah ucapan Erza tapi rasanya ia malas memperpanjang obrolan dengan pria itu, pasti akan banyak pertanyaan yang keluar dari mulut Erza. Alhasil Erza masih saja salah paham. Pria itu masih mengira kalau Dhiya adalah adiknya.
Bang Boy yang mendengar itu hanya bisa tersenyum.
"Tidak pa-pa berarti kamu masih muda kalau disangka kakak dari Dhiya. Padahal sudah ibu -ibu," ledek Bang Boy sambil menggoda Yara. Membuat Yara mendelik ke arahnya.
"Umurku memang masih muda, Bang!" Dengus Yara sambil mengerucutkan bibirnya. Ia tidak terima dengan ucapan Bang Boy. Secara tidak langsung pria itu menyebut Yara tua dengan menyebut ibu-ibu.
Dhiya dan Yara sudah siap duduk di jok belakang.
"Sudah siap?" Tanya Erza.
__ADS_1
"Ya," jawab Yara singkat.
"Bang ... Saya pamit pergi!" Ucap Erza sopan pada Bang Boy.
"Ya, hati-hati. Titip Yara dan Dhiya!"
"Pasti!"
Erza pun melajukan kendaraan roda duanya dengan perasan senang. Wajahnya terus mengembangkan senyum. Tidak sia-sia perjuangan nya hari ini di kantor. Berkat sekretaris baru yang lumayan bisa diandalkan, Erza bisa pulang dari kantor lebih awal. Sebab semua pekerjaannya sudah di handle oleh Miko, sekretaris barunya itu.
Sepanjang perjalanan Erza tidak bisa berhenti bicara banyak yang ia tanyakan pada Yara.
Semakin lama Yara terbawa suasana karena Erza semakin asik untuk diajak berbicara. Sesekali terdengar cekikikan dari Yara saat mendengar Erza bercerita.
Erza menghentikan motornya saat melihat ada wahana pasar malam di seberang jalan.
"Ra, mau berhenti dulu di sini gak?" Tanya Erza sambil menoleh ke arah belakang. "Dhiya masih tidur?" Lanjutnya.
"Masih," jawab Yara singkat. "Tapi ibu masih sore pasti belum buka juga Za!" Ucap Yara.
"Siapa bilang belum buka? Lihat di sana!" Erza menunjuk ke arah beberapa orang yang sedang mengantri kuda berputar. Wahana mainan anak yang sudah buka sore itu.
Yara pun mengikuti arah yang ditunjuk Erza. Yara lekas membangunkan Dhiya yang memang masih tertidur. Yara berpikir kapan lagi bisa mengajak Dhiya ke tempat itu.
"De, bangun!" Yara membangunkan Dhiya.
Bocah kecil itu langsung terbangun sambil mengucek matanya.
"Kamu mau main ke sini dulu gak?" Tanya Yara berbicara pelan. Ia tahu kalau Dhiya masih belum sepenuhnya sadar dari tidurnya.
Dhiya mengedarkan pandangannya saat ia membuka mata.
"Wah ... Ada pasar malam." Mata Dhiya terlihat berbinar saat melihat ada pasar malam di seberangnya.
Dhiya tidak menjawab tapi bocah itu malah mendongak menatap Yara. Saat bundanya tersenyum barulah Dhiya kembali beralih pada Erza kemudian menganggukkan kepalanya pelan.
Melihat persetujuan dari Yara. Erza kembali melajukan motornya untuk masuk ke dalam area parkir.
"Ayo, masuk!" Ajak Erza Tapi Dhiya malah terdiam. Bocah kecil itu masih merasa canggung pada dirinya.
Erza lekas berjongkok di hadapan Dhiya .
"Kenapa? Kamu takut sama, Om?" Tanya Erza lembut saat pria itu mensejajarkan tubuhnya setinggi Dhiya.
Dhiya menggelengkan kepalanya lemah.
"Tenang saja, Om tidak jahat. Mulai saat ini, kamu mau berteman dengan Om!" Erza mengacungkan jari kelingkingnya ke hadapan Dhiya.
Dhiya sedikit berpikir detik berikutnya bocah itu mengangkat tangan dan membalas dengan menyangkutkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Erza.
Senyum mengembang di wajah Erza ketika mendapat tanggapan baik dari Dhiya. "Kita berteman," Ucap Erza. Dhiya pun menganggukkan kepala pelan.
Yara yang melihat cara Erza berinteraksi dengan Dhiya menarik kedua sudut bibirnya. Wanita itu tidak menyangka dengan cara Erza agar bisa dekat dengan Dhiya.
"Sekarang let's go, Dhiya mau main apa? Om Erza yang temani." Erza bersorak dengan semangat. Kemudian meraih tangan Dhiya lalu menuntun bocah itu ke dalam pasar malam.
Suasana di tempat itu memang belum begitu ramai. Waktu juga sudah menunjukkan sekitar jam 4 sore sehingga beberapa permainan anak sudah ada yang mulai di buka. Perlahan satu persatu pengunjung berdatangan. Sudah dipastikan yang datang pertama kali di sana kebanyakan pasangan yang mempunyai anak-anak kecil.
Setelah menautkan jemari untuk berteman tadi. Dhiya begitu cepat bisa dekat dengan Erza. Setelah kenal, Dhiya yang tadinya diam berubah jadi banyak bicara dan banyak bertanya pada Erza.
Bahkan Dhiya tidak canggung untuk menarik Erza dan mengajaknya mencoba beberapa wahana di sana.
Yara hanya mengikuti mereka dari belakang. Sesekali memperingati Dhiya, jika anak kecil itu terlalu banyak meminta.
__ADS_1
"Yeay ... Om, hebat!" Teriak Dhiya saat Erza mendapat hadiah boneka beruang. Mereka berdua bermain lempar bola di area permainan.
Erza pun menerima boneka itu dari petugas. Dan langsung memberikannya pada Dhiya.
"Ini buat Dhiya!"
"Makasih Om Erza, Dhiya senang banget hari ini," ucap Dhiya dengan semangat. Wajah Dhiya memancarkan kebahagiaan saat itu.
Yara ikut tersenyum dan senang melihat putrinya berbahagia. Hal yang tidak pernah ia temui lagi beberapa waktu ini.
"Om, berani naik biang lala?" Tanya Dhiya saat mereka berada di depan wahana yang itu.
"Kenapa tidak? Kamu mau naik itu?" Tanya Erza.
"Mau,"
"Tapi wahananya belum mulai, Dhiya," seru Yara. "Lebih baik liat permainan yang lain yuk!" Ajak Yara mengalihkan keinginan Dhiya.
Melihat Dhiya sedikit murung karena keinginannya belum terpenuhi. Erza berbalik badan menghampiri petugas yang berjaga di wahana biang lala itu.
"Jalankan wahana ini! Saya bayar 2 juta untuk pengoperasiannya, sekarang juga." Titah Erza.
Mendapatkan bayaran yang lumayan. Petugas itu langsung menjalankan wahana biang lala yang Dhiya inginkan.
"Dhiya!" Panggil Erza.
Anak kecil itu menoleh dan menatap Erza yang sedang berdiri di depan gerbang wahana itu.
"Aku ikut, Om!" Dhiya langsung mendekati Erza.
Dhiya akhirnya bisa menaiki wahana tersebut. Lagi-lagi keceriaan terpancar di wajah anak kecil itu.
Yara benar-benar senang melihatnya. Sayangnya Yara tidak ikut dengan mereka.
Tak jauh dari tempat itu, seorang pria baru saja keluar dari pabrik tekstil cabang dari pabrik utama.
Hari ini adalah hari Kuningan Afkar ke sana untuk memeriksa beberapa berkas di pabrik tersebut.
"Terima kasih, Pak Afkar!" Ucap Satpam yang berjaga di depan pabrik saat satpam tersebut menerima sedikit uang jajan dari Afkar. "Semua Pak Afkar selalu berlimpah rejeki," ucapnya sambil melihat mobil Afkar yang semakin menjauh.
"Sepertinya jalan ke pabrik ini harus diperbaiki, jalannya banyak yang rusak dan berlubang. Akan jadi penghambat mobil muatan saat mengirim barang," gumam Afkar saat ia merasakan mobilnya sedikit bergoyang karena jalan yang rusak dan berlubang.
Afkar duduk di bangku belakang.
"Hati-hati, Pak! Pelan-pelan saja!" titahnya pada supir yang sedang mengemudikan mobilnya.
Saat Afkar menoleh ke sisi kiri, ia melihat ada pasar malam di sana. Tiba-tiba saja Afkar terbayang tentang Yara. Seketika bola matanya melotot melihat seorang wanita berdiri sambi melambaikan tangan ke arah wahana biang lala. Wanita yang ia kenal. Wanita yang ia rindukan satu minggu ini, wanita yang berhasil membuat Afkar gelisah.
"Berhenti, Pak!" titahnya pada Pak supir.
Afkar ingin segera turun dari mobil dan menghampiri Yara. Tapi terhenti begitu saja saat melihat seorang pria datang ke arah Yara sambil menggandeng Dhiya. Pria itu terlihat tertawa ceria bersama Dhiya.
.
.
.
.
To be continued
Wawwww.... Apa yang akan terjadi?
__ADS_1