
Prangg...
Suara gelas pecah terdengar dari kamar mandi di ruangan belakang.
Kak Ima Yang sedang berada di depan kontrakannya bersama Firman dan Bang Boy segera menghampiri Yara di dalam kontrakannya.
"Kenapa, Ra?" Tanya Kak Ima saat wanita itu tiba di ruang belakang kontrakan Yara.
"Ah, ini, Kak. Gelasnya masih licin! Kayaknya belum bersih bilasnya. Jadi lepas dari tanganku," balas Yara yang baru saja selesai mencuci piring. Ia sedikit terkejut dengan kedatangan Kak Ima.
"Awas, Kak! Biar aku bersihkan dulu pecahan gelasnya. Bahaya kalau kena kaki."
Tak lama, setelah pecahan gelas dibersihkan. Yara menyandarkan tubuhnya ke tembok. Yara lelah dengan apa yang sudah ia jalani beberpaa bulan ini.
"Sampai kapan aku terus mencarinya, Kak? Keadaan memaksaku untuk menyerah. Tapi hati ini masih tidak bisa menerima kalau aku memang kehilangan Mas Afkar," Ucap Yara yang tiba-tiba saja mencurahkan isi hatinya pada Kak Ima.
"Sabar, Ra. Berdoa dan berpasrah diri. Serahkan semuanya pada Sang Pencipta, minta diberikan yang terbaik untuk masalah mu ini," ujar Kak Ima.
"Aku lelah, Kak!" Tubuh Yara melorot begitu saja, ia menutupi wajahnya sendiri dengan kedua tangannya.
Tumpah sudah tangis Yara di sana. Terlihat jelas jiwa rapuh dari Ayara Faeqa. Sekeras apapun Yara menutupi ketabahan diri di depan orang lain. Nyatanya ia tak kuasa menahan diri. Yara harus menumpahkan kesedihan dan kegundahan agar bisa merasakan ketenangan dalam hatinya.
Kak Ima ikut berjongkok di depan Yara. "Menangislah, jika itu bisa membuat perasaanmu merasa lega. Tapi ingat hanya untuk malam ini, besok kamu harus mengawali semuanya. Belajar hidup tanpa seorang Afkar. Kalaupun Afkar masih hidup. Berdoalah, agar ia kembali padamu dan Dhiya," ucap Kak Ima berhasil membuat Yara semakin terisak.
Malam ini, Kak Ima menemani Yara di rumah kontrakannya. Kak Ima merasa tidak tega meninggalkan Yara seorang diri dalam keadaan rapuh dan sedih seperti ini.
Melihat Yara sudah tenang dan terlelap di dalam kamar. Kak Ima lebih dulu menghampiri suaminya di depan.
"Bang, kayaknya aku nginap di sini dulu. ya? Kasihan, Yara. Jiwanya masih terguncang dengan masalahnya," Kak Ima meminta ijin pada Bang Boy, suaminya.
"Ya sudah, tidak pa-pa. Sebentar, Abang ambilkan susu dulu buat kamu!" Bang Boy masuk sebentar ke dalam kontrakannya. Suami dari Kak Ima itu siaga dengan memberikan susu rutin setiap malam. tak akan ia kembali dengan segelas susu hangat di tangannya.
"Ini, Dek!"
"Makasih, Bang! Aku masuk ya," Ucap Kak Ima pada Suaminya. "Sebaiknya nginap aja di sini! temani Bang Boy!" Titah Kak Ima pada Firman.
"Iya kak, barusan aku sedang membahas ini," ujar Firman.
Setelah itu, Kak Ima masuk ke dalam
__ADS_1
rumah kontrakan Yara.
Keesokkan harinya.
Kak Ima dan Yara sedang bersantai. Mereka berdua sedang mencari solusi untuk Yara. Tak hanya kehilangan Afkar tapi berada hampir tiga bulan di sini saja, telah membuat bekal untuk kehidupan Yara di Jakarta semakin menipis.
Solusi dari Kak Ima, Yara jalani. Menjadi driver ojek online pada aplikasi si hijau adalah pilihan terbaik untuk Yara. Dengan mencari tambahan uang dari mengojek Yara bisa sedikit lebih lama di Kota. Yara bisa mencari suaminya sambil berkeliling.
Beruntung sekali dengan keadaan Kak Ima yang sedang hamil. Yara bisa menggunakan akun milik wanita itu.
Satu bulan sudah Yara menjalani pekerjaan itu. Tak hanya ngojek tapi menjadi kurir makanan.
Seperti sekarang ini. Yara sedang menunggu pesanan yang sedang dibuat untuk pelanggannya. Yara terkejut dengan nominal yang harus dibayar di restoran itu.
Yara menggelengkan kepala melihat angka pada struk yang berada di tangannya.
"Orang kaya memang tidak sayang membeli makanan dengan harga semahal ini." Yara menunggu Pesanan selesai di dalam restoran tersebut.
Saat sedang menunggu pesanan Yara menyipitkan matanya saat melihat dia mobil mewah berhenti di depan restoran.
ada beberapa bodyguard yang turun lebih dulu dari mobil itu.
Hari Yara berdebar saat melihat satu pemandangan yang membuat dirinya tak percaya dengan penglihatannya sendiri.
Sosok pria yang selama ini ia cari ada di hadapannya. Tapi Yara sedikit ragu, karena penampilan pria itu sangatlah berbeda. Pria yang mirip dengan suaminya itu, begitu tampan dan berkharisma. Memakai stelan jas rapi membuat pria itu semakin terlihat tampan.
"Kenapa pria itu mirip sekali dengan Mas Afkar?" Gumam Yara.
Penasaran dengan apa yang ia lihat Yara mencoba mendekatinya.
Yara sedikit kesulitan untuk melihat pria itu dari dekat. Sebab beberapa orang berseragam hitam melindungi dia orang yang ada di tengah mereka.
"Mas," panggil Yara.
"Mas Afkar," Yara kembali memanggil.
Pria yang sedang berjalan ke dalam restoran yang sama dengan Yara itu menoleh ke arah Yara.
Deg...
__ADS_1
Jantung Yara seakan berhenti berdetak. Dia diam mematung saat kedua netra miliknya menangkap jelas wajah pria tersebut.
"Mas Afkar," panggil Yara lirih karena pria yang mirip dengan Afkar mengacuhkannya. Padahal tatapan mereka sempat bertemu.
Panggilan dari Yara terdengar oleh Syafa. Langkah mereka terhenti saat nyonya besar itu menghentikan langkahnya. Begitu juga dengan Afkar.
"Ada apa, Sayang!" Tanya Afkar saat Syafa berhenti.
"Ada yang memanggil namamu, Mas!"
"Siapa?" Tanya Afkar.
Syafa tidak menjawab tapi ia berjalan ke arah sisi. Menghampiri Yara yang sedang mematung. Tapi netra miliknya tertuju pada Afkar, suaminya. Syafa memperhatikan itu.
"Apa kamu kenal dengan Mas Afkar? Suamiku!" Ucap wanita anggun yang berjalan menghampirinya.
"Sayang, sudahlah! Papa sudah menunggu di dalam," sela Afkar sambil merangkul tubuh ramping dan seksi Syafa.
Mata Yara membolak melihat pemandangan itu.
"Tunggu, Mas. Aku ingin memastikan sesuatu."
Perlahan Afkar melepas rangkulannya.
"Apa kamu kenal dengan suamiku?" Tanya Syafa sekali lagi pada Yara.
"Ya, saya kenal. Dia, Afkar Chairi, suamiku juga!" jawab Yara pelan sambil merasakan sesak di dadanya.
"Tapi aku tidak mengenalmu." Afkar berbicara tegas dengan tatapan membenci pada Yara." Afkar tidak suka dengan wanita lain selain Syafa.
Yara begitu syok mendengarnya.
Apa yang terjadi pada suaminya?
.
.
.
__ADS_1