
“Apa yang kamu lakukan, Pak Leon?” Sarkas Andrea yang merasa kesal melihat tingkah Leon.
Asisten Erza itu langsung merebut gelas yang dipegang oleh bosnya. Kemudian meneguknya dengan cepat. “Maaf, Saya haus sekali,” ujar Leon kemudian meraih gelas miliknya lalu kembali meneguknya.
“Tapi itu milik Pak Erza,” sambung Andrea dengan nada kesal.
Prang ...
Botol brandy yang masih berisi minuman seketika jatuh karena tersenggol Leon. Hal itu semakin membuat Andrea marah.
“Pak Leon, apa lagi yang Anda lakukan. Anda tahu ini minuman mahal,” sentak Andrea. Wanita itu semakin kesal dengan tingkah Leon.
“Anda tenang saja, Bu Andrea. Saya akan mengganti minuman itu. Anda tidak perlu menyentak Leon seperti itu,” ucap Erza saat mendengar asistennya disentak. Erza merasa tidak terima dengan tanggapan Andrea.
“Maaf, bukan maksud ku seperti itu, aku hanya terkejut saja, tadi. Kalau begitu ku ganti minuman nya, ya.” Andera segera berlalu dari hadapan Erza dan Leon. Wanita itu kembali memesan minuman yang sama pelayan yang tadi.
“Ah, Sialan tuh Leon. Segala menjatuhkan brandy itu segala. Semoga saja pelayan tadi masih menyimpan sisa obat yang aku kasih.
Saat Andrea pergi. Leon mendekat pada Erza kemudian berbisik pada pria itu.
Bibir Erza mengembang seperti bulan sabit mendengar penuturan Leon. “Oh, ternyata kamu sengaja melakukan hal seperti tadi demi menyelamatkan ku?” tanya Erza.
Leon menganggukkan kepala seraya membuka mulutnya lebar. Obat tidur yang ia minum dari minuman Erza tadi mulai bereaksi. Erza pun dapat melihat itu.
“Sepertinya kamu mulai terpengaruh obat itu, Leon,” ucap Erza.
Leon menganggukkan kepalanya. Pria itu berusaha untuk tidak terpenjam.
“Untung saja pelayan itu masih menyisakan obat tidur yang tadi. Aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Pak Erza harus meminumnya kaki ini. Aku akan mencampurnya dengan obat perangsang agar dia tidak bisa lepas lagi. Heh, asistennya yang ceroboh itu malah menumpahkan semua brandy yang sudah aku siapkan. Tapi aku pastikan satu gelas ini akan memberikan keberuntungan bagiku,” gumam Andrea dengan seringai liciknya.
Tak lama Andrea kembali dengan minuman brandy yang baru. Hanya satu gelas saja di tangannya. Andrea mengukir senyum saat dirinya kembali ke hadapan Erza.
‘Aku ikuti permainan kamu, Andrea. Apa yang akan kamu lakukan setelah ini.’
Batin Erza saat melihat kedatangan Andrea.
__ADS_1
“Ini minuman baru Anda, Pak Erza. Sorry merk brandy seperti yang tadi kosong. Tapi aku bawakan yang lebih mewah dari yang tadi.” Andrea memberikannya minum yang ia bawa pada Erza. “Silakan di minum, Pak,” lanjut Andrea.
“Terima kasih,” sahut Erza singkat seraya meraih gelas yang disodorkan padanya.
“Apa yang terjadi dengan Pak Leon?” tanya Andrea basa basi. Padahal wanita itu tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Leon.
“Mungkin Leon lelah karena perjalanan ke sini cukup memakan waktu,” sahut Erza. Ia masih memegang gelas minuman dari Andrea tadi. Ragu dan bimbang itu yang Erza rasakan. Ada perasaan takut kalau minuman yang ada di tangannya saat ini mengandung obat tidur atau obat perangsang. Erza masih ragu untuk meminumnya.
Di hadapannya Andrea menatap Erza tak sabar. Wanita itu tidak ingin kecolongan lagi melihat sendiri minum itu masuk ke dalam mulut Erza. “Oh, apa tidak sebaiknya dibangunkan saja? Saya sudah persiapkan kamar hotel untuk kalian berdua,” ujar Andrea. “Eum, satu lagi. Apa bisa kita berbicara santai saja. Rasanya canggung harus memanggil Anda dengan sebutan bapak di luar pekerjaan seperti sekarang ini. Bolehkah saya panggil nama saja pada Anda?” tanya Andrea sopan dan santun.
“Itu lebih baik, supaya kita bis lebih santai,” jawab Erza.
Andrea menarik satu sudut bibirnya. Satu langkah telah terlewati dengan baik. Saatnya ia memulai obrolan santainya dengan Erza. “Bagaimana tawaranku tadi, Za. Apa Leon mau dibangunkan saja? Assisten mu itu benar-benar lelah ya?” Andrea menggelengkan kepalanya. Dalam hatinya wanita itu bersyukur tidak ada pengganggu untuk aksi selanjutnya.
“Tidak perlu, Leon hanya membutuhkan waktu sebentar saja,” sahut Erza.
Andrea hanya mengangguk-ngangguk membalasnya. “Diminum, Za. Kamu akan merasakan sensasi yang luar biasa dari minuman itu,” desak Andrea seakan tidak sabar melihat Erza meminum minuman yang ia berikan tadi.
Erza mengangguk pelan dan itu hanya pura-pura.
“Rea,” teriak seseorang.
“Hai, Syil,” sahut Andrea dengan membalas lambaian tangan pada seorang wanita yang berjalan ke arahnya.
Hal itu jadi keberuntungan tersendiri bagi Erza. Pria itu segera membuang isi minuman dalam gelas yang dipegangnya. Kemudian berakting seakan telah meneguk habis minuman itu.
Andrea tersenyum penuh arti saat menoleh kembali pada Erza. Sudut bibirnya tertarik puas, tinggal menjalankan langkah selanjutnya. Andrea menunggu reaksi obat yang ia memasukkan dalam minuman itu.
‘Akhirnya, Erza meminumnya. Oke kita tunggu beberapa menit selanjutnya. Apa yang akan terjadi.’
Batin Andrea. Wanita itu beralih lagi pada teman wanitanya. Syila, teman Andrea yang berjalan ke arahnya itu hanya menyapa singkat pada Andrea. Sebab Syila harus segera pergi lagi dari sana.
Andrea melihat jam di pergelangan tangannya. Aslinya mengerut. “Sudah Lima belas menit berlalu kenapa tidak ada reaksi sama sekali pada Erza. Obat apa yang diberikan Jordi? Ah, sialan. Aku minta obat perangsang. Dia kasih apa sama aku? Biar ku hubungi dia, akan ku tanyakan kepastiannya,” umpat Andrea dalam hati. Wanita itu pun pamit sebentar dari hadapan Erza.
“Jor, kamu yakin ngasih obat perangsang itu sama aku? Kenapa reaksi nya lama sekali?” gerutu Andrea pada seseorang di seberang telepon.
__ADS_1
“Yakin, kok. Itu obat manjur abis. Tunggu sepuluh menitan lagi, lu bakal liat reaksi dia seperti apa?” sahut Jordi dari seberang telepon.
“Oke, aku tunggu. Kalau sampai ucapan mu nggak ada buktinya. Kembalikan uangku, ingat itu!” seru Andrea tegas.
Seseorang di balik tembok menguping pembicaraan wanita itu. Ia lekas kembali karena takut aksinya diketahui Andrea.
Andrea pun kembali, wanita itu tidak hentinya memerhatikan Erza. Bibirnya mengembang saat Erza mulai membuka kancing baju yang ia pakai.
“Kenapa ruangan ini jadi panas begini? Apa kamu merasakannya?” tanya Erza pada Andrea.
Wanita itu menggelengkan kepalanya. “Tidak, mungkin karena pengunjung cafe ini bertambah jadi kamu merasa gerah. Bagaimana kalau kita pindah dari sini?” Andrea memberanikan diri mendekati Erza dengan duduk di sampingnya. Tangannya mengulur membelai paha Erza.
“Kepalaku pusing sekali,” keluh Erza sambil memijat keningnya.
“Sepertinya kamu butuh istirahat, Za. Aku sudah siapkan hotel di dekat sini untuk kalian. Sebaiknya kamu ke sana untuk beristirahat, sini aku bantu!” Andrea merangkul tubuh Erza.
“Aku bisa berdiri sendiri,” tolak Erza. Pria itu mendekati Leon dan membangunkan asistennya itu.
“Leon, bangunlah! Kita ke hitam dulu. Sepertinya kita sama-sama lelah dan butuh istirahat,” ucap Erza dengan tubuh yang sedikit sempoyongan dan hampir terjatuh. Untung saja ada Andrea yang menangkap tubuhnya.
“Za, aku bilang apa. Biar kubantu! Kamu tenang saja ada orang ku yang akan membawa Leon ke hotel nanti. Kamu bersamaku,” ucap Andrea lembut dengan memapah Erza.
‘Rencanaku berhasil, malam ini kamu akan menjadi milikku, Erza Rahadian. Aku sudah tidak sabar ingin bercinta denganmu.’
Batin Andrea dengan senyum penuh kemenangan.
Lain hal dengan pria yang ada dalam rangkulannya saat ini. Kalau tidak sedang bersandiwara, Erza tidak akan mau melakukan itu.
‘Aku ikuti permainan mu, Andrea. Lihat saja setelah bukti ku dapatkan. Kamu akan mendapatkan balasan atas perbuatan mu ini.’
Batin Erza yang kembali melanjutkan sandiwaranya.
.
.
__ADS_1
.
To be continued