
Yara menolak ajakan Erza saat pria itu hendak masuk ke dalam gedung tinggi di hadapan mereka.
Erza memarkirkan motor matic milik Yara tepat di depan pos satpam.
"Ayo ikut!" Ajak Erza saat pria itu turun dari motor dan membuka helm yang dipakainya.
Yara menggelengkan kepala pelan. "Tidak mau! Mana ongkos yang kamu janjikan?" Yara langsung menadahkan tangannya ke hadapan Erza.
Melihat itu Erza kebingungan sendiri. Pria itu tidak pernah membawa uang cash. Ia merogoh ponsel di kantung celananya.
"Bisa bayar pakai barcode?" Tanya Erza.
Yara membalasnya dengan gelengan kepala. "Bilang aja gak ada uang! Kamu menyia-nyiakan waktuku!" omel Yara sambil memasang wajah kesal. Yara bergegas menaiki motornya kembali. Wanita itu mengira Erza hanya membual saja.
"Serius, aku tidak bawa uang sekarang." Erza beberapa kali meraba kantung celananya lagi, tetap saja tidak ada uang di sana. Pria itu malah teringat dengan bekal makanan miliknya. "Bekal makan ku ketinggalan," gumam Erza pelan. Tapi bisa terdengar oleh Yara.
" Yah, dia malah ngoceh sendiri. Ya sudah, aku ikhlas kalau kamu memang tidak punya uang!" Yara menatap gedung tinggi di hadapannya. "Kerja di perusahaan maju, tapi duit aja gak punya," sindir Yara.
Merasa tidak terima dengan sindiran Yara. Erza lekas mengedarkan pandangannya mencari seseorang.
"Pak, sini!"Panggil Erza pada salah seorang satpam yang berjaga.
Satpam yang mengenal baik siapa Erza lekas mendekatinya.
"Siap, Pak! Ada yang bisa saya bantu?" jawabnya tegas setelah memberi hormat pada Erza.
"Saya pinjam uang 500 ribu, dulu! Siang saya kembalikan," pinta Erza.
Pak Satpam melongo mendengar ucapan Erza. Boro - boro lima ratus ribu, di dompet nya saja hanya ada selembar uang berwarna biru. Itupun harus cukup sampai dua hari ke depan sampai tanggal gajian tiba.
Yara menggelengkan kepala melihat apa yang akan dilakukan Erza.
Dengan gerakan lambat pal satpam merogoh dompet di saku belakang celananya. Merasa tidak sabar dengan apa yang dilakukan satpam itu, Erza lekas merampas dompet tersebut.
Mata Erza membulat keningnya berkerut saat melihat hanya ada satu lembar kertas di dalam dompet tersebut.
"Hanya ini?" Tanya Erza tak percaya.
"Iya, Pak! saya lagi bokek, 'kan belom gajian.
Yara menyunggingkan senyum melihat mereka berdua.
Tak ada jalan lain, Erza lekas mengambil uang tersebut dan memberikannya pada Yara.
"Ini buat uang muka ongkosnya." Erza menyodorkan uang berwarna biru itu kepada Yara." Yara pun menerimanya. "Mana ponselmu?" pinta Erza.
Yara menggelengkan kepala saat Erza meminta benda itu darinya.
__ADS_1
"Mau ngapain?"
"Biar aku menghubungimu, aku masih punya hutang ongkos padamu!"
"Modus, aku sudah tahu akal-akalan seperti pria sepertimu!" ejek Yara.
Wanita itu lekas beralih pada satpam yang amish berdiri di samping Erza.
"Pak, ini buat bapak." Yara mengembalikan uang yang diberikan Erza untuknya kepada satpam itu.
"Loh, tapi ---,"
"Kalau bapak nunggu uangnya di ganti sama dia, pasti bapak tidak bisa beli makan siang nantinya," ujar Yara. "Terima ya, ini dariku!" Yara tersenyum manis pada satpam itu. Membuat Erza terpesona dibuatnya.
Erza tidak sadar, kala Yara perlahan pergi meninggalkannya yang terpesona karena senyuman manis dari Yara. Senyuman dengan lesung pipi di pipinya.
"Terima kasih, Mba!" Teriak satpam pada Yara yang sudah pergi menjauh.
Menyadari itu Erza menggerutu kesal karena lagi-lagi kenalan dengan ojek cantik itu gagal.
"Argh ... gue belum sempat kenalan." Erza menendang angin saat menyadari itu.
Pak Satpam yang melihat tingkah Erza heran dibuatnya.
"Kenapa kamu tidak bilang kalau dia pergi?" tegur Erza pada satpam itu.
"Maaf, Pak Erza." Satpam itu menggaruk lehernya yang tidak gatal. Ia menjadi serba salah.
Kalau saja hari ini Erza tidak mempresentasikan hasil pekerjaannya, pria itu sudah bolos meninggalkan kantor demi mengejar Yara.
Di rumah mewah milik Syafa.
Satu hari rasanya masih kurang bagi pasangan itu merengkuh kebersamaan di villa milik keluarga Syafa di puncak Bogor.
Di rumah pun, Syafa tidak mau jauh dari Afkar. Mereka menghabiskan masa cuti Afkar hanya berdua saja di dalam kamar.
Tok ... Tok ... Tok ...
Ketukan pintu membuat Afkar harus melepaskan pelukan manja Syafa padanya.
"Biar aku yang buka pintunya," ujar Afkar.
Syafa mengangguk pelan menanggapinya.
"Afkar tolong, ibu!" ucap Bu Nuri saat pintu kamar baru saja terbuka setengahnya.
Afkar mengerutkan alis mendengarnya. "Ada apa, Bu?" Tanya Afkar khawatir.
__ADS_1
"Adikmu, Mira telepon sambil menangis," balas Bu Nuri.
"Menangis kenapa, Bu?" Afkar semakin penasaran dengan apa yang terjadi.
"Suaminya pulang membawa seorang wanita dengan seorang bayi yang masih merah." Bu Nuri langsung sedih setelah menjelaskannya kepada Afkar.
"Suaminya berselingkuh?" Tanya Afkar
dan mendapat anggukan dari Bu Nuri.
"Jemput adikmu, Kar. Kasihan dia. Pasti sangat sedih sendiri di sana," pinta Bu Nuri.
"Apa Mira minta dijemput?" Afkar kembali bertanya.
Bu Nuri menggelangkan kepala menjawabnya.
"Aku tidak bisa ikut campur urusan mereka, Bu. Biar mereka menyelesaikan masalah nya lebih dulu. Kalau Mira sudah meminta di jemput atau suaminya mengembalikan Mira pada kita, baru aku akan menjemputnya ke sana,"ujar Afkar.
"Ibu tidak tega pada adikmu, Kar. Dia pasti sedih di sana. Mertuanya pasti berpihak pada wanita itu. Sebab ibu mertua Mira sangat menginginkan seorang cucu," desak Bu Nuri.
"Tetap kita belum bisa ikut campur urusan ini, Bu." Afkar kembali menegaskan.
Bu Nuri terlihat lesu. Wanita tua itu mendaratkan bokongnya di sofa. Sebagai seorang ibu yang sudah melahirkan Mira. Ia dapat merasakan kesedihan yang sedang dialami Mira. Tapi mengapa Bu Nuri tidak sadar perlakuannya pada Yara dulu. Tidak adil dan bersikap tidak baik pada menantu pertamanya.
Melihat Bu Nuri yang murung diri Afkar merasa tidak tega, pria itu kembali mendekati ibunya.
"Lusa kita jemput Mira. Jangan Bersedih, Bu!" Afkar mencoba menenangkannya.
"Benar kah?" Bu Nuri menatap Afkar untuk menegaskan.
Anggukan dari Afkar membuat Bu Nuri merasa lega.
Setelah berbicara dengan Bu Nuri, Afkar kembali ke kamarnya. Pria itu melihat Syafa telah terlelap dalam tidurnya.
Ia lekas menarik diri. Mengurungkan niatnya masuk ke dalam kamar. Afkar kembali menuruni tangga. Saat melewati kamar Yara. ia terdiam sesaat.
Beberapa hari ini, tidak bisa dipungkiri bayangan Yara terus terbayang olehnya. Ada perasaan rindu menelisik dalam sudut hatinya. Rasanya ingin bertemu dengan wanita itu. Perasaan yang tidak bisa tertahan.
Selagi Syafa tertidur, Afkar akan memanfaatkan keadaan ini untuk pergi menemui Yara.
Tanpa banyak bicara Afkar mengambil kunci mobil. Pria itu berjalan menuju garasi. masuk ke dalam mobilnya.
Mobil mewah itu pun melesat pergi meninggalkan rumah mewah Syafa.
Perasannya menuntun Afkar untuk mencari Yara.
.
__ADS_1
.
.