Ikhlasku Melepasmu, Mas!

Ikhlasku Melepasmu, Mas!
Tunggu Aku, Sayang! Tunggu Aku!


__ADS_3

Syafa yang baru saja melakukan scan di kepalanya kembali menuju kamar dengan perasaan lega.


Dokter menyatakan tidak ada yang serius di kepalanya. Hanya saja sesekali rasa pusing pasti akan dirasakan. Wajar menurut dokter karena benturan yang dialami begitu keras.


Tadi pagi Syafa dibawa ke ruang scan oleh salah satu perawat yang berjaga. Tapi saat kembali, Syafa bersama orang yang berbeda. Roni, bersama dengan pria itu Syafa kali ini. Roni masih berada di Jakarta sampai hari ini. Mantan asisten papa-nya itu menepati janji untuk mengurus semua urusan Syafa. Rumah mewah yang pernah ia tinggali bersama Afkar telah resmi di jual. Begitu juga dengan saham yang ia miliki di salah satu perusahaan yang pernah dipimpin oleh Afkar.


Keputusan yang diambil Syafa sudah bulat. Syafa akan memberikan setengah hasil penjualan semua yang ia miliki kepada Afkar. Roni membawa Syafa ke taman di samping rumah sakit itu. Wanita yang belum lama menjadi janda secara agama itu yang memintanya karena ada beberapa hal yang ingin dibicarakan dengan Roni. Keduanya pun duduk bersisian. Roni duduk di bangku besi sedangkan Syafa duduk di kursi rodanya. Ada banyak hal yang mereka bicarakan. Sampai rencana Syafa yang ingin menyumbangkan sebagian hartanya ke panti asuhan pun akan terealisasikan.


Satu hal yang dari dulu tak pernah lepas dari Syafa. Berbagi dengan orang yang membutuhkan.


“Mas, terima kasih ya. Mas Roni selalu ada untukku. Maaf jika aku selalu merepotkan mu,” ujar Syafa.


“Hei, sudah ku bilang jangan selalu bilang seperti itu,” sahut Roni.


Syafa tersenyum membalasnya. “Bagaimana kehidupan Mas Roni di malang?” tanya Syafa.


“Biasa, tidak ada yang istimewa seperti di Jakarta. Hanya saja di sana hati ini merasa tentram. Berada di lingkungan pesantren membuat perasaanku lebih tenang,” ujar Roni.


“Memangnya apa yang istimewa di Jakarta, Mas. Kenapa tidak mempertahankan hal yang menurutmu istimewa itu?”


“Maunya aku seperti itu, mempertahankannya. Apalagi saat ini, sepertinya aku harus berjuang untuk kembali memperjuangkannya,” ucap Roni sontak membuat Syafa menatap padanya. Ia merasa ucapan pria itu tertuju dituju untuknya. Sebab Syafa pernah membicarakan hal ini dengan Roni sebelumnya. Saat Syafa meminta Roni untuk melepasnya demi menikah dengan Melani.


Roni tersenyum membalas tatapan Syafa. “Kamu tahu sesuatu yang istimewa itu, karena dari dulu sampai sekarang tidak ada yang berubah meskipun pernah ada yang singgah di hati ini. Nama kamu tidak akan pernah bergeser.” Roni menatap Syafa dengan tatapan yang tidak biasa.


Syafa hanya menggelengkan kepala menanggapinya. “Jangan ngaco, Mas. Tidak ada yang istimewa sama sekali pada diriku. Aku sama sekali tidak pantas untuk diperjuangkan,” sanggah Syafa. Sebaiknya kita ke kamar sekarang! Papa dan Yara pasti sudah menunggu dan ingin tahu hasilnya pemeriksaan ku tadi.” Syafa mengalihkan pembicaraannya dengan Roni. Ia tidak mau membuat harapan itu tumbuh. Roni terlalu baik untuknya.


Syafa hendak membelokkan kursi roda yang ia duduki saat ini sering diri. Tapi dengan cepat Roni mengambil alih dan mendorong Syafa menuju kamar perawatannya.


Sesampainya di depan kamar perawatannya. Syafa meminta Roni menghentikan dorongannya. “Berhenti, Mas,” pinta Syafa. Manik mata wanita itu tertuju pada pemandangan di dalam kamar.


Pintu kamar perawatan yang tidak tertutup rapat sehingga keadaan di dalam kamar terlihat jelas dari luar. Senyum Syafa mengembang saat melihat kehangatan keluarganya di dalam sana.


“Ini yang aku inginkan selama ini, Mas. Kebersamaan bersama kakak dan papa yang dari dulu aku dambakan.” Syafa menundukkan kepala, tangannya mengulur meraba perutnya sendiri. Ia teringat dengan anaknya yang telah tiada.


“Satu lagi keinginanku,” Syafa menghela napas berat. “Ingin melihat makam anakku sendiri.” Tak terasa air mata Syafa mengalir begitu saja. “Aku, ibu yang tidak berguna saat itu. Tidak bisa melindunginya saat di dalam kandungan. Yang paling berdosa saat tidak tahu di mana makam putri kecil ku itu. Aku sungguh merasa tidak berguna.” Syafa meneteskan air matanya.

__ADS_1


Roni merangkup bahu Syafa dari belakang. “Jangan pernah menyesali yang terjadi. Lihat mereka tertawa bahagia. Papa dan Yara, mereka juga pasti ingin melihat kamu bahagia saat ini. Tersenyumlah!” bisik Roni.


Syafa mendongak kemudian menoleh ke belakang. Mengangguk pelan atas ucapan yang dibisikkan Roni padanya.


“Mba Syafa,” panggil Yara dari dalam ruangan.


Buru-buru Syafa mengusap air matanya. “Ya.”


“Kenapa tidak masuk?” tanya Yara sembari jalan mendekat ke arah Syafa. Pintu ruangan yang tadinya terbuka sedikit jadi terbuka lebar.


“Ah, itu tadi---,” Syafa bingung ingin menjawab apa atas pertanyaan Yara.


“Syafa merasa bahagia melihat kamu dan Pak Rio tertawa seperti tadi. Senyum dan tawa yang tak pernah ada sebelumnya.” Roni yang menjawab pertanyaan Yara.


Yara menarik kedua sudut bibirnya. Lalu merentangkan tangan dan berjalan ke arah Syafa untuk memeluknya. “Aku juga sangat bahagia sekali, Mba. Impian ku dari kecil saat ini terwujud.” Yara menempelkan pipinya pada pipi Syafa. Meluapkan rasa bahagianya pada wanita itu.


“Maaf jika kebersamaan ini harus kamu lewati dengan banyak kesedihan dan air mata. Mba tahu kata maaf yang saat ini terucap takkan mampu menutup luka hati yang terlanjur tertoreh di hatimu, Ra,” lirih Syafa. Rasanya kesalahannya tak mudah terlupa begitu saja.


Baru saja ingin melanjutkan ucapannya, Syafa langsung di cegah oleh Yara dengan menempelkan jari telunjuk wanita itu pada bibir Syafa. “Syutt, jangan berbicara itu lagi, Mba. Justru aku bersyukur dengan pengalaman yang aku alami. Dan semua kejadian yang terjadi, hidupku saat ini lebih bahagia,” balas Yara. Dan di saat bersamaan Erza keluar dari dalam ruangan. Dengan cepat Yara menggandeng tangan suaminya dan menyandarkan kepalanya di bahu pria itu.


“Aku dapat hal yang berharga dari kejadian itu. Bersama dengan Mas Erza dengan keluarganya yang begitu menyayangi ku.” Yara bersikap manja doa Erza. Meskipun tidak tahu topik obrolan apa yang sedang dibicarakan oleh Syafa dan Yara. Erza memberi respon dengan mencium kening wanita yang saat ini masih bermanja dengan menyandarkan kepala di bahunya.


Kebahagiaan jelas terlihat dari pasangan suami istri itu. Yara mendongak menatap Erza. Wanita itu tersenyum bahagia membalasnya. “Dan aku begitu beruntung bisa bersamamu, Mas,” balas Yara dengan senyum manisnya.


Melihat kebahagiaan Yara dan Erza saat itu. Rasanya rasa sesal di hati Syafa sedikit berkurang. Kakak dari Yara itu bersyukur , Yara bisa mendapatkan kebahagiaannya.


“Bunda sama papa malah di sini. Katanya mau ambil obat," tegur Dhiya yang ikut mendekat ke luar kamar perawatan. "Aku gak mau lama-lama di sini! aku udah gak sabar ingin pulang ke rumah kakek," ujar Dhiya.


Erza menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Maaf, Sayang. Papa lupa," sahut Erza.


"Loh, memangnya Dhiya sudah bisa pulang?" tanya Syafa dan mendapat anggukan dari anak kecil yang ada di hadapannya itu.


"Iya mamih. Aku, bunda juga papa akan pulang rumah Kakek," cetus Dhiya.


"Benarkah? Kalian akan tinggal di rumah papa yang lama?" tanya Syafa nampak tak percaya.

__ADS_1


Anggukan dari Yara menjadi jawaban dari pertanyaan Syafa.


Syafa tersenyum bahagia mendengarnya. Wanita itu juga ingin ikut pulang bersama dengan Yara.


"Aku ingin ikut pulang bersama kalian," pinta Syafa.


"Sebaiknya tunggu dokter yang menangani mu, Fa," Roni ikut menimpali.


Yara dan Erza mengangguk bersamaan. Mereka pun kembali ke dalam ruangan. Tak lama dokter yang menangani Syafa datang. Memeriksa hasil pemeriksaan yang tadi dilakukan oleh Syafa. Hal yang paling membahagiakan juga di dapat dari dokter itu. Syafa boleh pulang bersama Dhiya dan Pak Rio.


Persiapan pun segera dilakukan. Di bantu oleh Tante Gita yang masih berada di sana, akhirnya mereka sampai di depan rumah Papa Rio yang lama. Rumah yang menjadi saksi kehidupan pria tua itu dengan wanita yang telah melahirkan kedua putrinya itu.


Yara sempat terdiam saat dirinya masuk ke dalam rumah mewah itu.


Manik matanya tertuju pada foto seorang wanita cantik tanpa hijab terpanjang tepat di depan ruangan itu.


"Mama ...," lirih Yara.


Tak hanya Yara, Syafa juga terdiam menatap foto itu.


'Kapan foto mama di pajang di ruangan depan?' tanya Syafa dalam hati kemudian melirik ke arah papa-nya. Wanita itu tersenyum. Syafa paham kalau itu adalah kelakuan papanya. Syafa kembali menatap figura foto itu.


'Mah, aku pulang bersama Faeqa, adikku. kita berkumpul bersama di rumah ini.'


Batin Syafa bahagia.


Sama dengan Yara dan Syafa. Pak Rio juga terdiam menatap foto wanita cantik di hadapannya.


'Akhirnya aku bisa membawa putri kedua kita pulang ke rumah ini, Sayang. Aku dan kedua putri kita sudah berkumpul di sini. Tinggal kita yang akan bersama kembali. Tunggu aku, Sayang! Tunggu aku!'


Batin Pak Rio dengan seulas senyum di wajahnya saat menatap foto wanita yang ada di figura itu.


.


.

__ADS_1


.


To Be continued


__ADS_2