
Akhir bulan pun tiba. Seperti biasa Afkar akan mentransferkan uang gajinya kepada Yara. Afkar belum mengabari istrinya, mungkin saat tiba di tempat kos barulah ia akan mengabari Yara kalau dirinya sudah mengirimkan uang gajiannya bulan ini.
Afkar tiba di kontrakannya tepat jam 9 malam. Biasanya paling malam saja habis Isya, ia pulang bekerja. Berhubung harus memeriksa stok barang bulanan di gudang, mengharuskan Afkar lembur malam ini.
Afkar membaringkan tubuhnya di kasur empuk yang belum lama dibelinya. Persiapan untuk menyambut kedatangan Yara dan Dhiya.
Lelah begitu dirasa, tetapi saat membayangkan betapa senangnya jika penyemangat Afkar selama ini ada bersama dirinya saat ini. Seberat dan selelah apapun pekerjaannya di pabrik, akan hilang seketika saat pulang bekerja disambut oleh kedua orang yang ia sayang.
Afkar mengambil ponsel miliknya di atas nakas kemudian dilihatnya foto yang menjadi wallpaper di ponselnya. Foto kebersamaan mereka bertiga, Yara, Dhiya dan Afkar. Tak bosannya memandangi foto tersebut, kemudian diciumnya gambar itu. Tak sabar rasanya menunggu saat di mana mereka berkumpul bersama.
"Yara sudah tidur belum ya?" Afkar melihat jam di dinding kamarnya. Waktu menunjukkan pukul 11 malam. "Sudah malam, pasti Yara sudah tidur.
Mungkin sehabis solat subuh saja menghubungi Yara. Kasihan kalau harus terbangun gara-gara telepon dariku." Afkar mengoceh sendiri pada ponselnya.
"Istriku pasti senang mendengar kabar yang akan aku berikan nanti!" Afkar senyum sendiri mengingat rencananya. Ia sudah tak sabar ingin memberitahu Yara, kalau dirinya telah mengambil cuti akhir pekan ini, untuk pulang ke kampung halamannya. Mereka bisa berkumpul kembali. Afkar pun akan mengajak Yara beserta anak mereka ke kota. Tinggal di tempat perantauan. Berjuang bersama agar kehidupan mereka lebih baik.
***
Usai solat subuh, Yara mendengar ponselnya berdering. Tanpa melepas mukenah, Yara langsung menggeser tombol hijau pada layar ponselnya kemudian memberikan benda pipih tersebut kepada Dhiya dan berkata tanpa bersuara, memberitahu anaknya bahwa sang ayah 'lah yang menelepon.
"Accalamualaitum, yayah," sapa Dhiya dengan suara cadelnya sambil melambaikan tangan mungilnya ke arah kamera. Dhiya, putri cantiknya sudah bangun. Ia terlihat memakai mukena. Dhiya baru saja ikut solat subuh bersama bundanya.
"Duh ... Cantiknya putri ayah, pintar banget sudah bangun. Ikut sama bunda solat ya," tanya Afkar.
Dhiya mengangguk pelan sesekali melirik ke arah Yara. Gadis kecil yang diberi perhatian sang ayah itu terlihat malu-malu. Dhiya sedang bergelayut manja di lengan Yara.
Yara terlebih dahulu merapikan sajadah yang tadi mereka gunakan. Yara menggendongnya dan mendudukkan gadis kecilnya itu di pangkuannya. Mereka duduk di sisi ranjang.
"Anak ayah pintar ya, mau bangun pagi, mau bantuin bunda, ya?" tanyanya lagi kepada Dhiya.
“Iya, Yah! Dede Tan mau itut ayah te kota, tata bunda kayo dede lajin solat tyus doain ayah, Dede mau di ajak ayah kecana!” celotehan cadel anaknya membuat Yara yang mendengar menciumi gemas Dhiya.
Afkar pun tersenyum mendengarnya celotehan Dhiya.
__ADS_1
"Kamu memang istri dan bunda yang terbaik yang kami miliki, Ra!" Ucap Afkar sambil menatap Yara. Wanita yang ditatapnya hanya bisa menyunggingkan seulas senyum. Ia tersipu malu setiap kali Afkar memujinya.
Yara memang membiasakan dan mengajari Dhiya yang masih kecil untuk bangun pagi kemudian ikut solat subuh berjamaah dengannya. Yara juga mengajarinya berdoa untuk sang ayah yang beberapa bulan ini jauh dari mereka.
Dhiya pun menuruti apa yang bundanya ajarkan. Bahkan apapun yang Yara kerjakan di rumah selalu diikuti oleh Dhiya. begitulah mempunyai anak perempuan, Yara mengajarinya dengan telaten dan penuh kesabaran.
"Iya, benar kata bunda, Ayah mau jemput putri ayah yang cantik ini, Dhiya mau ayah jemput kan?"
"Mau ... Mau ... ?” sorak Dhiya girang.
“Sebentar lagi, Sayang. Sabar ya!”
Dhiya menunjukkan jari telunjuk yang di tautkan dengan ibu jarinya. Memberi kode Ok, pada Afkar sambil mengedipkan sebelah matanya. Tingkahnyaembuat Afkar dan Yara terkekeh renyah melihat tingkah lucu putri mereka.
Lama ketiganya bercanda lewat video call. Tak terasa Yara, Dhiya dan Afkar sudah hampir satu jam mengobrol. Sampai akhirnya Dhiya terlihat mengantuk.
“Hoaamm"
Hanya anggukan pelan dengan mata yang hampir tertutup balasan dari Dhiya.
Afkar tersenyum simpul melihatnya. "Ya sudah, sekarang Dhiya beresin dulu ya mukenanya! Bunda mau bicara dulu sama ayah, ya, Sayang!” Dhiya berusaha membuka mata. Meskipun sudah mengantuk, tapi Dhiya tetap mendengarkan ucapan bundanya.
Dhiya turun dari ranjang dan melepas mukena yang ia pakai. Kemudian melipat mukena itu. Meski tidak rapi, tapi Dhiya mengikuti apa yang dilihatnya. Saat Yara merapikan mukena dan menaruhnya di atas meja kecil di samping meja rias.
Bagaimana Afkar bisa sanggup tinggal jauh bersama mereka. Setiap tingkah dan perilaku keduanya membuat rasa rindu semakin membuncak.
"Sebentar ya Mas, aku mau menidurkan Dhiya dulu biasanya kalau habis solat subuh, dia pasti tidur lagi! Ada yang mau aku bicarakan juga dengan Mas,” ungkap Yara.
Dhiya pun naik ke ranjang setelah apa yang ia lakukan selesai. Anak kecil itu menguap kembali, tak lama setelah mendapat elusan dari bunda, Dhiya langsung tertidur.
Yara turun dari tempat tidurnya. Yara tidak mau Dhiya terbangun lagi ketika mendengar bundanya masih berbicara dengan ayahnya.
Yara mengalihkan video call-nya menjadi sambungan telepon biasa.
__ADS_1
“Ay, hari ini, sepulang kerja. Mas akan pulang ke Mojokerto ikut mobil travel.”
Tanpa basa basi Afkar langsung memberitahukan kabar itu pada Yara.
“Yang benar, Mas?” Yara terlihat sangat senang.
“Ya, Mas sudah ambil cuti seminggu untuk pulang sekalian jemput kalian.”
“Mas, sudah kasih kabar sama Ibu soal ini?” Tanya Yara. Dia tidak mau
kembali disalahkan oleh Bu Nuri.
“Habis telepon kamu, Mas akan mengabari mereka. Kamu tenang saja, Ay!"
“Iya, Mas.”
Obrolan pun berlangsung hanya sesaat karena Afkar harus berangkat bekerja. Afkar mengakhiri sambungan teleponnya. Segera ia menghubungi orang tuanya soal rencana kepulangannya hari ini. Afkar juga memberitahu keinginannya membawa istri dan anaknya untuk ikut bersamanya ke kota, nanti.
"Ya itu sih terserah kamu, Kar! Kalau Yara dan Dhiya mau, Bapak tidak bisa berbuat apa-apa. Itu rumah tangga kalian. Bapak hanya bisa mendoakan yang terbaik."
Bu Nuri yang ada di samping Pak Setyo hanya bisa memanyunkan bibir. Ia terlihat kesal karena dilarang berbicara lama dengan Afkar karena sudah dipastikan hanya ada omelan dan omelan yang keluar dari bibir istrinya.
Bu Nuri menunggu suaminya selesai berbicara dengan Afkar beliau ingin mengadukan tingkah Yara yang jarang datang ke rumahnya.
Bu Nuri pun ingin mengadukan soal Yara yang masih kekeh ingin berjualan kue kering. Menurut beliau itu membuat dirinya malu di depan para istri petani yang menjadi pelanggan menggiling padi di tempatnya. Sebab mereka berbicara soal Yara yang masih semangat jualan. Padahal suaminya, Afkar sedang bekerja di kota, yang sudah pasti dapat gaji besar.
Tanpa Bu Nuri tahu, Yara melakukan itu karena sudah mendapat ijin dari Afkar.
.
.
Bersambung.
__ADS_1